Mag-log inUdara di klinik Dr. Sam berbau steril dan mahal, jauh berbeda dari aroma antiseptik rumah sakit biasa. Ini bukan klinik, melainkan sebuah suite kesehatan pribadi yang mewah, didominasi warna putih pucat dan instrumen krom.
Aku duduk di sofa kulit, sementara Axel berdiri tegak di sampingku, tangannya diletakkan di sandaran sofa seolah menandai kepemilikannya. Dr. Sam, seorang wanita paruh baya dengan senyum yang terlalu profesional, memasuki ruangan. “Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Montevista,” sapanya, matanya terfokus pada Axel, seakan aku hanyalah lampiran yang harus diurus. “Tuan Axel sudah menjelaskan situasinya. Waktu adalah aset, jadi kita akan langsung ke inti.” Selama dua jam berikutnya, aku diperlakukan seperti barang inventaris berharga yang sedang diperiksa kelayakannya untuk tujuan produksi. Dr. Sam membahas pola ovulasiku, nutrisi, hingga “kondisi rahim yang optimal untuk menampung pewaris Montevista”. Axel mendengarkan setiap detail dengan ekspresi datar, sesekali mengajukan pertanyaan teknis tentang peningkatan peluang. “Secara klinis, Nyonya Keisha memiliki potensi yang sangat tinggi, Tuan. Ini adalah kabar baik,” ujar Dr. Sam, menatapku sekilas. “Kita akan mulai dengan suplemen khusus untuk memastikan hasil maksimal dalam tiga minggu ke depan.” Aku merasa jijik, bukan pada ilmu medisnya, tetapi pada cara mereka membahas anak sebagai produk bisnis. “Pastikan suplemen itu tidak memiliki efek samping yang mengganggu jadwalnya,” perintah Axel dingin. “Saya tidak suka ada halangan dalam agenda bisnis.” “Tentu, Tuan. Tapi, Tuan Axel, Nyonya juga butuh ketenangan pikiran. Stres bisa sangat memengaruhi...” “Stres sudah menjadi bagian dari hidup seorang Montevista,” potong Axel, tatapannya tajam. “Tugas Nyonya adalah patuh dan menghasilkan apa yang sudah ia setujui dalam kontrak.” Kecewa dengan perlakuan Axel dan Dr. Sam yang tidak memberiku kesempatan bicara, amarahku mulai mendidih. Aku bukanlah mesin, dan aku tidak akan membiarkan mereka memperlakukanku seperti itu. Sorenya, kembali di mansion, aku memutuskan untuk menggunakan senjata baruku: Kartu Platinum Tanpa Batas. Aku duduk di kamar, menatap tumpukan kartu yang diberikan Amelia. Ini adalah kunci menuju kekayaan tak terbatas, tetapi juga rantai yang mengikatku pada Axel. Aku tidak akan menggunakannya untuk membeli tas tangan mahal yang akan disimpan di lemari. Aku membuka laptop dan mulai berbelanja. Pertama, aku mencari badan amal kecil di kota yang fokus pada pendidikan anak yatim. Aku mentransfer sejumlah uang besar, memastikan semuanya anonim: Donasi Atas Nama ‘K.A.’. Kemudian, aku mulai membeli. Bukan perhiasan, melainkan peralatan baking. Aku memesan oven convection profesional yang kubayangkan selama bertahun-tahun, mixer stand baja terbaru, ratusan cetakan kue silicone aneh, dan bahan-bahan gourmet yang tidak pernah mampu kubeli sebelumnya. “Amelia,” panggilku saat kepala pelayan itu melintas. “Tolong siapkan kamar terkecil di wing timur. Aku butuh ruangan itu diubah menjadi pantry khusus dan ruang kerja. Dan pastikan semua barang yang datang hari ini diletakkan di sana. Tanpa ada yang menyentuhnya, termasuk staf.” Amelia mengangguk, sorot matanya mengandung rasa ingin tahu yang samar. “Tentu, Nyonya. Tapi ruangan itu jarang digunakan. Apakah Tuan Axel sudah menyetujuinya?” “Tuan Montevista sudah memastikan aku memiliki segala yang kubutuhkan sebagai istrinya,” jawabku meniru ketegasan Axel. “Dan yang