เข้าสู่ระบบ"Gue nggak tahu dia siapa, tapi namanya Rei. Kayaknya dia salah satu pekerja di klub. Soalnya, di bajunya dia ada pin yang dipakai sama karyawan club itu."
"Tapi kalian main aman kan?" Jimmy bertanya, karena takut sepupunya melakukan kebodohan tanpa menggunakan pengaman dalam berhubungan.
Sayangnya jawaban Yogi membuat Jimmy lagi-lagi terbelalak. Sepupunya itu malah menggelengkan kepalanya. Tentu saja jawabannya berarti, bahwa semalam Yogi berhubungan tanpa pengaman dan jelas itu beresiko tinggi. Kepala jadi rasanya benar-benar sakit akibat kelakuan Yogi.
"Kok bisa-bisanya lo nggak pakai pengaman?"
"Gue mabuk berat. Dan kayaknya cewek itu juga. Soalnya waktu kita berhubungan, Dia sama sekali nggak nyebut nama gue, tapi nama cowok lain. Pak siapa gitu." Yogi mencoba menyatukan semua kepingan ingatannya. hanya saja ia telah mengingat nama yang disebutkan oleh Rei semalam.
"Berarti kemungkinan itu pacar atau suaminya? Cantik?" Jimmy bertanya sambil mendekatkan tubuhnya kepada Yogi, lalu pria itu menaik turunkan kedua alisnya, menggoda sepupunya.
Yogi hela nafas lalu ia menggelengkan kepalanya lagi. "What?! Sumpah hari ini kepala gue sakit banget karena jawaban-jawaban yang lo kasih!" Jimmy berteriak nyaris frustrasi. Rasanya ia menyesal telah memberikan ide pada Yogi. Karena pada akhirnya semua sama sekali tidak berjalan sesuai dengan rencana.
"Dia itu gendut, mukanya sih nggak jelek-jelek banget, kulitnya juga putih kelihatan terawat lah. Pas gue cek dompetnya juga lumayan berada. Maksudnya ya bukan dari kalangan bawah-bawah banget. Karena gue lihat jam tangan yang dia pakai cukup bermerek."
"Tunggu, tunggu," kata Jimmy menghentikan ucapan Yogi sambil memajukan kedua tangannya. "Lo ngapain ngecek-ngecek tasnya dia?"
"Gue mau tahu lah, semalam gue tidur sama siapa. Jadi waktu dia masih tidur gue coba cari tahu. Gue juga kasih not Siapa tahu dia hamil dan butuh tanggung jawab gue." Yogi mengatakan itu dan lagi-lagi Jimmy memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan, ampunilah kebodohan sepupu hamba ini. Lo ngapain ngasih note?! Kalau dia lupa sama lo bukannya itu lebih bagus? Bodoh banget sih lo?!"Jimmy Ini kesal dengan kelakuan sepupunya. Karena menurutnya, lebih baik tak perlu mengirimkan note. Dan biarkan hubungan itu berlalu dan berakhir begitu saja dalam satu malam.
"Gue nggak mau jadi orang yang nggak bertanggung jawab."
"Terserah deh lo. Ya kalau kayak gitu suatu saat dia nuntut atau semacamnya. Lagian dia nggak cantik kok, ngapain tanggung jawab."
"Lo nggak boleh kayak gitu. tanggung jawab itu didapetin bukan cuman untuk perempuan cantik. Tanggung jawab itu nggak ngelihat fisik, harta, Tahta dan status sosial. Kalau memang Lo salah ya harus tanggung jawab."
Bagaimanapun Yogi memang sebenarnya adalah orang yang baik. Meskipun ia sangat perfeksionis pada pekerjaan dan cukup dingin pada orang lain.
"Oke kita lewati masalah ini. Lo ingat apa aja yang udah terjadi semalam sama perempuan itu?"
"Aku cuman ingat gue nyusu sama dia dan ada airnya."
"Hah apa?!"
"Ada ASI nya. Manis, hmm." Yogi jadi menandak ingat lagi pada rasa manis ASI yang ia hisap.
"Berarti kalau gitu aman. Kemungkinan perempuan itu udah punya suami dan anak atau lagi hamil. Jadi kalau dia hamil udah pasti ada yang tanggung jawab." Jimmy merasa lega setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Yogi mengenai ASI. "Kalau begitu sekarang tugas lo cuman kasih tau Clarissa. Kalian harus bertemu, dan Lo bilang lo minta maaf karena terlalu mabuk dan gak sadarkan diri."
Yogi anggukan kepalanya Ia setuju pada Jimmy kalau harus berbicara pada Clarissa dan meminta maaf.
