LOGIN“Aku menceraikanmu!” Tiga kata yang menghancurkan dunia Sophia dalam sekejap. Dituduh berselingkuh setelah tertangkap basah tidur dengan pria asing, Sophia kehilangan segalanya—suaminya, kehidupannya, dan harga dirinya. Padahal, dia tak mengingat apa pun tentang malam itu. Hanya kepingan ingatan, rasa pahit di mulut, dan firasat bahwa dia dijebak. Lucas, pria yang dulu begitu mencintainya, berubah menjadi sosok penuh kebencian. Tak percaya pada setiap air mata dan kata maaf yang Sophia ucapkan. Tanpa menyelidiki lebih jauh, pria itu dengan tega meninggalkan Sophia yang dulu dianggap segalanya. Bertahun-tahun berlalu. Takdir mempertemukan mereka kembali—tapi kali ini, Lucas dikejutkan oleh kenyataan bahwa Sophia tidak sendiri. Ada dua anak kecil dengan mata yang sangat familiar. Mata yang begitu mirip dengan miliknya... Kini, kebenaran perlahan terungkap. Namun, apakah cinta yang sudah hancur bisa disatukan kembali? Dan … apakah maaf masih punya tempat, ketika luka lama kembali terbuka? *** My Instagram: michaella_kim28
View More“Apa yang kau lakukan, Sophia?!” teriak Lucas dengan suara serak bercampur amarah saat dia membuka pintu kamar mereka. Pria tampan itu berdiri terpaku di ambang pintu, matanya membelalak tak percaya. Pemandangan di hadapannya seakan meremukkan hatinya dalam sekejap.
“Lucas?” suara Sophia serak dan nyaris tak terdengar, dengan raut wajah yang menunjukkan jelas aura wajah penuh rasa terkejut. Wanita itu sampai berkaca-kaca, menatap sang suami yang ada di hadapannya.
Ya, Sophia tersentak bangun saat mendengar teriakan itu. Saat tadi matanya membuka perlahan, tampak sayu dan bingung—betapa teerkejut dirinya melihat semua ini. Dia sampai mengedipkan mata beberapa kali, seolah dunia di sekelilingnya berputar tanpa kendali.
“Kau—” Lucas menggeram penuh amarah. Matanya yang semula penuh kerinduan setelah tiga hari perjalanan bisnis, kini berubah jadi lautan amarah dan luka. Dia mencoba berbicara, tetapi kata-kata tercekat di tenggorokannya. Semua yang ingin dia katakan hanya menjadi kabut yang menyelimuti hatinya yang hancur.
Gelora api amarah di dalam diri Lucas tak terkendali. Pria tampan itu melihat dengan kedua matanya sendiri, istri yang begitu dia cintai berada di ranjang bersama dengan seorang pria yang tak sama sekali dia kenali.
“Lucas. A-aku … aku tidak tahu—” ucap Sophia terbata-bata.
Kepala wanita itu terasa berat, seperti tertimpa batu, dan ada rasa asing di tenggorokannya—pahit, mual, seperti sisa alkohol atau … sesuatu yang lain. Dia menyentuh dahinya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Tatapannya jatuh pada pria di sampingnya. Seketika tubuhnya menegang. Dia menarik selimut lebih tinggi ke dadanya dan menatap Lucas dengan mata membelalak ketakutan.
“Tidak tahu, Sophia?!” potong Lucas dengan suara yang lebih tinggi. “Tidak tahu kenapa kau tidur dengan pria lain di tempat tidur kita?!”
Pria asing yang tidur di samping Sophia mulai terbangun, wajahnya tampak tenang penuh arti khusus. Dia mengangkat tubuhnya perlahan, menatap sekeliling sejenak, lalu memungut bajunya yang berserakan di lantai.
“Maaf—” Pria asing itu hendak mengeluarkan suara, tetapi hantaman pukulan Lucas membuatnya langsung tersungkur di lantai.
“Berani sekali kau menyentuh istriku! Sialan!” Lucas membabi-buta dalam meledakan amarahnya. Dia terus menghajar pria sialan yang meniduri istrinya itu. Ya, caranya berhasil membuat pria sialan itu babak belur.
“Katakan padaku berapa lama kau menjallin hubungan dengan istriku!” bentak Lucas penuh amarah yang membakar dirinya.
“Ya Tuhan, Lucas!” Sophia panik di kala sang suami murka. Dia berupaya untuk berdiri, tetapi posisi tubuhnya telanjang dan hanya terbalut selimut, membuatnya kesulitan.
