MasukPagi itu, aku menjalankan misi. Aku harus menemukan kelemahan Axel. Setelah Axel pergi untuk urusan bisnis, aku menyelinap ke perpustakaan pribadinya. Aku tahu aku melanggar batas, tetapi rasa ingin tahuku jauh lebih kuat dari rasa takut.
Aku mencari petunjuk personal, bukan dokumen bisnis. Akhirnya, mataku tertuju pada sebuah bingkai foto perak kecil yang terbalik di atas meja. Aku meraihnya. Di dalamnya, terdapat foto Axel, jauh lebih muda dan tersenyum. Senyum itu hangat, tulus, dan sama sekali berbeda dari topeng Billionaire yang kukenal. Di sampingnya, berdiri seorang wanita cantik berambut cokelat dengan mata yang bersinar penuh kebahagiaan. Di balik foto, ada tulisan tangan yang indah: “Selamanya, di sini, di Montevista. M&A.” Jadi, ada seseorang yang pernah dicintai Axel. Kehancuran dalam matanya yang kulihat kemarin malam—ini alasannya. Aku buru-buru meletakkan foto itu kembali ke tempatnya. “Mencari sesuatu, Nyonya Montevista?” Suara berat dan dingin itu membuatku membeku. Axel berdiri di ambang pintu, matanya yang perak tajam dan penuh peringatan. “Hanya mencari buku tentang sejarah arsitektur mansion ini,” jawabku, pura-pura tenang. Axel melangkah maju. “Jangan pernah mencoba menggunakan nama Montevista untuk menyelidiki masa laluku, Keisha.” Ia mendekat. “Kau adalah masa depanku, bukan penyelidik masa laluku. Kau hanya perlu fokus pada tugas yang sudah disepakati.” Aku menatap balik. “Aku hanya ingin tahu kenapa aku. Kenapa bukan wanita dari kalangan yang sama sepertimu? Yang tidak akan memberimu masalah dengan Claudia.” Axel tersenyum dingin. “Aku memilih yang menurutku paling efektif. Sekarang, bersiap. Kita ada acara amal penting.” Sore itu, aku diinstruksikan untuk menghadiri acara amal penting yang diselenggarakan oleh Montevista Group. Axel ingin secara publik memperkenalkan “pengantin baru”nya. Di dalam ballroom mewah, aku berjalan di samping Axel, menjalankan peranku sebagai Nyonya Montevista yang anggun. Kami menjadi pusat perhatian. Tiba-tiba, seorang wanita melangkah ke arah kami. Ia tinggi, ramping, dengan rambut cokelat, terlihat berkelas, tetapi sorot matanya kini tajam dan penuh kecemburuan. “Axel Mardon Montevista,” katanya, suaranya halus namun menusuk. “Aku kira kau akan menikah dengan wanita yang setara. Aku tidak menyangka selera wanitamu menurun drastis.” “Claudia,” sapa Axel dingin. “Izinkan aku memperkenalkanmu, ini istriku, Nyonya Keisha Montevista.” Claudia mengabaikan Axel dan menatapku. “Astaga, seorang baker yang malang. Pernikahan yang terburu-buru, Keisha. Aku yakin Axel memberimu sejumlah besar uang untuk sandiwara ini. Aku bisa membelikanmu toko kue yang jauh lebih baik untuk membuatmu menjauh darinya.” Hinaan Claudia keras dan menusuk. Ia meremehkanku hanya karena latar belakangku. Aku tersenyum tipis Nyonya Montevista, teringat naskah yang diajarkan Axel. “Nona Claudia,” kataku, suaraku tenang dan tegas. “Aku tidak dibeli. Aku dipilih sebagai jaminan paling berharga untuk mempertahankan kekaisaran Montevista. Pernikahan ini cepat karena kami berdua ambisius.” Aku menyentuh lembut lengan Axel. “Dan sejujurnya, toko kue adalah hal yang receh untuk seorang wanita yang akan melahirkan pewaris Montevista. Bukankah begitu, Sayang?” Axel terkejut dan bangga. Di bawah meja, ia mencengkeram tanganku, tetapi senyumnya sempurna. Claudia mendengus dan berbalik pergi dengan marah. Aku berhasil membungkamnya tanpa membocorkan rahasia Axel. Di mobil pulang, Axel hanya menatapku dalam kegelapan. “Kau melampaui batas, Keisha. Tapi