Home / Rumah Tangga / Madu Suamiku / Pesan singkat

Share

Pesan singkat

Author: Aisyah Ahmad
last update publish date: 2026-05-29 23:15:58

"Mmm... barusan kok, Mas," ucap Zahra santai, sembari merapikan sedikit ujung jilbab instannya yang tertiup angin gang.

​Mendengar jawaban itu, Zean diam-diam mengembuskan napas lega yang amat panjang, meski ia menahannya sehalus mungkin agar tidak kentara. Jantungnya yang tadi sempat berdegup gila-gilaan kini berangsur normal. Ia benar-benar lega karena mengira Zahra tidak tahu dan tidak mendengar pertengkaran hebatnya dengan Melisa tadi.

​"Terus... kamu... kamu kok ke sini, mau kemana? Eum...
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Suamiku   Pondasi pernikahan

    "Maaas, bisaa nggak sih kitaa pulang duluuuu. Capeek aku tuh. Udah terkuras habis tenagaku inii," protes Zahra sembari mengerucutkan bibirnya kesal,Zean terkekeh geli. Ketegangan yang sejak kemarin malam mencengkeram dadanya seketika runtuh melihat kemanjaan istrinya yang telah kembali. Ia mengulurkan tangan kirinya, mengusap puncak kepala Zahra dengan lembut.​"Iya iya, Sayang. Ya udah ayo kita pulang dulu. Nanti saja ceritanya di rumah kalau udah nggak capek," ucapnya halus, penuh rasa bersalah sekaligus lega.​Mobil itu kembali melaju santai membelah keheningan malam, melewati rimbunnya pepohonan di sepanjang Jalan Besar Ijen yang ikonik, lalu berbelok menuju kawasan perumahan tenang di sudut Malang Kota. Udara malam yang sejuk khas Malang perlahan merayap masuk, membuat suasana di dalam kabin mobil terasa semakin hangat dan intim.Tak lama kemudian, mobil mereka berbelok memasuki pekarangan rumah. Begitu melangkah masuk ke dalam kehangatan rumah yang sunyi, mereka berdua melepas

  • Madu Suamiku   Terbongkar !

    Prok... prok... prok... Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seolah sedang mengejek kedangkalan berpikir wanita di hadapannya.​"Kamu... salah cari lawan, Melisa!" tegas Zahra, sorot matanya seketika berubah setajam silet. "Menghadapi orang seperti kamu... itu bukan hal yang sulit buat aku."​Keadaan ballroom benar-benar sunyi. Ratusan hadirin, termasuk para kolega hukum senior dan CEO kakap, tampak melongo. Mereka yang tadinya mengira akan menyaksikan drama kehancuran rumah tangga, kini justru disuguhi pemandangan seorang istri sah yang begitu dominan dan mengendalikan situasi.​Zahra mengangkat tangan kirinya yang memegang sebuah gawai pintar, lalu menekan satu tombol. Detik itu juga, layar LED raksasa di belakang Melisa kembali berkedip.​"Para hadirin yang terhormat, maaf atas interupsi yang tidak nyaman ini," ucap Zahra, berbalik sekilas menyapa para tamu dengan gestur profesional yang amat anggun. "Namun, sebagai orang hukum, kita semua tahu bahwa sebuah tuduhan tanpa vali

  • Madu Suamiku   Gaduh

    Acara pun bergulir dengan khidmat. Sesi demi sesi dilewati, mulai dari makan malam mewah hingga sesi bincang-bincang santai antar-klien kakap. Namun bagi Bramantyo dan Melisa, setiap menit yang berlalu terasa seperti siksaan yang membakar dada.​Bramantyo terus menatap jam tangannya, otaknya yang licik kembali berputar cepat. Ia tidak mau menyerah begitu saja. Gagal lewat jalur operator digital, berarti ia harus menggunakan rencana cadangan yang jauh lebih nekat. Ia melirik Melisa yang masih berdiri gelisah di dekatnya.​"Gunakan rencana kedua," bisik Bramantyo dingin, nyaris tak terdengar. "Bawa dokumen cetak pelanggaran kode etik itu sekarang. Begitu giliran kakakku naik ke podium untuk memberikan pidato penutup, kamu langsung terobos panggung. Bawa mikrofon cadangan, bongkar semuanya secara lisan, lalu lempar dokumen itu ke meja para klien utama. Mengerti?"​Melisa menelan ludah, matanya berkilat nekat. Rasa malunya karena gagal tadi berubah menjadi ambisi gelap yang berbahaya. "Ba

