Share

Bab 6

Penulis: Lusia Sudarti
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-30 21:27:46

6. Mahluk Lain

Kabar Gembira Tentang Kehamilanku.

Penulis: Lusia Sudarti

Part 6

**

"Ohh kirain cewek mana? Cantik sekali!" sambungnya, sembari tersenyum santun kepadaku.

"Jang, sudah dapat berapa trip bulan ini?" tanya suamiku

"Belum dapat trip A, bulan ini!" jawab Ujang.

"Kenapa bisa begitu? Kan sedang lancar," ujar suamiku dengan mimik wajah tak percaya.

"Lancar A, yang sedang lancar. Kalau mobilku rusak terus," keluhnya.

"Sabar Jang, semua ada waktunya," jawab suamiku.

"Ya sudah kalau begitu Jang! Muat dulu, habis itu ngisi solar, istriku juga belum makan."

"Silahkan A. Nanti aku nyusul," jawabnya.

"Yank, habis muat kita ngisi solar selepas itu, nanti Mas anter mandi di pom," ucapnya.

"Iya yank, mana baiknya aja," sahutku.

Setelah mengisi solar dan aku melangkah menuju kamar mandi di pom, sementara suami menunggu aku mandi di teras mushola.

Sebelum masuk aku melihat seseorang menghampiri suamiku.

"A, itu siapa?" tanya perempuan yang bekerja di pom penasaran sambil duduk di sebelah suamiku.

"Istriku," sahut suamiku sedikit ketus.

"Oh ... kirain cewek nakal?" katanya sinis, dan itu membuat suamiku naik darah.

"Ehh hati-hati kalo bicara ya? Ngatain istriku cewek nakal! Enggak salah kamu? Bukannya kamu yang l*nt* haaahh ...!" hardik suamiku dengan nada penuh emosi sambil berdiri, dan tangan siap untuk melayangkan bogemnya ke wajah cewek yang sok kecantikan itu.

"Aduh A, sabar jangan main pukul! Kamu juga Luk, jaga bicaramu! Dasar cewek mvr4h4n!" sentak Ujang. Sementara Iluk segera kabur meninggalkan mereka.

Untung Ujang datang tepat waktu, kalau tidak, mungkin wajah Iluk sudah babak belur di hajar suamiku. Sedangkan aku melihat dari balik pintu kamar mandi.

"Awas kalo kamu berani ganggu istriku? Aku pastiin, kamu bakalan nyesel seumur hidup kamu! Paham!" hardik suamiku dengan emosi yang membuncah dengan tatapan nanar menatap kearah Iluk yang telah menjauh.

Sedang aku yang di dalam tersenyum bahagia. Ternyata suamiku begitu menyayangiku.

'Terima kasih Yaa Allah, engkau memberikan suami yang baik dan bertanggung jawab," ucapku bersyukur dalam hati.

Setelah mandi aku pun keluar dengan tubuh yang sangat segar. Sementara suamiku duduk dengan wajah yang masih memerah menahan amarahnya.

"Heem seger yank, mandi dulu sana!" titahku, dan pura-pura tak tau yang terjadi.

"Iya yank, sebentar ngeringin keringat dulu!" katanya sambil membuang nafas kasar.

"Sini yank, aku kipasi!" ujarku sembari mengibaskan potongan kardus.

"Kemana tadi kipasku ya yank?" tanyaku sembari mencari di dalam tas tapi tak ada.

"Mungkin ketinggalan di mobil yank!" sahutnya kemudian. "Mungkin juga. Tuh udah kering, cepetan mandinya, udah laapeerr!" ucapku sedikit bohong.

"Iya udah, tunggu di sini ya? Jangan kemana-mana." katanya sambil mencubit hidungku dengan mesra. Aku pun tersenyum mendapatkan perlakuan manis darinya.

Sesaat aku melirik kearah Iluk dan tatapan kami bertemu, ia menatapku dengan sinis. Namun aku tak peduli.

Tak lama suami pun selesai mandi, dan rambutnya yang basah semakin membuat wajahnya terlihat begitu tampan, wajar aja ada yang mendekatinya, dengan menjelek-jelekkanku demi mendapat simpatinya.

"Yuk yank!" ajaknya seraya merangkul pundakku, dan melangkah beriringan dengan kedua tangan bertaut.

Kesempatan emas untuk memanasi hati Iluk, aku pun memeluk pinggangnya. Dan aku sempatkan diri melirik sebentar ke arah Iluk. Dan reaksinya? Seperti orang kebakaran jenggot.

"Yank, memang siapa tuh cewek yang nyamper di toilet pom?" tanyaku menyelidik.

