LOGINSisa-sisa kemarahan karena kehilangan toko kue, justru memberiku kekuatan. Jika Axel menginginkan boneka yang sempurna, maka dia akan mendapatkannya. Tapi aku tidak akan pernah melupakan siapa diriku, dan aku akan menggunakan fasilitas yang dia berikan untuk menuntut balasan.
Aku menghabiskan pagi itu di bawah pengawasan ketat Nyonya Amelia, Kepala Pelayan yang ternyata memegang kendali atas seluruh staf di mansion itu. Dia sopan, efisien, dan memiliki pandangan yang mengatakan bahwa dia telah melihat semua sandiwara pernikahan kontrak. Di ruang rias sebesar butik, aku bertemu dengan tim penata. Desainer pribadiku, seorang pria Italia bernama Paul, mengganti pakaian malamku yang kusut dengan gaun cocktail sutra abu-abu yang menjeritkan kemewahan tanpa usaha. “Rambut Nyonya indah, tapi terlalu polos,” ujar penata rambut, sementara penata rias sibuk mengukir kontur tajam di wajahku. Transformasi itu brutal. Keisha si baker yang wangi vanilla kini diganti dengan Nyonya Montevista yang mengenakan berlian minimalis dan wangi magnolia mahal. Ketika aku menatap cermin, aku melihat sosok asing, seorang wanita elegan, dingin, dan benar-benar tidak bahagia. “Nyonya terlihat seperti lahir untuk ini,” bisik Amelia, mengangguk puas. “Aku lahir untuk mengaduk adonan, Amelia,” jawabku pahit. Amelia memegang tanganku. “Semua orang di sini punya peran, Nyonya. Dan peran Anda adalah yang paling penting: membuat Tuan Axel tetap menjadi Tuan Montevista.” Setelah penataan dan pelajaran singkat etiket, Axel memanggilku ke ruang kerjanya. Ruangan itu didominasi oleh meja kayu gelap besar dan rak buku setinggi langit-langit yang dipenuhi buku-buku hukum dan bisnis. Axel duduk di balik meja itu, mengenakan setelan tiga potong yang sempurna, tampak lebih megah dan jauh dari sentuhan. Dia menatapku dari ujung kepala sampai kaki, matanya menyapu gaun, rambut, hingga sepatu stiletto baruku. Ada kilatan persetujuan, tapi tidak ada kehangatan. “Sempurna,” katanya, suaranya kembali pada suara seorang CEO yang penuh perintah. “Kita akan makan malam dengan dewan direksi malam ini. Mereka adalah hiu yang mencium darah. Tugasmu sederhana, hanya tersenyum, diam, dan tunjukkan bahwa kau adalah pasangan yang layak.” Axel bangkit, dan baru saat itulah aku melihat seikat dokumen di mejanya, yang bukan tentang bisnis. Itu adalah hasil tes medis. “Aku sudah memesan janji temu dengan dokter kandungan pribadiku, Dr. Sam, besok pagi,” katanya datar. “Kita harus memastikan kehamilanmu diusahakan dengan cara yang paling efektif.” Aku merasa seperti barang yang sedang diinventaris. “Kau benar-benar tidak membuang waktu.” “Waktu adalah uang, Keisha. Dan uang yang kulepas adalah 70% dari kekayaan yang bisa kau bayangkan,” dia berjalan mengelilingi meja, tatapannya menyiratkan ancaman. “Aku juga ingin mengingatkanmu, di hadapan dewan direksi, kau harus bersikap sebagai istri yang penuh cinta dan kepatuhan mutlak.” “Lalu, bagaimana jika mereka bertanya tentang bagaimana kita bertemu? Tentang kisah cinta kita yang cepat ini?” tanyaku sinis. Axel tersenyum, senyum palsu yang bisa memenangkan pemilu. “Aku sudah menyiapkan ceritanya. Kita bertemu dalam acara amal yang diselenggarakan Montevista. Kau adalah seorang dermawan muda yang menarik perhatianku, dan kita langsung terikat. Pernikahan ini cepat karena kita berdua adalah individu yang ambisius dan tahu apa yang kita inginkan.” “Sebuah kebohongan yang elegan,” komentarku. “Begitulah Montevista bertahan hidup,” tegasnya, memegang siku tanganku dan menyeretku keluar ruangan. “Mulai sekarang, setiap kata yang keluar dari mulutmu adalah naskah.” Makan malam itu seperti sebuah audisi neraka. Ruangan makan formal itu dipenuhi oleh pria-pria tua berjas mahal yang menatapku