MasukTania yang dihubungi oleh Viana sangat senang mendengar berita ini. Segera dia menyampaikan hal tersebut kepada Nyonya Julia dan oleh atasan Tania itu, Viana besok diminta datang ke kantor perusahaan yang alamatnya sudah diberitahukan oleh Tania melalui chat di ponsel Viana.Keesokan harinya Viana mendatangi alamat yang dimaksud dan betapa kagumnya dia melihat bangunan gedung kantor yang berdiri megah dan menjulang di hadapannya.Seketika itu juga rasa percaya dirinya yang sempat ada mendadak luruh melihat kemegahan gedung tersebut. Perasaan insecure melandanya, dia merasa tidak pantas berada di sana mengingat dia hanyalah orang biasa saja.Viana menghembuskan napasnya berkali-kali, mencoba memompa kembali rasa percaya dirinya. Setelah merasa dirinya cukup tenang, Viana segera berjalan memasuki gedung. Oleh satpam yang berjaga di pintu depan, Viana diantar menuju ke meja resepsionis.Kepada petugas resepsionis yang sedang bertugas saat itu, Viana memberit
Tiga hari kemudian.Bak seorang peramal, ucapan Rita menjadi kenyataan. Nyonya Julia kembali mendatangi Viana di rumah Bu Nining. Hanya saja kali ini kedatangannya diwakili oleh seorang wanita cantik bernama Tania yang merupakan salah satu orang kepercayaan Nyonya Julia dan entah bagaimana caranya, Nyonya Julia berhasil mendapatkan alamat rumah Bu Nining dan segera memerintahkan Tania untuk pergi ke sana.“Perkenalkan Bu, nama saya Tania. Saya salah seorang karyawan di toko perhiasan milik Nyonya Julia, Sparkle n’ Shining Diamond.” Tania memulai pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya terlebih dulu. Saat ini dia tengah duduk di ruang tamu, berhadapan dengan Bu Nining dan Viana.“Salam kenal, Mbak Tania. Nama saya Nining dan ini Viana. Kalau boleh kami tahu, kedatangan Mbak ke rumah kami ini ada tujuan apa ya?”Tania mengulas senyum ramah di bibirnya yang dipoles lipstik nude. Sekilas dia melirik ke arah arloji yang melingka
Viana mengerutkan dahinya, merasa heran dengan sikap wanita yang ada di hadapannya saat ini.“Siapa yang membuat sketsa ini? Apa kamu tahu orangnya?” desak wanita itu tidak sabaran.Viana semakin bertambah heran melihat tingkah wanita itu. Dengan nada ragu, Viana akhirnya menjawab.“Saya, Bu.”Sepasang netra wanita itu membola, tatapannya langsung menelisik sosok Viana dari atas hingga ke bawah.“Kamu?” ulangnya setengah tak percaya.Viana mengangguk.Wanita itu terdiam sejenak, terlihat sedang memikirkan sesuatu kemudian dia buru-buru mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar belanjaannya. Setelah itu dia menatap Viana dan berkata, “Nona, bisakah ikut saya ke sana sebentar?” Satu jari telunjuknya menunjuk ke arah luar minimarket tepatnya ke deretan kursi yang ada di teras minimarket.Dahi Viana berkerut dan dia mulai merasa tidak nyaman.“Maaf, untuk apa ya, Bu? Soal
Penolakan Viana telah membangkitkan emosi yang selama ini Heru tahan sehingga tanpa dapat dikontrolnya, umpatan dan ucapan kasar terlontar dari bibirnya.“Kau jangan belagu, Viana! Dengan wajahmu yang pas-pasan itu kau mau mengharapkan apa? Apa kau berharap akan ada seorang pangeran tampan yang datang melamarmu? Heh, sadar diri dong! Kau itu sama sekali tidak menarik. Bahkan jadi seorang pelacur pun kau belum tentu laku!”PlakPlakDua buah tamparan dengan kekuatan penuh, Viana layangkan bertubi-tubi ke wajah Heru sebagai konsekuensi dari perkataan kurang ajarnya itu.“Perempuan brengsek! Beraninya kau menamparku!” umpat Heru dengan sepasang bola mata yang melotot tajam ke arah Viana.Viana bergeming, tetapi dari wajahnya dan gestur tubuhnya sangat terlihat jelas bahwa perempuan berambut sebahu itu tengah menahan amarah yang amat sangat.Wajah Viana tampak merah padam, sepasang matanya menatap Heru dengan sorot
