Aiza paham bahwa ia telah berbeda sejak dulu, orang tuanya pun telah mencoba menutupinya dan percaya Aiza telah sembuh. Namun sesuatu kembali terjadi padanya, ketika ia berada di usia 20 tahun. Dan kali ini, lelaki berperawak tegap dengan mata sedikit sayu itu tak dapat menghindarinya. Dunia ini kontradiksi baginya, jika ia mengatakan pada mereka, hanya segelintir orang yang akan paham. Bahwa mata coklat terang Aiza, sangat indah dan menawan. Tapi baik keluarga dan orang awam, akan menatap dirinya aneh dan berusaha menutupi semua itu. Hanya agar mereka merasa tenang sendirian. Hingga mungkin, hanya orang-orang spesial yang akan tetap berada di sampingnya. Hingga menyaksikan Aiza, melakukan hal melelahkan untuk hal di luar nalar mereka.
Lihat lebih banyakKalea tertawa melihat kelakuan Nathan yang sedang berjoget dengan pengamen jalanan. Kalea tidak pernah kehabisan tawa jika berada di dekat pria ini.
Nathan menghentikan kegiatannya dan kembali berjalan mendekati pacarnya. Ia merangkul bahu Kalea dengan hangat dan mengecup kening wanitanya.
"Aku tuh multitalenta, Lea."
Kalea menganggukkan kepalanya. Mengiyakan perkataan dari Nathan. Nathan emang serba bisa. Mungkin karena itu ia mencintai pria ini.
Mereka menyusuri jalan yang sudah sangat sering mereka lalui. Langkah mereka berhenti ketika berada di sebuah rumah yang ada di depan mereka. Nathan membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Kalea untuk masuk terlebih dahulu.
Kalea duduk di sofa ruang tamu. Ia sudah sering berada di rumah ini dan tetap saja, ia selalu mengagumi rumah yang ditempati oleh Nathan.
"Keluarga kamu pasti kaya banget ya.. rumah di Jerman itu kan gak murah," tutur Kalea kepada Nathan yang sudah duduk di sebelahnya.
"Rumah ini kan kecil, Lea. Jadi lebih murah," jawab Nathan. Kalea memutarkan bola matanya mendengar perkataan Nathan. Kalea sangat tau jika Nathan mengatakan kebohongan.
"Kapan kamu mau ngenalin aku sama om dan tante mu, Lea?" Tanya Nathan.
"Udah hampir tiga tahun loh kita. Tapi kamu masih gak mau juga ngenalin aku sama keluarga kamu," sambung Nathan lagi. Kalea tidak tau harus menjawab apa jika sudah berhubungan dengan masalah ini. Ia terdiam untuk sesaat. Memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Nathan.
"Kamu kan tau aku sangat ingin ngenalin kamu sama keluarga aku, Nat. Tapi aku rasa belum waktunya. Setelah kita pulang ke Indo, aku akan langsung ngenalin kamu ke mereka. Aku janji," ucap Kalea.
Nathan berusaha untuk tersenyum. Ia mencoba untuk mengerti keadaan Kalea. Tetapi selama Nathan mencoba mengerti, ia sama sekali tidak mengerti mengapa Kalea tidak mau memperkenalkan dirinya ke keluarganya.
"Kalau gitu.. gimana kalau aku dulu yang ngenali kamu ke keluarga aku?" Tawar Nathan. Nathan sebenarnya sudah tau apa yang akan Kalea katakan. Tetapi ia masih tetap berusaha mempertanyakan semua ini.
"Sayang.. kita udah pernah bahas ini kan? Aku tau kamu serius sama aku, karena memang aku juga sangat serius sama kamu. Tapi aku rasa semuanya masih terlalu dini. Aku udah pernah bilang kan sama kamu, setelah kita kembali ke Indonesia aku akan memperkenalkan kamu langsung ke keluarga aku dan kamu bisa ngenalin aku ke keluarga kamu."
