Home / Rumah Tangga / MADU YANG BERACUN / Bab 68 | Surat Undangan

Share

Bab 68 | Surat Undangan

Author: Dara Kirana
last update Last Updated: 2025-09-28 13:49:10
Jenar menghitung hari. Hanya tinggal beberapa hari lagi dia akan masuk ke kantor sang papa. Dia harus memastikan Ethan tidak akan rewel lagi seperti hari ini, agar semuanya berjalan mulus.

Sebenarnya, dia ingin masuk hari itu juga, tetapi pak Wijaya menyarankan Jenar agar memulainya hari senin, supaya lebih profesional.

Dia terus mengayun-ayunkan tubuh mungil sang putra dalam gendongan yang mulai terlelap. “Sayang … Ethan tidak boleh rewel, ya. Ethan harus jadi anak baik. Mama harus bekerja bia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MADU YANG BERACUN   Bab 71 | Manis Di Lidah Lelaki

    Hari yang ditunggu Jenar pun tiba. Namun, pagi ini dia justru sibuk mengurusi Ethan yang tiba-tiba demam. Bayi itu terbangun pukul empat pagi dengan tangisan keras. Setelah diperiksa, suhu tubuhnya cukup tinggi. Jenar mendadak lesu, kecewa. Namun, khawatir keadaan anaknya.Terpaksa dia mengundur masuk kerja hingga beberapa hari. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan, tetapi Eros meminta hal yang sama. Ini membuatnya hanya bisa menghela napas berat. Jenar tak setega itu meninggalkan Ethan yang sakit demi pekerjaan, meskipun dia mempunyai rencana lain dibalik itu. Wanita itu hanya harus memastikan jalannya tetap lancar, meski ada kendala sedikit.Tidak mengapa dia mengalah sedikit, daripada restu suaminya dicabut. Itu lebih berbahaya dibanding menunda masuk kantor beberapa hari.Senin ini harusnya Jenar sudah berada di kantor, tetapi semuanya batal karena Ethan sakit. Dengan berat hati dia menelpon papanya dan memberitahukan keadaan tersebut.Pak Wijaya pun meminta Jenar masuk kantor

  • MADU YANG BERACUN   Bab 70 | Pagi yang Kacau

    Tangan Embun bergerak pelan, menyuap nasi dan lauk ke dalam mulut yang terasa hambar. Rasanya yang tersaji di meja itu bukanlah makanan, tetapi kekecewaan.Matanya selalu menatap layar ponsel yang gelap. Tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan. Hanya sunyi yang menjelaskan perasaan tidak dianggap dan tersisihkan. Embun menghela napas panjang melepaskan sesak yang menghimpit dada.Denting suara sendok beradu dengan piring semakin menegaskan kalau kini dia sendirian di meja itu. Bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum getir, tetapi di balik itu, ada api kecil yang masih menolak padam. Api keberanian untuk tidak selalu tunduk pada keadaan.Tiba-tiba ponselnya bergetar. Embun menatapnya dengan mata membulat, berharap, tetapi benci. Ternyata pesan itu dari sahabatnya, Helena.“Embun, aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Aku menunggumu di lotus cafe.” Isi pesan itu membuat hatinya menghangat, ternyata masih ada orang peduli padanya. Embun menatap pesan itu lama, dia bimbang mau da

  • MADU YANG BERACUN   Bab 69 | Tujuh Bulanan

    Hari yang ditunggu pun tiba. Siang itu kediaman keluarga Yolan Svarga telah disulap menjadi area acara tujuh bulanan yang begitu indah, dengan nuansa biru pastel seperti permintaan Jasmine.Balon-balon bergelantungan di gerbang masuk. Tirai-tirai tipis terikat di tiang-tiang dekorasi. Bunga-bunga dengan warna senada menghiasi meja tamu dan panggung kecil di tengah halaman.Jasmine duduk di tengah pelaminan kecil. Perut buncitnya dibalut kebaya biru muda. Wajahnya berseri, bibirnya tersenyum kecil. Kecantikannya semakin terpancar.Ini bukan hanya sekadar acara tujuh bulanannya, tetapi juga ajang pembuktian bahwa dia kini adalah pusat di dalam keluarga Svarga. Di sampingnya, Lintang duduk dengan tenang, namun dengan jelas wajahnya memancarkan semburat bahagia.Embun melangkah perlahan, dia mengenakan dress biru sesuai tema hari ini. Tidak ada senyum, tidak ada air mata. Hanya tatapan kosong yang mencoba tegar di hadapan semua kenyataan kini.Melihat kedatangan menantu pertamanya, Bu Ing

