MasukSementara itu di lokasi lain, kini Yogi tengah sibuk memerhatikan pemotretan salah satu model pilihannya untuk produk lipstik terbaru dari perusahaan miliknya. Pria itu cukup perfeksionis dalam segala hal, bahkan hingga pemilihan model pun ikut turun tangan. Dan selalu disaat pemotretan Ia juga hadir untuk memerhatikan dan memberikan masukan.
Model berdiri dengan cantik menggunakan baju berwarna merah, memegang produk lipstik terbaru mereka seri bold. Hanya saja Yogi merasa ada sesuatu yang kurang.
"Cut!" Pria itu berteriak membuat semua yang ada di sana menghentikan kegiatan.
Deff, sang fotografer menatap dengan heran. Kenapa tiba-tiba saja sang atasan meminta kegiatan mereka dihentikan.
"Lipstiknya terlalu gelap, kenapa kalian pakai warna Mahogany 420d09? Ganti! Bran Red!" Yogi memerintahkan.
Tentu saja mendengar teguran dari sangat Hasan membuat penata rias segera mengganti lipstik sesuai dengan permintaan. Dari kejauhan Yogi memerhatikan kemudian pria itu berteriak sekali lagi.
"Itu burgundy! Saya bilang Bran Red! Aih!" Yogi berjalan mendekat kemudian memerhatikan lipstik terbarunya yang terdiri atas empat warna. Dan ia mengambil warna yang ia maksudkan kemudian memberikan kepada sang perias. "Bran Red," katanya menekankan.
Yogi kemudian mendekati sang fotografer. "Foto-foto sebelumnya nggak dipakai pakai foto yang sekarang. Lipstiknya terlalu gelap, terkesan tua. Dan enggak menonjolkan kecantikan bibirnya. Padahal saya pilih dia sebagai model karena bibirnya yang cukup seksi."
"Sebelumnya, juga sudah oke Pak. Bapak boleh lihat hasilnya." Deff mengatakan itu.
Sementara itu Yogi tetaplah Yogi. Ia mengangkat tangannya. " Saya enggak suka yang tadi, ulang semua, mengerti Pak Deffian Buming Pranojo?" Pria berkulit pucat itu menekankan.
"Baik Pak." Deff mengerti, meski kesal setengah mati. Karena ia harus mengulang kembali. Padahal ini sudah kostum ketiga.
Dan seperti biasa sang CEO berkulit pucat itu memutuskan untuk berjalan keluar meninggalkan orang-orang yang kesal karena dirinya. Tentu saja karena mereka harus mengulang semua foto tadi dengan lipstik pilihan Yogi.
Yogi berjalan menuju ruangannya di atas meja sudah ada makan siang yang disiapkan oleh sekretarisnya, Siska. Is menggunakan waktu singkatnya untuk makan siang. Ada susu rasa pisang yang biasa ia pesan. Yogi memegangi susu kotak itu. Tapi yang teringat malah adegan di mana ia menyesap puting Rei, sementara wanita itu bergerak di atasnya naik dsn turun.
Yogi dengan cepat menggelengkan kepalanya kemudian meletakkan kembali susu itu di atas meja kerjanya. Yogi itu sampai usianya saat ini masih suka sekali minum susu pisang. Dan itu sudah menjadi keharusan di setiap pagi dan siang.
"Gue kenapa sih?" tanyanya dalam hati.
Dalam aktivitas ranjang, bisa dikatakan itu bukan hal yang pertama kali di mana Yogi melakukan kegiatan seksual. Hanya saja ada daya tarik tersendiri saat ia merasakan bermain sex seraya menyesap susu milik wanita lawan mainnya. Seperti sebuah ketagihan yang ingin ia ulang. Hal seperti ini baru pertama kali dirasakannya dan jujur saja membuat Yogi merasa sedikit frustrasi!
Setelah bekerja, Yogi bahkan langsung melangkahkan kakinya menuju club' atas rasa penasaran yang ia rasakan. Ditujunya ruangan di mana ia bertemu dengan Rei tempo hari. Pria dengan tatapan dingin itu bergerak cepat membuka pintu, melihat Rei yang duduk di sana, menunggu. Yogi berjalan cepat dan duduk di samping Rei.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya wanita itu.
Tak ada jawaban yang diberikan Yogi selain kecupan bibir yang dengan cepat menjadi ciuman dan lumatan. Yogi mencium semakin dalam, seolah ingin membuat Rei merasa sesak. Tangan wanita itu merambat ke tangan Yogi kemudian mencengkram kuat-kuat. Yogi melepas tautan di antara keduanya dan kini ia menatap Rei, wanita yang kini melihatnya dengan tatapan bingung.
