Share

Bab 53

Author: Ummu Amay
last update publish date: 2025-10-19 12:29:47

Sejak pertemuan dengan Juan dan Jenni, Rafael semakin menyadari bahwa lingkaran masalah di sekelilingnya kian rapat. Darma bukan lagi musuh Hanna, lelaki tua itu juga kini harus menghadapi dirinya sebagai suami dari wanita yang tengah diincar. Darma benar-benar mulai menargetkan Hanna, dan itu tak bisa Rafael biarkan.

Di ruang kerjanya malam itu, Rafael duduk bersama Reno, salah satu orang kepercayaannya. Di meja, berjejer foto-foto hasil investigasi termasuk rekaman CCTV. Di wajah para preman
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Pertama Penuh Gairah Bersama Cucu Presdir   Bab 129

    Pagi datang tanpa banyak suara. Langit cerah. Terlalu cerah untuk malam yang baru saja berlalu.Kediaman Bachtiar berdiri seperti biasa. Kokoh. Tenang. Seolah tidak ada yang berubah.Padahal semuanya sudah berbeda.Hanna berdiri di balkon lantai dua. Tempat yang sama. Namun perasaannya tidak lagi sama.Tangannya kosong sekarang. Tidak ada lagi flashdisk. Tidak ada lagi benda yang bisa ia genggam untuk menahan semuanya. Hanya dirinya sendiri.Ia menarik napas panjang. Udara pagi terasa segar. Namun di dalam dadanya masih ada sisa sesak yang belum sepenuhnya pergi.Ia tidak menangis. Tidak sejak tadi malam. Dan itu justru terasa aneh. Seolah air matanya belum menemukan jalannya.Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya.Hanna tidak menoleh. Ia sudah tahu.Rafael berhenti beberapa langkah darinya. Jarak itu masih ada.Dan kali ini —ia tidak mencoba menghapusnya.“Aku akan ke kantor polisi,” kata Rafael pelan.Tidak ada pembukaan. Tidak ada basa-basi. Hanya fakta.Hanna mengangguk keci

  • Malam Pertama Penuh Gairah Bersama Cucu Presdir   Bab 128

    Gudang itu kembali sunyi. Asap mulai menipis. Suara langkah kaki menjauh. Sirene polisi masih terdengar samar dari kejauhan, namun terasa seperti dunia lain.Semua sudah bergerak. Semua sudah selesai. Kecuali satu hal —Hanna.Ia masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya masih menggenggam flashdisk itu. Benda kecil. Namun terasa lebih berat dari apa pun yang pernah ia pegang.Di sekitarnya, orang-orang berbicara. Rudi memberi instruksi. Bastian memastikan keadaan aman. Rafael berdiri beberapa meter darinya.Namun semua suara itu seperti teredam.Hanna tidak mendengar apa pun. Ia hanya mendengar suaranya sendiri. Dan suara masa lalu.Hujan.Malam itu kembali. Ruang tamu kecil. Lampu redup. Bau tanah basah.Ayahnya duduk di kursi teras. Diam. Basah kuyup. Tangannya gemetar.Hanna berdiri di ambang pintu. Waktu itu ia baru saja selesai mengerjakan tugas sekolahnya tepat saat sang ayah pulang. “Ayah?”Tidak ada jawaban. Hanya tatapan kosong.Dan benda kecil di tangan ayahnya. Flashdisk

  • Malam Pertama Penuh Gairah Bersama Cucu Presdir   Bab 127

    Gudang itu sunyi. Tidak ada suara selain dengus napas yang tertahan.Layar kecil di tangan Rudi masih gelap setelah video berhenti. Namun dampaknya sudah menjalar ke seluruh ruangan.Rafael tidak bergerak. Matanya tetap pada layar itu. Rahangnya mengeras.Perlahan, sangat pelan, ia berkata—“Putar lagi.”Rudi ragu.“Pak—”“Putar.”Nada itu tidak memberi ruang bantahan.Video diputar ulang. Suara itu kembali terdengar.“Proyek ini tidak boleh berhenti.”Hanna menahan napas.Rana tidak bicara. Ia hanya mengamati.Rafael memejamkan mata sejenak. Seolah mencoba menyangkal sesuatu yang sebenarnya sudah ia kenali. Namun tidak bisa.Ia membuka mata. Dan berkata pelan—“Itu suara papaku.”Sunyi langsung pecah.Bastian menoleh cepat seolah paham. “Raf..." Rudi membeku.Hanna tidak bergerak. Namun matanya perlahan beralih ke Rafael. Tidak ada keterkejutan di sana. Hanya … kepastian yang pahit.Rana mengangguk kecil dari atas.“Akhirnya.”Rafael tertawa pendek. Hambar.“Jadi ini yang kau ingink

