Chapter: Bab 13 - Postingan Bara“Mas ...,” lirih Risa hampir tak terdengar, “aku ... pusing ...,” ujarnya, merasakan pandangannya buram.Damar langsung menegang. “Risa?”Kelopak mata Risa berkedut, tubuhnya condong ke depan, hampir jatuh dari sofa. Damar sigap meraih bahunya, menahan tubuh itu sebelum benar-benar ambruk.“Risa!” amar menguncang tubuh Risa beberapa kali, mencoba membuatnya tetap tersadar. “Hei. Jangan merem. Dengar aku.”Tangan Risa meraih udara kosong, gemetar, lalu jatuh lemas ke pangkuannya.“Mas ... aku ... nggak bisa napas ...,” bisiknya parau.Damar membeku sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan rasa takutnya—lalu langsung mengangkat wajah Risa dengan kedua tangannya.“Risa, buka mata. Sekarang.”Risa mencobanya ... tapi pandangannya kabur. Badannya dingin. Kepalanya terasa ringan.“Mas ... gelap ...”Tubuhnya terkulai.Damar menahan napas meliat Risa yang semakin lemah.“RISA!”Risa membuka mulutnya sedikit, seperti ingin bicara—tapi tak ada suara yang keluar.Tubuhnya tiba-tiba jatuh penuh
Last Updated: 2025-11-23
Chapter: Bab 12 - Risa, Lihat Aku!Damar menepis tangan Risa dari pompa itu dengan cepat—keras—pompa itu jatuh ke lantai. Menimbulkan suara yang cukup keras. Damar bergegas menggeser tubuhnya, menghalangi Risa menggapai pumping itu.“RISA!” bentaknya.Risa tersentak, menatap nanar pumping miliknya yang kini teronggok di balik badan Damar. “Mas! Kenapa—”“Karena kamu nyakitin diri sendiri,” jawabnya datar. Sangat datar.Risa mendongak, berlinang air mata. “Aku cuma mau ngeluarin ASI! Tadi udah keluar! Harusnya bisa lebih banyak—”“Risa.”Bentakan Damar tajam. Mengiris. Dingin. “Kamu perahnya sembarangan. Ritmenya nggak bener. Kamu maksa perah ASI sampai merah,” ujar Damar melihat sekilas area dada Risa, melihat sebagai kakak ipar yang cemas, bukan pria bernafsu.Risa menggeleng keras, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak karuan. “Awas! Aku harus isi botolnya! Kalau aku nggak perah, nanti ASI-nya makin sedikit—Mas nggak ngerti—”“Aku ngerti.”Damar jarang—sangat jarang—menaikkan suara.Wajahnya mengeras. Rahangnya
Last Updated: 2025-11-23
Chapter: Bab 11 - Brak!Damar mendongak perlahan—sangat perlahan—seolah Risa baru saja menamparnya dengan pertanyaan itu. Tatapannya kosong, sebelum akhirnya ia mengembalikan fokusnya pada Risa.“Jangan paksa aku buat jawab pertanyaan yang bahkan kamu sendiri tahu itu nggak benar,” ucapnya dingin.Nada suaranya rendah, serak, tapi tetap stabil. Tidak ada belaian. Tidak ada pelukan. Hanya ketegasan yang terus menusuk.Risa menggigit bibirnya, bahunya bergetar. “Tapi Mas nggak jawab ... berarti—”“Tuhan, Risa.”Damar mengusap wajahnya sendiri—frustasi—lalu menunduk, seperti menahan amarah yang sudah mencapai batas.“Kalau kamu ngomong kayak gitu terus,” ia menatap Risa tajam, “kamu bukan cuma nyakitin diri kamu sendiri. Kamu nyakitin Sara juga.”Risa terdiam. Napasnya tercekat.“Dia butuh kamu. Ibu kandungnya.”Damar mencondongkan tubuh sedikit, memnyadarkan Risa, tapi suaranya menekan dada Risa seperti beban.“Kamu masih bertahan di sini, masih berani buat nyoba, masih mau nyusuin dia walaupun sakitnya seteng
Last Updated: 2025-11-22