"Mas mau apa?" tanya Rei terdengar sensual saat ia memanggil Yogi dengan sebutan Mas diikuti dengan desahan.
Pria itu tersenyun ansimetris, misterius. Tak ada jawaban selain helaan napas yang hangat dan berat. Rei mengerjapkan matanya, menunggu jawaban yang seharusnya ia tau apa maksudnya. Alih-alih menjawab, Yogi mencium bibir berisi itu lagi.
Pria itu semakin menggebu menekan ciuman pada bibir Rei. Lagipula tak ada penolakan yang ia rasakan. Yogi merasa diterima sehingga ia semakin terbuai oleh hasratnya sendiri. Ciuman Yogi meluncur ke leher Rei memberi sebuah kecupan yang kemudian menjadi jejak kemerahan.
"Oh," satu desahan lolos tak kala Yogi membuat tanda lagi dan lagi.
Keterkejutan yang dirasakan Rei berganti dengan kepasrahan tak kala Yogi menyerangnya bertubi-tubi seolah tak ingin memberikan sedikit saja ruang bagi Rei untuk bernapas. Lehernya mendongak memberikan akses bagi pria itu untuk menjelajahi tanpa permisi. Tangan Yogi mulai melucuti pakaian yang ia kenakan. Ia juga membuka satu persatu kancing kemeja Rei, kini menunjukkan bra hitam yang menyembul, penuh kemudian ia rengkuh.
Yogi segera meremas dengan gemas, kemudian menurunkan hingga terlihat katup kecoklatan di ujung dada yang jadi candu untuknya. Bibirnya mendekat dan berniat melahap dan isap seperti tempo lalu. Hanya saja kali ini kantong susu kesayangannya itu kosong. Ia tak peduli. Hasratnya harus dituntaskan. Tangannya tak tinggal diam yang satu meremas yang lainnya mengusap punggung halus menambah stimulus bagi Rei.
Rei mendongak apa yang ia rassakan seperti sebuah kegilaan yang membuatnya pasrah.Dan Yogi tentu tak tahan lagi, Tak tahan lagi untuk berlama-lama ia sudah dibat gila oleh tubuh wanita ini. Kemudian dengan tergesa menurunkan celananya. Sejak tadi sudah ada yang mendesak ingin dipuaskan.
Yogi meraba pelan untuk memastikan, kemudian menghujamkan ke dalam lembah yang lembab itu.
"Oh, Mas," desahan sensual buat Rei tak tahan.
Yogi terdiam sejenak, mengatur diri ingin menikmati har yang hebat bersama Rei. Yogi baru saja akan bergerak.
Sebelum ....
"Yogi!!!" Seruan Jimmy terdengar.
"Gi!!"
Yogi mengerjap, mendapati guling yang berada di depan wajahnya dengan kain yang basah. Bukan hanya itu, bagian celananya juga basah. Sudah lama sekali sejak ia mimpi basah. Terkahir kali waktu SMA ia mimpi berhubungan intim dengan guru bahasa Inggrisnya. Dan kini dengan perempuan gendut yang bahkan tak pernah masuk klasifikasinya!
Bagaimana bisa?
"Aish sial!" maki Yogi yang ternyata hanya bermimpi.
Pria itu kemudian segera bangkit dan mandi. Pikirannya benar-benar acak-acakan akibat memimpikan wanita itu. Rei itu gendut, wajahnya juga nggak terlalu cantik, tapi kenapa tiba-tiba saja bisa masuk ke dalam mimpinya Yogi? Itulah yang ada di pikiran pria berkulit putih itu saat ini. Memang sih ada yang bilang kadang ketertarikan itu datang dengan cepat akibat berhubungan intim. Dan apakah itu juga yang kini tengah dirasakannya?
Yogi segera turun ke bawah setelah ia siap. Pria itu kemudian duduk di kursi yang berhadapan tepat dengan Jimmy. Si pemilik mata sayu itu sudah selesai sarapan, saat Yogi mandi tadi ia menikmati secangkir teh dan juga roti panggang dengan selai kacang dan coklat.
"Kenapa sih kalau pakai ke sini pagi-pagi?"
Pertanyaan Yogi membuat Jimmy menjadi bingung. Masalahnya ini bukanlah pertama kalinya Jimmy datang kemari pagi-pagi seperti ini. "Loh, emang ada yang salah? Gue kan emang sering datang ke sini pagi-pagi."
