MasukSirene ambulans melolong panjang, memecah sore yang terasa terlalu sempit bagi napas Daisy.
Gadis itu duduk di sisi brankar, jemarinya menggenggam tangan Arthur yang dingin dan tidak bergerak.Setiap getaran mobil membuat tubuh pria tua itu sedikit terguncang, dan setiap kali itu terjadi, jantung Daisy ikut bergetar tidak karuan.“Eyang …” bisik Daisy parau, air matanya menetes. “Eyang harus sembuh. Tolong … Eyang tidak boleh meninggalkan aku sendirian.”DaTatapan Jade terus tertuju pada pintu lift, tempat terakhir dia melihat Primus menghilang. Sesekali Jade melirik jam tangannya, lalu beralih ke aplikasi pemantau lokasi di ponsel, lalu kembali ke pintu lift. Tiga hal yang terus Jade periksa bergantian dengan rasa cemas yang semakin membesar. Beberapa kali pintu lift terbuka. Setiap kali itu terjadi, Jade menegakkan punggungnya, berharap sosok Primus yang keluar. Namun yang keluar hanya perawat dengan seragam hijau, seorang pria dengan kantong infus di tangan, atau pun sepasang suami istri yang menggendong bayi. Primus belum juga kembali. Jade mendesah kasar sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Pria itu bersandar ke kursi penumpang, menyilangkan tangan di depan dada, lalu tidak bisa duduk diam dan akhirnya menegakkan punggung lagi. Satu setengah jam berlalu. Sampai akhirnya, saat pintu lift terbuka untuk kesekian kalinya, Jade melihat sosok Primus di sana. Pria paruh baya itu berjalan keluar lift. Jantung
Primus segera melajukan mobil menuju titik lokasi salah satu anting Daisy yang berada di rumah sakit kecil di luar kota tanpa banyak bertanya atau membuang waktu satu detik pun. Sementara mobil Jade sendiri yang tertinggal di depan rumah Vincent, akan diurus oleh jasa derek yang dipesan Primus lewat telepon singkat sambil menyetir. Jade menatap layar ponselnya yang masih menampilkan dua titik lokasi berbeda. Jari-jarinya menekan layar itu terlalu kuat, seperti ingin menggenggam Daisy langsung dari sana. "Daisy pasti kehilangan salah satu antingnya di rumah Vincent sebelum dibawa ke luar kota," gumam Jade menyimpulkan dengan suara pelan yang bergetar. "Pria bajingan!" Rumah sakit bukanlah tempat yang bagus. Terlebih lagi rumah sakit kecil di luar kota yang biasanya minim fasilitas dan dokter spesialis yang tidak lengkap. Lebih parah lagi, stok darah yang mungkin tidak mencukupi. J
Jade mengepalkan tangan dengan kuat di sisi tubuhnya. Urat di leher Jade menonjol. Napasnya terasa berat. Dia berusaha mengendalikan amarah yang sangat besar dengan susah payah agar tidak meledak di sini. "Kau terlalu percaya diri, Vincent," sahut Jade dengan penuh penekanan. "Perusahaan yang melejit dengan cepat, tahu apa soal bertahan? Poseidon Exports sudah berusia puluhan tahun dan selama itu, kami selalu memimpin perekonomian." Senyum Vincent memudar. Tipis, tetapi Jade melihatnya dengan jelas. Hyper Move memang masih sangat muda. Usianya belum sampai 10 tahun. Sebelumnya Vincent merasa bahwa perusahaannya bisa saja membalap keberhasilan Poseidon Exports yang sudah berakar kuat di industri ini. Namun saat Jade mengucapkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan, jauh di dalam lubuk hatinya, Vincent merasakan kepercayaan dirinya jatuh. Jade menunjuk dada Vincent dengan ja
Beberapa mobil membunyikan klakson cukup panjang karena Jade mendadak memelankan pijakan pada pedal gas dan hampir menyebabkan kecelakaan beruntun.Mobil di belakang Jade harus menginjak rem mendadak. Mobil lain di belakangnya pun sama.Tok! Tok! Tok!Kaca pintu mobil Jade diketuk oleh seorang pria dengan wajah merah dan tatapan tajam.“Keluar kau! Lihat kekacauan yang kau buat dan tanggung jawablah!” teriak pria yang sepertinya merupakan salah satu pengemudi mobil di belakang Jade.Pria itu segera menepi ke bahu jalan. Dia mendengarkan keluhan para pengemudi lain dan bertanggung jawab.Masalah itu dengan mudah dapat Jade atasi. Yang sulit adalah menahan amarah menggebu di dada.Napas Jade tersengal dan saat kembali ke dalam mobil tangannya gemetar di atas kemudi.Jejak darah. Ranjang penuh darah. Daisy yang diseret.Pikiran-pikiran mengerikan itu terus berputar di kepala Jade seperti film horor yang ti
"Ya benar, Nona," jawab Primus sambil mengangguk sopan pada Jane.Jade menatap Primus dengan saksama, menantikan jawaban pria berusia sekitar 50-an itu yang juga menatapnya lurus tanpa ragu.Saat Jade masih kecil, Primus dipercayakan oleh Morgan untuk menjaga ibu dan adik-adiknya di Suri. Pria itu otomatis menjadi pelindung keluarga mereka di negara ini.Jade ingat beberapa kali Primus mengantar dan menjemputnya dari taman belajar untuk anak-anak.Pemandangan dari kursi belakang Jade yang berusia empat tahun adalah wajah serius Primus yang sedang mengendarai mobil hitam besar. Terkadang Primus juga dengan sabar menunggu di depan gerbang sambil membawa bekal yang disiapkan Sydney.Dengan tanggung jawab sebesar itu, menjaga istri dan anak-anak majikannya sendirian di negara yang jauh, Primus bekerja sendiri di Suri selama berbulan-bulan. Dan Morgan sangat mempercayainya hingga detik ini.Jade akhirnya berkata sambil meraih ponselny
Morgan menaruh tangannya di bahu Jade, memberikan kekuatan sekaligus dukungan. "Tidak perlu, Jade,” tolak Morgan tanpa membuat Jade berkecil hati. “Kami bisa menjenguk Elias setelah dia dipindahkan ke kamar rawat inap. Elias harus pulih dulu sebelum kami menemuinya.” “Benar, Mami juga belum bisa mengontrol emosi jika melihat Elias sekarang,” tambah Sydney, matanya sudah kembali berkaca-kaca. “Kami tidak akan bisa melakukan atau membicarakan sesuatu juga, jika Elias belum sadar.” Kini Sereia ikut mengemukakan pendapatnya. “Setuju.” Zaleia mengiyakan pendapat kembarannya. “Hitung-hitung, kami bisa beristirahat sejenak.” Jade mengangguk. Pria itu tahu orang tua serta adik-adiknya tidak ingin membebani Elias dengan kehadiran seluruh keluarga saat kondisi Elias masih sangat lemah. "Apa boleh aku pulang dulu untuk mandi dan istirahat?" tanya Jade sambil menatap ayahnya. "Aku juga perlu memanggi







