
Menikahi Gadis Malam
"Astaga! Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan pria itu!" ucap Alin saat melihat gerombolan pria sangar berpakaian serba hitam dengan gerakan tegas itu.
Alin kini berada di kamar lantai dua, bangunan megah itu. Melihat banyak gerombolan pria itu membuatnya bergidik ngeri, sambil menggigit bibir bawahnya. Ia masih berdiri tegang di samping tirai jendela kaca itu.
"Tapi, perjanjian itu sudah terjadi, dan akad akan berlangsung lima belas menit lagi, oh Tuhan!!!"
Alin akhirnya kembali ke ranjang king size yang sudah didesain seperti ranjang pengantin dengan sepasang handuk yang di bentuk sepasang angsa di tepian-nya itu. Suara derap langkah kaki yang terdengar semakin mendekat ke kamar itu membuat suasana semakin tegang, matanya pun tampak awas memandangi pintu bercat putih itu.
'Krieek'
"Permisi Nona! Kami MUA yang di bayar oleh tuan Rizan untuk merias Nona!"
Kini, Alin agak bernafas lega. lalu ia tersenyum getir memandangi tiga orang wanita yang membawa koper make up itu.
Bagaimana kelanjutan kisah Alin dan Rizan? Yuk, baca ceritanya sampai tuntas 😊
읽기
Chapter: Keributan dirumah lamaMatahari siang menyengat tanpa ampun, memantulkan hawa panas di atas aspal jalanan menuju desa tempat Alin dibesarkan. Sebuah mobil hitam mewah yang dikendarai oleh Anton melaju tenang, membelah jalanan kampung yang berbatu. Di kursi belakang, Alin duduk dengan jemari yang bertautan erat. Di sampingnya, Sari sesekali melirik dengan tatapan cemas.Mobil akhirnya berhenti di sebuah pekarangan luas yang gersang. Rumah kayu reyot dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini berdiri di hadapan mereka. Rumah yang dulu menjadi saksi bisu bagaimana Alin dipaksa melepas seluruh impiannya.Alin menarik napas dalam-dalam. "Pak Anton, Mbak Sari, tunggu di mobil saja ya. Saya tidak akan lama.""Tapi, Nyonya, Tuan Rizan berpesan agar—""Saya cuma menemui orang tua saya, Pak Anton. Di sini aman," potong Alin lembut namun tak terbantahkan. Ia membuka pintu mobil, melangkah turun ke atas tanah berdebu yang terasa begitu akrab sekaligus asing.Baru saja Alin berjalan beberapa langkah menuju pintu
최신 업데이트: 2026-06-01
Chapter: Panggilan telphone dari AyahSari yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah Alin langsung menghentikan suapannya. Ketakutan yang terpancar dari mata bening Alin terlalu nyata untuk diabaikan.Ponsel itu masih bergetar, bergerak beberapa milimeter di atas meja, seolah mendesak untuk segera diangkat. Harapan kecil sempat membubung di dada Alin. Apakah Ibunya menelepon untuk menanyakan kabarnya? Apakah Ibunya merindukannya setelah perpisahan menyakitkan di gedung pernikahan kemarin?Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alin menggeser layar ponselnya. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinga."Ha—halo, Bu?""Alin! Akhirnya kamu angkat juga!"Bukan. Itu bukan suara lembut Bu Hanum yang penuh kekhawatiran. Suara di seberang sana adalah suara berat, serak, dan penuh tuntutan milik Pak Rustam. Jantung Alin mencelos jatuh. Kebahagiaan semunya menguap seketika."Ayah...?" ucap Alin, meremas daster lembutnya di bawah meja. "Ada apa? Ini ponsel Ibu, kenapa Ayah yang—""Halah, tidak usah cerewet! Ibu kamu sedang
최신 업데이트: 2026-05-31
Chapter: Kartu Hitam untuk AlinBeberapa menit berlalu. Hening kembali turun. Alin masih menatap piringnya yang sudah mendingin, tanpa selera. Sendok di tangannya berhenti bergerak sejak tadi.Langkah kaki terdengar lagi.Alin mendongak pelan. Rizan kembali muncul di ambang pintu. Ia berjalan mendekat, namun tidak mengambil tempat duduknya. Ia hanya berhenti di sisi meja, berdiri tegap sambil mengeluarkan sebuah kartu dari saku jasnya.Hitam. Polos. Berkilau.Tanpa kata-kata pembuka, kartu itu diletakkan tepat di depan Alin.“Untukmu,” ucap Rizan dingin.Alin menatap kartu itu, lalu menatap Rizan. “I-Ini… apa?”“Kamu bisa pakai itu untuk keperluanmu,” jawabnya singkat. “Apa pun yang kamu mau.”Alin terkesiap kecil. Tangannya ragu saat menyentuh kartu itu. Sebuah kartu berwarna hitam yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Rizan melanjutkan tanpa jeda, nada suaranya tetap tenang. Tapi tak memberi ruang untuk membantah.“Kalau kamu bosan di rumah, kamu boleh keluar.”Alin mengangkat wajahnya cepat. Ada kilatan harapan
최신 업데이트: 2026-01-08
Chapter: Penjara Sunyi"Astaga ! Apa aku kesiangan ?!" Pagi datang tanpa suara. Tak ada alarm. Tak ada ketukan pintu. Hanya cahaya pucat yang menyelinap lewat celah tirai tebal, jatuh perlahan di wajah Alin. Matanya terbuka, tapi tubuhnya masih kaku. Beberapa detik ia tak bergerak, seolah takut kenyataan akan menyergap begitu ia benar-benar sadar. Lalu ingatannya kembali utuh. Akad. Tangis. Ibu yang pergi. Dan kamar ini. Alin bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Dan... "Hah ??? Tunggu !!!" Gaun pengantinnya sudah diganti. Kini ia mengenakan daster lembut berwarna pucat. "Bukannya semalam aku... Siapa yang mengganti pakaianku ? Jangan-jangan... nggak. Nggak. Nggak mungkin lah !" Ia segera membuang pikirannya jauh-jauh. Semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu sunyi. Ia menoleh ke arah sofa. Kosong. Tak ada Rizan. Entah mengapa, perasaan yang muncul bukan lega, melainkan… asing. Seperti bangun di rumah orang lain, tanpa tahu batas mana yang boleh ia lewati. Alin berdiri, melangkah
최신 업데이트: 2026-01-06
Chapter: Pernikahan Sang Pewaris"Mas, Kamu yakin mau jadi Wali nikah Alin ?" Setelah oerdebatan yang lumayan panjang dan alot. Akhirnya Pak Rustam dan Bu Hanum kembali ke dalam gedung itu. Semua hadirin kembali menatap dua manusia yang kini berjalan mendekat ke meja akad. Sementara Alin, matanya masih berkaca-kaca sembari menatap sang ibu, seolah meminta pertolongan. “Maaf telah menunggu. Saya selaku ayah Alin, dengan ini mewakilkan hak perwalian nikah kepada Bapak Hakim.” "AYAH ???!!" Alin shok. Dia kaget Ayahnya mengatakan itu. "Ayah ? Ada apa ini ? Kenapa ? Saking tidak sayangnya kah Ayah kepada Alin, sampai Nikah pun, Ayah tidak mau jadi wali Alin ?" tanya Alin dengan suara bergetar. Awalnya, ia sedih karena espektasi Alin, ibunya membatalkan pernikahan itu, tapi lebih sedih dan kecewa lagi, Dalam pernikahan yang bukan kemauannya itu Ayahnya juga tak mau jadi wali. "Kenapa, Ayah ?" Bu Hanum segera berjalan mendekati Alin dan berusaha menenangkan Alin. "Bu, Ayah kenaoa sih bu, kalau memang kalian tidak m
최신 업데이트: 2026-01-01
Chapter: akad yang tertunda"Anda mau kemana ? " tanya seorang pria berpakain hitam dan nerbadan tegap, membuat Bu Hanum dan Pak Rustam terperanjat."Eum... saya mau caei Alin." kawab Bu Hanum singkat."Acara akan segera dimulai. Tuan Rizan meminta kepada saya untuk membawa anda kelokasi sekarang.""Hah ? T-tapi...""Sudahlah, Bu. Ayo," Ucap pak Rustam. Akhirnya Bu Hanum pun nurut.Ballroom itu tidak terlalu ramai, tapi jelas mewah.Dekorasinya didominasi warna putih kabut dan abu lembut, dengan sentuhan denim gelap di beberapa sudut ruangan. Kesannya modern, rapi, tapi tetap punya aura dingin yang elegan. Lampu-lampu putih kebiruan dipasang redup, membuat ruangan terasa tenang dan tidak menyilaukan. Tidak ada bunga berlebihan.Hanya jajaran anggrek putih, hydrangea biru gelap, dan beberapa rangkaian mawar abu keperakan di sepanjang lorong utama. Aromanya lembut, mahal, dan tidak menusuk hidung. Musik violin mengalun pelan, seperti soundtrack film classy. Para tamu. sekitar lima puluh orang saja, berdiri rapi
최신 업데이트: 2025-12-11
Madu Suamiku
Kejujuran adalah pondasi dalam membangun sebuah rumah tangga. kalau rumah tangga sudah mulai ada ketidak jujuran, bagaimana rumah tangga itu akan berdiri tegak!
