หน้าหลัก / Romansa / Mahligai Abu dan Berlian / BAB 8: IDENTITAS YANG DIBONGKAR

แชร์

BAB 8: IDENTITAS YANG DIBONGKAR

ผู้เขียน: ryoonella
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-03 21:38:06

Ayu kembali menemui Paman Li dua hari kemudian. Kali ini dia sudah lebih siap. Pikirannya penuh dengan pertanyaan yang ingin segera ia tanyakan.

Namun, Paman Li mendahului memulai obrolan. “Nona pasti masih bingung. Mari kita bahas dari awal.” Dia lalu menggelar peta silsilah keluarga di atas meja.

“Ini kakekmu, Johan Widjaya. Beliau yang membangun Grup Abadi dari nol.” Jarinya menunjuk ke foto seorang pria tegas. “Lalu anak tunggalnya, Alexander. Itu ayahmu.”

Ayu memegang foto ayahnya. Rasanya aneh. Dia memiliki ingatan samar tentang senyuman itu. Namun, semua terasa seperti mimpi yang sangat jauh.

“Ayah dan ibumu meninggal saat kamu berusia lima tahun. Mereka mengalami kecelakaan mobil di tol menuju bandara.” Paman Li mengeluarkan kliping koran yang sudah menguning.

Judulnya besar: “Pemilik Grup Abadi Tewas dalam Kecelakaan Misterius.” Ayu membacanya perlahan. “Diduga rem blong,” tertulis di sana. Namun, ada kalimat lain yang menarik perhatian.

“Seorang saksi mata bilang ada mobil l
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 69: EPILOG

    “Tahun depan, aku ingin mengembangkan program beasiswa.” Kania memulai dengan suara jelas.“Khusus untuk anak-anak marjinal di daerah terpencil.” Matanya berbinar dengan tekad.Aran segera menyambung. “Aku sedang mengerjakan aplikasi baru.”“Aplikasi yang menyambungkan donor langsung ke penerima.” Tangannya membuat gerakan menghubungkan.“Tanpa perantara yang memotong bantuan.” Senyumnya penuh semangat.Dion dan Rara saling berpandangan. Lalu berbicara serempak. “Kami ingin memperluas yayasan.”“Ke wilayah-wilayah konflik yang terlupakan.” Suara Dion tegas.“Banyak anak-anak di sana yang membutuhkan bantuan.” Rara menambahkan dengan lembut.Ayu tersenyum bangga melihat mereka. Visi keluarga mereka terus bertumbuh. Semakin luas dan semakin dalam.“Kalian semua luar biasa,” ucap Bima dengan suara bergetar. Tangannya menutupi matanya sejenak.“Nenek dan kakek pasti sangat bangga.” Ayu menambahkan sambil memegang tangan Bima.Malam semakin larut. Angin malam berhembus sepoi-sepoi. Membawa

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 68: PELABUHAN AKHIR

    Ayu dan Bima duduk di bangku kayu taman mereka. Bangku itu sudah lapuk dimakan usia. Namun tetap kokoh menopang mereka berdua.Usia telah mengukir tanda di wajah mereka. Keriput halus seperti peta pengalaman hidup. Namun mata mereka masih berbinar sama seperti dulu.Di tangan Ayu yang sudah berbercak bintik, tergenggam secarik kertas usang. Kertas itu lembut dan rapuh di ujung-ujungnya. Surat terakhir dari Ratma yang dia simpan selama tiga puluh tahun.“Dia menulis ini saat tahu ajalnya mendekat,” ucap Ayu dengan suara parau. Dia membacanya untuk kesekian kalinya.“Saat dia tahu dia tak punya banyak waktu lagi.” Jarinya menelusuri tulisan tangan Ratma yang sudah memudar.Bima mengangguk perlahan. Matanya berkaca-kaca. “Dan dia tidak pernah salah tentang kita.”“Kita benar-benar telah membangun rumah.” Tangannya menunjuk ke arah rumah besar di belakang mereka.“Dari semua puing-puing yang ditinggalkannya.” Suaranya bergetar penuh syukur.Anak-anak dan cucu-cicit mereka bermain di halam

