LOGINSebelumnya....
Rei sedang berada di ruang kerjanya.
Hari ini Sinta sudah kembali ke kampung dan ia mau tau mau akan membawa Bebe ke kantor. Rasanya gelisah sekali sejak tadi karena jam makan siang nanti ia harus menjemput putri semata wayangnya itu.
Menjelang pukul dua belas, ia melangkahkan kakinya ke dapur. Tadi memang sudah mengatakan akan meminta tolong Pras yang memang sudah datang siang tadi. Karena hari ini tak ada pekerjaan lain, Pras memang sengaja datang lebih pagi dan sibuk dengan pekerjaan dapur, membantu koki menyiapkan bahan makanan.
"Pras," panggil Rei pada Pras yang kini tengah sibuk duduk di sudut dapur seraya memainkan ponsel miliknya.
"iya Mbak?" Pras segera berdiri dan berjalan mendekati Rei.
"Tolongin aku jemput Bebe ya?" pinta Rei seraya menyerahkan kunci motor miliknya, dan sebuah paper bag berisi jaket milik Strawberry. "Sama ini jaketnya, minta dia pakai jaket dulu ya."
Bebe sejak kecil sering terkena sakit flu dan juga memiliki riwayat atsma. Hal itu yang membuat Rei cukup memperhatikan kebutuhan putrinya itu. Andai saja ia memiliki uang lebih, mungkin lebih baik jika ia membeli mobil. Hanya saja, saat ini itu belum bisa ia lakukan.
"Oke Mbak," sahut Pras sambil menerima kunci dan paper bag yang diberikan oleh Rei.
"Thanks ya," ucap Rei.
Setelah kepergian Pras, Rei kembali ke ruangnya mengerjakan pekerjaan. Data-data keuangan yang sudah menunggunya. Berada di ruangan bersama Milo rekan kerjanya selama beberapa tahun belakangan.
"Mending kredit mobil kalau was-was." Milo berkata lagi.
Rei menoleh pada Milo. "Lo tau kan hutang gue masih banyak. Waktu gue balik ke Indo itu tanpa sepeser uangpun, Ngutang sana -sini biar bisa hidup sama Bebe."
"Nyokap bokap lo kan kaya," kata Millo lagi.
Rei memukul bahu rekan kerjanya itu. "Gue masih punya malu deh buat minta ke nyokap. Dia aja belum tau gimana gue hidup sekarang. Bisa ngamuk kalau tau."
"Bagus lah, siapa tau mantan suami lo itu di bales sama bokap tiri lo. Orang penting kan dia?"
"Lo tau dari mana?" tanya Rei karena merasa tak pernah memberitahu Milo mengenai hal ini.
"Mbak Wiji, keceplosan ngomong tempo hari." Milo kini memilih untuk sedikit menjauh karena takut dipukul lagi oleh Rei. "Kalau enggak kan ada Pak Tedi."
"Jangan aneh-aneh deh."
"Dia nge-room cuma buat ketemu Lo tau. Gue tuh laki-laki. Ngerti lagi cowok yang emang lagi ngejar cintanya. Terima aja lumayan buat masa depan yang lebih baik. Enggak salah kan? Dia kan udah cukup umur juga." Milo mengatakan itu sambil terkekeh geli meledek sahabatnya yang selalu mengacuhkan Tedi. Dan menganggap pria itu memesan hanya untuk bertemu dengan koleganya.
Rei berdecih saja karena kelakuan sahabatnya itu. Ia memilih kembali melakukan pekerjaan seraya menunggu kedatangan putrinya. Tak lama setelah itu ponsel Rei berdering, Milo melirik, wanita itu segera menerima panggilan tersebut.
"Ya Pak Tedi?" sapa Rei kemudian terdengar suara Milo yang berdecak. Buat Rei memutar bola matanya.
"Seperti biasa ya, "Tedi mengatakan itu kepada Rei.
"Oke pak, tapi untuk hari ini saya nggak stay di sini sampai malam."
"Lho memang kenapa?" Pria itu bertanya karena sedikit ada rasa kecewa ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Rei tadi.