***
"Gue berangkat agak siang ya? Habis jemput Bebe sekalian mau rehat. Kepala gue sakit banget," kata Rei pada Wiji, atasan yang juga adik kelasnya dulu.
Ya, pengaruh alkohol tampaknya belum hilang...
"Lagian kamu ngapain sih Kak, pakai mabok segala?" tanya Wiji.
"Enggak inget aku, kenapa bisa mabok banget kayak gitu. Yaudah ya gue mau masak dulu buat Bebe." Rei ini pembicaraannya karena ia tak mau juga diselidiki lebih lanjut.
"Oke, oke," kata WIji kemudian mematikan sambungan telepon.
Pagi tadi sudah berjanji pada Bebe untuk memasakkan makanan kesukaan putrinya. Strawberry suka sekali spageti dan itu cukup mudah di masak. Bukan dengan saus bolognese, tapi di buat dengan kuah yang terbuat dari susu full krim dan kaldu jamur. Rei biasa menyebutnyqa stup spqagetty itu masakan yang biasa dibuat sang mami untuknya. Dan kini ia memasak itu untuk putri kesayangannya.
"Kok tumben sih Kak lo pulang pagi buta gini?" tanya Sinta yang baru saja selesai mandi. Sebenarnya rumah Sinta tepat berada di samping rumahnya. Hanya saja tadi mesin air milik sahabatnya itu rusak.
"Hmm, iya, sibuk. Sorry lo jadi nginep buat jagain Bebe."
"Jujur sih gue enggak apa-apa jagain Jil, cuma lo tau kan, dia itu tanya lo terus." Sinta berkata kemudian membantu Rei. "BTW Kak, gue mau ngomong sama lo."
Rei menghentikan kegiatannya kemudian menatap pada Sinta. "Kayaknya penting nih. Mau ngomong apa?"
"Lusa gue balik ke kampung," kata Sinta dan membuat Rei menjadi bingung. Karena jika Sinta tak ada ia tak tahu di mana akan menitipkan putrinya. Apalagi sulit untuk percaya kepada orang lain.
"Yah, terus Bebe aku siapa yang bantuin jaga?" tanya Rei.
"Lo kan tau, gue udah dua tahun enggak balik ke Lampung. Bokap gue juga sakit dan ibu gue minta gue buat balik."
Rei mengerti mengapa temannya itu harus kembali ke kampung, hanya saja ia memikirkan bagaimana nasib putrinya. Apalagi ia tak bisa percaya pada orang lain. Sejak kembali dari Australia setelah pernikahannya gagal, Rei hanya bisa percaya pada Sinta.
"Ya udah kalau kayak gitu. Lo hati-hati ya nanti."
"Jil gimana kak?" Sinta bertanya, sebenarnya tak tega juga meninggalkan anak itu. Apalag sudah empat tahun ini ia yang membantu Rei menjaga anak itu.
"Gue nanti bisa bawa dia ke kantor dulu. Gampang, enggak usah lo pikirin. Atau gue minta nyokap gue buat k sini nanti."
Tentu saja dengan meminta sang ibu ke sini, Rei harus mengorbankan harga dirinya. Dulu sang ibu menentang hubungannya dengan sang mantan suami. Dan Rei nekat menikah dengan Bumi dengan alasan klasik, karena terlalu mencintai Bumi dan akhirnya kini? Pria itu malh meninggalkannya dengan perempuan lain yang jelas lebih cantik darinya. Pekerjaan Bumi sebagai seorang fotografer yang membuatnya banyak bertemu dengan banyak gadis cantik. Dan pada waktu itu, salah satu dari model yang ia tangani proyeknya berhasil merebut suaminya.
Selesai memasak dan makan dia segera melakukan kegiatan rutinnya yaitu memompa ASI miliknya. ASI ini harus diantarkan ke rumah Indah, ia antarkan saat nanti akan menjemput Bebe. ASI Rei melimpah, kanan dan kiri bisa jadi satu botol besar.
Padahal awalnya dulu sama sekali tak keluar, karena ia stress setelah bercerai dengan mantan suaminya. Lalu terus memaksakan, juga meminum aneka suplemen herbal untuk membantu. Dibantu dukungan Indah dan juga Sinta saat itu, akhirnya ia berhasil mengatasi depresi dan stres yang dirasakan, kemudian menghasilkan ASI yang ia berikan kepada Putri nya. Rei kadang merasa sedikit bersalah, karena Bebe selama 4 bulan sempat menyusu dengan susu formula.
Wanita itu menaiki motornya sampai akhirnya tiba di rumah Indah. Sahabatnya itu sudah menunggu di teras seraya menggendong bayi cantiknya. Rei memberikan kotak berisi 2 kantung asi pada Indah.