Chapter: Bab 10 - Bukan Ibu yang Baik"Udah?" Damar memicingkan matanya, menatap Risa yang tengah merapikan tas milik Sara."Iya," jawab Risa singkat.Damar mengangguk, tangannya membuka pintu mobil dengan mudah dan meninggalkan Risa yang masih meredakan debaran di dadanya."Duh, gimana ya?" gelisah Risa, ragu. Ia menatap keluar, mendapati Damar yang tengah menunggunya di depan sana. "Sara, Nak ... kamu harus kerja sama sama Mama ya, Sayang," ujarnya menata Sara, menepuk gadis mungil itu penuh kasih syaang.Tok. Tok.Ketukan di jendela samping membuatnya terkejut, lebih terkejut lagi ketika mendapati Damar yang sudah membuka pintu mobil. "Aku bawain," ujarnya satai.Risa terpaku, matanya tak henti menatap Damar dengan perasaan sungkan. Sedetik kemudian, pandangan mereka bertemu, membuat keduanya sedikit canggung."Ayo," ujar Damar, memperingati."E-eh," jawabnya terkesiap. "I-iya, Mas," lanjutnya. Ia keluar mobil, dan berjala di sisi Damar yang kini melambatkan langkahnya."Dokter udah nunggu," lirih Damar membuat Risa mem
Last Updated: 2025-11-22
Chapter: Bab 9 - Aku Nggak TahanDamar langsung berhenti.Ia menoleh cepat, kaget mendengar kata itu keluar dari mulut Risa dalam kondisi seperti ini. Matanya membesar sejenak, wajahnya refleks memanas, jelas tidak siap dengan arah pembicaraan itu.g“Ris—” suaranya terdengar patah.Ia berkedip pelan, mencoba memproses, lalu buru-buru menggeleng sambil menegakkan duduknya.“Ris, itu ... nggak boleh,” ucapnya pelan tapi tegas.Risa menatapnya, bingung dan makin panik. “Nggak boleh?” tanyanya menahan malu.“Iya.” Damar menelan ludah, mencoba membuat suaranya lebih stabil. “ASI bengkak nggak boleh dihisap orang dewasa. Malah bisa bahaya buat kamu. Bisa tambah infeksi,” katanya tanpa jeda.Risa mengembuskan napas yang lelah. “Terus aku harus gimana ... Mas? Sakitnya tambah parah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.Melihat itu, ekspresi Damar langsung melunak. “Aku bantu pakai cara yang aman.”Risa mendongak, menatap Damar penuh tanya. “Mas yakin?”Damar menarik napas besar, menahan canggung dan panik dalam dirinya. “Aku c
Last Updated: 2025-11-21
Chapter: Bab 8 - Bantu Hisap, Bisa?“Eum, Mas—”Damar membalikkan badannya, memunggungi Risa. "Aku nggak lihat."“Ini masih panas, Mas.” kata Risa mengeram.Tangannya dicelupkan sebentar sebelum benar-benar mencelupkan handuk hingga basah.“Sebentar. Aku tambahin air dulu,” ujar Damar cepat. Membuat Risa meremas handuk dengan cepat.Risa tersenyum kecil. Sementara Damar berlari ke dapur, Risa membuka kancing piyamanya, mengompresnya perlahan. “Ssshhh ..,” rintihnya menahan nyeri. Satu menit. Dua menit. Rasanya tak kunjung reda, ia menyerah. Tangannya masih menempelkan handuk hangat di dada ketika suara langkah perlahan mendekat ke arahnya.Damar muncul sambil membawa mangkuk air hangat baru—nyaris penuh sampai bibirnya—seakan begitu terburu-buru sampai tidak sempat menjaga langkahnya.“Ris—” Ia langsung mendekat, membuat mangkuk hampir tumpah karena tangannya yang gemetar. Damar terdiam dua detik, matanya jelas panik melihat piyama Risa yang setengah terbuka. Lalu matanya memejam seraya melangkah ke arahnya.Handuk d