dengan tatapan ingin tahu dan skeptis. “Nyonya Montevista terlihat sangat muda, Axel,” komentar salah satu direktur dengan suara skeptis. “Usia hanyalah angka, Pak Sanjaya,” jawab Axel cepat, mencondongkan tubuh sedikit ke arahku, gerakannya intim namun mengancam. “Gairah kami yang kuat membuat kami ingin segera meresmikan ikatan ini.” Keisha? Gairah? Aku nyaris tersedak air anggur merah. Sepanjang makan malam, aku menjalankan peran yang dia berikan. Tersenyum, mengangguk, dan sesekali memuji kecerdasan Axel dalam bisnis. Semua kebohongan yang membuat perutku mual. Di bawah meja, Axel meletakkan tangannya di pahaku, cengkeramannya bukan untuk keintiman, melainkan sebagai penanda kepemilikan. Ketika makan malam berakhir, dan para direktur akhirnya mengangguk puas, Axel menarikku ke samping. “Bagus,” pujinya dingin. “Penampilanmu malam ini sempurna.” “Aku hanya mengikuti naskah,” balasku. “Naskah itu yang menyelamatkan asetku, Keisha,” bisiknya, kemudian matanya menggelap. “Dan sekarang, kita akan kembali ke tugas utama. Para direktur mungkin puas dengan penampilan kita, tapi mereka butuh bukti nyata. Bukti nyata yang hanya bisa kau berikan padaku. Malam ini, bukan lagi soal penampilan, tapi ....” Tapi dia tidak memberiku kesempatan untuk membalas. Dia menyeretku menaiki tangga marmer menuju ke kamar utama, meninggalkan para direktur di bawah dengan senyum puas. Aku menyadari, peran sebagai Nyonya Montevista tidak hanya menuntut akting di depan umum, tetapi juga pengorbanan di balik pintu tertutup.POV: KeishaSiang itu, matahari kota bersinar terik menembus jendela kamar, namun hatiku masih sedingin es. Aku sedang duduk di tepi ranjang, mengatur napas yang sesak di dada yang tak kunjung reda.Cklek.Pintu kamar terbuka. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau sabun segar itu sudah sangat kukenal. Axel tidak lagi mengetuk; dia masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah namun penuh determinasi.“Keluar, Axel. Aku sedang ingin sendiri,” ucapku tanpa menatapnya.Bukannya keluar, dia justru melangkah mendekat. Di tangannya, dia menjinjing sebuah kotak besar dengan logo merek desainer ternama. Dia meletakkannya di atas meja rias dengan pelan.“Ini untukmu. Pakailah hari Minggu nanti. Aku sudah mengosongkan jadwal untuk mengajakmu ke suatu tempat yang spesial,” ucapnya membujukku.Aku melirik kotak itu sekilas, lalu mendengus sinis. “Aku tidak butuh itu. Bawa saja pergi. Berikan pada sekretarismu atau siapa pun yan
POV: KeishaHormon kehamilan ini benar-benar membuatku menjadi sosok yang berbeda. Rasa sebal yang menumpuk selama dua hari karena pengabaian Axel meledak menjadi kemarahan yang dingin dan keras kepala. Aku tidak butuh alasan tentang proyek Singapura, aku tidak butuh penjelasan tentang rapat darurat. Yang aku butuhkan adalah kehadirannya di sisiku saat aku merasa duniaku sedang tidak baik-baik saja karena kewalahan yang kualami, lantaran kehamilan muda ini yang membuat seluruh hariku cukup tersiksa.Malam itu, saat kudengar suara langkah kakinya yang berat di koridor menuju kamar kami, aku segera memutar kunci pintu. Cklek. Suara kunci itu terasa sangat memuaskan di telingaku.Tok! Tok! Tok!“Keisha? Kau di dalam? Kenapa pintunya dikunci?” suara Axel terdengar rendah, ada nada kelelahan sekaligus kebingungan di sana.Aku tidak menjawab. Aku merebahkan diri di atas ranjang yang luas, menarik selimut hingga ke dada, dan menatap langit-langit kamar dengan mata yang panas.“Keisha