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 67: CAHAYA ITU ADA

    Di sesi tanya jawab, suasana menjadi lebih hidup. Seorang wanita muda berdiri dengan gemetar. Mikrofon di tangannya bergetar.“Bagaimana caranya memaafkan orang yang tidak merasa bersalah?” Suaranya lirih dan penuh rasa sakit.“Kamu tidak perlu memaafkan mereka.” Jawaban Ayu langsung dan tegas. “Itu bukan kewajibanmu.”“Maafkan dirimu sendiri terlebih dahulu.” Pandangannya penuh kasih. “Maafkan dirimu karena membiarkan rasa sakit itu mengontrol hidupmu.”Wanita itu menangis terisak. Seorang pria paruh baya mengambil alih mikrofon. Wajahnya tampak keras namun penuh pertanyaan.“Apa tidak takut dicuekin saat membuka semua ini?” Suaranya berat.“Pernah takut.” Ayu mengangguk jujur. “Sangat takut.”“Tapi aku lebih takut hidup dalam kebohongan.” Matanya berbinar dengan keberanian. “Kebenaran memang pahit.”“Tapi kebenaran membebaskan.” Senyumnya melebar. “Dan itu sepadan dengan segala risikonya.”Seminar berakhir dengan standing ovation meriah. Ratusan orang berdiri serentak. Tepuk tangan

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 65: MAHLIGAI ABADI

    Keesokan paginya, mereka bersiap pulang dengan hati berat. Perasaan campur aduk mengisi dada setiap anggota keluarga. Mereka meninggalkan tempat yang telah memberikan kedamaian.“Gue masih pengen ngerasain dinginnya udara sini tiap pagi,” keluh Alika sambil memandang ke arah danau. Suaranya terdengar sayu.“Jangan sedih, dik. Kita bisa balik lagi tahun depan,” bujuk Kania sambil merangkul pundak adiknya. Senyumnya menenangkan.Sebelum berangkat, mereka berfoto bersama di depan danau. Posisi diatur dengan ceria oleh anak-anak muda. Semua tersenyum lebar dan tulus.Wajah mereka memancarkan kepuasan hidup yang mendalam. Latar danau yang tenang menyempurnakan momen. Kenangan ini akan abadi.“Ini hidup yang sebenernya,” bisik Ayu pada Bima. Ia melihat hasil foto di ponsel. Matanya berbinar penuh rasa syukur.“Hidup yang penuh makna dan cinta,” lanjutnya dengan suara lirih. Jarinya menelusuri wajah-wajah dalam foto. Hatinya terasa hangat.Bima memeluk bahu istrinya dengan lembut. “Yang kita

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 66: KEKUATAN DALAM KELEMAHAN

    Ayu berdiri tegak di atas panggung yang luas. Ratusan pasang mata menantinya dengan harap. Seminar bertajuk "Membangun Kekuatan dari Kelemahan" telah dimulai.Dia adalah pembicara utama hari ini. Sebuah mikrofon kecil terpasang di dekat bibirnya. Hatinya berdebar, namun napasnya tetap tenang.“Banyak yang bilang, hidupku kayak sinetron.” Suaranya jernih terdengar di seluruh ruangan. Para hadirin tersenyum kecil.“Tapi ini beneran terjadi. Dan mungkin, ada di antara kalian yang ngerasain hal serupa.” Matanya menyapu kerumunan dengan lembut.Dia menarik napas dalam dengan sengaja. Udara dingin ruang seminar terasa di paru-parunya. Hadirin terdiri dari berbagai usia dan latar belakang.“Aku cuma mau bilang sesuatu yang sederhana.” Tangannya memegang sisi podium. “Nggak apa-apa nggak kuat.”“Nggak apa-apa nangis. Nggak apa-apa kesel.” Suaranya mantap, tidak mengandung rasa malu.“Karena dari situlah kita benar-benar mulai.” Senyum kecil muncul di wajahnya. “Dari ngakuin bahwa kita manusia

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 64: HARMONI DI TEPI DANAU

    Lima tahun berlalu dengan damai penuh berkah. Keluarga besar mereka kini berkumpul di vila kayu di tepi danau. Mereka merayakan ulang tahun ke-10 pernikahan Dion dan Rara.Suasana santai dan penuh gelak tawa riang. Anak-anak sudah tumbuh menjadi remaja dan dewasa muda. Cucu-cicit pun bertambah jumlahnya dengan wajah-warga ceria.Tiga generasi hidup bersama dalam harmoni yang indah. Setiap sudut vila dipenuhi canda dan cerita. Kekayaan terasa nyata dalam kebersamaan ini.“Dulu kita nggak ada yang nyangka Dion bisa jadi suami yang bertanggung jawab kayak gini,” canda Bima sambil memangku cucu bungsunya. Matanya berbinar penuh kasih.Dion hanya bisa menggeleng geli. “Jangan ingetin masa lalu aku, dong! Aku udah berubah total!” protesnya. Namun wajahnya berseri-seri bahagia.Rara tersenyum lembut lalu memeluk suaminya. “Justru karena masa lalunya, aku lebih menghargai dia sekarang.” Pelukannya erat dan penuh makna.“Orang yang berubah itu kuat,” lanjutnya. Dion menunduk, tersentuh oleh ka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status