LOGINAku sudah tidak bisa melihat sejak masih kecil. Tapi ibu asuhku mengajariku menjadi seorang terapis pijat paling tersohor. Hari itu, ada seorang pelanggan penting yang datang ke tempatku. "Aku bukan orang sembarangan, tentu saja aku mau mencoba sesuatu yang beda dari yang lain." Detik berikutnya, dia langsung menarik bajuku, dan menuangkan minyak pijat di dadaku. "Wulan sayang, pijat aku begini saja ...."
View MoreHari demi hari berlalu. Aku sama sekali tidak berniat memberi tahu Kaivan kalau penglihatanku sudah pulih.Kaisar selalu datang setiap malam. Dia memang sudah tua, tapi ternyata nafsunya masih cukup besar."Wulan, layani aku ...."Aku langsung paham apa yang dia suka, dan bagaimana menyenangkannya. Aku pun melayaninya dengan sangat baik, memastikan dia puas."Kaivan ... kamu luar biasa ...."Usai badai gairah mereda, aku pun bersandar di dada Kaisar sambil tertawa.Aku bisa merasakan tubuhnya menegang seketika. Dia langsung menyibak selimut dan berjalan keluar dengan marah.Aku jadi makin mengenalnya setelah malam demi malam. Dia jelas tidak terima mendengarku memuji pria lain di atas ranjang.Aku tahu dia sudah mulai berniat menjadikanku miliknya secara utuh.Kaivan sedang menunggu di luar kamar. Ketika mereka bertemu, suara pertengkaran juga segera terdengar dari luar."Ayah, Wulan itu istriku. Tapi dia akan selalu jadi milikmu asal Ayah memberikan cukup perak setiap bulan."Belakang
"Benarkah? Kaisar juga sudah setuju?"Sebelumnya, karena aku berasal dari Panti Pijat Intani, Kaivan jadi tidak bisa memberiku status apa pun.Kini, semua penderitaan ini akhirnya berakhir. Aku pun hampir menangis bahagia."Tentu saja!"Persiapan berlangsung cepat, Kaivan terlihat sangat buru-buru. Dia bertanya apa aku mau menyederhanakan semuanya agar pernikahan dapat segera dilangsungkan.Aku tidak masalah, yang penting bisa menikah dengannya.Di hari pernikahan, para pelayan yang biasanya menatapku hina, kini berbondong-bondong datang. Sikap mereka berubah seratus delapan puluh derajat."Lihat kan, kubilang juga apa. Nona Wulan itu beruntung. Sejak awal masuk ke sini, aku sudah tahu kalau dia nggak mungkin cuma jadi pelayan biasa ....""Benar! Nona Wulan sekarang sudah seperti burung foniks yang terbang tinggi. Jangan lupa kalau kami ini yang melayanimu dulu.""...." Aku terdiam.Lihatlah kemunafikan mereka ini. Aku jadi pusing sampai tidak bisa bernapas karena mendengar kehebohan m
Aku memanggilnya dengan suara lirih, Kaivan pun makin mengeratkan pelukannya.Akhirnya dia mau menemuiku."Tuan Kaivan tenang saja, luka Nona Wulan nggak terlalu parah. Dia akan segera sembuh asal rutin diobati."Kaivan melambaikan tangan menyuruh orang itu pergi usai memberikan laporan.Ruangan pun kembali sunyi, hanya sisa kami berdua di sini.Tanganku menggenggam erat jubah Kaivan, seolah hendak memberitahunya kalau mataku sepertinya mulai bisa melihat samar-samar. Tapi, tiba-tiba terdengar suara helaan napas.Kaivan meletakkan dagunya di leherku, memelukku lebih erat lagi."Wulan, kenapa kamu bodoh sekali? Apa pun yang terjadi, nyawamu tetap yang paling penting ....""Apa yang harus kulakukan kalau kamu sampai membenturkan diri sendiri ke tembok begitu?""Wulan, tenang saja. Aku pasti akan menemukan orang itu dan membalaskan dendammu."Kaivan terlihat marah besar. Sementara aku sendiri merasa campur aduk. Aku merasa senang sekaligus sedih.Karena, dialah yang lebih dulu mengabaikan
Mataku yang buta membuatku merasa asing di istana ini. Tidak ada satu orang pun yang bisa kuandalkan.Ketika Kaivan tidak menemuiku, tempatku jadi sepi seperti sudah terlupakan.Aku mencari beberapa bunga liar dan kukupas kelopak hingga mahkotanya satu demi satu. Aku duduk di depan pintu seharian, berharap pada seseorang yang sebenarnya bukan milikku.Tepat ketika hatiku makin dingin dan ingin menyerah, pintu besar yang sudah lama tertutup itu akhirnya ada yang membuka dari luar.Suara langkah kaki orang ini membuatku kaget. Aku pun bergegas turun dari kursi empuk tempatku bersandar.Angin sepoi-sepoi berembus lembut, menyibakkan helai rambut di wajahku. Hidungku jadi geli dibuatnya."Kaivan ... ah, bukan. Yang Mulia Pangeran Kaivan ...."Aku mencoba memanggilnya dengan sopan. Tapi orang yang datang malah diam saja. Dia langsung menuju ke ranjang tempat Kaivan biasa dipijat.Aku jelas senang. Kuseka air mataku dan segera menghampirinya."Sudah lama Tuan nggak datang ke sini. Kukira, ak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.