Share

Bab 2

Author: Peach
Aku menoleh ke arah pintu dapur yang tertutup dengan waspada, memastikan sahabat dan Vito tidak mendengar obrolan kami.

Pada saat itu juga, aku memukul meja.

"Berhenti lihat! Kalau nggak, aku laporkan kelakuanmu di bus pada ibumu."

"Dia pasti akan menghajarmu sampai babak belur!"

Ryan gemetar, wajahnya memerah, tampak ketakutan.

"Bibi Yoana, maafkan aku. Aku mohon, jangan beritahu ibuku."

"Aku benar-benar nggak sengaja. Saat di bus itu, aku … aku juga pertama kali melakukannya."

"Itu karena Bibi …."

Melihat remaja itu bicara terbata-bata, aku mengangkat alis.

"Aku kenapa?"

Ryan menatapku dengan malu-malu, kemudian menundukkan kepala lagi.

Suaranya sangat kecil, seperti dengungan nyamuk.

"Itu karena Bibi cantik sekali, beda jauh sama teman-teman perempuan di kelas, makanya aku nggak bisa menahan diri."

Semua wanita suka pujian ….

Apalagi dipuji oleh anak muda seperti Ryan.

Meskipun dia telah berbuat salah, bagaimanapun dia adalah anak sahabatku. Aku melihat wajahnya yang tersipu malu.

Muncul rasa ingin menggodanya, jadi aku sengaja memasang wajah galak.

"Apa bedanya aku dengan gadis-gadis itu? Cepat jawab!"

Ryan terpaksa menjawab sambil menunjuk ke bagian dada.

Lalu, ke bagian intimku.

"Punya Bibi Yoana lebih besar, jauh lebih memikat."

Aku tidak bisa menahan tawa.

Bocah ini masih kecil, tetapi sudah sok tahu tentang pesona wanita.

Bukan bermaksud sombong. Aku memang sudah menikah lama.

Namun, aku selalu menjaga bentuk tubuhku agar tetap bagus, bahkan terlihat seperti masih perawan.

Aku pun menasihatinya dengan wajah serius, "Tapi, kamu tetap nggak boleh melakukan hal seperti itu, tugasmu itu belajar, apalagi kamu baru umur berapa?"

Tidak disangka, raut wajah Ryan berubah sedih.

Dia langsung mengutarakan kegelisahan hatinya.

"Bibi Yoana, aku sendiri bingung dengan tubuhku ini. Bagian kemaluanku selalu keras dan tegang."

"Aku coba menonton film porno di malam hari, tapi justru makin tersiksa, paginya aku lemas …."

Jawaban Ryan membuatku terkejut.

Karena tiba-tiba aku jadi ingat, sikap Vito belakangan ini juga mirip seperti Ryan.

Jangan-jangan Vito juga masuk masa puber?

Saat sedang berpikir, gelas yang kupegang jatuh, minuman tumpah ke dadaku.

Ryan segera mengulurkan tangan dan menyeka bajuku.

Ketika tangannya menyentuh dadaku, seketika gairah yang tak tertahankan itu muncul kembali.

Aku tidak kuat lagi dan mengerang pelan. Pada saat yang bersamaan, pintu dapur terbuka.

Aku segera mendorong Ryan, perasaan bersalah terlihat di wajahku.

Linda melirik kami dengan wajah serius, kemudian berkata datar, "Yoana, ikut aku ke kamar. Ada yang mau aku bicarakan denganmu."

Gawat!

Jangan-jangan Linda mengira aku menggoda Ryan, apalagi reaksiku tadi ….

Namun, sebelum aku sempat mengucapkan kata maaf, Linda memperlihatkan sebuah video padaku.

Itu adalah rekaman saat Linda dan Vito berada di dapur. Vito terlihat sedang membantu, tapi tatapannya terus tertuju ke dada Linda.

Bahkan di akhir video, Vito di belakang menepuk ….

Wajahku memerah saat melihatnya, rasanya malu sekali.

"Linda, maafkan aku. Aku akan menghajar bocah kurang ajar itu sekarang juga!"

"Eh, jangan!"

Linda menghentikanku. Wajahnya tidak terlihat marah, sebaliknya terlihat seperti memohon.

"Anak kita sama, mereka masuk masa puber, wajar mereka memiliki pikiran kotor seperti itu."

"Sejujurnya, Ryan juga sama."

"Yoana, kita berdua sama-sama ibu, bagaimana kalau kita saling bantu?"

Ucapan Linda membuatku bingung.

Dari obrolanku dengan Ryan tadi, aku sudah menebak Vito juga masuk masa puber, tetapi saat melihatnya langsung ….

Hatiku sangat hancur.

Jika sekarang dia tidak tahan dengan godaan kecil, bagaimana dia bisa fokus belajar di sekolah?

