로그인Sudah hampir dua minggu aku berada di mension ini dan sudah dari empat hari yang lalu Alex selalu berada di mension yang membuatku selalu merasa dipantau.
Iya, karna dirinya yang memiliki rumah ini. Tapi jika setiap hari Alex selalu duduk tidak jauh dari aku dan Sean bermain bagaimana aku tidak kaku dan sedikit risih.Saat ini aku sedang menggendong Sean ke taman belakang mension ini yang cukup besar. Aku melihat bunga-bunga yang indah dan kolam ikan yang cukup besar.Pemandangan disini cukup indah dan udaranya juga segar. Aku menduduki diriku diatas tikar yang tadi sudah digelar oleh salah seorang pria berbadan besar yang membantuku membawakan mainan dan makanan Sean.Kududuki Sean diatas tikar ini sambil diriku mengeluarkan mainan dan juga beberapa biskuit kesukaanya.Hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkam beberapa helai rambutku. Sudah lama aku tidak menghirup udara segar karna sebelumnya aku hanya bermain didalam mension ini saja.Kurebahkan badanku diatas tikar sambil menatap langit mendung yang membuat ku tidak kepanasan. Tanpa sadar Sean sudah tidak ada di sisi ku lagi.Byurr!Suata seseorang tercebur berhasil mengkagetkanku. Kutatap disana Sean yang hampir tenggelam di kolam ikan yang tidak cukup dalam namun berhasil menenggelamkan diri bocah kecil itu.Aku langsung berlari dan menggapai Sean hingga ke permukaan. Anak berumur satu tahun itu langsung menangis kencang hingga membuat para penjaga dan peyalan yang berlalu lalang menoleh penasaran.Tiba-tiba dari dalam rumah, Alex keluar dengan langkah lebarnya menuju kearahku. Walaupun tanpa ekspresi tapi aku tau kalau dia pasti akan memarahiku karna tidak becus merawat seorang anak kecil."Apakah merawat seorang anak kecil bisa membuatmu lengah seperti ini?" Tanyanya dengan setiap nada penuh penekanan itu. Sedangkan Sean masih terus menangis digendonganku.Seorang pelayan tiba-tiba mengambil Sean kecil dari gendonganku. Aku menatap Alex takut. Takut jika aku akan dipecat atau bahkan lebih buruknya dibunuh."Maafkan saya, Tuan. Saya lalai menjaga Tuan Sean." Ujarku sambil bersimpuh didepannya dengan tangan saling bertautan."Jika kau mengulangi kesalahan yang sama, maka jangan segan-segan untuk angkat kaki dari pekerjaanmu!" Ujarnya lalu berlalu pergi begitu saja.Jantungku berdetak kencang, kaki ku lemas tak mampu manahan bobot tubuhku. Aku terduduk di atas rerumputan hijau ini sambil memegangi kedua tanganku yang tak hentinya bergetar."Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ed yang ternyata berdiri sedari tadi di depanku."Y-ya. Aku baik-baik saja, Ed." Jawabku lemas. Bahkan aku tak sanggup untuk mengeluarkan suaraku. Aura seorang Alexander sepuluh kali lebih menakutkan daripada guru bk di sekolah ku dahulu.Ed mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku menerima uluran itu dan mengucapkan terimakasih kepadanya.•••Malam harinya, aku tak hentinya cemas tatkala suhu badan Sean tak hentinya turun. Badannya panas dan aku sudah mengkompres tapi hasilnya nihil.Dengan panik aku berlari ke ruangan kerja Alex yang berada di lantai tiga. Awalnya aku ragu untuk menaiki tangga ini namun karna ini demi kesehatan Sean aku tidak peduli itu.Kubuka ruang kerja Alex tanpa permisi terlebih dahulu hingga membuat seseorang didalamnya kaget."Apa kau tidak memiliki tata krama, hah!" Bentaknya langsung kepadaku sambil menggerbak meja hingga berbunyi keras."Maafkan aku, tapi Tuan Sean badannya sangat panas!" Ucapku dengan panik tanpa menghiraukan ucapannya barusan."Lalu kenapa kau mengatakannya kepadaku? Itu semua salahmu dan itu urusanmu!" Ujarnya tidak peduli sama sekali bahkan kembali melanjutkan pekerjaannya.Aku terdiam tidak percaya. Sungguh, dia adalah seorang paman yang keji. Membiarkan keponakannya demam tinggi tanpa memanggil dokter? Wah, ingin sekali aku memukul kepala pria didepanku ini dengan