kubutuhkan saat ini adalah ruang pribadiku. Urus saja.” Aku menghabiskan sisa sore hari menata peralatan baru itu. Aku menyusun toples-toples berisi vanilla bean, kayu manis, dan gula icing. Ruangan kecil itu kini berbau vanilla dan cinnamon yang familiar—aroma yang telah lama hilang sejak aku memasuki ‘penjara’ emas ini. Ini adalah pemberontakan senyapku. Aku adalah Nyonya Montevista yang kaya raya, dan aku akan menggunakan kekayaannya untuk mempertahankan identitas Keisha Auristela, si Baker. Saat makan malam tiba, Axel masuk ke kamar utama. Dia melepas jasnya, tampak lelah dan dingin, sampai matanya menangkap sebuah amplop tebal di atas meja kerjanya. Itu adalah bukti pengeluaran hari ini. Dia mengambil amplop itu, air mukanya yang tenang tiba-tiba berubah menjadi pahatan kemarahan. “Apa ini?” Suaranya berat, dalam, menusuk. Bukan lagi suara CEO yang tenang, tetapi suara predator yang marah karena mangsanya bergerak tanpa izin. “Bukti pengeluaran, Tuan Montevista,” jawabku santai, meskipun jantungku berdebar. Aku duduk di sofa, pura-pura membaca majalah fashion. Axel melemparkan struk-struk itu ke meja di depanku. “Donasi $30.000 ke Panti Asuhan Harapan. $10.000 untuk peralatan baking impor, mixer stand seharga mobil?!” Matanya yang perak kini menatapku dengan api. “Kau pikir ini lelucon, Keisha? Kau menghabiskan puluhan ribu dolar untuk mainan konyolmu? Aku memberimu akses ke uangku untuk memenuhi kebutuhan, bukan untuk bermain amal dan membuka toko kue di dalam rumahku!” Aku menutup majalah itu, menatapnya dengan tenang. Aku harus menggunakan logikanya untuk melawannya. “Tuan Montevista, aku hanya mencoba menjadi simbol kekayaan Montevista seperti yang kau inginkan,” kataku, suaraku datar. “Seorang Nyonya Montevista haruslah dermawan, bukan? Itu citra publik yang baik untuk bisnismu. Dan mengenai peralatan baking itu…” Aku berdiri, melangkah mendekat, dan membiarkan senyum sinis tersungging di bibirku. “Aku seorang Baker, Axel. Identitas itu sudah melekat padaku, dan aku sedang hamilkan pewaris Montevista. Bukankah lebih baik calon pewarismu tumbuh dengan ibu yang tenang dan bahagia, daripada ibu yang stres dan terpenjara?” Aku menunjuk ke kartu platinum di meja. “Kau bilang kebebasanku adalah milikmu. Ini caraku menggunakan milikmu. Aku tidak melanggar kontrak, aku hanya meningkatkan aset berhargamu, Tuan Montevista.” Axel terdiam. Rahangnya mengeras, matanya menyala. Dia tidak bisa membantah logikaku tanpa mengakui bahwa dia hanya ingin aku menjadi boneka bisu. Dia melangkah maju, sangat dekat sehingga aroma cologne mahal dan whiskey tipisnya menyelimutiku. Tangannya yang besar menangkup leherku. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kepemilikan yang mengancam. “Jangan coba menguji batas kesabaranku, Keisha,” desisnya. “Kau boleh menggunakan uang itu. Kau boleh membuat kue konyolmu. Tapi jika aku mencium satu masalah kecil saja di hadapan dewan direksi, aku akan membakar seluruh pantry barumu itu di depan matamu. Apakah kita jelas?” “Sangat jelas,” bisikku, tidak gentar, meskipun lututku gemetar di balik gaun. Axel melepaskan cengkeramannya, kemudian menarikku untuk berjalan bersamanya menuju perpustakaan. “Kau terlalu berani untuk seorang Baker kecil,” katanya. “Tapi kau harus tahu siapa yang kau hadapi.” Dia mendorong pintu kayu besar perpustakaan. Ruangan itu dipenuhi rak buku setinggi langit-langit. Di tengah, di atas meja, tersebar dokumen dan hard cover yang tebal. “Ini adalah Montevista