"Oh itu? Cewek kurang kerjaan kali," sahutnya sembari melirikku.

"Siapa hayoo? Jangan-jangan pacarnya dulu?" tebakku curiga.

"Enggak Sayangku, sueerr deh!"

Dua jarinya di acungkan dihadapanku sambil tersenyum.

"Oh yaa? Benarkah? Aku nggak percaya!" sungutku dan memasang wajah cemberut.

"Hehehe! Masih enggak percaya ya?" ledeknya.

"Bodo' ah."

Aku pura-pura tidur di kasur belakang jok dan memunggunginya.

"Jangan ngambek, entar tambah cantik lho, jangan cemberut entar tambah manis lho!" godanya seraya menghidupkan mesin mobil.

Kata-katanya membuatku tersenyum. 'Eiit tapi dalam hati. Agar beliau tak tau. Kalau tau, jadi tambah ganteng dan tampan nanti gayanya, he hehe."

"Yank ada manisan buah sivalan tuh, mau?" tanyanya ketika melewati pedagang buah di tepi jalan.

Aku spontan menoleh dimana ada pedagang buah sivalan.

"Mau ..."

"Eiittz tapi ada syaratnya lho yank?" godanya.

"Ihh mau beliin aja repot amit!" gerutuku.

"Mau nggak nih? Tapi penuhi dulu syaratnya!" katanya lagi.

"Apa?"

"Cun dulu donk!" ujarnya menepuk sebelah pipinya.

"Iihh dasar mesvm!" sengitku menahan malu.

"Ya udah kalo enggak mau! Enggak jadi beli ah!" jawabnya pura-pura marah.

"Oke, baiklah."

Aku pun menyerah, lalu beringsut mendekatinya dan mencivm kedua pipinya.

Cup! Cup! Cup!

"Nah gitu donk!" ucapnya sambil tersenyum.

Suamiku membawa kendaraan di tepi jalan dan

kami pun turun dan memesan es buah sivalan.

"Heemm seger ya yank?" kataku.

Aku menyesap minuman yang begitu nikmat terasa.

"Jelas dong. Ayo yank berangkat!"

Mas Ardian menggandeng tanganku menuju ke mobil.

🥀🥀🥀🥀🥀

Tak terasa minggu berganti bulan, dan kehidupan yang kujalani bersama suami semakin mesra.

Juga hari-hariku di kelilingi mahluk-mahluk tak kasat mata.

Ada yang iseng dan jahil, ada yang sekedar menunjukkan bahwa mereka ada. Sedikit pun aku tak merasa takut atau terganggu.

"Huueeek! Huueekk! Huueekk."

Perutku mual sekali, kepala pusing. Suami terkejut melihatku muntah-muntah dan pucat, dengan panik suami mengangkat dan membaringkan tubuhku di atas kasur mobil.

"Kenapa yank? Sakit?" tanyanya. Ia begitu ketakutan kalau sampai aku kenapa-napa. Lalu mengusap keringat dingin di keningku dengan lembut.

"Enggak tau yank, akhir-akhir ini aku sering merasa mual dan pusing.

"Sebentar yank?" Ia mengambil gelas dan diisi air panas teh dan gula.

"Nih di minum yank!" ujarnya sembari memberikan air teh hangat kepadaku.

Aku di bantu untuk duduk bersandar.

Aku menyesap perlahan teh pemberiannya.

"Gimana yank? Udah enakan?" tanyanya sambil mengusap keringat di keningku.

Aku mengangguk.

"Tapi wajah Sayang begitu pucat," katanya dengan raut sedih.

Tubuhku di peluknya dengan erat, aku menyandarkan kepalaku di dadanya untuk mencari kedamaian disana.

"Jangan sakit dong?" ujarnya berubah sendu.

Aku menggeleng. Enggak kok yank, aku nggak sakit! Sepertinya aku ..."

Sengaja aku menggantung ucapanku, agar beliau penasaran.

"Apa Yank?" jawabnya betul-betul penasaran.

"Hamil ...!" ucapku dengan bersemangat agar beliau mendengar jelas.

Kedua matanya terbelalak sempurna! Antara percaya dan tak percaya.

"Benarkah yank?" serunya dengan sinar mata bahagia.

Di tangkupnya wajahku dan tatapannya seolah minta penjelasan tentang kebenaran yang baru saja aku ungkap.

Aku tersenyum dan mengangguk.

"Alhamdulillah Yaa Allah."

Di peluknya kembali tubuhku dengan erat.

"Akhirnya Mas akan menjadi seorang Papa," bisiknya ditelingaku.

Aku pun bahagia karena kehamilanku. Dan bahagia memiliki seorang suami yang begitu penyayang dan perhatian.