sendal."Jika Sean tidak diberi pertolongan oleh dokter, bisa-bisa badannya akan semakin panas!" Ujarku dengan sedikit berteriak saking kesalnya.Dia kemudian menatapku kembali tanpa ekspresi di wajah tampannya itu."Apa kau sekarang berani menasehatiku?" Ujarnya ynag membuatku semakin kesal. Oh ayolah ini bukan saatnya untuk berdebat. Sean membutuhkan seorang dokter sekarang!"Bukan begitu, tapi Sean sekarang membutuhkan dokter! Cepat panggil dokternya!" Ujarku dengan sedikit berteriak diakhir kalimatku."Oh lihatlah! Seorang gadis asia yang awalnya akan menjadi gelandangan berani menyuruhku? Siapa yang majikan sekarang, hm?" Ujarnya sambil berjalan menuju kearahku."Aku bukan gadis gelandangn! Apakah perlu ku ingatkan lagi kalau aku dirampok oleh bangsamu?" Ujarku tak mau kalah. Lagian siapa dia? Dia hanya majikanku. Dan seorang pelayan akan hormat ketika majikannya juga baik kepadanya."Tidak perlu katakan lagi jika aku sudah mengetahui seluruh riwayat hidupmu, nona Mona Gelora." Ujarnya dengan menyebut namaku yang membuatku merinding.Seketika keberanianku cair begitu saja. Alex yang kini sudah berdiri tegap tepat didepan mataku sambil menatapku dengan mata nyalangnya."Aku bisa saja memusnahkan orang-orang tersayangmu. Atau kau mau jika perusahaan yang dibangun ayahmu bangkrut dalam waktu semalam?" Ujarnya sambil memojokanku di belakang pintu."K-kau tidak akan bisa melakukan itu!" Ujarku karna tidak mungkin sebuah perusahan bangkrut dalam waktu semalam."Aku bisa saja melakukan itu hanya dengan sebuah kata perintah!" Ujarnya lagi."Siapa kau sebenarnya?" Tanyaku mulai mencurigai status pria tampan didepanku ini. Selama ini aku hanya mengira bahwa alex adalah seorang ceo dan juga merupakan bos dari orang-orang jahat yang ada di kota ini.Tapi ucapan yang keluar dari mulutnya hampir membuatku nyaris tidak bisa bernafas."Mafia."Mona pov:Sudah dua hari semenjak hari itu berlalu, dan sampai saat ini juga Hans masih berada di mension Alex. Hans, pria itu sungguh sangat-sangat menganggu ku.Kenapa? Karna pria itu sering kali membuat Sean menangis. Niatnya ingin membuat Sean tertawa tapi malah membuat bocah kecil itu menangis. Seperti saat ini aku tengah menyuapi Sean makanan."Hei! Lebih baik kau pergi daripada membuatnya menangis lagi!" Ucapku sedikit berteriak kepadanya."Kenapa kau selalu emosi ketika aku bermain bersama Sean?" Tanya-nya kepadaku."Kenapa tidak emosi? Kau selalu membuatnya menangis." Ucapku sambil memukul pelan kepalanya. "Aw! Kau adalah wanita kejam yang pernah aku temui!" Ucapnya sambil memegang kepalanya seolah-olah sangat menyakitkan."Uuuu apakah sangat sakit sekali? Sini aku akan memukul kepalamu sekali lagi." Ucapku lalu kembali memukul kepalanya yang kali ini menggunakan tenaga dalamku."Apakah kalian berdua tidak memiliki pekerjaan lain?" Ucap Alex yang tiba-tiba sudah berdiri dide
Mona pov: Aku tidak tahu kenapa, tapi yang jelas sekarang aku berada disebuah pesta. Entah pesta apa ini tapi semua orang terlihat sangat memukau dengan pakaian-pakaian mahal mereka. Ya, kuakui aku terlihat sedikit mencolok saat ini karna aku satu-satunya seorang gadis Asia disini. Sekarang aku hanya berdiri disalah satu sudut menjauhi kerumunan orang-orang yang tengah berbicara itu. 'jika bukan karna sebuah Handphone aku tidak akan menerima tawaran ini!' batinku. Ya, semalam Ed memanggilaku dan aku dibawa keruangan Alex. Disana terlihat Alex dan juga pria tadi sore yang bernama Hans. Flashback: "Apa kau mau melakukan sebuah misi?" Tanya Hans memulai percakapan. Ku tatap Hans yang terlihat menampilkan wajah serius begitupun Alex yang duduk dikursi kerjanya sambil memperhatikanku lekat. "Misi apa?" Tanyaku menatap Hans penasaran. "Mudah saja. Kau tinggal hadiri disebuah pesta dan setelah kau masuk, kau harus membuka pintu belakang dari rumah itu lalu semuanya serahkan kepadaku.
"Musnahkan semuanya!" Ucap Alex , lalu dalam seperskian detik suara ledakan terdengar. Sebuah rumah yang berada dipinggir kota meledak tanpa menyisakan apapun.Alex yang berada sedikit jauh dari rumah itu. Memperhatikan dari jauh keadaan rumah yang lambat laun mulai hangus terbakar."Semunya sudah selesai, lalu apa rencanamu sekarang, Xander?" Ucap seorang pria yang berdiri disamping Alex."Tidak ada, cukup kau peringatkan mereka untuk tidak kembali bermain-main dengnku!" Ucapnya lalu masuk kedalam mobil diikuti oleh pria tadi." Huh, kenapa tidak kau basmi saja semua hama-hama pengganggu itu?" Ucap Pria itu lagi yang sudah duduk manis disamping Alex."Aku tidak akan membiarkan mereka mati terlebih dahulu, karna permainan belum dimulai." Jawabnya lalu tersenyum layaknya iblis."Hm, aku jadi penasaran apa yang akan kau lakukan terhadap mereka." Ucap Pria itu bersemangat."Tunggu saja kapan mainnya." Ucap Alex mengakhiri percakapan antara mereka berdua.••••Sore hari ini, Mona berencan
Alex mengendarai mobil sport-nya dengan kecepatan yang sangat laju hingga membuat para pengendara lain mengumpat kepadanya. Walaupun begitu, Alex terus melajukan kendaraannya tanpa peduli umpatan-umpatan yang dilontarkan pengendara lainnya."Berani bermain-main denganku, hm?" Ucap Alex dengan mata lurus menatap jalanan besar didepan sana. Berani mengganggu iblis yang sedang tidur? Maka rasakan akibatnya.Alex sampai disebuah gedung yang berada ditengah hutan. Gedung ini terlihat kumuh dan tak terawat dengan ditumbuhi tumbuhan rambat yang menutupi sebagian dinding gedung.Tapi siapa tau jika gedung yang terlihat kumuh dan tertinggal itu merupakan sebuah tempat dimana semua aset berharga milik Alex berada disana.Tempat ini terpencil dan jarang orang-orang mengetahuinya, sehingga tidak ada orang yang mengetahui jika ada sebuah gedung kecil yang berisi sebuah harta milik seorang Alexander De Franciso."Salam, Tuan Xander." Ujar beberapa orang-orang berotot besar yang ada disekitar sana.
"Mafia." Satu kata namun seperti suatu bencana besar yang melanda pikiranku. Sungguh. Apakah mafia itu benaran ada? Kukira mafia itu hanya cerita sebagian kalangan."Ma, mafia?" Beo ku sambil menatapnya tak percaya. Kutatap penampilannya dari atas hingga bawah hingga berhenti tepat di wajah tampan bak dewa yunani itu."Apakah aku tidak terlihat seperti seorang mafia?" Tanya-nya kepadaku yang membuatku tersadar lalu mengalihkan tatapanku dari wajahnya."Em, tidak. Kau sangat-sangat terlihat seperti seorang mafia." Ujarku gelagapan. Oh ayolah! Bagaimana bisa seorang mafia berpenampilan tampan seperti ini? Kupikir mafia itu seorang yang sudah tua dan memiliki wajah yang mengerikan dengan ada luka sayatan di wajah ataupun tubuhnya. Tapi mafia di depanku ini berbeda.Alex hanya terlihat seperti seorang pria muda matang dengan karir yang sukses dan besar. Dia tidak seperti seorang mafia, kecuali jika sedang marah."Suatu hari kau akan melihatku layaknya seperti mafia." Ujarnya diakhiri de
Sudah hampir dua minggu aku berada di mension ini dan sudah dari empat hari yang lalu Alex selalu berada di mension yang membuatku selalu merasa dipantau.Iya, karna dirinya yang memiliki rumah ini. Tapi jika setiap hari Alex selalu duduk tidak jauh dari aku dan Sean bermain bagaimana aku tidak kaku dan sedikit risih.Saat ini aku sedang menggendong Sean ke taman belakang mension ini yang cukup besar. Aku melihat bunga-bunga yang indah dan kolam ikan yang cukup besar.Pemandangan disini cukup indah dan udaranya juga segar. Aku menduduki diriku diatas tikar yang tadi sudah digelar oleh salah seorang pria berbadan besar yang membantuku membawakan mainan dan makanan Sean.Kududuki Sean diatas tikar ini sambil diriku mengeluarkan mainan dan juga beberapa biskuit kesukaanya.Hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkam beberapa helai rambutku. Sudah lama aku tidak menghirup udara segar karna sebelumnya aku hanya bermain didalam mension ini saja.Kurebahkan badanku diatas tikar sambil menatap la
Entah dia seorang penolong yang diberikan tuhan kepadaku agar aku tidak menjadi gelandangan di negara ini atau bukan. Tapi aku sangat bersyukur karna dengan pekerjaan ini aku akan bisa menerima gaji dan kembali ke negara asal ku sesuai janji dan surat kontrak yang sudah aku tandatangani semalam.Fl
Aku Mona Gelora. Aku berusia 20 tahun dan statusku adalah seorang singel. Ayahku merupakan seorang yang dimabuk kerja sedangkan ibuku sudah meninggal saat aku berumur 12 tahun.Walaupun begitu, ayahku tidak memilih untuk menikah lagi dan malah semakin gila dengan pekerjaannya dan hasilnya juga sang







