Masuk"Masih balik koas? Kupikir udah enggak."Nara baru saja masuk ke kamar jaga koas, dan sosok itu sudah menantinya dengan tangan terlipat di dada. Nara hanya tersenyum menatapnya, ia tentu ingat, orang tua gadis ini turut hadir di pesta pernikahannya kemarin."Kenapa enggak? Aku masih pantas di sini." balas Nara tenang. Scarleta tersenyum sinis, maju selangkah hingga mereka cukup dekat saat ini. Matanya menyipit, nampak memperhatikan ujung kepala sampai ujung kaki Nara dengan tatapan menyelidik setengah mengejek. "Heran ya aku, apa bagusnya kamu sampai anak dokter Rina mau sama kamu? Sampai bang Elvan tergila-gila sama kamu?" Kembali Nara tersenyum dan membalas tatapan itu dengan sangat tenang. Dia tidak butuh menang untuk berdebat dengan perempuan ini, bisa sukses membuatnya kesal saja itu sudah sangat memuaskan bagi Nara. "Terserah apa katamu." balasnya sembari menatap mata itu dengan saksama. "Yang jelas, dibanding kamu, aku yang katamu nggak ada bagus-bagusnya ini jadi selera la
Samar-samar, ditengah rasa lelah, kantuk dan lemas yang menguasai Nara, ia merasakan ada sesuatu yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya menyisakan kepala yang sudah tidak dapat lagi berdiri tegak. Rasanya hangat dan nyaman. Nara terlalu lelah sampai tidak mampu lagi membuka mata.Entah berapa lama mereka melakukannya tadi, Nara tidak menghitung. Ia bahkan lupa berapa kali dibuat Wilson memekik memohon ampun tadi, yang jelas, ketika cairan hangat itu menyembur dan memenuhi rahimnya, Nara sudah berdaya lagi. Kembali Nara merasakan ada benda kenyal, setengah basah mengecup dahinya, ada pula usapan lembut di dahi dan kepala Nara, membuat Nara benar-benar terbuai dan hanyut dalam mimpinya. Sementara itu, laki-laki yang beberapa saat yang lalu menguasai dan begitu mendominasi tubuh Nara, nampak duduk di tepi ranjang dengan pandangan yang tak lepas dari wajah Nara. Meskipun wajah itu sama lelahnya, namun seringai puas itu tergambar di sana. Senyumnya merekah, akhirnya setelah cukup l
"Ah!"Nara terkejut bukan main, ketika sosok itu membelakanginya yang baru saja selesai keluar dari kamar mandi. Tangan Nara langsung mencengkram bathrope yang membungkus tubuhnya yang masih setengah basah. Tanpa membuang waktu, tubuh itu memutar, berdiri membalas tatapan terkejut yang Nara lemparkan ke padanya. Nampak ia tersenyum sinis, menatap tajam ke arah Nara dengan tatapan ganjil, sebuah tatapan yang makin membuat Nara mempererat cengkeramannya pada bathrope. "Tidak lupa kalau kita sudah menikah, kan? Kita tidur sama-sama mulai malam ini!" nampak ia membuka kancing di pergelangan tangan, sementara kancingnya yang lain, sudah terbuka dari atas sampai bawah, memperlihatkan dada dan permukaan perut lelaki itu yang tercetak sempurna. Tidur sama-sama. Mendadak Nara merinding mendengar kalimat itu, terlebih langkah kaki Wilson mulai terayun mendekatinya. Mampus!Wajah itu masih menyunggingkan senyum ganjil, dengan sorot mata tajam bercampur kilatan cahaya yang membuat otak Nara
Gaun ini .... Pantulan cermin membuat Nara terkesiap. Bukan hanya karena gaun yang dia kenakan, gaun yang Wilson minta tambahan lace sebagai penutup dada hingga tangan Nara, gaun yang akhirnya Wilson beli, tak peduli harganya puluhan juta. Makeup ala douyin yang viral itu, menjadi pilihan Nara untuk menyempurnakan penampilan di hari besarnya ini. Dilengkapi soflen warna grey berdiameter besar yang membuat Nara jadi macam boneka hidup."Jeje cantik sekali, Sayang!"Nara menoleh, Fatima hari ini juga menjelma bak bidadari, ya sejatinya dia memang ibu peri. Kebaikan hatinya dan keikhlasan merawat puluhan anak-anak yang bukan darah dagingnya menjadi kecantikan yang tidak bisa ditemui pada setiap orang. Senyum Nara merekah, sejenak matanya memanas. Fatima menggeleng cepat, meraih tangan Nara dan meremasnya lembut. "Jangan nangis! Nggak boleh!" tegas Fatima cepat. "Untuk hari ini, nggak boleh ada air mata. Ini momen seumur hidup kamu, Je, jadi harus senyum, gembira dan bahagia. Oke?"Na
"Je." Nara menoleh, nampak Fatima melangkah masuk ke dalam kamarnya, kamar yang sudah penuh dengan beberapa kardus dan koper besar. Malam ini, malam terakhir Nara tidur di sini. Besok, lebih tepatnya subuh sampai acara selesai, Nara tidak akan pulang kemari. Dia akan pergi, ikut kemana suaminya akan membawa Nara tinggal. "Looo, besok mau jadi pengantin kok malah sedih begini, Je?" Fatima duduk di tepi ranjang, menatap Nara yang seketika memerah matanya dengan tatapan haru. Tangis Nara pecah, ia meraih tangan Fatima, mencium punggung telapak tangan itu penuh hormat dan menangis sejadi-jadinya di sana. Fatima membisu, air matanya ikut menitik. Ia merengkuh Nara, membenamkan Nara ke dalam dekapannya. Tangan Fatima mengusap lembut kepala Nara, mengabaikan air matanya yang menganak sungai. "Nggak nyangka bunda, Je ... bunda bisa nemenin kamu sampai detik ini, sampai proses sakral besok pagi." gumam Fatima hampir tidak terdengar, dadanya terasa sesak. "Bunda selalu berdoa se
"Pak, mbak Nara tadi WA saya, Pak." Wajah Wilson langsung beralih dari deretan berkas di atas meja, ia menatap Rifai dengan sorot tajam. "Dia nggak ada chat saya malah." ucap Wilson masih dengan ekspresi tajam. "Ada urusan apa sampai-sampai kamu yang dichat sama dia?" Mata Rifai membulat, hampir tawanya pecah. Wajah dan intonasi suara Wilson benar-benar membuatnya geli! "Soal sejarah keluarga kandungnya, Pak." jawab Rifai tetap tenang dan sabar. "Kan kemarin saya cerita kalau mbak Nara mau nekat ke dukcapil buat cari data orang tuanya yang masih terekam di sana." Seketika ekspresi wajah Wilson melunak, nampak ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Jemarinya mengusap dagu, ada sorot ragu terpancar di wajah itu. Rifai memilih untuk diam menungggu, duduk sembari mencoba membaca wajah Wilson yang berada di depannya ini. "Menurutmu, apakah perlu dia tahu yang sebenarnya, Fai?" Akhirnya Wilson bersuara, hendak mengajaknya beradu argumen perihal calon istrinya. "