Pria asing itu sudah babak belur, hanya melukiskan senyuman licik ke arah Lucas. “Berapa lama aku menjalin hubungan dengan istrimu, kau bisa tanyakan pada istrimu sendiri, Tuan,” jawabnya santai, tanpa sama sekali beban.
Mata Sophia melebar tak percaya mendengar ucapan gila pria asing itu. Sungguh, dia tak mengerti akan apa yang dikatakan oleh pria asing itu. Dia terbangun di kamarnya dalam kondisi sudah tidur dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal. Pun sialnya dia tak ingat apa pun sebelum bencana ini dimulai.
“Lucas, demi Tuhan, aku tidak berselingkuh darimu. Aku mohon percaya padaku.” Mata Sophia menatap Lucas dengan tatapan permohonan, meminta suaminya itu percaya padanya.
Amarah Lucas semakin menjadi. Kilat matanya menajam bagaikan laser yang siap untuk melenyapkan musuh. “Enyah kau dari hadapanku, sebelum aku benar-benar membunuhmu!” desisnya tajam pada pria asing itu.
Pria asing itu dengan santai memakai pakaiannya, mengambil ponsel dan dompetnya yang ada di atas meja, lalu menatap Sophia dengan senyuman licik penuh arti yang mendalam.
“Sampai jumpa, Sophia. Tadi malam, kau sangat luar biasa,” bisik pria asing itu, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Lucas menatap punggung pria itu pergi, dengan rahangnya mengeras. Napasnya makin tidak teratur, dan matanya kembali pada Sophia—yang kini memeluk selimutnya erat-erat seperti hendak menyembunyikan rasa malu dan ketakutan.
“L-lucas, a-aku sungguh tidak tahu siapa dia. Aku bersumpah … aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa di sini seperti ini,” ucap Sophia dengan suara lirih, dan tampak putus asa. Matanya mulai berkaca-kaca. Pikirannya kacau tak mengerti ada apa dengan ini semua.
Lucas hanya menatap Sophia lama, antara percaya dan tidak. Pikirannya penuh dengan tanya—apakah ini pengkhianatan yang direncanakan, ataukah sesuatu yang lebih gelap sedang terjadi? Namun, apa yang dia lihat sudah sangat jelas bahwa memang Sophia telah mengkhianatinya.
“Aku bukan pria idiot yang tidak mengerti dengan apa yang aku lihat barusan, Sialan!” bentak Lucas menggelegar.
Sophia menyeka air matanya, membiarkan sang suami membentaknya. Dia mencoba memahami wajar jika suaminya marah. Apalagi suaminya memergokinya tidur dengan pria asing—yang dia sendiri tak mengenal pria asing itu.
Sophia mencoba menenangkan diirnya, lalu dia bangkit, tetapi tubuhnya lemas. Dia benar-benar terlihat kebingungan. Ada sesuatu yang janggal, pikirnya—bau aneh di udara, rasa pahit di mulut, dan kekosongan dalam ingatan yang seharusnya jelas. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai terisak.
“Lucas, aku bingung bagaimana harus menjelaskan padamu. Tapi, aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku sangat mencintaimu.” Sophia hendak menyentuh Lucas, tetapi detik itu juga tangan kokoh Lucas menepis kasar tangan Sophia.
“Akh—” Sophia merintih kesakitan di kala tangannya ditepis kasar oleh Lucas.
“Kau pikir aku bodoh? Kau kira aku akan percaya dengan omong kosong itu, hah?!” teriak Lucas menggelegar. Mata pria tampan itu sudah memerah, menunjukkan dia menahan air matanya. Air mata yang menyimpan kemarahan dan kekecewaan.
Sophia tak menyerah begitu saja. Dia akan terus berusaha sampai paling tidak suaminya memercayainya. “Lucas, aku tidak berbohong. Sungguh, aku benar-benar tidak berbohong. Jujur, jika kau meminta penjelasan, aku sendiri bingung untuk menjelaskan. Bukan karena aku ingin mencari alasan, tapi aku hanya ingat tadi malam aku di mansion sendirian dan sedang menonton televisi sambil minum teh, lalu setelah itu aku tidak ingat apa pun lagi. Aku mencoba menggali ingatanku, tapi tidak ada. Aku bangun dalam keadaan—”
“Berhenti, Sophia!” Lucas memotong ucapannya dengan suara lantang. Tatapannya tajam seperti bilah pisau, begitu menusuk “Sudahi sandiwaramu. Aku tidak bodoh! Aku sudah melihat semuanya dengan jelas!”
“Sayang, tapi—”
“Ternyata benar apa yang dikatakan seseorang padaku,” ucap Lucas menggantung, dengan nada kecewa dan amarah mendalam.