Kalea menatap wajah Nathan yang sudah tersirat kekecewaan di dalamnya. Ia sebenarnya tau gimana rasanya. Tetapi Kalea tidak mau terlalu terburu-buru dengan semua ini. Ia tidak mau membuat om dan tantenya terkejut dengan kelakuannya. Karena Kalea tidak ingin membuat om dan tantenya kecewa dengannya.
"Kamu sabar ya sayang.." sambung Kalea sembari memegang pipi Nathan dengan lembut.
Nathan menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tersenyum kepada Kalea. Ia memegang tangan Kalea yang sedang memegang pipinya.
"Aku akan tunggu janji kamu itu!" Seru Nathan dengan serius. Kalea tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tetapi di balik itu semua, sebenarnya Kalea sangat takut. Ia takut tidak dapat menepati janjinya kepada pria yang ia cintai ini.
Detik berikutnya, Nathan membawa Kalea kedalam pelukannya dan mengelus lembut punggung Kalea. Nathan tidak akan pernah bisa melihat Kalea berada di pelukan pria lain. Ia tidak mau hal itu terjadi, karena itu Nathan selalu mempertanyakan hal yang membosankan ini.
Dering handphone Nathan membuat dirinya harus melepaskan pelukannya dengan Kalea. Ia mengambil ponselnya dari saku jaketnya dan melihat nama orang yang ia sayangi berada di layar handphonenya.
"Mas aku video call," tutur Nathan kepada Kalea. Kalea ikut tersenyum. Nathan sering cerita tentang saudara satu-satunya yang ia miliki. Pria yang sudah memiliki anak perempuan berusia empat tahun. Istri dari pria itu sudah meninggal tepat setelah melahirkan putrinya.
Saat pertama kali Kalea mendengar itu, ia merasa iba dengan keluarga tersebut. Bahkan sampai sekarang, saudara Nathan masih belum bisa menemukan pengganti istrinya. Kalea sangat mengerti mengapa pria itu masih belum bisa melupakan almarhumah istrinya itu.
"Hai mas.. gimana Indonesia?" Tanya Nathan dengan semangat. Kalea sedikit menyingkir agar ia tidak masuk ke dalam video call tersebut.
"Baik. Kamu kapan pulang? Udah selesai kan kuliahnya? Mama sama papa nanyain kamu terus."
"Sabar dong mas.. bulan depan atau tahun depan mungkin. Lagian aku lagi bujuk adik ipar kamu ini, biar mau aku kenalin ke kalian di sana."
Nathan memegang tangan Kalea yang menunjukkan tangan itu ke saudaranya. Hanya jari-jari Kalea saja yang terlihat. Kalea segera menarik tangannya menjauh. Ia menatap Nathan dengan kesal karena tindakan Nathan tersebut.
"Sama. Mas juga mau ngenalin kakak ipar kamu. Makannya segera pulang," sahurnya yang langsung membuat Nathan melebarkan matanya.
"Ha?! Beneran? Siapa? Kok bisa?"
"Akan mas ceritakan semuanya kalau kamu pulang ke Indonesia." Setelah mengatakan itu, saudara Nathan segera mematikan panggilan tersebut.
Wajah terkejut dari Nathan berhasil membuat Kalea tertawa kecil. Ia sangat suka ketika melihat wajah syok Nathan seperti ini.
"Harusnya kamu tuh senang. Bentar lagi keponakan kamu mau punya ibu sambung," ucap Kalea menyadari Nathan dari terkejutnya.
"Iya aku senang.. tapi kenapa aku baru tau? Tega banget!"
Kecupan hangat mendarat di pipi Nathan dan membuat Nathan sedikit melupakan apa yang baru ia dengar.
"Sekarang kita masak aja. Aku udah laper," tutur Kalea.
Nathan segera berdiri dari duduknya dengan semangat. "Ayo princess... Saya akan membantu princess memotong sayuran."
Nathan mengulurkan tangannya ke hadapan Kalea. Kalea pun meraih tangan tersebut dan bangkit dari duduknya.