"Cantik amat sih anak mami Rei," kata Rei menggoda Zee yang ada dalam gendongan sang ibu.
"Lo kemana kemarin?" tanya Indah.
Rei terdiam, tak ingin mengatakan apapun tetapi mulutnya tak tahan untuk memberitahu. "Lo jangan marah."
Indah anggukan kepalanya. Meyakinkan diri kalau ia tak akan marah pada sahabatnya itu. "Kemana?"
"Gue mabok, terus iwiw iwiw sama cowok." Rei berkata dengan wajah bersalah.
"Heh!" Indah berteriak seraya memukul pundak rei. Teriakan dari mulut cemprengnya bahkan berhasil membuat bayi kecilnya menangis!
"Nangis kan? Lo sih teriak-teriak."
"Heh gubluk, jangan macem-macem Lo. Astaga, kalau Lo hamil gimane Bambang?!" Indah kesal dan kini ia berusaha keras untuk memelankan suaranya agar tak ada yang mendengar.
"Yaudah," shaut Rei asal.
"Asli ya mau gue ulek mulut Lo. Lo emang ga ada dildo, timun, terong apa botol apa gitu. Jangan pakai kont*l beneran!" Kesal indah dan kini berbicara seperti seorang laki-laki.
Rei menutupi telinga Zee. "Maafkan mulut mamakmu yang berdosah itu nak."
"Sumpah ya Rei!" Indah rasanya ingin memukul terus sahabatnya itu agar mendapatkan kesadaran.
Rei kini berlari meninggalkan sahabatnya itu dan dengan cepat menggeber motornya untuk meninggalkan rumah Indah.
Rasanya itu adalah cara yang paling tepat untuk membuat Indah berhenti marah-marah padanya....
Di dalam ruangan, Deff sudah memberitahu Yogi mengenai video yang dia buat bukan hanya video, tetapi dia juga memberitahu foto-foto untuk poster mereka."Semua ini sudah saya perbaiki sesuai dengan permintaan Pak yogi yang terakhir kali. Pemilihan warna dari poster dan juga video juga sudah disesuaikan dengan warna asli dari produk." Deff menjelaskan.Yogi memeriksa semua, video, poster, dan selebaran yang sudah dibuat oleh tim. Dia menganggukan kepalanya karena merasa cukup puas dengan hasil yang sudah jadi. Tak mungkin juga saat ini dia protes, karena waktunya sudah sangat mepet, bahkan tidak bisa lagi mundur karena hari ini adalah launching perdana."Bagus, saya suka. Saya lebih suka warna yang benar-benar real sesuai dengan foto dan pengambilan gambar. Jadi tolong dipastikan lagi, setiap kalian mengerjakan sesuatu sama warnanya harus sesuai dengan aslinya. Mengerti?" Deff menatap ke arah Rei tanpa mengalihkan matanya. Dia seolah tersihir dan terpesona dengan mantan istrinya itu.
Pagi ini Rei terbangun dengan perasaan gelisah, semalam mendapatkan foto dari Milo dan jujur saja itu membuat ia merasa cemburu. Dia jadi merasa tak percaya diri, apalagi ketika melihat Clarissa begitu cantik.Padahal pagi ini dia akan bertemu dengan Yogi, Yogi berniat untuk menjemput karena ada pertemuan yang harus Rei lakukan di perusahaan. Dia harus melihat kembali hasil jadi dari pemotretan yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu. Dan juga akan melakukan konferensi pers. "Hari ini kamu ada acara nak?" Ratih bertanya ketika melihat putrinya yang sudah rapi di meja makan."Iya Mi, Hari ini aku mau ke perusahaan. mau lihat hasil yang jadi kemarin terus sorenya mau ada konferensi pers. Tentang launching dari produk terbaru." Rei menjawab. Pagi-pagi tadi putrinya sudah berangkat diantarkan oleh sopir. Kini menyisakan Rei yang harus sarapan, bersama kedua orang tuanya. Bram menatap ke arah Rei. "Aduh, Papi nggak nyangka kalau punya anak yang bakal jadi seleb kayak gini."Rei hanya