Suami memercayakan urusan pendidikan anak padaku.

Aku harus memikirkan solusinya.

"Linda, apa maksud perkataanmu? Kamu sudah tahu caranya?"

Linda mengangguk sambil tersenyum, lalu berbisik di telingaku.

Setelah mendengar idenya, jantungku langsung berdegup kencang, kedua telingaku memerah, bahkan bagian intimku jadi basah.

"Ini … ini sungguh memalukan."

Linda menurunkan kembanku, kemudian menaikkan rok mininya sendiri.

"Semua demi anak kita, ayo lakukan sekarang."

Benar juga, bagi seorang ibu, anak menjadi prioritas pertama.

Linda mengajak Vito ke kamar, sedangkan aku juga mengajak Ryan ke ruang tamu.

Ryan menelan ludah, tubuhnya langsung bereaksi.

"Bibi Yoana, apa maksudnya ini?"

Dengan wajah memerah, aku meraih tangannya dan meletakkannya di dadaku.

"Mengajarimu sedikit … pengetahuan yang harus diketahui laki-laki yang beranjak dewasa."

Melihat aku serius, mata Ryan penuh gairah, kemudian langsung merebahkanku.

Dia melepas celananya dan tidak sabar untuk mulai ….

Dia pun membuka rokku dengan kasar. Gairah yang telah lama hilang kini muncul kembali.

Aku memejamkan mata.

Pikiranku menjadi kacau setelah meminum beberapa gelas anggur.

Aku hanya menggumam.

"Semua demi anak …."

Namun, sebelum hubungan terlarang itu dimulai, suara dering ponsel membuatku sadar kembali.

Begitu melihat nama penelepon itu, aku langsung gemetar ketakutan.

Suamiku!
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Main Api dengan Sahabat Ibu   Bab 6

    Ternyata ….Sejak suamiku meneleponku pada siang itu, dia terus menaruh kecurigaan. Meskipun dia sudah melihat kondisi Vito di rumah sakit ….Suamiku masih merasa ada yang tidak beres, sehingga dia balik ke rumah sakit malam-malam.Setelah diinterogasi ayahnya, akhirnya Vito menceritakan semuanya.Begitu mengetahui rahasia kami, suamiku khawatir aku berada dalam bahaya, jadi dia dan Vito datang mencariku di sini."Kalau aku nggak datang, takutnya kamu …."Sambil berlinang air mata, suamiku memelukku dengan erat.Seolah-olah sedang melindungi harta karun berharga.Aku merasa bersyukur karena selamat dari malapetaka ini.Pada saat yang sama, aku juga merasa bersalah. "Maaf, Sayang, semua gara-gara aku …."Suamiku menutup mulutku, lalu menoleh ke arah Linda dan Ryan."Kalian berkomplot menganiaya istriku, bahkan ingin merekamnya!""Tunggu saja, aku lapor polisi sekarang juga! Putramu akan mendekam di dalam penjara seumur hidup!"Mendengar itu, Linda segera menarik Ryan untuk berlutut, kem

  • Main Api dengan Sahabat Ibu   Bab 5

    Aku tertegun.Aku tidak menyangka setelah kejadian hari ini, ternyata Linda masih belum mengubah pikirannya.Dia masih ingin aku berhubungan dengan anaknya.Aku menggelengkan kepala dan menolak dengan tegas. "Jangan!"Linda mengira aku takut rahasia kami ketahuan, jadi dia menenangkan aku."Tenang saja, ini rumahku, suamimu nggak akan tahu."Ini bukan soal suamiku tahu atau tidak, tetapi ini jelas sebuah kesalahan besar.Aku memasang wajah serius dan bersikap tegas.Meskipun ketika melihat Ryan yang tinggi dan tegap, aku merasakan gairah yang tak tertahankan, saat ini kesadaranku telah kembali, jadi aku menolak."Linda, aku akan pura-pura nggak mendengar perkataanmu itu.""Aku pergi."Namun, Ryan segera menutup pintu, menghalangi depan pintu, sambil tersenyum nakal."Bibi Yoana.""Bibi nggak boleh pergi ke mana-mana malam ini."Aku menoleh ke arah Linda dengan tatapan tidak percaya, mungkinkah mereka ingin memaksaku?Ekspresi Linda berubah dingin."Yoana, jangan salahkan aku, sejak awa

