LOGIN7. Mahluk Lain
Hatiku Cemburu. Penulis: Lusia Sudarti Part 7 *** Pantas saja mahluk-mahluk berkeliaran, karena aku pun sedang mengandung. Mereka menyukai aroma-aroma wanita hamil. Menurut mereka wanita hamil itu harum. "Yank, lihatlah mereka?" bisikku kepada suami sambil memajukan dagu ke arah mahluk-mahluk itu. "Iya yank, Mas udah tau!" bisiknya juga. "Biarin aja Yank! Nanti mereka pergi sendiri," sambungnya. Aku pun mengangguk dan mengabaikan mereka. "Yank, Melati pun masih mengikuti Kita!" jelasku saat di mobil. Beberapa menit kemudian, kami menyelesaikan makan malam dan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke tempat muat. Suami fokus menyetir karena jalanan begitu padat merayap. "Iya yank!" Sesekali masih menjawab ucapanku dan tersenyum kearahku. Hooaaam ... Kedua netraku rasanya begitu berat. "Tidur aja yank!" ucapnya melihat kearahku yang mengantuk berat. Aku pindah ke belakang jok membaringkan tubuh. Setelah beberapa detik, aku pun terbang ke pulau kapuk. Suara gaduh membuatku terbangun dari tidurku. Ku edarkan pandanganku! Oh ternyata sudah sampai di pelabuhan. "Pantes aja berisik banget!" gumamku. Mataku mencari-cari keberadaan Suamiku. Tapi belum kutemukan. Keadaan sekitar masih remang-remang. Aku melirik jam, ternyata masih pukul 01:00 malam. Aku haus sekali! Aku raih air mineral di sudut. Setelah menghabiskan minum. Tiba-tiba pintu mobil terbuka dari luar. Ternyata suamiku membawa dua bungkus nasi goreng. "Oh Permaisuriku sudah bangun rupanya!" sapanya dengan bibir tersenyum. "Darimana Yank? Kok nggak pamit sih?" protesku. "Kan beli nasgor yank!" jawabnya, lalu bergeser ke sisiku, lalu memeluk tubuhku. "Yank ...," bisiknya di telingaku. "Hemm, apa?" desisku karena geli. Kumis tipisnya menempel dan menusuk daun telingaku. Aku menghindari sentuhannya. Tapi pelukannya semakin erat dan mengunci seluruh tubuhku. Kedua netranya menatapku sendu. Perlahan ia mendaratkan kecvpan di kening. Detik berikutnya, terjadi penyatuan yang membuatku lelah tak berdaya. Suamiku mengakhiri permainan dengan teriakan tertahan. Setelah semburan magma membasahi rahimku. Mas Ardian membaringkan tubuh yang basah karena peluh. Tersenyum mencium keningku. "Makasih yank," bisiknya ditelingaku. Aku pun tersenyum dan mengangguk sembari mengatur nafas. "Aku juga yank, terima kasih sudah memberikan yang terbaik." Erat kupeluk tubuhnya yang basah karena keringat. "Yank, yank. Nasgornya dimakan dulu, tambah dingin nanti!" Tubuhku di guncang lembut untuk membangunkanku yang tertidur karena kelelahan. Aku nengucek mataku yang masih terasa berat, dengan bantuannya aku duduk bersandar. "Yank, anter dulu ke toilet dong?" rengekku. "Hemm, ayo yank!" Setelah turun kami mencari toilet yang bersih. Di warung-warung pelabuhan banyak tersedia toilet umum. Aku celingukan mencari yang kosong. Ada suara-suara aneh di toilet paling ujung. Suara desahan wanita dan laki-laki terdengar samar. "Sini yank, kosong!" Tanganku di tarik Mas Ardian menuju toilet yang kosong. Aku masuk ke dalam dan langsung mandi, karena sudah shubuh. Setelah bergantian mandi kami pun kembali ke mobil. Kami bertemu seorang wanita berambut pirang sebahu bersama seorang laki-laki yang juga dari toilet. Mungkinkah mereka ya?" gumamku dalam hati. "Ah masa bodoh lah." Wanita itu tersenyum simpul. Melangkah menjauh keluar