Group,” katanya, suaranya kini kembali tenang, penuh otoritas. “Setiap lembar saham, setiap properti, setiap kontrak. Itu semua milikku, dan kau adalah jalan satu-satunya agar semua ini tetap menjadi milikku.” Dia mengambil buku bersampul kulit tua yang tebal. “Di balik kekejaman yang kau lihat, Keisha, ada beban kekuasaan yang membuatku tidak bisa tidur. Jika aku kehilangan ini, aku akan kehilangan segalanya, termasuk alasan mengapa aku hidup. Kau memegang kunci untuk semua itu. Jadi, jangan pernah berpikir untuk menjadi penghalang.” Aku menatap mata peraknya. Di sana, di balik dinginnya kekuasaan, aku menangkap sekilas keputusasaan yang nyata. Aku mulai sadar, pernikahan kontrak ini mungkin bukan hanya jebakan untukku, tetapi juga pertahanan terakhir untuknya. Misteri ini justru membuatku semakin bersemangat untuk mencari tahu, dan aku akan menggunakan ruangan baking baruku sebagai markas besar pemberontakan senyap ini.POV: Axel Mardon MontevistaEnam bulan telah berlalu sejak malam yang hampir merenggut napas dan separuh nyawaku itu. Malam di mana aku menyadari bahwa seluruh kekuasaan dan gunungan hartaku tidak ada artinya jika wanita yang menjadi pusat duniaku tidak lagi bernapas. Namun hari ini, ketakutan itu telah terkubur jauh, digantikan oleh simfoni kehidupan yang luar biasa di Mansion Montevista.Mansion ini tidak lagi memiliki sudut yang sunyi. Jika dulu rumah ini hanyalah bangunan megah yang dingin, kaku, dan hanya berisi aroma kertas dokumen serta parfum maskulin, sekarang setiap lorongnya bergema dengan tawa Alexander, Ellys, tangisan bayi, dan langkah-langkah kecil yang berkejaran. Udara di sini kini selalu berbau bedak bayi dan aroma vanila kesukaan Keisha.Sore ini, matahari terbenam dengan warna emas yang luar biasa indah di cakrawala taman belakang. Aku berdiri di beranda lantai atas, menyesap kopi hitamku sambil memerhatikan pemandangan di bawah. Sebuah pemandangan yang—bagi pri
POV: Axel Mardon MontevistaDuniaku terasa berhenti berputar. Suara denging panjang dari monitor jantung itu adalah suara paling mengerikan yang pernah kudengar seumur hidupku. Garis lurus di layar itu seolah garis akhir dari kebahagiaanku.“Isi ulang! Tiga ratus enam puluh joule! Clear!” seru dokter utama.Tubuh Keisha tersentak lagi akibat kejutan listrik itu. Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menancap di telapak tangan, mengalirkan rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sakit di dadaku yang terasa seperti diremas hingga hancur.“Ayo, Sayang... jangan menyerah. Kau bukan wanita lemah,” bisikku parau, air mata jatuh tanpa henti membasahi masker medis yang kupakai. “Pukul aku, maki aku karena aku terlalu protektif, tapi tolong... jangan tinggalkan aku.”Satu detik. Dua detik. Tiga detik terasa seperti keabadian yang menyiksa.Lalu, tiba-tiba....Pip... pip... pip...Garis lurus di monitor itu mulai membentuk gelombang kembali. Lemah, namun ada.“Detak jantung kembali
POV: Axel Mardon MontevistaDuniaku yang baru saja terang benderang oleh tangisan bayi, seketika tersedot ke dalam lubang hitam yang pekat. Genggaman tangan Keisha yang tadi begitu kuat, tiba-tiba melemas dan jatuh terkulai. Matanya yang sayu perlahan menutup, bukan karena tidur yang tenang, melainkan karena kesadarannya yang merosot tajam.“Keisha! Buka matamu! Keisha!” teriakku. Aku tidak peduli pada bayi-bayi itu untuk sesaat; fokusku hanya pada wanita yang wajahnya kini memucat seputih kertas.“Tuan Montevista, mundur! Nyonya mengalami pendarahan hebat!” seru dokter utama. Suasana yang tadi penuh haru berubah menjadi medan perang dalam hitungan detik.Aku didorong menjauh oleh para perawat. Di lantai, aku melihat cairan merah pekat mulai mengalir deras. Darah itu milik Keisha. Darah itu adalah nyawanya yang sedang tumpah keluar.“Lakukan sesuatu! Selamatkan dia! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan meratakan tempat ini!” ancamku kalap. Aku berdiri di sudut ruangan, memegang