POV: KeishaWaktu seolah berjalan dalam putaran yang aneh. Sudah dua bulan sejak aku merasakan mual pertama itu, dan benih di rahimku kini tumbuh dengan pasti. Perutku memang belum menonjol, namun ada getaran kehidupan yang kurasakan setiap kali aku terbangun. Dan seiring dengan tumbuhnya janin ini, tumbuh pula sebuah kegelisahan yang mulai menggerogoti ketenanganku.Aku menatap cermin di kamar mandi, mengusap perutku yang masih rata. Aku bahagia, tentu saja. Tapi ada satu lubang besar yang membuat kebahagiaan ini terasa tidak menapak di bumi.Statusku. Hubunganku dengan Axel.Hingga detik ini, kami masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang belum benar-benar selesai. Kami tinggal satu atap, tidur di satu ranjang yang sama, dan berbagi tawa di depan anak-anak. Namun, di atas kertas dan di mata hukum, kami masih bukan siapa-siapa. Pernikahan kami yang dulu telah hancur oleh kebohongan, dan hingga saat ini, Axel belum pernah sekalipun mengucapkan kepastian hubungan kami, apala
Melihat mendung di mata Alexander dan riak cemburu di wajah Ellys, aku sadar bahwa tembok mansion yang megah ini terkadang terasa terlalu sesak untuk sebuah pengakuan besar. Kami butuh udara segar. Kami butuh ruang di mana status “Montevista” bisa dilepaskan sejenak, dan kami hanya menjadi satu keluarga kecil yang sedang mencoba bernapas kembali.Hingga pada sore hari ini, aku pun membuat sebuah rencana yang terbilang mendadak. “Batalkan semua jadwalku sampai malam nanti. Aku tidak menerima alasan apa pun,” perintahku pada sekretarisku lewat telepon singkat.Maka di sinilah kami sekarang. Di sebuah padang rumput hijau yang luas di area privat pinggiran kota, jauh dari kebisingan kota dan kilatan kamera paparazzi. Cuaca hari ini sangat bersahabat—langit biru bersih tanpa awan gelap. Sungguh pemandangan perkotaan yang sempurna.Aku membentangkan kain piknik bermotif kotak-kotak besar di bawah pohon ek yang rimbun. Keisha, yang hari ini tampak lebih segar dengan dress hamil berwarna pa
POV AxelSuaranya Alexander datar, namun ada nada getir yang terselip di sana. Pertanyaannya bukan sebuah sorakan bahagia, melainkan sebuah konfirmasi yang terdengar seperti vonis.Aku sempat tertegun, namun aku tidak punya pilihan lain untuk menghindarinya. Aku harus menjawabnya sekarang juga, "Iya, Al. Mommy sedang mengandung adikmu. Kita baru saja dari dokter."Alexander terdiam cukup lama. Dia melepaskan pandangannya dariku dan beralih ke arah Keisha yang kini berjalan mendekat dengan langkah ragu--setelah dia melepaskan Ellys ke kamarnya agar dia segera mengganti pakaiannya. Mata Al jatuh pada perut ibunya yang masih rata, tempat di mana makhluk kecil yang baru saja kami lihat di layar USG itu bersemayam."Lalu bagaimana dengan Al?" tanyanya lirih. Kali ini setetes air mata jatuh di pipinya yang putih. "Mommy baru saja kembali ke sini. Al baru saja bisa memeluk Mommy setiap malam tanpa merasa takut Mommy akan hilang lagi. Kalau nanti adik lahir ... apa Mommy akan sibuk dengan ba
POV: Axel Montevista Ada sebuah rasa hangat yang membuncah di dadaku, sebuah euforia yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Aku, Axel Montevista, pria yang biasanya menghitung segala sesuatu dengan logika dan angka, kini merasa seperti remaja yang baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Aku melirik Keisha yang tampak kelelahan di sampingku. Wajahnya masih pucat, namun ada binar berbeda di matanya. Ya, status kami saat ini memang masih menggantung di mata hukum. Kami belum meresmikan kembali pernikahan kami sejak pengkhianatan dan kebohongan besar tiga tahun lalu terungkap. Kami bahkan belum sampai ke tahap suami istri yang sesungguhnya secara batin sejak dia kembali ke mansion ini—selain ‘hari itu’. Aku masih tidur di sisi ranjang yang dibatasi oleh rasa segan, dan dia masih menatapku dengan sisa-sisa kewaspadaan. Namun, kehadiran makhluk kecil di dalam perutnya ini mengubah segalanya bagiku. Anak ini adalah pengikat. Jika sebelumnya aku harus memutar otak, me