"Bantu kok cuman motong sayuran sih.." dumel Kalea.
"Aku kan gak jago masak, sayang."
"Belajar makannya!"
Nathan hanya bisa menggaruk kepalanya mendengar perkataan Kalea. Ia dari dulu sangat tidak tertarik belajar memasak. Jika Nathan lapar, ia lebih memilih untuk memesan makanan atau makan di restoran yang ia inginkan.
Sesampainya di dapur, Kalea langsung menuju kulkas untuk melihat apa yang akan ia masak untuk mereka makan.
Kalea mengeluarkan sayur brokoli yang mereka beli tiga hari yang lalu. Sama seperti tiga hari yang lalu, kulkas Nathan tidak ada yang berubah.
"Kamu tuh harus belajar masak, Nathan. Nanti kalau tiba-tiba semua restoran tutup, kamu mau makan apa?" Tanya Kalea sembari mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia olah menjadi masakan.
"Kan ada kamu, sayang. Nanti kamu yang masak dan aku yang cuci piringnya," jawab Nathan dengan santai. Kalea hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban itu.
Ia kembali fokus dengan bahan-bahan masakan yang ada di depannya dan mengabaikan jawaban dari Nathan yang akan membuatnya semakin kesal nantinya.
***
Tak ada yang tau bagaimana jalan cerita ini. Cerita hidupku, dan masa depanku. Maka dari itu aku butuh seseorang meyakinkan ku. Bahwa semua ini bisa kami jalani bersama. * * * Satu malam sebelum hari pernikahan tiba esok. Naya memilih duduk di kursi santai yang tepat menghadap kolam renang hotel. Tempat di mana acara pernikahan mereka akan dilaksanakan. Mungkin menakutkan ya memang, apa lagi pandangan mata Naya tidak sama seperti yang lainnya. Namun kali ini, dia merasa akan baik-baik saja. Salah satunya karena Aiza duduk di sampingnya. Malam itu langit bertabur bintang, cerah seperti yang mereka inginkan. Kedua kakak beradik ini akan terpisah jarak dan waktu. Tetapi bagi keduanya, tidak ada penyesalan yang harus mereka sesali. Sementara Nayanika menatap bintang, Aiza menunggu apa yang ingin adiknya itu sampaikan. Lelaki jangkung itu sedikit bingung. Untuk apa Naya memanggilnya tiba-tiba. Apa lagi di tempat sepert
Mungkin mata ku tidak akan bisa melihat mereka kembali.Tetapi, aku akan selalu menghormati keberadaan mereka.Mungkin tak dapat dilihat oleh mata, tetapi bisa di mengerti melalui Sang Pencipta.* * *Aku menelepon kakek dan menceritakan perihal mimpi itu. Tentang sosok yang kutemui, taman itu, dan dua gerbang dunia di sana yang berbeda. Air yang aku minum dan juga kulihat. Lalu kakek bilang aku sangat beruntung. Ada makna dalam mimpi tersebut, satu mengenai bagaimana caraku menggunakan kemampuan melihat makhluk itu. Kedua mengenai bagaimana selama ini aku membantu dengan kemampuan itu, dan yang ketiga adalah apa yang terjadi jika aku menggunakannya dengan tidak bijaksana. Juga, mengenai balasan apa yang akan diterima jika perbuatan kita baik atau buruk.Namun kakek mengingatkan bahwa, semua kembali pada cara ku memperlakukan kehidupan.Surya telah mengatakannya pada Enah dan Bapak. Aku mengantarkann