"Kebetulan hari ini anak saya ikut ke kantor Pak. Jadi kalau dia stay di sini sampai malam kasihan."
"Ah, ada strawberry di sana? Oke nggak apa-apa. Kalau gitu saya bisa datang ke sana lebih sore?"
"Boleh Pak silahkan," sahut Rei.
"Karena kan kemarin saya memang ingin ketemu sama anak kamu."
"Iya pak, kalau gitu saya tunggu Bapak di sini."
"Oke, terima kasih." Tedi kemudian mematikan panggilannya.
Setelah menerima panggilan kembali melakukan pekerjaan diiringi tatapan julid dari Milo. Sebenarnya bukan hanya Milo tetapi juga beberapa rekan yang lain mengatakan kalau Tedi menyukai Rei. Hanya saja wanita itu tak ingin memikirkan hal itu apalagi mengenai laki-laki. Masih cukup trauma dan takut salah lagi.
"Mami!" suara nyaring terdengar dari arah pintu. Anak itu berlari menghampiri sang mami dan memeluk Rei erat. Terlihat juga di sana Pras yang membawakan tas milik Strawberry.
"Anak mami!" Rei juga berseru sambil menciumi wajah putri kesayangannya.
Pras meletakkan tas milik Strawberry di meja sang ibu. "Ini tas Dia berat banget lo Mbak."
"Iya, makanya gue minta tolong jemput. kasihan kalau pulang naik ojek harus bawa tas seberat itu. Makasih ya Pras." Rei berkata kemudian Pras meninggalkan tempat itu.
"Gimana sekolahnya? Ada pr?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepala karena hari ini tak ada tugas rumah yang diberikan oleh gurunya. "Mami Bebe laper."
Rei mengambil tas miliknya dan ia sudah menyiapkan makan siang untuk putrinya tadi. "Ganti baju dan cuci tangan dulu di toilet nanti habis itu baru makan."
Strawberry mengganggukan kepalanya kemudian mengikuti langkah sang Ibu menuju toilet untuk mencuci wajah dan membersihkan tubuhnya dengan tisu basah. Setelah selesai membersihkan tubuh dan juga berganti pakaian kembali ke ruangan. Rei mengambil kursi lain kemudian membiarkan putrinya duduk di sebelahnya sambil menyantap makan siang yang sudah ia beli tadi. Hanya nasi, ayam goreng, juga cream soup kesukaan Bebe
Tak ada yang dilakukan anak itu selain bermain di kursi atau berlarian hingga akhirnya tertidur di sofa. Bebe memang bukan anak yang banyak maunya. Bersyukur sekali Rei memiliki anak perempuan seperti Bebe.
Setelah menjelang sore ia keluar menuju meja kasir untuk menunggu Tedi sebelum akhirnya ia di hampir oleh Yogi yang mengatakan ingin berbicara dengannya. Kini keduanya berada di ruangan yang dipesan oleh Yogi.
Sejak masuk dan setelah tiga menit keduanya duduk, tak ada pembicaraan diantara keduanya. Yogi dan Rei hanya saling diam. Wanita itu menatap jam pada ponsel miiknya, kemudian memutuskan untuk segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Yogi.
"Kamu harus tanggung jawab," kata Yogi tiba-tiba.
Langkah rei terhenti, jelas ia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Yogi. Tanggung jawab apa? Tanggung jawab yang bagaimana? Karena apa yang dilakukan keduanya adalah sebuah kecelakaan yang tak bisa dielakkan.
Rei membalik tubuhnya kemudian berjalan kembali mendekat pada Yogi. "Tanggung jawab gimana maksud Bapak?" tanya Rei bingung.
Yogi berdiri, kini ia bertatapan dengan Rei. Pria itu memerhatikan setiap sisi wajah Rei yang bisa dibilang tak terlalu buruk. Hanya tubuhnya saja yang gendut. Rei juga menggunakan parfum yang unik dan buat Yogi tertarik, suka. Wangi woody spicy dipadu dengan kopi membuat kesan sensual.
Yogui gelengkan kepalanya beberapa kali, katakanlah ia gila. Dan memang seperti itu, dia sama sekali tak mengerti mengapa mulutnya dengan licinnya malah meminta Rei untuk bertanggung jawab.
