FAZER LOGINLutut Aira mendadak kehilangan daya. Ia merosot perlahan, bertumpu pada pinggiran meja kayu peninggalan ayahnya. Napasnya terasa sesak, sementara dadanya terasa nyeri akibat ketegangan yang baru saja lewat."Sudah kubilang, jangan langsung lemas begitu musuh pergi," celetuk Kael seraya melangkah santai ke arah jendela, melongokkan kepala untuk memastikan halaman benar-benar bersih. "Akan terlihat menyedihkan bila seperti itu." Aira mendongak, matanya yang basah menatap punggung tegap pria itu dengan bibir gemetar. "Kamu ... kamu hampir mati tertembak tadi, Kael! Bagaimana bisa kamu sesantai itu?"Kael berbalik, menyandarkan pinggulnya ke kusen jendela seraya bersedekap. "Kalau aku panik, apa peluru Devan bakal otomatis berbalik arah? Lagipula, aku tahu dokter cerewet ini ada di dekat sini."Arga yang tengah menginjak puntung rokok di dekat pintu mendengus geli. "Jangan bawa-bawa namaku seolah kau memperhitungkan kedatanganku, El. Kau cuma beruntung Sarah mengancam tidak akan mem
Tubuh Aira menegang hebat saat manik matanya bertabrakan dengan sorot tajam Devan. Wanita itu melangkah mundur, mencari perlindungan di balik tubuh tinggi Kael.Hal itu mengundang bara yang berkobar dalam diri Devan, ia tidak terima wanita yang selama ini ia incar berpihak pada musuh yang berusaha ia tumbangkan bertahun-tahun lamanya."Keluar dari balik punggungnya, Aira," desis Devan dingin, suaranya bergetar menahan luapan murka yang siap meledak. Matanya menyala menatap jemari Aira yang meremas ujung jaket kulit Kael. "Kamu pikir pria itu bisa menyelamatkanmu selamanya, hah?"Aira tidak bergeming. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya di balik bayang-bayang punggung lebar Kael, menatap Devan dengan tatapan penuh kebencian yang dalam."Aku lebih baik mati daripada harus kembali padamu, Devan!" balas Aira lantang, suaranya menggema membelah ketegangan di ruang tamu itu.Devan tertawa sumbang, tawa hampa yang sarat racun kegilaan. "Mati bersamanya? Semudah itu kamu menyerahkan kese
Udara pagi desa Sukasari menyambut kedatangan Aira, luasnya perkebunan teh menjadi saksi betapa besarnya pengaruh keluarga Aira di kampung ini. Tangan Aira terkepal perlahan di atas pangkuan.Mungkin, bila tidak bertemu Rian, dia tidak mungkin merasa seburuk ini menjadi wanita. Mobil hitam Kael berhenti tepat di depan pagar kayu pekarangan rumah Aira. Deru mesin mati, menyisakan desau angin pegunungan yang seharusnya damai. Namun, kedamaian itu pecah seketika oleh dentuman musik disko yang menggelegar dari dalam rumah.Alis Kael terangkat satu, melirik Aira di kursi penumpang. "Penyambutan yang meriah untuk kepulangan sang pemilik rumah."Aira mematung, keningnya berkerut dalam. Matanya menatap halaman depan yang dipenuhi puntung rokok, botol-botol minuman keras berserakan, dan dua mobil yang terparkir di halaman depan."Apa-apaan ini," gumam Aira bergetar, rasa syok seketika menyengat dadanya.Tanpa menunggu Kael, Aira mendorong pintu mobil dan melangkah cepat menaiki anak tangg
Api berkobar di manik mata Aira, menari-nari liar di atas kertas foto yang perlahan menghitam dan melengkung dimakan bara. Bau gosong menyengat memenuhi halaman belakang, dari sebuah tong besar tempat pembakaran sampah. Tatapan Aira tak beralih sedikit pun dari lidah api yang melahap wajah Devan hingga menjadi serpihan abu.Flashdisk perak kecil di genggamannya terasa dingin dan beku. Dengan kepalan yang mengerat, Aira melemparkan benda itu tepat ke tengah bara yang sedang membakar lembaran terakhir.Cangkang plastik di dalam komponen flashdisk itu meleleh, melepaskan asap tipis kelabu yang langsung terisap angin sore. Seluruh rekaman terkutuk, rasa takut yang membelenggunya berhari-hari, dan jaminan ancaman Devan lebur menjadi debu tak berharga di dalam tong itu.Aira mengembuskan napas panjang yang gemetar, namun kali ini punggungnya tegak sempurna."Sudah habis," bisik Aira parau, suaranya mantap menembus kesunyian ruangan. "Tidak ada lagi yang tersisa."Sarah menatap sisa abu
Hampir satu minggu Aira berada di kediaman ini, sering kali wanita itu tidak keluar kamar dan lebih memilih duduk diam di sisi jendela sambil menatap jalanan sepi di depannya. Aira terlalu takut untuk keluar kamar, rasa percayanya terkikis pada setiap orang.Rasa sesak itu hadir tanpa permisi, menghimpit rongga dada Aira hingga ia mencengkeram erat kusen kayu jendela.Setiap kali matanya menatap dedaunan yang bergoyang di halaman luar, bayangan Devan yang mengurungnya berputar di dalam kepalanya tanpa henti. Bahkan di malam hari, Aira sering kali mimpi buruk.Sentuhan paksa, obat penenang, dan aroma parfum cendana itu seolah masih menempel pekat di kulitnya, membuatnya merasa kotor setiap detik. Ketukan pelan di pintu kamar membuyarkan lamunan kelam itu."Aira? Aku bawakan sup ayam jagung hangat," suara Sarah terdengar lembut dari balik daun pintu yang terbuka sedikit.Wanita berwajah ramah itu melangkah masuk membawa nampan kayu. Senyumnya teduh, namun sorot matanya tak bisa menye
Bau antiseptik tercium kuat saat mata Aira mulai terbuka. Kepalanya masih berdenyut hebat, matanya enggan terbuka. Namun, saat sapuan hangat meraba keningnya, ia dengan cepat membuka mata.Matanya menangkap sosok wanita cantik yang tersenyum ke arahnya. "Bangun juga, kamu sudah pingsan selama dua hari," ujar wanita itu, suaranya terdengar lembut di telinga Aira."Cih, suaramu sangat tidak cocok dengan prilakumu." Suara berat nan asing itu membuat kepala Aira menoleh, alisnya mengernyit saat memandangi dua orang yang tidak ia kenali sama sekali. Mata Aira menyapu sekelilingnya, tempat ini terasa asing baginya, kepalanya kembali berdenyut saat mengingat kejadian terakhir yang menimpanya."Jangan dipaksakan bangun. Kepalamu pasti masih sakit," cegah wanita itu lagi, sentuhannya terasa lembut di tangan Aira. Begitu menenangkan."Siapa ... kalian?" bisik Aira parau, tenggorokannya masih terasa kering bagai padang pasir. Jemarinya mencengkeram tepi selimut katun abu-abu yang membungkus tu