hari itu, Zahra tengah bersantai sembari menunggu suaminya mandi. tiba-tiba rasa keingin tahunnya tinggi, tentang isi ponsel sang suami. entah dorongan dari mana, Zahra mulai menyentuh Hp sang suami, lalu jari jarinya bergulir membuka isi ponsel itu. tiba-tiba, matanya terbelalak menyaksikan sebuah Foto suaminya bersama wanita lain, tanpa busana, di sebuah hotel. hal itu membuat hatinya terbakar. Zahra mulai menanyakannya kepada Dimas. dan ternyata benar, perempuan itu, adalah Istri kedua suaminya.
bagai di sambar petir, Zahra mengetahui hal itu. lalu... bagaimana kelanjutan kisahnya? yuk simak lengkapnya dalam kisah di bawah ini!!!
읽기
Chapter: harapan baru"Saya mohon, Dok! Tolong..." Air mata Zahra kembali merembes di sudut matanya, jemarinya yang bergetar mencengkeram lengan baju sang dokter dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Suami saya... dia punya riwayat panik dan cemas berlebih kalau stres berat. Saya tahu kondisi saya, Dok. Saya yang akan bicara sendiri pelan-pelaaan sekali sama suami saya nanti.""Ibu Zahra, tenang dulu," potong dokter jaga itu, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Zahra dengan lembut. "Tapi Dokter Zulfa itu spesialis yang paling tepat untuk diobservasi sekarang, dan suami Ibu pasti berhak tahu perkembangan—""Tolong, Dok! Jangan di bilik ini, jangan sekarang di depan suami saya," sela Zahra setengah berbisik, napasnya memburu tertahan karena ketakutan yang teramat sangat. "Sampaikan ke Dokter Zulfa... temui saya di ruang rawat inap saja nanti, saat suami saya tidak ada. Saya mohon kerja samanya, Dok. Ini demi kebaikan suami saya."Dokter jaga itu mengembuskan napas berat, menatap perawat di sampingnya sebe
최신 업데이트: 2026-07-02
Chapter: Tujuan menikahZahra menarik napas panjang, berusaha menata hatinya yang terasa hancur berkeping-keping. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, topeng yang kali ini terasa lebih berat dari biasanya. lalu menatap Zean dengan sorot mata yang berusaha terlihat tenang."Enggak apa-apa, Mas," ucap Zahra pelan. "Mungkin cuma efek kecapekan saja, jadi tensiku drop. Bentar lagi juga sembuh dan aku semangat lagi kok, Mas jangan khawatir berlebihan ya."Zean menggeleng cepat, tatapannya justru semakin intens. "Please, Zahra... kalau kamu ada apa-apa, berbagilah sama aku. Dokter tadi sudah bilang sama aku kalau ada masalah serius kan sama rahim kamu ?"Pertanyaan itu menohok tepat di ulu hati Zahra. Ia terdiam, kaget karena Zean sudah tahu sebagian kebenarannya. Lidahnya mendadak kelu, dadanya terasa sesak seolah ada tangan yang meremas jantungnya. Zahra memalingkan wajahnya sejenak, menghalau air mata yang sudah mendesak ingin tumpah, sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata suaminya kembali."Mas... se
최신 업데이트: 2026-06-22
Chapter: Zean mulai tahuZean memutuskan sambungan telepon sepihak. Ia menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam, membelah jalanan kota dengan kecepatan di luar batas wajar. Cengkeraman tangannya pada setir begitu erat hingga jemarinya memutih.Pikiran Zean berkecamuk hebat. Ketakutan yang sejak kemarin ia tepis, kini mewujud menjadi kenyataan di depan mata. Zahra sakit. Istrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum.Suasana IGD siang itu tampak sibuk saat tubuh pias Zahra didorong masuk menggunakan brankar oleh petugas medis dan rekan kantornya. Tidak berselang lama, Zean tiba dengan napas tersengal-sengal. Penampilannya yang biasa rapi kini berantakan.Langkah Zean mendadak melemah saat melihat tubuh ringkih Zahra sudah terbaring di salah satu bilik asuhan dengan tirai setengah terbuka."Sayang... ini aku. Bangun, Sayang..." ratap Zean serak. Ia berlutut di samping brankar, meraih tangan dingin Zahra dan mengecupnya berkali-kali. Namun, istrinya tetap ber