  • Madu Suamiku   Malam Puncak

    Malam puncak perayaan hari jadi Dirgantara Law Firm yang ke-30 akhirnya tiba. Ballroom hotel bintang lima itu telah bertransformasi menjadi ruang gala yang luar biasa megah. Lampu gantung kristal memancarkan pendar keemasan, menerangi ratusan tamu VIP yang mulai memenuhi ruangan. Para petinggi hukum, jaksa senior, hakim, hingga para CEO perusahaan multinasional yang merupakan klien-klien kakap dari Dirgantara Group tampak bercakap-cakap elegan sembari menyesap minuman mereka.​Di sudut ruangan yang agak remang, terpisah dari kerumunan utama, Bramantyo berdiri dengan segelas sampanye di tangannya. Tatapannya dingin, lurus mengarah ke podium panggung. Tidak jauh dari sana, bersandar pada pilar marmer, Melisa berdiri dengan gaun malam berwarna merah marun berpotongan tegas.​Mereka berdua sengaja tidak saling menyapa untuk menjaga jarak, namun sepasang mata mereka memancarkan kilat yang sama, penantian akan sebuah kehancuran besar. Melisa bahkan sudah tidak sabar membayangkan detik-detik

  • Madu Suamiku   Sebuah Rencana Besar

    Sementara itu, Di sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota, Melisa berdiri tegak di samping jendela kaca raksasa. Wajahnya berseri-seri, gincu merah darahnya tampak semakin kontras dengan senyum kemenangan yang tak kunjung pudar. Di depannya, seorang pria paruh baya yang duduk di kursi kulit mahoni tampak menyesap cerutu dengan sangat tenang.​Itu adalah Bramantyo Dirgantara, paman Zean sekaligus salah satu pengacara senior di Dirgantara Group yang selama puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang kejayaan ayah Zean. Ia adalah rival sejati di dalam keluarga itu sendiri. Orang yang telah lama menanti momen untuk menjatuhkan kehormatan keluarga inti Dirgantara. ​"Semua berjalan sangat sempurna, Om Bram," ujar Melisa dengan nada suara yang melengking riang, terdengar begitu jemawa. "Tebakan kita benar. Si Zahra itu tidak ada apa-apanya. Begitu aku perlihatkan video kamar hotel dan salinan dokumen lama itu, dia langsung gemetar."​Melisa terkekeh manja, mengi

  • Madu Suamiku   Sedingin Es, dan apa salahku ?

    Zahra menegakkan punggungnya yang semula merunduk lesu. Wajah pias yang dipenuhi air mata kepedihan itu seketika menguap, berganti dengan ekspresi sedingin es. Ia mengambil selembar tisu dari tasnya, menyeka sisa air mata di pipi dengan gerakan perlahan dan sangat tenang.Zahra merapikan kembali blazernya sebelum melangkah mantap, bertransisi kembali menuju gedung kantor Dirgantara Group.​Namun, begitu kakinya menginjak area parkiran kantor, pemandangan di depannya membuat Zahra sedikit memperlambat langkah. Di sana, tepat di samping mobilnya, Seorang Zean tampak berdiri bersandar. Pria itu sesekali melirik jam tangan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan raut cemas.Begitu siluet Zahra tertangkap oleh sepasang matanya, Zean langsung berdiri tegak dan melangkah cepat mendekati istrinya.​"Sayang, kamu dari mana?" tanya Zean berondong, ada nada lega sekaligus panik dalam suaranya. "Aku ke sini mau jemput kamu untuk makan siang bersama, tapi kata Citra kamu sudah keluar dari t

  • Madu Suamiku   Malang. Aku Datang !!!

    Hari ini cuaca tak begitu cerah, tapi juga tak hujan. Wanita berhijab lebar itu tengah duduk di sebuah halte bus dekat di pondok pesantren. Tampaknya Ia tengah menunggu kedatangan seseorang. Sesekali ia melihat layar ponsel yang tiga bulan ini di sita oleh pihak pondok agar ia lebih fokus lagi dala

  • Madu Suamiku   Rujak Cingur buatan Zahrq

    "Iya, Zahwa juga mau lah."Setelah mendapat iming-iming es krim, anak-anak baru mau ikut Ayahnya bermain."Mas, aku kasih waktu 15 menit di luar. Setelah itu balikin lagi kesini. Jangan jauh-jauh ya,""Tenang aja Za, aku ini ayah kandungnya. Nggak mungkin aku menyakiti mereka." ucap Dimas sembari m

  • Madu Suamiku   Adik perempuan Zean

    "Bunda masih menganggap Kak Saskia ada. Bunda masih menganggap Kak Saskia tumbuh besar di sisinya. Kadang diam-diam di belakang kami bunda ngomong sendiri seolah sedang ngomong sama Kak Saskia. Bunda sering bikinin desain desain baju untuk Kak saskia, desain gaun, dan terakhir gaun itu, bahkan Bund

  • Madu Suamiku   Sekilas tentang keluarga Zean

    "Gaun seperti apa memangnya Za?""Gaun... Pengantin... ""Hm?""Iya gaun pengantin. Gaun yang biasa di pakai orang nikah gitu lo,""Oh, itu""Lah, kok cuma Oh aja? Emang itu desain gaun untuk siapa Zean? Dan kenapa Bunda kamu sampai nangis begitu waktu aku lihatin itu. dan bahkan sampai pingsan git

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status