Iya sih, Jimmy biasanya datang pagi-pagi ke rumah ini? Tapi biasanya Yogi tidak sedang bermimpi seperti tadi. Yogi sepertinya kesal karena mimpinya pagi ini tidak tuntas.
"Ganggu," kesal Yogi lagi.
Jimmy bingung, sebenarnya ada apa dengan Yogi malam tadi sehingga menjadi kesal seperti ini?
"Lo udah ngomong sama Clarissa? Dia marah sama lo ya?"
Setelah memastikan sepupunya tenang, Jimmy bertanya.
Namun, Yogi justru menggeleng. "Gue belum ngomong sama dia. Belum hubungin sama sekali, mungkin nanti." Pria itu lalu sibuk dengan sarapan paginya.
"Terus kenapa lo marah dan kesel kayak gini? Ada sesuatu kah semalam?" Jimmy bertanya lagi karena ia tahu kalau Yogi kesal itu pasti ada sesuatu yang terjadi.
Sayangnya, Yogi tak mungkin memberitahu pada Jimmy. Kalau sepupunya itu mengganggu ia yang tengah bermimpi sedang melakukan hubungan intim dengan Rei, wanita gemuk yang terlibat kegiatan ranjang dengannya tempo hari. Tentu saja jika Jimmy mengetahui itu, Jimmy akan menertawakan dirinya dan ia tak mau ditertawakan oleh sepupunya itu.
"Enggak, gue cuma lagu sebel aja. Gara-gara kemarin penata rias salah ngasih lipstik." Yogi beralasan.
Ini menerima saja alasan itu karena memang sepupunya kadang sedikit random. Juga sudah mengetahui apa yang terjadi perihal lipstik itu. Orang-orang di kantor sudah tahu kandang Yogi memang semenyebalkan itu. Jadi bukan hal aneh lagi kalau sebuah hal kecil bisa mengganggu moodnya sampai hari ini.
Setelah pagi penuh kejutan itu, Yogi melakukan kegiatan seperti biasa di kantor.
Pikirannya masih sedikit berantakan akibat mimpi yang ia alami semalam.
Namun, perasannya juga menjadi semakin buruk.
Karena semua itu setelah pulang bekerja Ia segera berjalan menuju klub untuk bertemu dengan Rei. Sore itu club masih sangat sepi, Rei ada di dekat meja kasir tengah membicarakan sesuatu.
Salam satu lirikan saja Yogi sudah bisa mengenali wanita itu. Mungkin juga karena ia adalah satu-satunya wanita bertubuh gemuk di klub. Seragamnya memang sedikit berbeda, bahkan terlihat bebas sepertinya ia bukan pelayan. Sejak tadi Yogi mengidentifikasi memperhatikan setiap gerak-gerik Rei.
Tak ada yang aneh, wanita itu terlihat sangat hangat dan ramah kepada para karyawan. Dia juga tak banyak melakukan kegiatan di klub ini dan sejak tadi hanya mengobrol saja. Yogi kemudian memanggil salah seorang karyawan yang berada dekat dengan dirinya.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya sang pelayan ketika ia berada di dekat Yogi.
"Perempuan yang gendut itu dia siapa ya?" Yogi bertanya.
"Itu Mbak Rei, admin Pak. Tapi kadang juga jadi guide."
"Guide?"
"Iya, mau namanya nggak dipakai untuk memesan room di club bisa pakai nama mbak Rei. Bukan cuman klub ini tapi juga beberapa klub lain." Pras menjawab.
"Oke makasih," ucap Yogi.
Yogi menatap terus, ia bahkan kini bisa melihat bagian dada Rei yang basah. Yogi jadi terbayang rasa susu dalam wadah hidup itu. Dengan cepat ia gelengkan kepala. Pria itu kemudian berdiri berjalan menghampiri dengan sangat cepat. Tentu saja di hampiri seperti itu membuat Rei merasa terkejut.
"Ada yang bisa saya bantu?" sapa Rei ramah.
"Banyak," jawab Yogi.
Mendapat jawaban seperti itu tentu saja Rei menjadi bingung. "Bapak mau guide room?"
Yogi anggukan kepala. "Boleh, di sini sekarang. Karena saya mau ngomong ke kamu."
Rei jelas semakin bingung, apalagi pria di depannya itu kini terlihat marah dan kesal. "Maaf?"
"Saya Yogi Finanda."
