Chapter: Akad yang tertundaLangit Malang Jum'at pagi itu sedikit di hiasi dengan awan hitam yang menggantung disisi barat. Di teras itu, Zahra sedang berdiri sembari memandang cemas ke arah jalanan. Matanya tak luput dari beberapa motor dan mobil yang lewat begitu saja tanpa henti."Ck. Ya Allah... mana nih mereka, kenapa belum datang sampai jam segini" ucapnya cemas. Beberapa kali ia juga menengok mesin waktu yang menggantung di atas dinding teras. Meskipun teras itu di hiasi dengan dekorasi pernikahan, tapi masih terlihat jelas, Jarum jam panjang yang terus berputar melewati angka sepuluh."Gimana Sayang, belum datang juga ?" tanya Zean mendekat."Belum Mas, aduuuh... gimana ya mas, udah mau dimulai ya akadnya ? Aduh... ini mana sih Mas Dimas ?! Semalam janjinya pagi mau di antar tepat waktu, tapi sampai jam segini kenapa mereka belum sampai sini sih," Zahra semakin panik. Apalagi melihat jarum jam yang terus berputar dan seorang penghulu sudah duduk di kursi yang disediakan. Para saksi dan para tamu juga sud
Terakhir Diperbarui: 2026-01-02
Chapter: Anithing For YouZahra sempat menunduk, pura-pura fokus sama tas di pangkuannya, tapi sudut bibirnya tersenyum kecil. Zean sempat melirik sebentar ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan.“Papa Zean, nanti kalau aku udah bisa coding, aku bikin aplikasi buat Bunda deh. Biar Bunda bisa pesan kopi dari rumah, terus langsung nyampe ke meja,” Rayyan mulai berimajinasi.“Wah, mantap! Kalau gitu aku jadi user pertama aplikasimu, Ray,” sahut Zean. “Tapi jangan lupa… bikin fitur promo khusus buat aku ya.”Rayyan cengar-cengir. “Siap, Papa Zean! Kamu nanti dapet diskon seratus persen.”Zahra spontan menoleh. “lho, jangan gitu dong. Kalau semua gratis, siapa yang bayar aplikasinya?”Rayyan garuk-garuk kepala. “Hehe… iya juga ya. Ya udah Papa Zean bayar separo aja deh.”“Deal!” Zean menepuk setir sambil ketawa.Zahra hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu tersenyum tipis. Sesekali matanya melirik Zean, tapi buru-buru dialihkan lagi begitu tatapan mereka hampir beradu.Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah
Terakhir Diperbarui: 2026-01-01
Chapter: Moment AkwardSambungan pun terputus. Zahra meletakkan ponselnya di meja samping ranjang, lalu merebahkan diri. Matanya masih basah, tapi kali ini bukan karena amarah atau sedih—melainkan karena hangat. Rasa takut yang tadi membebani hatinya seakan mencair, diganti dengan rasa tenang. Ia menarik selimut, menutup mata, membiarkan lelahnya hilang bersama malam yang kian hening.______Malam berganti pagi. Langit sudah mulai terang ketika Zahra terlonjak dari tidurnya.“Ya ampun!” serunya, panik melihat jam dinding. Jarum sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.Perutnya masih terasa tidak nyaman—datang bulan membuat tubuhnya lebih lemah dari biasanya. Tapi tak ada waktu untuk mengeluh. Ia langsung melompat ke dapur.“Bunda, aku udah mandi loh!” Zahwa berlari ke meja makan sambil setengah mengenakan dasi sekolah.“Iya, iya, bentar ya sayang. Sarapannya hampir jadi. Aduh…” Zahra sibuk menggoreng telur sambil menyiapkan roti di toaster.Rayyan muncul dengan wajah santai, kaos oblong dan celana pendek.“B