"Yank nanti berhenti di apotik depan sana ya?" titahku Saat kami dalam perjalanan pulang.

"Siap Bos!" selorohnya.

Aku membeli tespack untuk tes kehamilan. Juga membeli vitamin untukku dan suami.

"Yank, mau Nasi Padang dong?" rengekku manja.

"Oh boleh banget Sayang!" sahutnya dengan tersenyum.

"Nanti di depan sana ya yank?" ujarnya.

Aku mengangguk.

Tak berapa lama kami tiba di depan rumah makan Padang langganan kami.

"Yank, mau di bungkus atau di makan di sini?" tanyanya setelah kami berhenti di rumah makan Padang yang tak pernah sepi pelanggan.

"Di sini aja!" jawabku.

Lalu kami melangkah beriringan mencari tempat duduk yang nyaman. Rumah Makan yang di kelilingi pemandangan yang indah, air terjun dari sisi sebelah barat, yang airnya bening mengalir berkelok-kelok, hamparan sawah yang menghijau. Sungguh memanjakan pandangan mata.

Setelah semua tersaji, kami pun mulai menyantap makanan dalam diam, perut bener-bener bersuka ria mendapat makanan yang lezat.

Ada bayangan melintas di lorong ke arah toilet. Aku tajamkan penglihatan agar sedikit jelas.

"Astagfirrulloh," ucapku dalam hati.

Sosok ghaib yang entah dari mana datangnya. Tiba-tiba berdiri di lorong.

Aku melirik jam yang melingkar di tangan kanan ku. "Waktu hampir memasuki Maghrib ternyata." gumamku.

Pantas saja mahluk-mahluk berkeliaran, karena aku pun sedang mengandung. Mereka menyukai aroma-aroma wanita hamil. Menurut mereka wanita hamil itu harum.

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 23

    23. Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)Menangkap Mahluk Yang Menyamar Menjadi Manusia Penulis : Lusia SudartiPart 23"Apa kalian tidak dengar ucapanku! Haa ...! Kalau kataku tunggu dulu, ya tunggu ...!" Suara Pak RT berubah berat dan serak. Aku dan suami terkejut, lalu menatap kearah pak RT. "Astaghfirullah ..."Tiba-tiba ....===============Tok! Tok! Tok!"Assalamualaikum, Bu! Bapak pulang!" terdengar suara ketukan dan salam dari luar. Aku dan suamiku tercekat. Sosok pak RT yang tadi berubah, kini menjadi sosok pak RT kembali.Tok! Tok! Tok!"Bu ... ini Bapak."Ceklek!Daun pintu terbuka dan pak RT yang lain masuk menenteng tas pakaian.Aku dan suami terkejut bukan main, karena lelaki yang sedang duduk di kursi berwajah sama dengan pak RT."Loh ... kok ada dua?" seruku, aku dan suami bangkit dari duduk dan mengamati mereka berdua.Sementara pak RT yang baru saja masuk, tak kalah terkejutnya melihat ada orang yang sama wajah, postur tubuh dengannya."Siapa kamu? Mengapa wajahmu mi

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 22

    22. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Membantu Ibu RTPenulis : Lusia SudartiPart 22"Vinaaa ... jangan pergi! Tolong aku, hihihihi!" Kembali suara-suara itu memenuhi pendengaranku.Di kontrakan milikku ..."Mbak, gimana keadaannya?" tanya ibu Ani tetanggaku."Alhamdulillah, Bu! Sudah baikan!" jawabku sambil membalas jabatan tangannya."Mbak, kami kangen loh sama Mbak! Jangan ikut-ikutan lagi ya? Kita kangen sama Mbak!" sambung Mbak Ayu, putri ibu Ani."Ini dari kami, Mbak! Cuma sedikit, semoga bisa membantu ya?" ujar ibu RT sembari memberikan amplop berwarna putih ke dalam genggamanku. Hatiku menjadi trenyuh dan merasa tak enak hati, telah membuat mereka khawatir. "Aduh Bu, Mbak! Saya merasa tidak enak hati, merepotkan semuanya. Padahal enggak apa-apa kok, saya-nya!""Udah Mbak! Santai aja ... kami semua mengaggap Mbak dan Mas, seperti keluarga sendiri!" jawab ibu RT."Betul itu, Mbak! Jangan sungkan ya, jika butuh sesuatu, kami siap membantu," sahut ibu Ani."Ayo Ibu-ibu, di mi