"Ah," desah Rei yang menggelitik telinga Yogi. Sementara itu ia juga jadi mengerti alasan kenapa pria itu tiba-tiba mendekatinya.
Di dalam ruangan, Deff sudah memberitahu Yogi mengenai video yang dia buat bukan hanya video, tetapi dia juga memberitahu foto-foto untuk poster mereka."Semua ini sudah saya perbaiki sesuai dengan permintaan Pak yogi yang terakhir kali. Pemilihan warna dari poster dan juga video juga sudah disesuaikan dengan warna asli dari produk." Deff menjelaskan.Yogi memeriksa semua, video, poster, dan selebaran yang sudah dibuat oleh tim. Dia menganggukan kepalanya karena merasa cukup puas dengan hasil yang sudah jadi. Tak mungkin juga saat ini dia protes, karena waktunya sudah sangat mepet, bahkan tidak bisa lagi mundur karena hari ini adalah launching perdana."Bagus, saya suka. Saya lebih suka warna yang benar-benar real sesuai dengan foto dan pengambilan gambar. Jadi tolong dipastikan lagi, setiap kalian mengerjakan sesuatu sama warnanya harus sesuai dengan aslinya. Mengerti?" Deff menatap ke arah Rei tanpa mengalihkan matanya. Dia seolah tersihir dan terpesona dengan mantan istrinya itu.
Pagi ini Rei terbangun dengan perasaan gelisah, semalam mendapatkan foto dari Milo dan jujur saja itu membuat ia merasa cemburu. Dia jadi merasa tak percaya diri, apalagi ketika melihat Clarissa begitu cantik.Padahal pagi ini dia akan bertemu dengan Yogi, Yogi berniat untuk menjemput karena ada pertemuan yang harus Rei lakukan di perusahaan. Dia harus melihat kembali hasil jadi dari pemotretan yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu. Dan juga akan melakukan konferensi pers. "Hari ini kamu ada acara nak?" Ratih bertanya ketika melihat putrinya yang sudah rapi di meja makan."Iya Mi, Hari ini aku mau ke perusahaan. mau lihat hasil yang jadi kemarin terus sorenya mau ada konferensi pers. Tentang launching dari produk terbaru." Rei menjawab. Pagi-pagi tadi putrinya sudah berangkat diantarkan oleh sopir. Kini menyisakan Rei yang harus sarapan, bersama kedua orang tuanya. Bram menatap ke arah Rei. "Aduh, Papi nggak nyangka kalau punya anak yang bakal jadi seleb kayak gini."Rei hanya
Yogi dalam perjalan pulang, hari ini menyenangkan untuknya. Ia mengendarai mobil, masuk ke dalam rumah. Berjalan masuk ke dalwm rumah setelah memarkirkan mobil. Terkejut, karena melihat seseorang yang tengah menunggu. "Clarissa?" Yogi menyapa sambil berjalan mendekat. Gadis itu berdiri kemudian tersenyum menatap ke arah Yogi. "Mas Yogi? Baru pulang ya?""Iya, aku baru aja pulang. Kamu kenapa tumben banget ke sini?" Yogi kini berdiri berhadapan dengan Clarissa. Sejujurnya dia benar-benar bingung mengapa tiba-tiba sekali Clarissa datang ke rumahnya?"Aku mau ngobrol sama Mas Yogi, boleh nggak kita keluar sebentar?" Clarissa meminta izin sambil menatap jam di tangannya. "Ini masih jam 08.00 malam kan? Masih bisa kan keluar sebentar?"Yogi terdiam dan berpikir sejenak. Ini sudah jam delapan malam lebih tiga puluh delapan menit lebih tepatnya. "Emangnya kamu mau ngomong apa?""Aku mau ada rencana bikin skincare gitu, dan aku mau kerjasama sama Mas Yogi. Sama perusahaan kiss Miss."Ini a
Makan malam bersama di rumah Rei. Ada Jun, Indi, kedua orang tua Rei, Strawberry, Rei dan tentu saja juga Yogi. Rei dan Yogi duduk bersebelahan. Keduanya sedikit canggung setelah kejadian tadi. Obrolan terjadi seperti biasa Karena yang lain tidak tahu apa masalah yang terjadi.Hanya Ratih saja yang sejak tadi mencoba menahan senyum. Karena ia tahu apa yang terjadi di antara keduanya sebelum makan malam saat ini.Setelah makan malam Yogi memutuskan untuk pulang. Tentu saja dia harus segera kembali ke rumah karena besok akan bekerja. Lagi pula, hari ini dia benar-benar sembuh. Kondisi tubuhnya menjadi lebih fit, padahal pagi tadi demam tinggi."Kamu mau nganterin aku dulu nggak Mas?" Rei meminta."Sure, kamu mau aku anterin ke mana?*"Mau nganterin ASI aku. Mau ke rumah indah, sekarang kan jaraknya agak lumayan jauh. Kamu tahu kan, aku belum bisa naik kendaraan."Tentu saja Yogi bersedia. "Boleh sayang, kamu kalau mau ke mana-mana kabarin aku aja. Kalaupun aku nggak bisa, aku bisa mint