Terakhir Diperbarui: 2026-01-01
Chapter: Panggilan ManisJam sudah menunjuk lewat sebelas malam.Di luar, jalanan kompleks tampak lengang. Lampu-lampu jalan sesekali berkelip, dihampiri serangga malam yang berputar-putar di sekitarnya. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah lembap sisa hujan beberapa jam tadi. Suasana begitu sunyi, hanya sesekali terdengar suara motor yang melintas jauh di jalan besar.Zahra menutup pintu dengan perlahan, seolah takut suara denting kunci mengusik ketenangan malam. Hatinya masih terasa berat, sisa perdebatan barusan membuat dadanya sesak. Ada rasa lega karena tamunya akhirnya pulang, tapi juga gelisah yang menempel di pikirannya.Ia melangkah masuk ke kamar. Lampu kamar menyala temaram, hanya cahaya kuning hangat dari meja kecil di sisi ranjang. Zahra menjatuhkan tubuhnya ke ujung ranjang, lalu menarik napas panjang. Pikirannya penuh, tapi justru hening di sekitarnya membuatnya semakin mendengar degup jantungnya sendiri.Belum sempat menenangkan diri, layar ponselnya menyala. Panggilan masuk video call dar
Terakhir Diperbarui: 2026-01-01
Chapter: PerdebatanDimas diam, kepalanya menolah noleh songong. "Huft. Astagfirullah... " gumam Zahra sembari mengusap kepalanya yang tiba-tiba serasa mengepul. "Ibuk... Maaf kalau perkataan Zahra tadi menyinggung hati ibuk, itu tidak benar sama sekali. Maksud Zahra, Zahra cuma kasihan ibuk kalau kecapean. Tadi pagi sampai Siang ibu udah keluar, ini jalan lagi, bahkan sampai larut. Maksud Zahra, ibu itu istirahat duluuu gitu, bukaaan... Bukan maksud Zahra melarang ibuk datang kesini, itu tidak benar.""Yaaa, dia kan lagi butterfly era ya!!! Nggak mau di ganggu kali dia, ya bu? Kita mah... Sudah terlupakan.""Cukup!!! Udah deh mas. Kamu tuh!!! Iiih!!! Udah deh, aku tuh lagi capek!!! Pusing!!! Kamu jangan bikin tambah runyam!!!""Ya ya ya. Ya aku juga nggak akan kesini kalau kamu tadi nggak abaikan panggilan aku, Neng. Kita kesini mau bahas sesuatu yang penting."Zahra tampak mengatur nafas, sedang berusaha mengatur gemuruh hatinya yang saat ini ingin meledak-ledak, tapi tidak mungkin dikeluarkan di dep
Terakhir Diperbarui: 2026-01-01
Chapter: Tuduhan apalagi, Ini ???Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Zahwa sudah mulai mengantuk, kepalanya bersandar di bahu Zahra, sementara Rayyan masih terjaga, menatap jalanan kota dari balik kaca mobil. Lampu-lampu neon berkelip, menemani perjalanan pulang mereka.“Za… itu kayaknya di depan… ada mobil. Mobil siapa?” tanya Zean sambil memperlambat laju kendaraannya.Zahra mengerjap, menoleh ke arah yang dimaksud. “Hah? Aku nggak tahu ya, Zean. Kayaknya aku nggak ada janji dengan siapa pun hari ini.”Mobil Zean akhirnya berhenti tepat di depan rumah Zahra. Dan di sanalah, di bawah cahaya lampu jalanan yang temaram, tampak sosok yang tak asing lagi bagi Zahra. Seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas, bersama seorang pria muda dan seorang gadis.Zahra tertegun, jantungnya berdegup kencang. “Ibuk…?” gumamnya lirih.Ya, Bu Sukma. Mantan mertuanya. Dan di sampingnya, Dimas—mantan suami Zahra. Juga Dinda, adik perempuan Dimas.“Loh… kok, Buk? Ibu kok ada di sini? Sudah lama nunggu? Maaf, Zahra tadi…” Zahra belum
Terakhir Diperbarui: 2025-12-31
Chapter: Pernikahan Sang Pewaris"Mas, Kamu yakin mau jadi Wali nikah Alin ?" Setelah oerdebatan yang lumayan panjang dan alot. Akhirnya Pak Rustam dan Bu Hanum kembali ke dalam gedung itu. Semua hadirin kembali menatap dua manusia yang kini berjalan mendekat ke meja akad. Sementara Alin, matanya masih berkaca-kaca sembari menatap sang ibu, seolah meminta pertolongan. “Maaf telah menunggu. Saya selaku ayah Alin, dengan ini mewakilkan hak perwalian nikah kepada Bapak Hakim.” "AYAH ???!!" Alin shok. Dia kaget Ayahnya mengatakan itu. "Ayah ? Ada apa ini ? Kenapa ? Saking tidak sayangnya kah Ayah kepada Alin, sampai Nikah pun, Ayah tidak mau jadi wali Alin ?" tanya Alin dengan suara bergetar. Awalnya, ia sedih karena espektasi Alin, ibunya membatalkan pernikahan itu, tapi lebih sedih dan kecewa lagi, Dalam pernikahan yang bukan kemauannya itu Ayahnya juga tak mau jadi wali. "Kenapa, Ayah ?" Bu Hanum segera berjalan mendekati Alin dan berusaha menenangkan Alin. "Bu, Ayah kenaoa sih bu, kalau memang kalian tidak m
Terakhir Diperbarui: 2026-01-01
Chapter: akad yang tertunda"Anda mau kemana ? " tanya seorang pria berpakain hitam dan nerbadan tegap, membuat Bu Hanum dan Pak Rustam terperanjat."Eum... saya mau caei Alin." kawab Bu Hanum singkat."Acara akan segera dimulai. Tuan Rizan meminta kepada saya untuk membawa anda kelokasi sekarang.""Hah ? T-tapi...""Sudahlah, Bu. Ayo," Ucap pak Rustam. Akhirnya Bu Hanum pun nurut.Ballroom itu tidak terlalu ramai, tapi jelas mewah.Dekorasinya didominasi warna putih kabut dan abu lembut, dengan sentuhan denim gelap di beberapa sudut ruangan. Kesannya modern, rapi, tapi tetap punya aura dingin yang elegan. Lampu-lampu putih kebiruan dipasang redup, membuat ruangan terasa tenang dan tidak menyilaukan. Tidak ada bunga berlebihan.Hanya jajaran anggrek putih, hydrangea biru gelap, dan beberapa rangkaian mawar abu keperakan di sepanjang lorong utama. Aromanya lembut, mahal, dan tidak menusuk hidung. Musik violin mengalun pelan, seperti soundtrack film classy. Para tamu. sekitar lima puluh orang saja, berdiri rapi
Terakhir Diperbarui: 2025-12-11
Chapter: Persiapan pernikahanPagi merayap masuk perlahan, menembus tirai tipis berwarna gading. Cahaya keemasan itu jatuh di pipi Alin, membuatnya meringis kecil sebelum akhirnya membuka mata. Pandangannya masih buram, tapi detik berikutnya tubuhnya menegang. Ini… bukan kamarnya tadi malam. Alin terduduk cepat. Rambutnya berantakan, napasnya terengah karena panik yang tiba-tiba menghantam. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan inderanya tidak berkhianat. Kamar itu… terlalu luas. Terlalu bersih. Terlalu mewah. Dinding krem dengan ukiran elegan, karpet tebal yang tampak baru, dan aroma bunga segar yang memenuhi udara. semua mengisyaratkan satu hal, Hotel berbintang lima. Ia buru-buru menyingkap selimut tebalnya. Matanya membesar sesaat, lalu bahunya mengendur lega. Baju yang ia kenakan masih utuh. Tidak ada yang tersentuh. Tidak ada yang berubah. Syukurlah… Namun rasa lega itu hanya bertahan sekejap. Ketika menoleh ke kiri, ia melihat rangkaian dekorasi lembut di atas meja rias. mawar putih, pita