최신 업데이트: 2026-06-18
Chapter: DropZahra tersentak. Pertanyaan lembut Zean justru terasa seperti alarm yang memintanya untuk segera menjauh. Ia tahu, satu detik saja ia lengah menatap mata suaminya, topengnya akan runtuh berkeping-keping.Dengan gerakan cepat, Zahra menarik tangannya dari genggaman Zean, lalu berbalik menuju lemari pakaian. "Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma agak kesiangan aja ini, ada rapat penting di kantor jam sembilan nanti," sahutnya buru-buru, mengambil selembar blazer kerja dengan asal demi menghindari kontak mata.Zahra langsung melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamar, mengunci pintunya sebelum Zean sempat mengeluarkan sepatah kata pun.Di luar kamar mandi, Zean berdiri mematung. Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja tertutup rapat itu. Dadanya bergemuruh oleh rasa ganjil yang semakin kuat. Sikap menghindar Zahra yang begitu kentara membuat instingnya berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat besar yang sedang disembunyikan sang istri.Apa aku tanya Zulfa aja, ya? Pikir Zean sempa
최신 업데이트: 2026-06-18
Chapter: Topeng ZahraZahra menunduk, meremas jemarinya sendiri di pangkuan. Rasa sakitnya bukan lagi fisik, melainkan rasa bersalah yang teramat besar pada suaminya. Mengingat bagaimana Zean selalu memperlakukannya bak ratu, vonis ini terasa seperti hantaman yang menegaskan kekurangannya sebagai seorang istri.Zahra menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang bergemuruh. Ia harus pulang sebentar lagi. Ia harus mengulas senyum di depan Zean, merangkai kebohongan demi kebohongan tentang "program promil" yang sebenarnya sudah mati sebelum dimulai.Zahra menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap tas jinjingnya dengan pandangan kosong. Meratapi impiannya yang baru saja terkubur, di dalam ruangan yang awalnya ia masuki dengan penuh tawa.Zahra tidak langsung pulang. Dengan pikiran yang berkabut, ia meminta taksi daring yang ditumpanginya untuk berputar-putar tanpa arah mengelilingi sudut-sudut Malang Kota. Menatap jalanan Ijen yang rindang lewat jendela kaca, ia ber
최신 업데이트: 2026-06-16
Chapter: Vonis ditengah HarapanZulfa perlahan menjauhkan alat pemindai dari perut Zahra. Ia berbalik menatap sahabat lamanya itu, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan badai kepanikan yang mendadak melanda benaknya, meski getaran di sudut matanya tidak bisa berbohong."Ra..." suara Zulfa tercekat di tenggorokan, terdengar begitu berat. "Kita... kita pindah duduk ke meja depan lagi, ya? Ada hal penting yang harus aku jelaskan."Zahra melangkah turun dari ranjang periksa dengan lutut yang mendadak terasa lemas. Gel bening yang tersisa di perutnya terasa sedingin es, sedingin firasat buruk yang kini mulai mencengkeram dadanya. Ia merapikan pakaiannya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu berjalan mengekor di belakang Zulfa.Zulfa duduk kembali di kursi kebesarannya. Ia tidak langsung berbicara. Tangannya bergerak gelisah, membolak-balik rekam medis Zahra seolah mencari celah kekeliruan, sebelum akhirnya mengembuskan napas berat."Zul, jangan bikin aku takut," bisik Zahra, mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "A
최신 업데이트: 2026-06-16