Sophia mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan suaminya itu. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan suara nyaris putus asa.
Lucas menatap nanar, matanya semakin memerah oleh amarah dan luka yang dalam. “Seseorang yang memperingatkanku tentang kau. Tentang betapa murahan dan palsunya dirimu!” katanya dengan suara dingin. “Aku bodoh karena tidak memercayainya sejak awal.”
Seakan dunia runtuh di sekelilingnya, Sophia kembali menangis pilu. Dia menangis tanpa suara, hanya tubuhnya yang terguncang menahan isak. Suaranya parau saat mencoba berbicara.
“Aku tidak murahan, Lucas … aku tidak melakukan ini … ini jebakan. Ya, aku yakin seseorang menjebakku. Aku bahkan tidak tahu siapa pria tadi! Aku … aku merasa seperti dibius. Aku tak ingat apa pun,” kata Sophia dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Lucas menatap Sophia dengan tatapan amarah bercampur dengan jijik, seolah wanita yang dulu dia cintai telah berubah menjadi sosok asing yang menjijikkan di hadapannya.
“Kau tahu yang lebih menjijikkan dari pengkhianatan? Kebohongan setelahnya,” ucap Lucas dengan nada menusuk.
Sophia menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar. Tangannya mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuhnya, seperti berusaha melindungi diri dari kenyataan yang menyakitkan.
“Lucas, kumohon … percayalah padaku … Kau mengenalku. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu seperti ini. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu,” isak Sophia sesenggukan.
Lucas lantas tertawa sinis mendengar ungkapan cinta dari Sophia. Tawamnya itu tak mengandung sedikit pun kehangatan. Tawa yang berubah menjadi luka yang menyayat hati.
“Cinta? Ini yang kau sebut cinta, Sophia?! Aku bahkan jijik melihatmu!” bentak Lucas, dengan nada keras.
Tiba-tiba, Lucas menghantam tembok dengan kepalan tangannya. Suara keras pukulan itu bergema di seluruh kamar, dan darah keluar dari tangan pria itu. Sontak, tindakan yang dilakukan Lucas membuat Sophia terlonjak terkejut dengan tubuh menegang.
“L-Lucas, tanganmu …,” bisik Sophia hendak mendekat pada Lucas, tetapi wanita itu sadar bahwa pasti Lucas akan menolak sentuhannya.
“Kau tahu, Sophia? Aku dulu sangat mengagumimu, tapi sekarang sosok yang aku kagumi membuatku jijik,” desis Lucas seraya terus mengepalkan tangannya. Darahnya jatuh ke lantai. Namun, dia tak merasakan sakit sedikit pun. Sebab sejatinya, sakit di hatinya jauh lebih tersiksa daripada luka dari pukulan yang dia ciptakan.
Sophia menatap Lucas dengan tatapan mengiba, penuh permohonan. “Aku mohon, percaya padaku, Lucas. Aku tidak mengkhianatimu.”
Lucas menggelengkan kepalanya pelan. Seolah hatinya telah membeku oleh rasa kecewa yang terlalu dalam. “Kau tahu penyesalan terbesarku? Itu adalah menikah dengan wanita rendahan sepertimu, Sophia. Kau membuatku merasa sangat bodoh mau menikahi wanita sepertimu!”
Hati Sophia hancur mendengar apa yang dikatakan suaminya yang mengaku menyesal menikah dengannya. “Jadi, kau benar-benar berpikir aku mengkhianatimu?” tanyanya pilu, dan sesak.
Lucas tersenyum sinis. “Aku melihat dengan mataku sendiri. Fakta tidak bisa dibantah, Sophia. Cinta buta itu bodoh. Aku sudah muak menjadi orang bodoh!”
Sophia kembali menitikkan air matanya. Setiap kata yang keluar dari mulut Lucas seperti pisau yang menghujam jantungnya. Luka itu tak kasatmata, tetapi terasa nyata hingga membuatnya sulit bernapas.
“Kau tidak tahu apa-apa, Lucas … Kau tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku bukan orang seperti yang kau pikir,” ucap Sophia dengan kepala yang tertunduk lesu, dengan nada yang sudah terdengar sangat putus asa.
Lucas berdiri tegak, menatap tajam istrinya itu. Napasnya memburu menandakan berusaha mengatur emosi yang nyaris meledak di dalam dirinya. Api amarah telah semakin panas melahap dirinya.
“Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi, Sophia. Aku menceraikanmu!”