“Viana, itu kan Heru,” ujar Ima dengan suara pelan.Viana terdiam, wanita itu terpaku pada tempatnya duduk. Sorot matanya tajam dan ekspresi wajahnya terlihat tidak suka akan kedatangan pria bernama Heru itu.“Hai, Viana Sayang. Apa kabarnya? Akhirnya kita bisa berjumpa lagi setelah hampir seminggu abang di luar kota. Ngomong-ngomong, kamu rindu gak sama abang?” sapa Heru sambil tersenyum lebar. Langkah kakinya santai mendekati Viana seolah tidak terpengaruh pada ekspresi wajah Viana yang kentara sekali menampakkan rasa tidak sukanya.Sementara itu, Ima masih berdiri diam di samping Viana, hendak melihat apa yang akan dilakukan oleh Heru.“Sombong amat, sih. Pertanyaan abang kok nggak dijawab?” celetuk Heru ketika dia sudah berdiri tepat di depan Viana.Viana bergeming dan menghembuskan napas berat, sungguh dia merasa sangat terganggu dengan kehadiran Heru itu.Lelaki bernama Heru itu boleh dibilang tetang
Singkat cerita, sidang perceraian antara Yuda dan Clara pun digelar. Keduanya sepakat untuk berpisah dan tidak ada diantara mereka yang ingin tetap mempertahankan pernikahan tersebut karena alasan masing-masing. Clara dengan ketidakterimaannya atas pernikahan poligami dan Yuda dengan kekesalannya atas sikap dan penolakan Clara yang dianggapnya egois dan tidak bisa memahami keinginannya.Sedangkan Runi, perempuan itu tentu saja merasa senang dengan berpisahnya Yuda dan Clara. Dia sudah membayangkan dirinya akan menjadi seorang nyonya besar dengan menikahi Yuda. Tidak ada sedikit pun empatinya pada nasib Clara yang saat ini telah resmi menjadi janda dan tidak pernah juga pernah terbersit dalam pikirannya rasa bersalah karena telah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Clara dan Yuda. Runi tetaplah Runi, perempuan ambisius dan egois yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.Namun, di tengah euforia kebahagiaannya, ada satu hal yang membuat Runi men
Runi menatap bergantian kedua orang yang ada di depannya itu, tetapi tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya. Akhirnya, Runi yang sudah tidak sabaran lagi segera menarik kertas yang ada di hadapan Yanto dan Feyla.Dengan cepat, matanya menelusuri deretan huruf – huruf yang tertulis di sana.
Setibanya di dalam rumah, Feyla dan Runi hanya melihat Yanto yang sedang duduk di kursi ruang tamu sedangkan Viana tidak terlihat sosoknya di sana."Kamu kenapa duduk di sini, Mas? Viana mana?" tanya Feyla sambil mendudukkan tubuhnya di sebelah Yanto."Viana lagi di dalam kamar dan
"Ya, memang harus begitu, Mas. Kamu harus tegas. Jangan mau kalah sama istrimu itu. Bisa besar kepala dia nantinya," hasut Feyla.Meski dalam hati dia merasa keberatan akan keputusan Yanto itu, tetapi dia berusaha bermain cantik dengan menunjukkan sikap prihatin dan memberi dukungan kepada
Ya, Feyla memanfaatkan tawaran kerjasama yang diajukan oleh perusahaan pak Edo dengan perusahaannya untuk membuat Yanto keluar dari perusahaan itu.Melalui Deon, Feyla berjanji akan menerima tawaran kerjasama tersebut jika Yanto dipecat dari sana.Meskipun sedikit heran dengan permi