  • MADU YANG BERACUN   Bab 68 | Surat Undangan

    Jenar menghitung hari. Hanya tinggal beberapa hari lagi dia akan masuk ke kantor sang papa. Dia harus memastikan Ethan tidak akan rewel lagi seperti hari ini, agar semuanya berjalan mulus.Sebenarnya, dia ingin masuk hari itu juga, tetapi pak Wijaya menyarankan Jenar agar memulainya hari senin, supaya lebih profesional. Dia terus mengayun-ayunkan tubuh mungil sang putra dalam gendongan yang mulai terlelap. “Sayang … Ethan tidak boleh rewel, ya. Ethan harus jadi anak baik. Mama harus bekerja biar kita bisa Bahagia terus, ya sayang. Bantu Mama, ya,” gumam Jenar lembut sambil menatap buah hatinya penuh perasaan.“Maafin Mama, ya, kalau nanti sering ninggalin Ethan sama kakak Embun, ya. Mama Janji, kalau Mama libur akan main bareng, ya. Mama sayang kalian.”Jenar mencium kening sang bayi yang sudah terlelap dan perlahan membaringkannya ke dalam box dengan hati-hati.*****Jasmine senyum-senyum sendiri sambil memandangi bunga seruni yang bermekaran di taman belakang. Sama seperti perasaann

  • MADU YANG BERACUN   Bab 67 | Mawar Tanda Luka

    Setelah sarapan, Lintang bergegas naik ke kamar, dia teringat akan sesuatu. Jasmine pun menyusul sang suami.“Mas, kau sedang apa?” tanya Jasmine muncul dari balik pintu. Dia melihat suaminya sibuk dengan mencari dan mengeluarkan kertas dari laci.“Mas sedang siapkan berkas-berkas dan bukti untuk mengajukan sidang isbat nikah nanti. Kalau semua sudah lengkap, Mas tinggal bawa ke pengadilan,” kata Lintang sambil tangannya bergerak lincah. Dia tidak menoleh pada sang istri.Jasmine senang mendengarnya, tetapi di sisi lain dia mau Lintang menceraikan Embun. Tidak mengapa, mengalah sebentar. Yang penting status yang sama dulu dengan Embun. Rencana kedepannya dia akan pikiran lagi.“Mau di bawa kemana semua itu, Mas?” tanyanya lembut sambil memperhatikan berkas-berkas dimasukkan ke dalam tas kerja. Jasmine duduk di atas tempat tidur menghadap sang suami.“Mas akan membawanya ke kantor. Di sana mas bisa fotokopi dokumen yang perlu,” kata Lintang tanpa mengalihkan perhatian dari berkas-berka

  • MADU YANG BERACUN   Bab 66 | Rencana Tujuh Bulanan

    Di kediaman keluarga Svarga, saat ini mereka tengah menikmati sarapan pagi dengan khidmat. Dentingan piring beradu dengan sendok mengisi ruangan ditambah dengan obrolan ringan yang membuat hubungan kekeluargaan semakin erat.“Lintang, kamu sudah punya rencana untuk syukuran tujuh bulanan istrimu?” tanya Bu Inggrid di sela-sela makannya. Lintang mengangkat kepala dan menatap sang ibu. “Lintang belum kepikiran soal itu, Ma.”“Kamu Ini memang tidak perhatian menjadi suami, jangan-jangan kamu tidak tahu berapa usia kandungan istrimu,” sahut Pak Yolan menyela ucapan Lintang. “Kami saja sebagai calon kakek dan nenek selalu menghitung setiap bulannya,” tambah Bu Inggrid.“Bukan seperti itu, Ma, Pa. Lintang sibuk berkerja, jadi terkadang tidak terpikirkan yang lain lagi. Yang penting bagiku istri dan anakku sehat dan selamat. Itu saja,” kata Lintang.“Mas Lintang benar, Ma. Jasmine juga hanya berharap anak kami lahir dengan sehat dan s selamat tanpa kekurangan satu apapun,” imbuh Jasmine.“

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status