Keheningan membentang dari dalam mobil. Lucas melajukan mobil dengan kecepatan penuh—dengan aura wajah tampak menunjukkan kemarahan. Tangannya kini mencengkeram kuat stir mobil. Pria tampan itu dikuasai kemarahan di kala melihat adegan intim Sophia dengan Jacob.Shit! Lucas memukul setir mobil, seraya meloloskan umpatan dalam hatinya. Dia tak mengira akan bertemu dengan Sophia bersama dengan Jacob. Apa yang dia lihat tadi, membuat mood dalam dirinya sangat kacau.“Lucas, kenapa kau mengajakku pergi? Kau kan sudah berjanji padaku akan menemaniku di restoran baru yang tadi,” kata Anna kesal pada Lucas.Lucas masih diam. Matanya menerawang lurus ke depan. Pikirannya terus terngiang pada sosok Sophia yang bersandar pada dada Jacob—dalam keadaan seakan membutuhkan Jacob. Reka adegan itu bagaikan kaset kusut yang tak berhenti terputar di benaknya.“Lucas?” desakan Anna memecah lamunannya.Lucas mengedip pelan, menyadari bahwa pertanyaan Anna dia abaikan. “Kau bisa makan siang di tempat lain
Sophia bangun pagi tidak dengan wajah yang segar. Wanita cantik itu kesal, kenapa tadi malam harus memimpikan Lucas. Dari sekian banyak hal yang dia lalui, kenapa dia harus kembali memikirkan pria yang harusnya dienyahkan dari pikirannya? Sungguh, dia membenci ini semua.“Sophia, aku ingin mengajak kembar ke taman bermain. Apa hari ini kau sibuk?” Joana masuk ke dalam kamar, menghampiri Sophia.Sophia melamun, tak menyadari kedatangan Joana.“Sophia?” panggil Joana lagi, tepat di depan sahabatnya itu.Sophia langsung membuyarkan lamunannya. “Hm? Ya, Joana?” jawabnya cepat, di kala sudah sadar kehadiran sahabatnya itu.Joana mendesah pelan, lalu duduk di samping Sophia. “Sepertinya ada hal yang membebani pikiranmu. Katakan padaku, apa yang kau pikirkan?”Sophia menyandarkan punggungnya ke sofa, sembari memejamkan mata lelah. “Tadi malam aku mimpi Lucas. Dan kembar datang ke kamarku saat mereka mendengarku menjerit nama Lucas.”Joana terkejut langsung meraih kedua bahu Sophia. “Wait, ka
“Apa sekarang kau bahagia, Sophia?”Sophia menoleh pelan ke arah sumber suara berat dari seorang pria. Tampak jelas matanya menyiratkan kehangatan yang nyaris meleleh. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang tenang seolah seluruh dunia tak lagi menyakitkan.“Menurutmu?” tanya Sophia, dengan nada tenang. “Aku merasa kau bahagia, tapi kau akan lebih bahagia jika bersamaku,” jawab pria tampan itu sembari menggenggam tangan Sophia. Sophia terdiam merasakan kehangatan sentuhan yang sudah lama sekali dia rindukan. Hatinya luluh. Dia berjalan dengan pria tampan itu menyusuri taman yang dipenuhi bunga bermekaran. Langit biru tanpa awan menggantung damai di atas kepala mereka. Sinar matahari menyelinap melalui daun-daun, menciptakan permainan cahaya di tanah dan di wajah Sophia. Udara membawa aroma melati dan rerumputan segar. Semuanya sempurna. Bahkan terlalu sempurna.Tangan itu—tangan hangat yang dia kenal betul—menggenggam erat jemarinya. Sang pemilik tangan adalah Lucas. Dia pria yang
Matahari mulai muncul di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti garis langit kota New York. Saat sinar pertama menyentuh permukaan kaca gedung pencakar langit yang menjulang, jalanan mulai berdenyut dengan kehidupan. Udara terasa segar, membawa aroma kopi yang baru diseduh dari kafe di sudut jalan, berpadu dengan wangi manis bunga sakura yang mekar di Central Park.Pelari, mengenakan pakaian berwarna cerah, melintasi jalur setapak, langkah mereka berirama, bergema di tengah kicauan burung yang ceria. Tampak seorang musisi jalanan mengalunkan melodi lembut dengan gitarnya, nada-nada itu melayang di udara seperti bisikan harapan. Pun dari kejauhan, siluet ikonik Patung Liberty berdiri megah, mengingatkan akan ketahanan dan kebebasan.Pagi yang indah di New York, membawa kedamaian jiwa. Sophia duduk di kursi taman bersama dengan Joana. Dia memperhatikan khusus kembar yang bermain dengan anak-anak yang baru dikenal. Ada Amy yang selalu setia menemani kembar.Ya, hari ini


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.