Se connecterMembalas kebaikan seorang kakek tua karena telah membiayai seluruh pengobatan sang ibu, membuat seorang Hanna Saraswati mau menerima perjodohan yang diberikan kepadanya. Menikah dengan Rafael Bachtiar, cucu dari kakek tersebut akhirnya Hanna jalani selama dua tahun lamanya. Ya, dua tahun adalah syarat yang Rafael ajukan seandainya Hanna tidak bisa memberinya keturunan. Lantas, bagaimana bila seandainya Hanna hamil dan melahirkan anak dari Rafael? Apakah lelaki itu akan tetap menyudahi pernikahan atau hanya mau menunggu anaknya lahir, lalu meninggalkan Hanna nantinya?
Voir plusPagi datang tanpa banyak suara. Langit cerah. Terlalu cerah untuk malam yang baru saja berlalu.Kediaman Bachtiar berdiri seperti biasa. Kokoh. Tenang. Seolah tidak ada yang berubah.Padahal semuanya sudah berbeda.Hanna berdiri di balkon lantai dua. Tempat yang sama. Namun perasaannya tidak lagi sama.Tangannya kosong sekarang. Tidak ada lagi flashdisk. Tidak ada lagi benda yang bisa ia genggam untuk menahan semuanya. Hanya dirinya sendiri.Ia menarik napas panjang. Udara pagi terasa segar. Namun di dalam dadanya masih ada sisa sesak yang belum sepenuhnya pergi.Ia tidak menangis. Tidak sejak tadi malam. Dan itu justru terasa aneh. Seolah air matanya belum menemukan jalannya.Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya.Hanna tidak menoleh. Ia sudah tahu.Rafael berhenti beberapa langkah darinya. Jarak itu masih ada.Dan kali ini —ia tidak mencoba menghapusnya.“Aku akan ke kantor polisi,” kata Rafael pelan.Tidak ada pembukaan. Tidak ada basa-basi. Hanya fakta.Hanna mengangguk keci
Gudang itu kembali sunyi. Asap mulai menipis. Suara langkah kaki menjauh. Sirene polisi masih terdengar samar dari kejauhan, namun terasa seperti dunia lain.Semua sudah bergerak. Semua sudah selesai. Kecuali satu hal —Hanna.Ia masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya masih menggenggam flashdisk itu. Benda kecil. Namun terasa lebih berat dari apa pun yang pernah ia pegang.Di sekitarnya, orang-orang berbicara. Rudi memberi instruksi. Bastian memastikan keadaan aman. Rafael berdiri beberapa meter darinya.Namun semua suara itu seperti teredam.Hanna tidak mendengar apa pun. Ia hanya mendengar suaranya sendiri. Dan suara masa lalu.Hujan.Malam itu kembali. Ruang tamu kecil. Lampu redup. Bau tanah basah.Ayahnya duduk di kursi teras. Diam. Basah kuyup. Tangannya gemetar.Hanna berdiri di ambang pintu. Waktu itu ia baru saja selesai mengerjakan tugas sekolahnya tepat saat sang ayah pulang. “Ayah?”Tidak ada jawaban. Hanya tatapan kosong.Dan benda kecil di tangan ayahnya. Flashdisk
Gudang itu sunyi. Tidak ada suara selain dengus napas yang tertahan.Layar kecil di tangan Rudi masih gelap setelah video berhenti. Namun dampaknya sudah menjalar ke seluruh ruangan.Rafael tidak bergerak. Matanya tetap pada layar itu. Rahangnya mengeras.Perlahan, sangat pelan, ia berkata—“Putar lagi.”Rudi ragu.“Pak—”“Putar.”Nada itu tidak memberi ruang bantahan.Video diputar ulang. Suara itu kembali terdengar.“Proyek ini tidak boleh berhenti.”Hanna menahan napas.Rana tidak bicara. Ia hanya mengamati.Rafael memejamkan mata sejenak. Seolah mencoba menyangkal sesuatu yang sebenarnya sudah ia kenali. Namun tidak bisa.Ia membuka mata. Dan berkata pelan—“Itu suara papaku.”Sunyi langsung pecah.Bastian menoleh cepat seolah paham. “Raf..." Rudi membeku.Hanna tidak bergerak. Namun matanya perlahan beralih ke Rafael. Tidak ada keterkejutan di sana. Hanya … kepastian yang pahit.Rana mengangguk kecil dari atas.“Akhirnya.”Rafael tertawa pendek. Hambar.“Jadi ini yang kau ingink
Tidak yang bergerak.Kotak logam itu seperti pusat gravitasi ruangan. Semua mata tertarik ke sana.Hanna melangkah. Pelan.Rafael langsung menangkap pergelangan tangannya.“Jangan.”Hanna menoleh. Tatapannya tenang, tapi tidak goyah.“Ini satu-satunya cara.”Rafael menggeleng. “Kita tidak tahu apa itu.”Hanna menatapnya dalam.“Justru karena itu.”Sunyi.Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan —Rafael melepaskan tangannya.Namun ia tetap berdiri di sampingnya. Dekat. Terlalu dekat untuk membiarkan apa pun terjadi.“Pelan,” katanya rendah.Hanna mengangguk. Ia melangkah mendekati meja itu. Setiap langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Seolah masa lalu yang ia hindari selama ini… kini menunggunya di depan.Di atas, Rana mengawasi tanpa berkedip.“Buka,” ucapnya pelan.Hanna berhenti tepat di depan meja. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh permukaan kotak itu.Dingin. Berdebu. Namun utuh.Ia membuka pengaitnya.Suara kecil itu menggema lebih keras dari seharusnya.Tutup kotak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.