"Ya tanggung jawab," jawabnya yang sedetik kemudian malah jadi gugup.
Rei mengerenyitkan kening. Menatap dengan heran pada pria du hadapannya. mencoba memikirkan apa maksudnya dengan tanggung jawab? Tunggu ....
Wanita itu tesenyum di sudut bibirnya. Berjalen mendekati Yogi dengan perlahan, membuat pria itu mundur.Langkah Rei semakin maju dan Yogi jatuh terduduk di sofa. Rei dekatkan diri, menahan tubuhnya dengan berpegangan pada kepala sofa. Kini mereka berdua berhadapan sangat dekat hingga Yogi bisa merasakan embus napas Rei.
"Hmm, seperti hal yang ganggu pikiran ya? Hmm, adiksinya kuat ya? Candu?" Rei sengaja menggoda. Wanita itu segera berdiri tegak, kemudian merapikan jasnya. "Atau karena takut kalau diminta bertanggung jawab?"
Yogi masih dalam posisinya yang sedikit mengkerut akibat diintimidasi. Padaha dia itu Alfa, dan kini kalah oleh pesona janda gendut seperti Rei. Tapin ada sensasi aneh, ia suka dengan tantangan seperti ini. Ada sensasi berbeda yang menggelitik, membuat ia penasaran dan ingin merengkuh wanita itu. Menyebalkan memang tapi Yogi suka, masa bodoh dengan pemikirannya saat ini. Debaran jantungnya lebih dari cukup untuk membuat dirinya menginginkan sensasi ini lagi. Dan hanya Rei yang memberikan itu. Kini tatapannya menatap pada Rei yang berjalan hendak meinggalkannya.
Yogi berjalan cepat menghampiri sebelum Rei keluar dari pintu. tangan pria itu genggam tangan Rei yang buat langkah kaki sang janda terhenti. Yogi menatap, lekat, sambil tersenyum kecil, hatinya yang bersorak-sorai atas kenakalan dan keberanian kecil yang Rei lakukan tadi. Ia ingin membalas memberi kejutan.
"Nama kamu siapa?"
"Rei," jawab Rei.
"Sekarang tanggal berapa?" tanya Yogi lagi.
"Tanggal 28 april tahun 2023," jawab rei semakin bingung.
Yogi menatap pada Rei, "Rei?"
"Y-ya?" Rei tergagap tatapan Yogi terlalu mengintimidasi. Nyatanya ia salah melangkah harusnya tak cari gara-gara.
"Mulai hari ini, 28 April, tahun 2023--" ucapan pria itu terhenti kemudian menatap pada jam di tangannya. "Jam enam lewat delapan menit. Mulai detik ini Kamu--punya-saya."
Di dalam ruangan, Deff sudah memberitahu Yogi mengenai video yang dia buat bukan hanya video, tetapi dia juga memberitahu foto-foto untuk poster mereka."Semua ini sudah saya perbaiki sesuai dengan permintaan Pak yogi yang terakhir kali. Pemilihan warna dari poster dan juga video juga sudah disesuaikan dengan warna asli dari produk." Deff menjelaskan.Yogi memeriksa semua, video, poster, dan selebaran yang sudah dibuat oleh tim. Dia menganggukan kepalanya karena merasa cukup puas dengan hasil yang sudah jadi. Tak mungkin juga saat ini dia protes, karena waktunya sudah sangat mepet, bahkan tidak bisa lagi mundur karena hari ini adalah launching perdana."Bagus, saya suka. Saya lebih suka warna yang benar-benar real sesuai dengan foto dan pengambilan gambar. Jadi tolong dipastikan lagi, setiap kalian mengerjakan sesuatu sama warnanya harus sesuai dengan aslinya. Mengerti?" Deff menatap ke arah Rei tanpa mengalihkan matanya. Dia seolah tersihir dan terpesona dengan mantan istrinya itu.