pelabuhan dengan tergesa. Setelah menerima beberapa lembar uang berwarna biru. Dan yang laki-laki menuju ke arah parkiran mobil. Berjarak tiga buah mobil dari mobil kami. Pemandangan seperti sering terjadi di pelabuhan ini. Apa lagi saat masih shubuh begini, penjaga masih istirahat. Setelah sarapan, suami memeriksa mobil, memeriksa ban, oli dan yang lainnya. "Yank, ayo duduk di warung beli kopi!" ajaknya. Sambil membantu turun dari mobil. Lalu kami menuju sebuah warung yang telah buka. "Mi, kopi hitam sama luak!" Mas Ardian memesan kopi ke pemilik warung. "Baik A, apalagi?" jawab pemilik warung. "Sudah Mi." Pemilik warung mengangguk, kemudian beliau berseru kepada sang pelayan. "Neng, kopi dua hitam dan luak," teriaknya. "Iya Mi," jawab cewek di dalam. "Itu Neng, berikan kepada AA dan teteh yang duduk di depan," seru pemilik warung menoleh ke arah kami. Lalu Ia melangkah ke arah kami. Sambil menebar senyuman yang menggoda. Aku memasang wajah tak bersahabat. Pandangan tajam aku arahkan padanya. Ia menatapku dengan tatapan sedikit takut dan bergegas masuk. Ehem ... Suamiku mengalihkan pandangannya kearahku, setelah kepergok mencuri pandang ke pelayan tadi. Aku hanya diam, aku acuh, aku cuek. "Yank, minum dulu habis mobil itu kita muat!" ujarnya kepadaku. Aku tetap tak bergeming. Mas Ardian lebih mendekat kearahku. Aku masih tetap diam tak bergerak. Panggilan untuk muat terdengar. "Ayo yank!" ajaknya sembari mengulurkan tangan kepadaku setelah menghabiskan kopinya. Aku menggeleng. "Muat sana, aku tunggu disini!" tolakku. Ia terkejut mendengar jawabanku. Wajahnya berubah sendu. Suara panggilan kembali terdengar. Akhirnya Mas Ardian pun berlari dan membawa mobil untuk muat keatas kapal tongkang. Aku hanya duduk melihat dari warung. "Neng, bukan asli sini ya?" suara pemilik warung mengagetkanku. "Eh iya Bu. Saya dari Sumatera ikut suami disini untuk cari pengalaman," jawabku ramah. "Iya Neng, cari pengalaman di rantauan!" jawab ibu pemilik warung begitu ramah. "Iya Bu." Ada lelaki berjalan kearah warung, ia memakai seragam satpam. Menatapku heran, karena mungkin aku asing bagi orang-orang sini. "Mih, kopi hitam satu!" Pelanggan warung, memakai seragam Satpam dan duduk di seberangku. Satpam tersebut menatapku lagi, lalu tersenyum. "Nunggu siapa Mbak?" tanyanya teduh dan senyumnya hangat juga ramah. "Nunggu Suami Pak." jawabku yang juga ramah. "Oh ... iya." Pak satpam kembali mengangguk. "Ini kopinya Pak!" pelayan tadi membawa kopi pesanan Satpam dengan memasang senyum genit. "Terima kasih, Neng!" sahutnya. Aku memasang wajah sinis kearah pelayan tadi. Ia pun pamit ke belakang lagi. 🥀🥀🥀🥀🥀 Dari kejauhan mobil suami hampir selesai muatnya. Aku edarkan pandangan dan berhenti pada satu titik. Laut lepas, ombak kecil bergulung-gulung, saling kejar-kejaran mencapai tepi. Suasana sepagi ini, tapi udara panas sudah terasa angin laut sepoi-sepoi menerpa kulit. Anganku jauuhh menerawang. "Bagaimana seandainya aku disini yang tak mengenal siapapun, tak punya saudara dan jauh orang tua. Di sia-siakan oleh suamiku?" l1rih hatiku sedih membayangkan itu semua. "Yank ..." Suara lembut membuyarkan lamunanku. Sama sekali tak aku hiraukan panggilannya. Aku seka air mata yang menetes di pipiku untuk menghilangkan jejak kesedihanku. Mas Ardian pun duduk di sebelahku. Dan menghela nafas berat, tatapannya