Yogi dalam perjalan pulang, hari ini menyenangkan untuknya. Ia mengendarai mobil, masuk ke dalam rumah. Berjalan masuk ke dalwm rumah setelah memarkirkan mobil. Terkejut, karena melihat seseorang yang tengah menunggu. "Clarissa?" Yogi menyapa sambil berjalan mendekat. Gadis itu berdiri kemudian tersenyum menatap ke arah Yogi. "Mas Yogi? Baru pulang ya?""Iya, aku baru aja pulang. Kamu kenapa tumben banget ke sini?" Yogi kini berdiri berhadapan dengan Clarissa. Sejujurnya dia benar-benar bingung mengapa tiba-tiba sekali Clarissa datang ke rumahnya?"Aku mau ngobrol sama Mas Yogi, boleh nggak kita keluar sebentar?" Clarissa meminta izin sambil menatap jam di tangannya. "Ini masih jam 08.00 malam kan? Masih bisa kan keluar sebentar?"Yogi terdiam dan berpikir sejenak. Ini sudah jam delapan malam lebih tiga puluh delapan menit lebih tepatnya. "Emangnya kamu mau ngomong apa?""Aku mau ada rencana bikin skincare gitu, dan aku mau kerjasama sama Mas Yogi. Sama perusahaan kiss Miss."Ini a
Makan malam bersama di rumah Rei. Ada Jun, Indi, kedua orang tua Rei, Strawberry, Rei dan tentu saja juga Yogi. Rei dan Yogi duduk bersebelahan. Keduanya sedikit canggung setelah kejadian tadi. Obrolan terjadi seperti biasa Karena yang lain tidak tahu apa masalah yang terjadi.Hanya Ratih saja yang sejak tadi mencoba menahan senyum. Karena ia tahu apa yang terjadi di antara keduanya sebelum makan malam saat ini.Setelah makan malam Yogi memutuskan untuk pulang. Tentu saja dia harus segera kembali ke rumah karena besok akan bekerja. Lagi pula, hari ini dia benar-benar sembuh. Kondisi tubuhnya menjadi lebih fit, padahal pagi tadi demam tinggi."Kamu mau nganterin aku dulu nggak Mas?" Rei meminta."Sure, kamu mau aku anterin ke mana?*"Mau nganterin ASI aku. Mau ke rumah indah, sekarang kan jaraknya agak lumayan jauh. Kamu tahu kan, aku belum bisa naik kendaraan."Tentu saja Yogi bersedia. "Boleh sayang, kamu kalau mau ke mana-mana kabarin aku aja. Kalaupun aku nggak bisa, aku bisa mint
Deff berjalan keluar mobil menghampiri Kanaya yang berdiri di sebuah rumah menunggu dirinya. Memang sudah berjanji untuk menjemput kekasihnya itu. Raut wajah Deff sedikit tidak bersahabat, karena jujur saja merasa tak nyaman untuk bertemu dengan ayah dari Kanaya.Gadis itu dengan sumringah menyambut Deff. "ayo masuk, Papa dari tadi udah nanyain kamu."Deff hanya menganggukkan kepalanya sambil mengikuti berjalan masuk. Di sana ada seorang pria tua yang duduk di sebuah sofa sambil membaca sebuah majalah bisnis lawas. Ketika masuk Deff mendapat tatapan tak bersahabat. "Selamat siang Om." Deff menyapa tidak mendapat balasan hanya sebuah angkutan kepala. "Pa, ini dia udah datang. Papa tadi katanya mau ngomong sesuatu."Kanaya mengingatkan. Gadis itu duduk di samping sang ayah.Pria tua itu, kemudian meletakkan majalah dan melepas kacamata. "Papa cuman penasaran Sampai kapan kalian mau ada dalam hubungan seperti ini? Bukan seharusnya kalian tuh sudah menikah, kalian pacaran itu sudah lama
"Ohh," desah terdengar dari bibir ketika ia mulai merasakan sensasi merambat akibat perlakuan Yogi pada tubuhnya.Pria itu semakin gila, membuat ruangan yang tadinya dingin seketika saja menjadi panas dan meriah akibat perbuatannya. Keduanya rebah, bahkan tak ada satu helai lagi yang menempel di tubuh mereka.Deru nafas memenuhi ruangan, tidak beraturan. Bergerak seiring dengan detak jantung yang semakin cepat membawa hasrat menggebu dan sensual. Keduanya terdiam saat mata mereka bertaut, kerongkongan Rei seketika saja mengering. Jujur, dia butuh disentuh, hasratnya menuntut kegiatan yang jelas lama tak ia dapatkan. Meskipun kala itu memang melakukan dengan Yogi, keduanya dalam keadaan mabuk sehingga tak bisa saling menikmati."M-mas." Kelu, itu yang dirasakan lidah Rei saat ini. Sementara Yogi terpaku menatap tubuh di hadapannya, buat ia telan saliva. Menginginkan dengan menggebu, terutama bagian manis kesukaannya. Ingin ia habis sendiri kanan dan kiri. Yogi tak berkata-kata selain