bagus,” katanya, suaranya tenang. “Kau berhasil memainkan perannya.” “Aku hanya mengikuti naskah,” jawabku lelah. Axel memegang kedua tanganku, menarikku mendekat. “Kau tidak peduli dengan Claudia, tapi dia adalah ancaman yang nyata. Aku tahu kau mencari. Jangan pernah berpikir kau bisa menggunakan masa laluku untuk menjatuhkanku.” “Aku tidak takut dengan Claudia,” balasku, “aku takut denganmu, Axel.” Axel tersenyum tipis, senyum yang menjanjikan bencana. “Aku adalah Axel Mardon Montevista. Aku tidak takut pada masa lalu. Aku takut jika masa depanku, yang kini kuncinya ada padamu, berani melarikan diri dariku. Dan aku akan memastikan itu tidak akan terjadi.” Malam itu, sentuhan Axel adalah klaim kepemilikan. Aku harus mencari bukti bahwa aku ditargetkan, bukan kebetulan, agar aku bisa memegang kendali atas permainan ini. --- Aku memanfaatkan kesepakatan kecil dari malam Gala untuk mendapatkan kembali sedikit kendali. Hari itu, aku meminta waktu satu jam di dapur utama untuk membuat beberapa pastry kecil, dan Axel, yang tertekan oleh ancamanku, menepatinya. Aku bisa menjadi Nyonya Montevista yang sempurna di depan umum, tetapi di dapur, aku kembali menjadi Keisha si Baker. Aroma cinnamon dan gula terasa seperti terapi. Aku tidak menyadari bahwa Axel, yang menyelesaikan panggilan telepon penting di koridor, diam-diam mengawasiku selama beberapa menit. “Sampaikan pada Tuan Montevista, ini adalah terapi bagiku, Amelia,” jawabku kepada kepala pelayan. Aku tahu Axel akan mendengar. Aku memaksanya bermain peran sebagai suami yang peduli, meskipun yang ia pedulikan hanya produk dari rahimku. Setelah satu jam yang melegakan, aku kembali ke sayap timur untuk menyimpan sisa bahan. Aku memindahkan sekantong tepung gandum dari sebuah kotak kardus besar yang sudah lama berada di sana. Di bawahnya, tanganku menyentuh sesuatu yang keras dan asing, terselip di balik papan kayu tipis di dinding. Aku menariknya keluar. Itu adalah amplop cokelat tebal yang disegel. Aku merobek segelnya. Isinya membuat jantungku mencelos lebih keras daripada saat aku melihat cek $50.000. Itu adalah dokumen yang terasa sangat pribadi dan teknis: Laporan Riset Genetik dan Silsilah Keluarga (Terbatas). Aku memindai teksnya, mataku terbelalak pada diagram yang rumit. Laporan itu menyoroti silsilah keluarga Montevista yang memiliki kelemahan genetik langka terkait kesuburan dan vitalitas. Di bagian kesimpulan, ada ringkasan yang menunjuk langsung kepadaku: ‘Keisha Auristela: Garis keturunan non-Montevista, genotip kompatibel tingkat tinggi, probabilitas kehamilan tinggi, diperlukan untuk menguatkan garis keturunan pewaris.’ Axel tidak hanya memilihku karena aku subur. Dia memilihku karena DNA-ku adalah penawar racun genetik Montevista. Aku bukan hanya ibu dari pewarisnya, aku adalah donor biologis yang tidak tergantikan. Aku tidak hanya dijebak demi pewaris. Aku dijebak karena aku adalah solusi biologis yang unik untuk menyelamatkan garis keturunan Axel. Kemarahanku kini terasa dingin dan penuh perhitungan. Aku tahu persis sekarang, mengapa aku tidak tergantikan. Aku kembali ke kamar utama. Axel baru saja selesai mandi, hanya dibalut handuk putih. Aroma cologne maskulinnya terasa menyesakkan. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya mengeluarkan dokumen itu dan meletakkannya di atas meja. Ini adalah kartu AS-ku. Axel keluar, matanya yang perak langsung menangkap laporan itu. Semua ketenangan yang ia tunjukkan hancur. Wajahnya mengeras, rahangnya terukir kaku. “Dari mana kau mendapatkan ini?” suaranya berat dan mengancam. Aku menatapnya tanpa gentar. “Kau tidak hanya memutusku dari masa lalu, Axel. Kau memastikan aku tidak akan pernah menghalangi riset genetikmu. Aku tidak sengaja mabuk malam itu. Aku ditargetkan karena DNA-ku.” Axel menarik napas dalam, gestur yang jarang ia tunjukkan, seolah masalah ini benar-benar mencekiknya. Ia tahu bahwa rahasia terbesar Montevista telah terbongkar. “Ya,” ia mengakui dengan suara rendah. “Kau ditargetkan. Kau adalah satu-satunya wanita yang dapat menghasilkan pewaris Montevista yang benar-benar kuat, yang tidak membawa kelemahan yang selama ini menghantui garis keturunan kami. Kau langka, Keisha.” “Kau adalah alat untuk kesuksesanku,” bisiknya, suaranya mengandung sedikit rasa sakit yang tersembunyi. “Sekarang, kau adalah Montevista. Dan aku akan memastikan kau tidak pernah menggunakan informasi ini untuk menjatuhkanku.” Ia menjebakku, dia mengakui. Aku tahu permainannya. Aku harus menggunakan status DNA unik ini sebagai tuas kekuasaan. Ini bukan lagi permainan uang, ini adalah permainan genetik dan kelangsungan hidup. Dan aku, Keisha si Baker, adalah pemegang kuncinya.POV: KeishaSuasana meja makan yang tadinya hanya diisi oleh suara denting sendok dan candaan kecil keluarga kami, tiba-tiba terusik oleh keributan di depan pintu utama. Suara langkah kaki yang mantap diikuti dengan omelan khas yang sangat kukenal membuatku refleks menoleh.“Mana mereka?! Apa mereka pikir setelah tinggal di istana besar ini, mereka bisa melupakan wanita tua ini?!”Mataku membelalak. Itu suara Nenek!Belum sempat aku berdiri, sosok wanita tua dengan pakaian sederhana namun tetap terlihat gagah itu muncul di ambang pintu ruang makan. Ellys, yang memang paling dekat dengannya selama kami di desa, langsung melompat dari kursinya.“Neneeeek!” Ellys berlari secepat kilat, menabrak kaki wanita tua itu dan memeluknya erat. “Eyis kangen! Nenek kenapa lama sekali datangnya?”Wanita tua itu menunduk, wajahnya yang tadi sangar seketika melunak saat menatap cucu kesayangannya. “Oh, cucu pinguinku... kau sudah tambah bulat saja di sini, ya?” Nenek membalas pelukan Ellys, menc
POV: KeishaDunia memang cepat berputar. Siang ini, sisa-sisa kemarahan dan isak tangis di kamar mandi tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh suasana ruang makan yang jauh lebih hangat. Mungkin benar kata orang, hormon kehamilan bisa mengubah singa betina menjadi kucing kecil dalam hitungan jam. Sekarang, aku justru duduk merapat di samping Axel, seolah tidak mau ada jarak satu senti pun di antara kami. Sungguh aneh, bukan?“Lagi?” tanya Axel lembut sambil mengarahkan sendok berisi sup ayam jahe ke arah mulutku.Aku mengangguk manja, menerima suapan itu dengan perasaan puas. Rasanya jauh lebih enak jika Axel yang menyuapiku. Entah kenapa, aku merasa seperti bayi yang benar-benar ingin dilayani olehnya hari ini.Axel terkekeh pelan, lalu melirik ke arah Ellys yang sedang asyik dengan nugget pinguinnya. “Mommy manja ya, El? Makan saja maunya disuapi terus oleh Daddy,” goda Axel sambil mencubit kecil pipiku.Ellys berhenti mengunyah, dia menopang dagunya dengan kedua tan