Aku tidak yakin. Tentang semua hal saat ini.* * *Setelah obrolan dengan Suryakanta, Nayanika duduk di gazebo halaman belakang di subuh hari. Ngeri betul kalau ada yang melihat gadis itu sendirian. Mereka pasti akan mengatakan ada penampakan kuntilanak. Walau sebenarnya memang ada sih di pohon besar sana. Di salah satu halaman tetanggangganya.Naya sudah kenal dengan sosok wanita itu. Tetapi berkat perlindungan kakek, dia tidak bisa masuk ke sini. Makanya sesekali Naya yang mengunjunginya. Hanya saja subuh ini mereka hanya saling menyapa lewat semilir angin."Aku gak mau canggum lagi di kantor, jadi. Malam ini aku mau ngomong sama kamu Nay!""Bentar. Ngomong apaan?""Tentang ucapan kakek atau Kak Aiza." Hening sejenak, "..walau tanpa restu mereka pun. Aku akan mengatakannya sama kamu Nay. Aku jatuh suka! Jauh sebelum ini. Saat kita masih di
Jika kakak tanyakan 'apa aku baik-baik saja?'Sebenarnya aku takut. Tetapi..Selama kalian bersama ku. Sesulit apapub itu, aku akan baik-baik saja.* * *Aku terkejut, tak berani menatap matanya ataupun melihat wajahnya. Kak Aiza mengatakan hal itu, seolah selama ini dia adalah beban untukku. Padahal, akulah yang menjadi bebannya selama ini.Sejak ia bisa melihat mereka. Sedetik pun, dia tak pernah absen mencemaskan keadaan ku. Bahkan di saat untuk pertama kalinya. Kami bisa berbagi cerita dan rahasia mengenai mereka. Kak Aiza harus bergelut dengan rasa takutnya sendiri.Benar. Aku tau Ka Aiza harus menutup indra ke enamnya karena ketakutan Enah. Bahkan ketika dia harus memilikinya kembali. Hal yang paling ia cemaskan adalah perasaan Enah. Bahkan aku juga yakin, saat ini kakak juga pasti memikirkan. 'Apa Enah akan mengetahui cerita ini. Sekali lagi?'.Aku tidak tau, bagaimana car
Sekali lagi. Ini terjadi, tetapi aku juga bertanya mengenai hal yang sama."Apa aku benar-benar telah kehilangan kemampuan itu?"* * *Jika dulu kemampuan itu membawa perpecahan diantara keluarga. Dan memilikinya kembali, juga menyatukan keluarga ini. Lalu kenapa aku merasa, justru ada yang hilang dan kehilangan arah ketika tak memilikinya?Bukankah dulu ketakutan terbesar karena memiliki kemampuan itu. Tetapi karena hal itu juga, aku bisa menolong banyak orang. Tidak. Bukan berarti aku kecewa pada keputusan ini atau.. mengapa harus sekarang kemampuan itu menghilang. Apakah kemampuan itu tidak akan kembali lagi, bahkan untuk selamanya kali ini? Bagaimana dengan Nayanika, adikku itu. Kenapa dia tidak berkata apapun jika memang benar dia sudah mengetahuinya.Tiga bocah itu! Apa mereka ada di sini. Di rumah ini? Aiza tiba-tiba bangkit dari rebahannya, lalu mengamati seisi ruangan televisi. Ia mengambil tongkat
Bolehkah, seseorang membagi tubuh dan jiwanya? Aku juga tidak mengerti menjawab perihal ini. Terlebih, setelah dunia itu tertutup kembali untukku. * * * Seva masih di sini. Dia tidak lekas menjawab perkataanku, yang tentu saja membuat rasa penasaran bertambah.Apa Niskala memang ada dengan meraka? Apa jiwa Niskala tidak tenang? Atau Seva hanya mempermainkannya saja, setelah mengetahui kebenaran dari nya? Aiza tidak yakin wanita di depannya benar-benar Niskala. Bukan kah Seva tidak bisa melihat mereka juga. Lalu, mengapa dia mengatakan hal itu? Apa Shin yang menyuruhnya untuk berakting. "Sepertinya, kau benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi tenang saja hahaha, aku hanya bercanda Aiza!" seva tertawa di depannya, tapi aiza tidak tahu apa itu memang layak untuk ditertawakan. "Hah.. kau tidak suka rupanya, maaf. Tapi.. ya aku berharap kakak ku, Niskala. Memang masih berada di dunia ini." Ekspresi ga
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen