Share

MJIC 171 - Kangen

Penulis: senjaaaaaa
last update Tanggal publikasi: 2025-12-01 20:28:04

“Kayla,” Ia mendekat, jemari dinginnya menyentuh pelan pergelangan tanganku, memastikan infusku tetap mengalir dengan aman. “Kamu mau saya hubungi siapa? Keluarga? Suami? Teman?” rentetnya memberi saran.

Pertanyaannya terdengar ringan.

Tapi begitu berat kurasakan.

Aku menunduk, menatap lantai putih dengan tatapan kosong. Bibirku terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar.

Perlahan, aku menggeleng.

Sangat pelan.

Nyaris tak terlihat.

“Tidak ada yang perlu kamu hubungi?” ulangnya, terdengar hati-ha
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC - 181 Fin, Gue Sayang Lo

    Fina mematikan sambungan telepon, lalu menatapku tajam. “Rayhan itu pinter, Kay. Dia tau kapan harus ngasih ruang buat istrinya, dan dia tau lo bakal aman di tangan gue. Sekarang, diem dan istirahat. Atau gue panggilin perawat buat nyuntik lo biar bisa tidur?” ujarnya, mengancam.Aku tertawa renyah, lalu memejamkan mata. “Iya, iya. Gue istirahat.”Aku perlahan tenggelam dalam ketenangan itu, membiarkan diriku untuk sekadar menjadi manusia—tanpa embel-embel ibu hamil, istri, atau karyawan—setidaknya untuk hari ini.Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Baru saja aku terlelap, suara gesekan kain dan langkah kaki Fina yang menjauh memaksa mataku terbuka. Aku melihat Fina sedang berdiri di depan cermin besar, memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan."Mau ke mana?" tanyaku serak. Sembari menyandarkan tubuhku.Fina menoleh, menatapku dengan sebelah alis yang teragnkat. "Keluar bentar. Ada urusan kecil yang harus gue selesaiin di lobi.""Urusan apa? Bukannya tadi katanya mau full

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC - 180 Rayhan Nggak Ngomel, Kan?

    “Nyebelin?” potongnya cepat.“Iya.”“Tapi ada gunanya,” lanjutnya sendiri sambil membuka pintu mobil.Aku menggeleng lemah, lalu mengikuti Fina yang sudah turun terlebih dahulu. Fina melingkarkan lengannya ke lenganku, menarikku masuk pelan.“Ayo,” katanya. “Hari ini lo bukan Kayla yang biasanya. Lo Kayla yang menjadi princess dalam sehari.”Fina berjalan ke meja resepsionis dengan langkah percaya diri. Seolah semua ini memang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Aku hanya mengikuti di sampingnya sambil terus memperhatikan sekeliling.“Fin...,” panggilku pelan saat dia selesai berbicara dengan resepsionis.“Hm?”“Lo udah nyiapin ini dari kapan?”Fina mengambil kartu akses lalu menoleh ke arahku. “Dari hari ketiga.”Aku berkedip. “Hah?”Dia mengangkat bahunya acuh. “Dari hari ketiga setelah lo masuk rumah sakit.”Aku terdiam. Sementara Fina kembali meraih lenganku dan membawanya berjalan menuju lift, sementara benakku masih memproses jawabannya.“Lo serius?”“Iya.”“Tapi kenapa?”.

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC - 179 Diculik Fina

    “Fin ... ini beneran cuma me time, kan?”Aku meliriknya untuk kesekian kali sejak kami keluar dari apartemen. Bukan tanpa alasan. Karena semakin lama, tingkah Fina semakin aneh. Perempuan itu bahkan tak memutar musik favoritnya seperti biasanya. Bahkan, ia tak menunjukan amarah atau sekedar umpatan seperti yang biasa ia lakukan. Pokoknya mencurigakan.“Kenapa sih dari tadi nanya itu terus?” balasnya tanpa menoleh.“Karena lo bikin gue curiga.”Fina menatapku dengan alis berkerut. “Kok jadi salah gue?”“Ya emang salah lo.”Aku melirik ke arah jam di dashboard mobil. Masih jam kerja. Terlalu siang untuk sekedar nongkrong, tapi terlalu dini untuk liburan dadakan. Dan Fina ... masih setenang itu.Aku menggeser badan di kursi, sedikit tak nyaman. “Fin,” panggilku lagi. “Lo yakin ini ide bagus?” tanyaku, tak yakin.Fina menghela napas keras, tapi tatapannya tetap fokus ke arah jalan. “Kay, lo tuh dari tadi mikirnya kejauhan tau nggak!”“Justru karena gue mikirin sesuatu, makanya gue nanya,”

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC - 178 Cuma Me Time?

    TOK. TOK. TOK.“Siapa?” ujarku mengerutkan dahi.Kulangkahkan pelan kaki ini menuju ke pintu.Cklek.Begitu pintu kubuka, Fina tengah berdiri di sana. Rambutnya diikat asal, kacamata hitam besar membingkai wajahnya, tote bag menggantung di bahu, dan ekspresi yang begitu semangat terpancar dari wajahnya.“Ayo,” katanya singkat.Aku berkedip pelan. “Ayo ke mana?”“Me time,” jawabnya ringan, sambil melangkah masuk begitu saja. “Kita berdua.”Aku menutup pintu perlahan, dahiku semakin berkerut tak paham. “Fin ... kamu nggak kerja?”Fina melirik jam di pergelangan tangannya, lalu mengangkat bahu. “Cuti.”“Hah?”“Cuti,” ulangnya. “Bulanan.”Aku menatapnya, ragu. “Rayhan—”“Udah izin dan udah gue izinin,” potongnya cepat. “Gue chat dia pagi-pagi banget. Bilang kalo gue mau ngajak lo keluar. Dia jawab, asal Kayla aman. Jadi, nggak ada alasan lo buat nolak, kan?” tanyanya, mengangkat satu alisnya.Aku terdiam. Rayhan segitu gampangnya memberi izin setelah beberapa hari ini ia tak memperbolehka

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC 177 - Rumah

    Aku mengangguk pelan, menatap perawat yang masih menunggu di ambang pintu.“Iya,” kataku lirih. “Nggak papa,” lanjutku. Membuat Rayhan menghembuskan napasnya.Tatapannya menahanku, seperti takut kalau satu langkah menjauh dariku bisa berujung penyesalan seumur hidup.“Kamu yakin?” tanyanya merendah.Aku mengangguk lagi. “Aku aman di sini. Nggak bakal ke mana-mana.”Baru setelah mendengar itu, dia berdiri. Tangannya sempat menyentuh punggung tanganku sebentar—singkat, mengusapnya hangat.“Aku cuma bentar,” katanya. Bukan janji besar, tapi cukup membuat hatiku menghangat.Aku mengangguk mengiyakan.Pintu tertutup dengan perlahan, menyisakan keheningan yang kembali merambat masuk ke ruangan. Aku menatap langit dari balik jendela. Cahaya jingga mulai memudar, berganti warna abu yang tenang, seolah menggambarkan dinginnya malam. Tanganku refleks menyentuh perutku, mengusapnya pelan.Masih ada, batinku. Kita masih di sini.Aku mencoba memejamkan mata, mengatur napas, seperti yang dokter aja

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC 176 - Ancaman Fina

    Aku menarik napas pelan. “Masih ada,” jawabku lirih. “Dokter bilang ... dia kuat. Tapi aku harus jagain ia bener-bener. Nggak boleh kecapekan, apalagi ... stres,” lanjutku menerawang. Sedetik kemudian, aku kembali menatap Rayhan.Rayhan memejamkan matanya sejenak. Bahunya turun dengan perlahan, menggambarkan bagaimana dirinya begitu lega dengan jawabanku.“Syukurlah ....,” gumamnya lega.Fina yang sedari tadi sok galak, akhirnya berdiri, dan kembali mendekat ke bangsalku. “Masih aman, ya?” tanyanya dengan nada memojokkan. Alisnya terangkat sebelah, dan bibirnya tersenyum meremehkan.Aku mengangguk. Tatapanku beralih pada Rayhan yang kini sudah membuka matanya kembali, menatap Fina penuh tanda tanya."Nggak," jawab Fina, menggeleng.Tatapan Rayhan seketika berubah—bukan cuma karena lega, tapi juga rasa bersalah yang memenuhi wajah lelahnya. “Aku hampir kehilangan kalian ....”“Ray—”“Aku seharusnya ada di samping kamu,” potongnya cepat. “Dari awal,” lanjutnya penuh rasa bersalah.Aku t

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC 163 - Maksudnya?

    Ia menoleh cepat, pandangannya sedikit terkejut. “Hm? Kenapa, Sayang?” ujarnya bertanya.Aku menggigit bibir bawahku, menatapnya tajam membuat Rayhan sedikit gelisah. “Kalian tadi ngomongin apa, sih?”Rayhan mengerjap pelan, lalu tersenyum tipis. “Nggak ngobrol apa-apa kok, Sayang. Fina cuma minta

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC - 162 Kalian Ngapain?

    Fina kembali dengan menenteng beberapa alat makan di tangannya. “Ayo makan, makan,” ajaknya semangat.Aku dan Rayhan saling berpandangan satu sama lain, ia menggelengkan kepalanya, memberi kode padaku untuk berbicara pada Fina. Aku menghela napas panjang, lalu berdeham. “Fin ... sebenernya aku udah

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC 161 - Aunty Fina

    Begitu pintu lift apartemen terbuka, aku langsung tertegun.“FINA?!” seruku kaget begitu melihatnya dengan rambut sedikit berantakan, berdiri di depan pintu dengan kantong besar di kedua tangannya. Wajahnya tampak kesal tapi juga lega ketika melihat keberadaanku.“YA AMPUN, AKHIRNYA KAMU PULANG JUG

  • Magang Jadi Istri CEO   MJIC - 160 Rayhan Posesif

    Aku melirik ke arahnya — wajahnya antara nggak percaya, panik, tapi matanya bersinar. Dia lalu menunduk, menyentuh perutku dengan hati-hati. “Ya Tuhan ... kecil banget ya, Sayang,” gumamnya nyaris tak terdengar.“Masih sekitar lima minggu, ya,” jelas dokter. “Makanya belum terdengar detak jantungnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status