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 21

    21. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Ratu Dewi Kinasih Memberikan Sebuah Mustika.Penulis : Lusia Sudarti Part 21"Tetap fokus, dan jangan terkecoh!" seru wanita tersebut mengingatkan aku.🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷Disebuah perbatasan hutan yang sangat lebat! Tiba-tiba, wanita yang membawaku berhenti, dan menoleh kearahku."Maaf Nisanak! Saya hanya bisa mengantar Nisanak sampai disini! Nisanak jalan lurus saja dan jangan sekali-kali menoleh kebelakang, apapun yang Nisanak dengar, abaikan saja! Nisanak sudah ditunggu Kanjeng di istananya," wanita tersebut menjelaskan dengan bahasa yang mudah aku mengerti.Meskipun dalam hati bingung, takut, dan penasaran, aku menganggukkan kepala."Baik Mbak! Dan terima kasih banyak atas semuanya," jawabku. Wanita tersebut mengangguk dan tersenyum kepadaku. "Silahkan, Nisanak! Mumpung matahari masih tinggi! Jangan sampai kemalaman disini!" titahnya, yang tak mampu aku tolak."Bolehkah saya mengetahui nama Mbak?" ujarku ragu."Nama saya Wulan!" jawabnya

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 20

    20. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Aku Dibawa Ke Alam Jin.Penulis : Lusia Sudarti Part 20"Nih minum dulu, yank!" Satu gelas teh hangat diberikan kepadaku. Aku menerimanya dengan tersenyum. "Terima kasih, yank!" Teh hangat mengeluarkan aroma khas yang menggugah selera. ===≠=========="Nanti kita istirahat dulu dikontrakkan ya, yank? Mas tak ingin terjadi apapun denganmu!" Mas Ardian memelukku, wajahnya terlihat sendu. Hatiku trenyuh melihatnya, dan juga bahagia."Iya, yank! Maafin, Vina ya?" ucapku sambil membalas pelukannya. Hatiku terasa damai di dalam pelukan suamiku, Mas Ardian.Tok! Tok! Tok!"Pak ... giliran bongkar!" Terdengar suara ketukan dan panggilan dari luar mobil, aku mengurai pelukan dan melongok keluar mobil."Oh iya, Pak!" jawab suamiku, beliau membuka pintu dan menemui Security dibawah.Aku merebahkan diri, tenagaku seolah tersedot. Aku merenung dengan kejadian yang baru aku alami diantara sadar dan tidak. Pengalaman mistis kali ini seolah menghisap energi

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 19

    19. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Cerita MelatiPenulis : Lusia Sudarti Part 19Melati tak kuasa bergerak, kedua matanya tertutup. Rasa sakit di sela pahanya terasa begitu hebat. Darah keluar tanpa henti. Namun ... Melati masih mampu berdoa dalam hati. "Siapapun, tolong aku! Meskipun aku mati, arwahku tak akan tenang, sebelum membalas sakit hati dan dendamku ini!"===============Hatiku pilu melihat pemandangan menyakitkan yang terpampang di depan mataku, namun tak mampu berbuat apapun! Karena yang tampak olehku saat ini, hanya kilas balik masa lalu yang di alami oleh Melati.Setelah ketiga pemuda biad4b itu puas melampiaskan nafsunya, dan menyadari fakta jika Melati, gadis belia yang baru mereka rudapaksa dan kehilangan nyawanya. Barulah mereka merasa panik yang luar biasa. Mereka memungut pakaian dan segera memakainya dengan tergesa-gesa.Saat itu tiba-tiba ...Angin berhembus sangat kencang, pepohonan seakan hendak tumbang. Langit senja yang semula cerah, kini berubah mendu

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 18

    18. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Melati Menceritakan Masa LalunyaPenulis : Lusia SudartiPart 18 Mbak pelayan tersebut menebarkan senyum smirknya untuk suamiku. Aku mendengus kesal melihatnya.================Kami melanjutkan perjalanan kembali, kali ini aku tak ingin terlelap! Karena kami akan melewati daerah alas Roban.Entah mengapa, aku merasakan bahwa situasi mistis benar-benar membuatku sedikit ngeri-ngeri sedap.Bukan aku ingin menantang, namun aku hanya ingin merasakan pengalaman yang berbeda. Meskipun, aku sadar, sedang mengandung janinku."Yank, kok belum tidur?" tanya suamiku.Aku terkejut dan menoleh kearahnya. "Belum, nanti aja setelah melewati hutan alas Roban."Kini gantian Mas Ardian yang terkejut. "Lho, emangnya kenapa yank? Mau tidur aja kok, nunggu setelah melewati alas Roban?""Entahlah, Mas! Aku juga enggak tahu!" jawabku."Oh ... ya sudah kalau begitu! Tetapi, jika memang mengantuk, tidur aja!""Iya, Mas," sahutku.Suamiku tetap fokus ke jalan, lalu l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status