Deff berjalan keluar mobil menghampiri Kanaya yang berdiri di sebuah rumah menunggu dirinya. Memang sudah berjanji untuk menjemput kekasihnya itu. Raut wajah Deff sedikit tidak bersahabat, karena jujur saja merasa tak nyaman untuk bertemu dengan ayah dari Kanaya.Gadis itu dengan sumringah menyambut Deff. "ayo masuk, Papa dari tadi udah nanyain kamu."Deff hanya menganggukkan kepalanya sambil mengikuti berjalan masuk. Di sana ada seorang pria tua yang duduk di sebuah sofa sambil membaca sebuah majalah bisnis lawas. Ketika masuk Deff mendapat tatapan tak bersahabat. "Selamat siang Om." Deff menyapa tidak mendapat balasan hanya sebuah angkutan kepala. "Pa, ini dia udah datang. Papa tadi katanya mau ngomong sesuatu."Kanaya mengingatkan. Gadis itu duduk di samping sang ayah.Pria tua itu, kemudian meletakkan majalah dan melepas kacamata. "Papa cuman penasaran Sampai kapan kalian mau ada dalam hubungan seperti ini? Bukan seharusnya kalian tuh sudah menikah, kalian pacaran itu sudah lama
"Ohh," desah terdengar dari bibir ketika ia mulai merasakan sensasi merambat akibat perlakuan Yogi pada tubuhnya.Pria itu semakin gila, membuat ruangan yang tadinya dingin seketika saja menjadi panas dan meriah akibat perbuatannya. Keduanya rebah, bahkan tak ada satu helai lagi yang menempel di tubuh mereka.Deru nafas memenuhi ruangan, tidak beraturan. Bergerak seiring dengan detak jantung yang semakin cepat membawa hasrat menggebu dan sensual. Keduanya terdiam saat mata mereka bertaut, kerongkongan Rei seketika saja mengering. Jujur, dia butuh disentuh, hasratnya menuntut kegiatan yang jelas lama tak ia dapatkan. Meskipun kala itu memang melakukan dengan Yogi, keduanya dalam keadaan mabuk sehingga tak bisa saling menikmati."M-mas." Kelu, itu yang dirasakan lidah Rei saat ini. Sementara Yogi terpaku menatap tubuh di hadapannya, buat ia telan saliva. Menginginkan dengan menggebu, terutama bagian manis kesukaannya. Ingin ia habis sendiri kanan dan kiri. Yogi tak berkata-kata selain
"Mas Jun?" Pria berlesung pipi itu, berdiri di depan rumah sang adik sambil membawa boneka beruang yang memeluk beberapa buah coklat. Jun tersenyum, kemudian membuka lebar tangannya. Rei menghambur dan memeluk sang kakak, tentu ia merasa rindu karena sudah lama sekali tak bertemu. "Betah ya kam
Yogi menatap dengan tatapan iri dan dengki ke arah Rei dan Tedi. Jelas ada percik-percik api cemburu yang ia rasakan. Saat ini ia bisa memastikan kalau apa yang ia rasakan adalah cinta. Berawal dari cinta satu malam, kemudian berakhir dengan hatinya yang berdebar dan inginkan Rei. Jangan lupakan, s
Bebe senang sekali hari ini. Dia bisa melihat banyak hewan di sana. Gadis kecil itu begitu excited, terus berbicara dan juga tertawa. Ini adalah pertama kalinya dia bisa melihat hewan secara langsung. Rei tidak menyesal sudah membawa gadis kecilnya ke sana. Sejak menelusuri Taman safari tadi, Putri
"Mami di sini!" Bebe segera berteriak ketika dia melihat Yogi yang tengah terduduk di sebuah kursi taman tak jauh dari rumah hantu. Yogi memiliki asma dan tiba-tiba saja kambuh setelah ia keluar dari rumah hantu tadi. Rasanya seperti kekurangan oksigen, ia memutuskan untuk duduk di kursi. Sementar