  • Main Api dengan Sahabat Ibu   Bab 4

    Seandainya aku benar-benar berhubungan intim dengan Ryan ….Aku tidak tahu harus bagaimana berhadapan dengan suami dan anakku, makin kupikir makin malu.Setelah membantu Linda berdiri, aku menoleh ke arah Ryan, teringat kembali momen kemesraan kami di ruang tamu.Tubuhku mulai terasa panas lagi.Sungguh memalukan.Aku pun pergi sambil menutupi wajahku, tiba-tiba aku ingat suami. Kalau suamiku tahu alasan Vito dirawat di rumah sakit ….Suamiku memiliki pemikiran yang kolot.Dia pasti menceraikanku.Aku segera membuka ponsel, membuat alasan agar suamiku tidak tahu.Saat itu, aku melihat ada pesan masuk dari suamiku.[Sayang, sebenarnya ada apa? Kamu nggak balas pesanku.][Apa terjadi sesuatu pada Vito?][Serius, nggak?][Aku sudah cuti, sekarang langsung pulang, jaga dirimu dan Vito baik-baik, tunggu aku pulang!]Gawat!Setelah membaca pesan ini, aku merasa putus asa.Aku segera putar otak, lalu buru-buru memberi arahan kepada Linda dan putranya.Saat suamiku sampai di rumah sakit ….Har

  • Main Api dengan Sahabat Ibu   Bab 3

    Setelah duduk dan mengatur napas, aku segera angkat telepon.Di sana, suamiku mengomel."Kamu ngapain, sih? Kok angkat teleponnya lama banget?""Rapor anak kita yang kamu kirim semalam, sudah kulihat barusan, nilainya kok turun banyak?"“Sudah kubilang, kamu 'kan sudah nggak bekerja, jadi nggak ada kesibukan apa-apa. Kamu harus lebih ketat mengawasi dia belajar!"Jantungku masih berdegup kencangan karena rangsangan yang tiba-tiba itu.Aku nggak bisa konsentrasi menanggapi suamiku, hanya bisa mengiyakan.Suamiku hening sejenak, kemudian tiba-tiba bertanya, "Kamu ada di mana? Kenapa napasmu terdengar berat begitu?""Kamu selingkuh, ya?"Pertanyaan suamiku bagai petir yang menyambar, aku ketahuan.Meskipun bukan selingkuh, sebenarnya juga sama saja.Apa boleh buat, demi menghilangkan kecurigaan suamiku, terpaksa aku buka kamera.Aku mengarahkan ponsel ke sekeliling ruangan sambil berpura-pura tenang, lalu tertawa."Tetangga baru kita ternyata sahabatku waktu kuliah.""Aku ajak anak kita b

  • Main Api dengan Sahabat Ibu   Bab 2

    Aku menoleh ke arah pintu dapur yang tertutup dengan waspada, memastikan sahabat dan Vito tidak mendengar obrolan kami.Pada saat itu juga, aku memukul meja."Berhenti lihat! Kalau nggak, aku laporkan kelakuanmu di bus pada ibumu.""Dia pasti akan menghajarmu sampai babak belur!"Ryan gemetar, wajahnya memerah, tampak ketakutan."Bibi Yoana, maafkan aku. Aku mohon, jangan beritahu ibuku.""Aku benar-benar nggak sengaja. Saat di bus itu, aku … aku juga pertama kali melakukannya.""Itu karena Bibi …."Melihat remaja itu bicara terbata-bata, aku mengangkat alis."Aku kenapa?"Ryan menatapku dengan malu-malu, kemudian menundukkan kepala lagi.Suaranya sangat kecil, seperti dengungan nyamuk."Itu karena Bibi cantik sekali, beda jauh sama teman-teman perempuan di kelas, makanya aku nggak bisa menahan diri."Semua wanita suka pujian ….Apalagi dipuji oleh anak muda seperti Ryan.Meskipun dia telah berbuat salah, bagaimanapun dia adalah anak sahabatku. Aku melihat wajahnya yang tersipu malu.M

  • Main Api dengan Sahabat Ibu   Bab 1

    Namaku Yoana Latif, seorang ibu rumah tangga yang menemani anaknya ke sekolah.Hari ini aku sengaja berdandan cantik untuk menjemput putraku, Vito, pulang karena sekolah libur, siapa sangka aku bertemu orang mesum!Di dalam bus yang penuh sesak, sebuah tangan diam-diam meraba bokongku.Aku ingin menghentikannya.Vito berdiri tidak jauh dariku, dikelilingi teman-teman sekolahnya.Aku tidak berani membayangkan, kalau sampai ketahuan teman-teman sekolahnya, betapa malunya Vito.Aku pun menunduk, melihat sepasang dada besarku yang tertutup kemban.Seiring bus melaju, kulihat kedua kakiku yang jenjang dengan stoking hitam di bawah rok ketat.Gara-gara Vito mengatakan, ada ibu dari salah satu teman sekolahnya yang berpenampilan modis dan seksi, membuat iri teman-teman sekolahnya yang lain.Aku berdandan seperti ini demi menjaga gengsi VitoTidak disangka aku malah jadi incaran laki-laki cabul!Mungkin karena melihat aku tidak bereaksi, gerakan tangan laki-laki di belakangku makin liar.Laki-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status