POV: KeishaSiang itu, matahari kota bersinar terik menembus jendela kamar, namun hatiku masih sedingin es. Aku sedang duduk di tepi ranjang, mengatur napas yang sesak di dada yang tak kunjung reda.Cklek.Pintu kamar terbuka. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau sabun segar itu sudah sangat kukenal. Axel tidak lagi mengetuk; dia masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah namun penuh determinasi.“Keluar, Axel. Aku sedang ingin sendiri,” ucapku tanpa menatapnya.Bukannya keluar, dia justru melangkah mendekat. Di tangannya, dia menjinjing sebuah kotak besar dengan logo merek desainer ternama. Dia meletakkannya di atas meja rias dengan pelan.“Ini untukmu. Pakailah hari Minggu nanti. Aku sudah mengosongkan jadwal untuk mengajakmu ke suatu tempat yang spesial,” ucapnya membujukku.Aku melirik kotak itu sekilas, lalu mendengus sinis. “Aku tidak butuh itu. Bawa saja pergi. Berikan pada sekretarismu atau siapa pun yan
POV: KeishaHormon kehamilan ini benar-benar membuatku menjadi sosok yang berbeda. Rasa sebal yang menumpuk selama dua hari karena pengabaian Axel meledak menjadi kemarahan yang dingin dan keras kepala. Aku tidak butuh alasan tentang proyek Singapura, aku tidak butuh penjelasan tentang rapat darurat. Yang aku butuhkan adalah kehadirannya di sisiku saat aku merasa duniaku sedang tidak baik-baik saja karena kewalahan yang kualami, lantaran kehamilan muda ini yang membuat seluruh hariku cukup tersiksa.Malam itu, saat kudengar suara langkah kakinya yang berat di koridor menuju kamar kami, aku segera memutar kunci pintu. Cklek. Suara kunci itu terasa sangat memuaskan di telingaku.Tok! Tok! Tok!“Keisha? Kau di dalam? Kenapa pintunya dikunci?” suara Axel terdengar rendah, ada nada kelelahan sekaligus kebingungan di sana.Aku tidak menjawab. Aku merebahkan diri di atas ranjang yang luas, menarik selimut hingga ke dada, dan menatap langit-langit kamar dengan mata yang panas.“Keisha
POV: KeishaWaktu seolah berjalan dalam putaran yang aneh. Sudah dua bulan sejak aku merasakan mual pertama itu, dan benih di rahimku kini tumbuh dengan pasti. Perutku memang belum menonjol, namun ada getaran kehidupan yang kurasakan setiap kali aku terbangun. Dan seiring dengan tumbuhnya janin ini, tumbuh pula sebuah kegelisahan yang mulai menggerogoti ketenanganku.Aku menatap cermin di kamar mandi, mengusap perutku yang masih rata. Aku bahagia, tentu saja. Tapi ada satu lubang besar yang membuat kebahagiaan ini terasa tidak menapak di bumi.Statusku. Hubunganku dengan Axel.Hingga detik ini, kami masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang belum benar-benar selesai. Kami tinggal satu atap, tidur di satu ranjang yang sama, dan berbagi tawa di depan anak-anak. Namun, di atas kertas dan di mata hukum, kami masih bukan siapa-siapa. Pernikahan kami yang dulu telah hancur oleh kebohongan, dan hingga saat ini, Axel belum pernah sekalipun mengucapkan kepastian hubungan kami, apala
Melihat mendung di mata Alexander dan riak cemburu di wajah Ellys, aku sadar bahwa tembok mansion yang megah ini terkadang terasa terlalu sesak untuk sebuah pengakuan besar. Kami butuh udara segar. Kami butuh ruang di mana status “Montevista” bisa dilepaskan sejenak, dan kami hanya menjadi satu keluarga kecil yang sedang mencoba bernapas kembali.Hingga pada sore hari ini, aku pun membuat sebuah rencana yang terbilang mendadak. “Batalkan semua jadwalku sampai malam nanti. Aku tidak menerima alasan apa pun,” perintahku pada sekretarisku lewat telepon singkat.Maka di sinilah kami sekarang. Di sebuah padang rumput hijau yang luas di area privat pinggiran kota, jauh dari kebisingan kota dan kilatan kamera paparazzi. Cuaca hari ini sangat bersahabat—langit biru bersih tanpa awan gelap. Sungguh pemandangan perkotaan yang sempurna.Aku membentangkan kain piknik bermotif kotak-kotak besar di bawah pohon ek yang rimbun. Keisha, yang hari ini tampak lebih segar dengan dress hamil berwarna pa