  • Malam Pertama Penuh Gairah Bersama Cucu Presdir   Bab 126

    Tidak yang bergerak.Kotak logam itu seperti pusat gravitasi ruangan. Semua mata tertarik ke sana.Hanna melangkah. Pelan.Rafael langsung menangkap pergelangan tangannya.“Jangan.”Hanna menoleh. Tatapannya tenang, tapi tidak goyah.“Ini satu-satunya cara.”Rafael menggeleng. “Kita tidak tahu apa itu.”Hanna menatapnya dalam.“Justru karena itu.”Sunyi.Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan —Rafael melepaskan tangannya.Namun ia tetap berdiri di sampingnya. Dekat. Terlalu dekat untuk membiarkan apa pun terjadi.“Pelan,” katanya rendah.Hanna mengangguk. Ia melangkah mendekati meja itu. Setiap langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Seolah masa lalu yang ia hindari selama ini… kini menunggunya di depan.Di atas, Rana mengawasi tanpa berkedip.“Buka,” ucapnya pelan.Hanna berhenti tepat di depan meja. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh permukaan kotak itu.Dingin. Berdebu. Namun utuh.Ia membuka pengaitnya.Suara kecil itu menggema lebih keras dari seharusnya.Tutup kotak

  • Malam Pertama Penuh Gairah Bersama Cucu Presdir   Bab 125

    Sunyi menekan dari segala arah. Semua mata tertuju pada Hanna.Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap pada Rana, namun kini ada sesuatu yang berubah —bukan takut, melainkan … ingatan yang mulai terkuak.“Aku?” suaranya pelan.Rana mengangguk kecil.“Kamu satu-satunya orang yang belum pernah didengar.”Rudi mendengus pelan. “Ini mulai tidak masuk akal.”Namun Rana tidak menghiraukannya. Ia menatap Hanna seolah hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.“Hari itu,” katanya pelan, “ayahmu pulang dengan membawa sesuatu.”Hanna mengerutkan dahi. Rafael langsung menoleh.“Apa maksudmu?”Rana tidak menjawab Rafael. Ia tetap menatap Hanna.“Dia tidak pernah bicara banyak setelah kejadian itu, kan?”Hanna terdiam.Benar. Ayahnya berubah. Lebih diam. Lebih tertutup.Dan ada satu hal yang selalu ia ingat —malam itu. Hujan deras.Dan ayahnya duduk di ruang tamu, memegang sesuatu di tangannya.Hanna mengernyit. Rana melihat perubahan itu.“Dia menyimpan sesuatu.”Jeda.“Sesuatu yang tidak

  • Malam Pertama Penuh Gairah Bersama Cucu Presdir   Bab 124

    Sunyi langsung menegang di seluruh gudang.Hanna tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap Rana dengan mata yang sulit dibaca.“Ayahmu dibunuh di tempat ini.”Kalimat itu masih menggantung di udara. Namun sebelum siapa pun berkata apa pun—Rafael sudah membuka suara.“Jangan bermain kata-kata.”Nada suaranya dingin.Rana mengangkat alis tipis.“Bermain?”Rafael menggenggam foto itu lebih erat.“Pak Surya tidak mati di proyek Timur.”Sunyi.Hanna menoleh cepat ke arah Rafael. Rana juga memperhatikannya. Rafael melanjutkan dengan tenang,“Dia meninggal dua tahun setelah proyek ini ditutup.”Hanna membeku. Ia memang tahu itu. Ayahnya meninggal lama setelah proyek Timur selesai. Karena depresi. Karena tekanan sebab kawannya meninggal. Karena hidupnya runtuh.Rana tersenyum kecil.“Benar.”Jeda.“Dia tidak mati hari itu.”Ia menunjuk lantai beton di bawah.“Yang mati di sini adalah pekerja lain.”Sunyi.Rudi mengerutkan dahi.“Lalu apa maksudmu tadi?”Rana menatap Hanna lagi.“Ayahmu tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status