tampak sayu. "Maafin Mas yank kalau ada salah! Tapi jangan seperti ini caranya," suaranya lir1h dan sendu. Pandangan matanya menyapu laut luas membentang. Aku bangkit dan menyusuri dermaga kapal sekaligus mengarah ke mobil. Tanpa sepatah kata pun aku ucap, tanpa sedikit pun aku menoleh. Terdengar langkah kaki setengah berlari kecil di belakangku. Aku pun naik ke mobil dan duduk di kursi jok sebelah kiri. Bersambung Mungkin cerita-cerita yang ku tulis tak menarik untuk di baca. Seandainya pembaca berkenan. Mohon subscribe, follow dan tekan lope nya. Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏😊23. Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)Menangkap Mahluk Yang Menyamar Menjadi Manusia Penulis : Lusia SudartiPart 23"Apa kalian tidak dengar ucapanku! Haa ...! Kalau kataku tunggu dulu, ya tunggu ...!" Suara Pak RT berubah berat dan serak. Aku dan suami terkejut, lalu menatap kearah pak RT. "Astaghfirullah ..."Tiba-tiba ....===============Tok! Tok! Tok!"Assalamualaikum, Bu! Bapak pulang!" terdengar suara ketukan dan salam dari luar. Aku dan suamiku tercekat. Sosok pak RT yang tadi berubah, kini menjadi sosok pak RT kembali.Tok! Tok! Tok!"Bu ... ini Bapak."Ceklek!Daun pintu terbuka dan pak RT yang lain masuk menenteng tas pakaian.Aku dan suami terkejut bukan main, karena lelaki yang sedang duduk di kursi berwajah sama dengan pak RT."Loh ... kok ada dua?" seruku, aku dan suami bangkit dari duduk dan mengamati mereka berdua.Sementara pak RT yang baru saja masuk, tak kalah terkejutnya melihat ada orang yang sama wajah, postur tubuh dengannya."Siapa kamu? Mengapa wajahmu mi
22. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Membantu Ibu RTPenulis : Lusia SudartiPart 22"Vinaaa ... jangan pergi! Tolong aku, hihihihi!" Kembali suara-suara itu memenuhi pendengaranku.Di kontrakan milikku ..."Mbak, gimana keadaannya?" tanya ibu Ani tetanggaku."Alhamdulillah, Bu! Sudah baikan!" jawabku sambil membalas jabatan tangannya."Mbak, kami kangen loh sama Mbak! Jangan ikut-ikutan lagi ya? Kita kangen sama Mbak!" sambung Mbak Ayu, putri ibu Ani."Ini dari kami, Mbak! Cuma sedikit, semoga bisa membantu ya?" ujar ibu RT sembari memberikan amplop berwarna putih ke dalam genggamanku. Hatiku menjadi trenyuh dan merasa tak enak hati, telah membuat mereka khawatir. "Aduh Bu, Mbak! Saya merasa tidak enak hati, merepotkan semuanya. Padahal enggak apa-apa kok, saya-nya!""Udah Mbak! Santai aja ... kami semua mengaggap Mbak dan Mas, seperti keluarga sendiri!" jawab ibu RT."Betul itu, Mbak! Jangan sungkan ya, jika butuh sesuatu, kami siap membantu," sahut ibu Ani."Ayo Ibu-ibu, di mi
21. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Ratu Dewi Kinasih Memberikan Sebuah Mustika.Penulis : Lusia Sudarti Part 21"Tetap fokus, dan jangan terkecoh!" seru wanita tersebut mengingatkan aku.🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷Disebuah perbatasan hutan yang sangat lebat! Tiba-tiba, wanita yang membawaku berhenti, dan menoleh kearahku."Maaf Nisanak! Saya hanya bisa mengantar Nisanak sampai disini! Nisanak jalan lurus saja dan jangan sekali-kali menoleh kebelakang, apapun yang Nisanak dengar, abaikan saja! Nisanak sudah ditunggu Kanjeng di istananya," wanita tersebut menjelaskan dengan bahasa yang mudah aku mengerti.Meskipun dalam hati bingung, takut, dan penasaran, aku menganggukkan kepala."Baik Mbak! Dan terima kasih banyak atas semuanya," jawabku. Wanita tersebut mengangguk dan tersenyum kepadaku. "Silahkan, Nisanak! Mumpung matahari masih tinggi! Jangan sampai kemalaman disini!" titahnya, yang tak mampu aku tolak."Bolehkah saya mengetahui nama Mbak?" ujarku ragu."Nama saya Wulan!" jawabnya
20. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Aku Dibawa Ke Alam Jin.Penulis : Lusia Sudarti Part 20"Nih minum dulu, yank!" Satu gelas teh hangat diberikan kepadaku. Aku menerimanya dengan tersenyum. "Terima kasih, yank!" Teh hangat mengeluarkan aroma khas yang menggugah selera. ===≠=========="Nanti kita istirahat dulu dikontrakkan ya, yank? Mas tak ingin terjadi apapun denganmu!" Mas Ardian memelukku, wajahnya terlihat sendu. Hatiku trenyuh melihatnya, dan juga bahagia."Iya, yank! Maafin, Vina ya?" ucapku sambil membalas pelukannya. Hatiku terasa damai di dalam pelukan suamiku, Mas Ardian.Tok! Tok! Tok!"Pak ... giliran bongkar!" Terdengar suara ketukan dan panggilan dari luar mobil, aku mengurai pelukan dan melongok keluar mobil."Oh iya, Pak!" jawab suamiku, beliau membuka pintu dan menemui Security dibawah.Aku merebahkan diri, tenagaku seolah tersedot. Aku merenung dengan kejadian yang baru aku alami diantara sadar dan tidak. Pengalaman mistis kali ini seolah menghisap energi
19. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Cerita MelatiPenulis : Lusia Sudarti Part 19Melati tak kuasa bergerak, kedua matanya tertutup. Rasa sakit di sela pahanya terasa begitu hebat. Darah keluar tanpa henti. Namun ... Melati masih mampu berdoa dalam hati. "Siapapun, tolong aku! Meskipun aku mati, arwahku tak akan tenang, sebelum membalas sakit hati dan dendamku ini!"===============Hatiku pilu melihat pemandangan menyakitkan yang terpampang di depan mataku, namun tak mampu berbuat apapun! Karena yang tampak olehku saat ini, hanya kilas balik masa lalu yang di alami oleh Melati.Setelah ketiga pemuda biad4b itu puas melampiaskan nafsunya, dan menyadari fakta jika Melati, gadis belia yang baru mereka rudapaksa dan kehilangan nyawanya. Barulah mereka merasa panik yang luar biasa. Mereka memungut pakaian dan segera memakainya dengan tergesa-gesa.Saat itu tiba-tiba ...Angin berhembus sangat kencang, pepohonan seakan hendak tumbang. Langit senja yang semula cerah, kini berubah mendu
18. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Melati Menceritakan Masa LalunyaPenulis : Lusia SudartiPart 18 Mbak pelayan tersebut menebarkan senyum smirknya untuk suamiku. Aku mendengus kesal melihatnya.================Kami melanjutkan perjalanan kembali, kali ini aku tak ingin terlelap! Karena kami akan melewati daerah alas Roban.Entah mengapa, aku merasakan bahwa situasi mistis benar-benar membuatku sedikit ngeri-ngeri sedap.Bukan aku ingin menantang, namun aku hanya ingin merasakan pengalaman yang berbeda. Meskipun, aku sadar, sedang mengandung janinku."Yank, kok belum tidur?" tanya suamiku.Aku terkejut dan menoleh kearahnya. "Belum, nanti aja setelah melewati hutan alas Roban."Kini gantian Mas Ardian yang terkejut. "Lho, emangnya kenapa yank? Mau tidur aja kok, nunggu setelah melewati alas Roban?""Entahlah, Mas! Aku juga enggak tahu!" jawabku."Oh ... ya sudah kalau begitu! Tetapi, jika memang mengantuk, tidur aja!""Iya, Mas," sahutku.Suamiku tetap fokus ke jalan, lalu l







