LOGIN"Orang-orang itu membuat nama cucu kesayanganku buruk, menuduhmu sebagai perebut, padahal kau punya pasangan yang mencintaimu." Arthur melanjutkan dengan penuh emosi.
Daisy membeku. Harapan dalam hatinya untuk bebas dari Vincent seketika runtuh. Gadis itu merasa sesak dalam dadanya. Daisy sempat meyakini bahwa pertunangannya dengan Vincent resmi batal. Bukan hanya Daisy, tetapi semua orang di sekitarnya beranggapan begitu. Namun"Tidak akan, Tuan. Jika Tuan pergi ke lantai dua, Tuan akan bertemu dengan seorang perawat berkacamata yang bersedia membantu kita." Primus menjawab sambil mengulurkan sebuah kartu akses rumah sakit, kartu putih dengan nama seorang dokter tertera di sana, yang tadi dia ambil diam-diam saat berkeliling.Jade mengangguk. Pria itu segera mengambil masker dari dashboard mobil dan memakainya.Dengan kartu akses di tangan, Jade keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk lewat pintu lift menuju lantai dua.Saat pintu lift terbuka di lantai dua, seorang perawat wanita berkacamata tebal berdiri di sana dengan raut wajah cemas. Matanya terus melirik ke kiri dan kanan.Jade melihatnya tanpa berbicara apa pun selama beberapa detik, memastikan dia orang yang dimaksud oleh Primus atau bukan.Sampai akhirnya perawat itu memberikan pakaian scrub medis berwarna hitam yang terlipat rapi pada Jade."Silakan ganti pakaian Anda dengan ini, Tuan. Rua
Tatapan Jade terus tertuju pada pintu lift, tempat terakhir dia melihat Primus menghilang. Sesekali Jade melirik jam tangannya, lalu beralih ke aplikasi pemantau lokasi di ponsel, lalu kembali ke pintu lift. Tiga hal yang terus Jade periksa bergantian dengan rasa cemas yang semakin membesar. Beberapa kali pintu lift terbuka. Setiap kali itu terjadi, Jade menegakkan punggungnya, berharap sosok Primus yang keluar. Namun yang keluar hanya perawat dengan seragam hijau, seorang pria dengan kantong infus di tangan, atau pun sepasang suami istri yang menggendong bayi. Primus belum juga kembali. Jade mendesah kasar sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Pria itu bersandar ke kursi penumpang, menyilangkan tangan di depan dada, lalu tidak bisa duduk diam dan akhirnya menegakkan punggung lagi. Satu setengah jam berlalu. Sampai akhirnya, saat pintu lift terbuka untuk kesekian kalinya, Jade melihat sosok Primus di sana. Pria paruh baya itu berjalan keluar lift. Jantung
Primus segera melajukan mobil menuju titik lokasi salah satu anting Daisy yang berada di rumah sakit kecil di luar kota tanpa banyak bertanya atau membuang waktu satu detik pun. Sementara mobil Jade sendiri yang tertinggal di depan rumah Vincent, akan diurus oleh jasa derek yang dipesan Primus lewat telepon singkat sambil menyetir. Jade menatap layar ponselnya yang masih menampilkan dua titik lokasi berbeda. Jari-jarinya menekan layar itu terlalu kuat, seperti ingin menggenggam Daisy langsung dari sana. "Daisy pasti kehilangan salah satu antingnya di rumah Vincent sebelum dibawa ke luar kota," gumam Jade menyimpulkan dengan suara pelan yang bergetar. "Pria bajingan!" Rumah sakit bukanlah tempat yang bagus. Terlebih lagi rumah sakit kecil di luar kota yang biasanya minim fasilitas dan dokter spesialis yang tidak lengkap. Lebih parah lagi, stok darah yang mungkin tidak mencukupi. J
Jade mengepalkan tangan dengan kuat di sisi tubuhnya. Urat di leher Jade menonjol. Napasnya terasa berat. Dia berusaha mengendalikan amarah yang sangat besar dengan susah payah agar tidak meledak di sini. "Kau terlalu percaya diri, Vincent," sahut Jade dengan penuh penekanan. "Perusahaan yang melejit dengan cepat, tahu apa soal bertahan? Poseidon Exports sudah berusia puluhan tahun dan selama itu, kami selalu memimpin perekonomian." Senyum Vincent memudar. Tipis, tetapi Jade melihatnya dengan jelas. Hyper Move memang masih sangat muda. Usianya belum sampai 10 tahun. Sebelumnya Vincent merasa bahwa perusahaannya bisa saja membalap keberhasilan Poseidon Exports yang sudah berakar kuat di industri ini. Namun saat Jade mengucapkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan, jauh di dalam lubuk hatinya, Vincent merasakan kepercayaan dirinya jatuh. Jade menunjuk dada Vincent dengan ja
Beberapa mobil membunyikan klakson cukup panjang karena Jade mendadak memelankan pijakan pada pedal gas dan hampir menyebabkan kecelakaan beruntun.Mobil di belakang Jade harus menginjak rem mendadak. Mobil lain di belakangnya pun sama.Tok! Tok! Tok!Kaca pintu mobil Jade diketuk oleh seorang pria dengan wajah merah dan tatapan tajam.“Keluar kau! Lihat kekacauan yang kau buat dan tanggung jawablah!” teriak pria yang sepertinya merupakan salah satu pengemudi mobil di belakang Jade.Pria itu segera menepi ke bahu jalan. Dia mendengarkan keluhan para pengemudi lain dan bertanggung jawab.Masalah itu dengan mudah dapat Jade atasi. Yang sulit adalah menahan amarah menggebu di dada.Napas Jade tersengal dan saat kembali ke dalam mobil tangannya gemetar di atas kemudi.Jejak darah. Ranjang penuh darah. Daisy yang diseret.Pikiran-pikiran mengerikan itu terus berputar di kepala Jade seperti film horor yang ti
"Ya benar, Nona," jawab Primus sambil mengangguk sopan pada Jane.Jade menatap Primus dengan saksama, menantikan jawaban pria berusia sekitar 50-an itu yang juga menatapnya lurus tanpa ragu.Saat Jade masih kecil, Primus dipercayakan oleh Morgan untuk menjaga ibu dan adik-adiknya di Suri. Pria itu otomatis menjadi pelindung keluarga mereka di negara ini.Jade ingat beberapa kali Primus mengantar dan menjemputnya dari taman belajar untuk anak-anak.Pemandangan dari kursi belakang Jade yang berusia empat tahun adalah wajah serius Primus yang sedang mengendarai mobil hitam besar. Terkadang Primus juga dengan sabar menunggu di depan gerbang sambil membawa bekal yang disiapkan Sydney.Dengan tanggung jawab sebesar itu, menjaga istri dan anak-anak majikannya sendirian di negara yang jauh, Primus bekerja sendiri di Suri selama berbulan-bulan. Dan Morgan sangat mempercayainya hingga detik ini.Jade akhirnya berkata sambil meraih ponselny