Aku kembali ke ruang kerja, tapi pintu sengaja kubiarkan terbuka lebar—selebar telingaku yang kini menajam seperti radar. Meskipun mataku menatap dokumen akuisisi, pikiranku berada di ruang tengah bersama Keisha. Aku tidak tenang. Wajah pucatnya dan caranya menopang pinggang tadi adalah alarm bahaya bagiku.“Rina,” panggilku padanya melalui interkom.“Ya, Tuan?”“Pastikan tim medis tidak ada yang meninggalkan posnya di sayap kanan. Dan suruh Suster Ellys melaporkan frekuensi ‘keluhan’ Nyonya setiap sepuluh menit padaku secara diam-diam. Aku tidak ingin Keisha merasa tertekan, tapi aku ingin data akurat.”“Dimengerti, Tuan.”Sekitar satu jam berlalu. Aku mencoba fokus pada rapat Zoom dengan tim legal dari firma hukum baru yang kuambil alih. Ketika tiba-tiba, terdengar Rina kembali menghubungiku—yang mana ketika kuangkat, aku mendengar rintihan tertahan dari dalam—yang membuat jantungku seolah ditarik keluar dari rongganya.Aku tidak menunggu sedetik pun. Aku melepaskan headset be
POV: Keisha MontevistaMalam ini terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Seluruh tubuhku terasa kaku, dan ada rasa pegal yang tak kunjung hilang di punggung bawahku. Aku mencoba memiringkan tubuh ke kiri, lalu ke kanan, namun tidak ada posisi yang benar-benar nyaman. Si kembar yang biasanya sangat aktif melakukan “pertandingan bola” di dalam sana, tiba-tiba menjadi sangat tenang. Gerakan mereka hanya berupa gesekan lambat yang terasa sangat berat di bagian bawah perutku.Aku tahu tanda-tanda ini. Sebagai ibu yang sudah pernah melewati proses persalinan, instingku berbisik bahwa waktu itu sudah dekat. Namun aku memilih untuk tidak dulu mengatakannya pada Axel. Aku melirik Axel yang tertidur di sampingku dengan wajah yang tampak sangat lelah. Garis-garis tegas di wajahnya sedikit mengendur saat tidur, namun tangannya tetap melingkar protektif di atas perutku—sebuah posisi yang tidak pernah berubah sejak kandungan ini membesar.Ya, qku tidak ingin memberitahunya sekarang, karena ji
POV: Axel Mardon MontevistaWaktu berjalan dengan kecepatan yang sulit kupahami. Rasanya baru kemarin aku menggendong Keisha dari dapur setelah konfrontasi malam itu, namun kini kalender sudah menunjukkan angka yang membuat jantungku berdegup lebih kencang setiap harinya. Ya, kandungan Keisha kini sudah menginjak usia delapan bulan.Bagi kehamilan tunggal, delapan bulan adalah masa penantian akhir. Namun bagi bayi kembar, ini adalah masa kritis yang tak terduga. Dokter sudah memperingatkan bahwa bayi kembar sering kali memutuskan untuk menyapa dunia lebih cepat dari jadwal seharusnya. Dan itulah yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak belakangan ini.Pagi ini, aku membantu Keisha bangkit dari ranjang—sebuah tugas yang kini memerlukan teknik khusus. Perutnya sudah sangat besar, menonjol begitu kontras dengan tubuh aslinya yang mungil. Sejujurnya, setiap aku menatap perut itu tanpa balutan kain, ada rasa ngeri yang menyusup di hatiku. Kulitnya yang tipis meregang sedemikian rupa hing