Terakhir Diperbarui: 2025-12-09
Chapter: Hentikan ingin tahumu“Mas, kamu tahu… besok Rizan mau menikah!!!” Faruq mengernyit sekilas, kemudian duduk santai di sofa, menyilangkan kaki seolah berita itu bukan apa-apa.“Oh… ya bagus dong. Semakin cepat dia menikahi Raisa, semakin gampang kita kuasai Atmajaya Group. Tanpa perlu kita kotori tangan kita ini.” Valerian mendesis, “Aduuuh mas! Masalahnya Rizan menikahnya bukan sama Raisa, Mas!” Faruq spontan bangkit.“Apa?! Terus sama siapa? Anak siapa? Dari perusahaan mana?” Valerian mengusap wajahnya frustasi.“Ck! Sama wanita kampung, Mas. Yang dia bawa dari klub malam!” Rahang Faruq terhenti di tengah gerak. Ia perlahan menatap istrinya, tatapan yang turun beberapa derajat lebih dingin dari sebelumnya.“Katakan sekali lagi.” suaranya rendah, terkontrol, tapi bahaya bergetar halus di baliknya. Valerian mengangkat dagu, menahan geram.“Wanita. Kampung. Dari klub malam. Yang entah dapat keberanian dari mana sampai bisa dibawa masuk ke lingkaran Atmajaya.” Kini ruangan modern itu terasa seperti men
Terakhir Diperbarui: 2025-12-06
Chapter: Mama Rizan yang asli“Ini Mama.”Alin membeku.'Mama?Jadi… ini tujuan Rizan kerumah sakit?'“Mama sudah tiga bulan tidak sadar,” lanjut Rizan, masih menatap ibunya.“Sejak... kecelakaan”Ada jeda.Rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tidak ia izinkan keluar.Alin perlahan mendekat.Ia menatap wanita itu dengan hati-hati, takut, tapi juga iba.“Cantik sekali, Mas… Mamanya Mas Rizan. Pasti... Beliau orang yang baik ya, seperti parasnya.” ucap Alin pelan.Rizan menutup mata sejenak.Kalimat sederhana itu, jujur. lembut, tanpa dibuat-buat. entah bagaimana menenangkan hatinya.“Aku bawa kamu ke sini karena…”Ia berhenti sejenak, menelan salivanya.“…karena aku ingin Mama melihat siapa yang akan menikah denganku.”Jantung Alin berdetak keras.Ia terpaku.Rizan melanjutkan, suaranya lebih lembut dari biasanya tetapi tetap dingin di ujungnya. seperti ia takut terlihat lemah.“Entah dia sadar atau tidak… entah dia dengar atau tidak…”Ia menatap wajah ibunya yang tenang.“…Mama berhak tahu.”Alin menunduk horma
Terakhir Diperbarui: 2025-12-04
Chapter: Siapa dia...Mobil melaju melewati jalanan Jakarta malam hari. Lampu-lampu gedung tinggi memantul di kaca, sementara Alin hanya memandangi kota yang asing itu dengan rasa penasarannya yang makin besar. Rizan menyetir tanpa suara, hanya sesekali melirik ke kaca spion untuk memastikan Alin.Lima belas menit kemudian, mobil berhenti di sebuah bangunan besar dengan tulisan International Medical Center yang terpampang elegan, hangat, dan sangat… mahal.Alin terpaku menatap gedung itu.Begitu mobil parkir, Rizan mematikan mesin. Suasana jadi hening. Terlalu hening.Alin menelan ludah, lalu perlahan memutar tubuhnya ke arah Rizan.“R-rumah sakit?” suaranya naik satu oktaf. “Siapa yang sakit?”Rizan tidak menjawab.Alin langsung panik setengah mati.“Eum... apa Mas Rizan yang sakit?”Ia mendekat, wajahnya serius. serius polos.“Apa yang sakit? Tenggorokan? Dada? Atau jantung? Mas pucat gak? Mas pusing? Mas...”Rizan menoleh cepat.Tatapannya tajam…Tapi mulutnya nyaris tersenyum.Nyaris.Entah kenapa, mel
Terakhir Diperbarui: 2025-12-03