Last Updated: 2025-11-10
Chapter: MJIC - 178 Cuma Me Time?TOK. TOK. TOK.“Siapa?” ujarku mengerutkan dahi.Kulangkahkan pelan kaki ini menuju ke pintu.Cklek.Begitu pintu kubuka, Fina tengah berdiri di sana. Rambutnya diikat asal, kacamata hitam besar membingkai wajahnya, tote bag menggantung di bahu, dan ekspresi yang begitu semangat terpancar dari wajahnya.“Ayo,” katanya singkat.Aku berkedip pelan. “Ayo ke mana?”“Me time,” jawabnya ringan, sambil melangkah masuk begitu saja. “Kita berdua.”Aku menutup pintu perlahan, dahiku semakin berkerut tak paham. “Fin ... kamu nggak kerja?”Fina melirik jam di pergelangan tangannya, lalu mengangkat bahu. “Cuti.”“Hah?”“Cuti,” ulangnya. “Bulanan.”Aku menatapnya, ragu. “Rayhan—”“Udah izin dan udah gue izinin,” potongnya cepat. “Gue chat dia pagi-pagi banget. Bilang kalo gue mau ngajak lo keluar. Dia jawab, asal Kayla aman. Jadi, nggak ada alasan lo buat nolak, kan?” tanyanya, mengangkat satu alisnya.Aku terdiam. Rayhan segitu gampangnya memberi izin setelah beberapa hari ini ia tak memperbolehka
Last Updated: 2025-12-28
Chapter: MJIC 177 - RumahAku mengangguk pelan, menatap perawat yang masih menunggu di ambang pintu.“Iya,” kataku lirih. “Nggak papa,” lanjutku. Membuat Rayhan menghembuskan napasnya.Tatapannya menahanku, seperti takut kalau satu langkah menjauh dariku bisa berujung penyesalan seumur hidup.“Kamu yakin?” tanyanya merendah.Aku mengangguk lagi. “Aku aman di sini. Nggak bakal ke mana-mana.”Baru setelah mendengar itu, dia berdiri. Tangannya sempat menyentuh punggung tanganku sebentar—singkat, mengusapnya hangat.“Aku cuma bentar,” katanya. Bukan janji besar, tapi cukup membuat hatiku menghangat.Aku mengangguk mengiyakan.Pintu tertutup dengan perlahan, menyisakan keheningan yang kembali merambat masuk ke ruangan. Aku menatap langit dari balik jendela. Cahaya jingga mulai memudar, berganti warna abu yang tenang, seolah menggambarkan dinginnya malam. Tanganku refleks menyentuh perutku, mengusapnya pelan.Masih ada, batinku. Kita masih di sini.Aku mencoba memejamkan mata, mengatur napas, seperti yang dokter aja
Last Updated: 2025-12-26
Chapter: MJIC 176 - Ancaman FinaAku menarik napas pelan. “Masih ada,” jawabku lirih. “Dokter bilang ... dia kuat. Tapi aku harus jagain ia bener-bener. Nggak boleh kecapekan, apalagi ... stres,” lanjutku menerawang. Sedetik kemudian, aku kembali menatap Rayhan.Rayhan memejamkan matanya sejenak. Bahunya turun dengan perlahan, menggambarkan bagaimana dirinya begitu lega dengan jawabanku.“Syukurlah ....,” gumamnya lega.Fina yang sedari tadi sok galak, akhirnya berdiri, dan kembali mendekat ke bangsalku. “Masih aman, ya?” tanyanya dengan nada memojokkan. Alisnya terangkat sebelah, dan bibirnya tersenyum meremehkan.Aku mengangguk. Tatapanku beralih pada Rayhan yang kini sudah membuka matanya kembali, menatap Fina penuh tanda tanya."Nggak," jawab Fina, menggeleng.Tatapan Rayhan seketika berubah—bukan cuma karena lega, tapi juga rasa bersalah yang memenuhi wajah lelahnya. “Aku hampir kehilangan kalian ....”“Ray—”“Aku seharusnya ada di samping kamu,” potongnya cepat. “Dari awal,” lanjutnya penuh rasa bersalah.Aku t
Last Updated: 2025-12-17
Chapter: MJIC 175 - Keadaan Baby, Gimana?Aku hendak membuka mulut, tapi belum sempat mengeluarkan suara, perutku ikut bersuara pelan—seolah menjawab pertanyaan yang diajukan Rayhan. Hanya ekspresi merintih yang membuat Rayhan segera menjauhkan badannya.“Sakit lagi? Kamu pusing? Mau aku panggil perawat nggak?” tanyanya dengan begitu panik.“PAK! Jangan nyerahin Kayla ke perawat dulu, aku belum siap ditinggal sendirian gara-gara drama kalian ini!” protes Fina cepat, tangannya terangkat seperti anak kecil yang sedang meminta waktu tambahan.Rayhan menatapnya datar. “Fina, aku cuma mau cek keadaan dia aja.”“Aku juga mau cek keadaan aku! Jantung aku ini—” Dia menunjuk dadanya. “—udah mau drop out dari tubuh karena ulah kalian yang bikin aku muak!”Rayhan mengembuskan napas panjang, sangat lelah, tapi dia tetap menoleh ke arahku. “Kay ... kamu mau apa?” tanyanya, suaranya begitu lembut.Aku menunduk sebentar, memikirkan jawabannya.“Aku ... mau ditemenin,” kataku lirih.Rayhan langsung menegakkan bahunya, ekspresi wajahnya berub
Last Updated: 2025-12-14
Chapter: MJIC 174 - Peluk“Aku kira kamu kenapa-kenapa. Dari tadi nggak ada kabar, HP kamu juga nggak bisa dihubungin. Terus ada invoice masuk dari asuransi kesehatan yang nyambung ke perusahaan, makanya aku tau kalo kamu ada di sini, setelah pihak rumah sakit nyoba buat ngehubungin kami.”Fina mengusap pipinya kasar, menghapus air mata yang mulai mengalir.“Aku juga hampir jatuh di parkiran, sumpah deh. Saking paniknya sama kamu,” lanjutnya mengangat jari jempol dan telunjuk, seolah ia mengatakan jika perkataannya tak ada kebohongan di dalamnya.Rayhan menatapku menusuk, membuatku membalas tatapannya sedikit takut.Tatapannya tajam ....Lebih seperti seseorang yang baru saja selamat dari kehilangan paling menakutkan dalam hidupnya—dan masih gemetar karena syok yang ia rasakan.Rayhan menundukkan kepalanya sedikit, membuat mata kami sejajar.Ia menelan ludahnya kasar.“Kalau ada apa-apa sama kamu ...”“Ray ...,” suaraku lirih, memotong ucapannya.Dia langsung menoleh, kaget. Tubuhnya sedikit tersentak.“... p
Last Updated: 2025-12-09
Chapter: MJIC - 173 Rumah SakitPintu ruangan tiba-tiba terbuka cukup keras, seperti didorong oleh seseorang yang sudah kehilangan kesabarannya.Tubuhku tertegun, lalu menoleh sedikit takut.Rayhan muncul di ambang pintu— dan seketika udara di ruangan seperti mengerut.Wajahnya pucat. Matanya merah. Napasnya kacau tak beraturan. Kemejanya kusut, seolah ia baru saja berlari tanpa henti dari parkiran sampai depan pintu ini.Di belakangnya, Fina menyusul—lebih berantakan lagi. Tangannya gemetar, rambut acak-acakan, wajah shock dan takut tercampur jadi satu.Keduanya berdiri di ambang pintu. Memandangku dengan banyak pertanyaan di dalamnya. Seperti baru diseret oleh seribu kemungkinan buruk tentang apa yang mungkin terjadi padaku—dan sekarang mereka melihat kenyataannya, bahwa aku berada di ranjang rumah sakit, sendiri, pucat, dengan infus menusuk tanganku.Fina menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah. “Kayla ... ya Tuhan ...,” lirihnya, suaranya sedikit gemetar, “Kamu—kamu sendirian di sini? Kamu ... kam
Last Updated: 2025-12-08