Pagi ini Rei terbangun dengan perasaan gelisah, semalam mendapatkan foto dari Milo dan jujur saja itu membuat ia merasa cemburu. Dia jadi merasa tak percaya diri, apalagi ketika melihat Clarissa begitu cantik.Padahal pagi ini dia akan bertemu dengan Yogi, Yogi berniat untuk menjemput karena ada pertemuan yang harus Rei lakukan di perusahaan. Dia harus melihat kembali hasil jadi dari pemotretan yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu. Dan juga akan melakukan konferensi pers. "Hari ini kamu ada acara nak?" Ratih bertanya ketika melihat putrinya yang sudah rapi di meja makan."Iya Mi, Hari ini aku mau ke perusahaan. mau lihat hasil yang jadi kemarin terus sorenya mau ada konferensi pers. Tentang launching dari produk terbaru." Rei menjawab. Pagi-pagi tadi putrinya sudah berangkat diantarkan oleh sopir. Kini menyisakan Rei yang harus sarapan, bersama kedua orang tuanya. Bram menatap ke arah Rei. "Aduh, Papi nggak nyangka kalau punya anak yang bakal jadi seleb kayak gini."Rei hanya
Yogi dalam perjalan pulang, hari ini menyenangkan untuknya. Ia mengendarai mobil, masuk ke dalam rumah. Berjalan masuk ke dalwm rumah setelah memarkirkan mobil. Terkejut, karena melihat seseorang yang tengah menunggu. "Clarissa?" Yogi menyapa sambil berjalan mendekat. Gadis itu berdiri kemudian tersenyum menatap ke arah Yogi. "Mas Yogi? Baru pulang ya?""Iya, aku baru aja pulang. Kamu kenapa tumben banget ke sini?" Yogi kini berdiri berhadapan dengan Clarissa. Sejujurnya dia benar-benar bingung mengapa tiba-tiba sekali Clarissa datang ke rumahnya?"Aku mau ngobrol sama Mas Yogi, boleh nggak kita keluar sebentar?" Clarissa meminta izin sambil menatap jam di tangannya. "Ini masih jam 08.00 malam kan? Masih bisa kan keluar sebentar?"Yogi terdiam dan berpikir sejenak. Ini sudah jam delapan malam lebih tiga puluh delapan menit lebih tepatnya. "Emangnya kamu mau ngomong apa?""Aku mau ada rencana bikin skincare gitu, dan aku mau kerjasama sama Mas Yogi. Sama perusahaan kiss Miss."Ini a
Makan malam bersama di rumah Rei. Ada Jun, Indi, kedua orang tua Rei, Strawberry, Rei dan tentu saja juga Yogi. Rei dan Yogi duduk bersebelahan. Keduanya sedikit canggung setelah kejadian tadi. Obrolan terjadi seperti biasa Karena yang lain tidak tahu apa masalah yang terjadi.Hanya Ratih saja yang sejak tadi mencoba menahan senyum. Karena ia tahu apa yang terjadi di antara keduanya sebelum makan malam saat ini.Setelah makan malam Yogi memutuskan untuk pulang. Tentu saja dia harus segera kembali ke rumah karena besok akan bekerja. Lagi pula, hari ini dia benar-benar sembuh. Kondisi tubuhnya menjadi lebih fit, padahal pagi tadi demam tinggi."Kamu mau nganterin aku dulu nggak Mas?" Rei meminta."Sure, kamu mau aku anterin ke mana?*"Mau nganterin ASI aku. Mau ke rumah indah, sekarang kan jaraknya agak lumayan jauh. Kamu tahu kan, aku belum bisa naik kendaraan."Tentu saja Yogi bersedia. "Boleh sayang, kamu kalau mau ke mana-mana kabarin aku aja. Kalaupun aku nggak bisa, aku bisa mint
Deff berjalan keluar mobil menghampiri Kanaya yang berdiri di sebuah rumah menunggu dirinya. Memang sudah berjanji untuk menjemput kekasihnya itu. Raut wajah Deff sedikit tidak bersahabat, karena jujur saja merasa tak nyaman untuk bertemu dengan ayah dari Kanaya.Gadis itu dengan sumringah menyambut Deff. "ayo masuk, Papa dari tadi udah nanyain kamu."Deff hanya menganggukkan kepalanya sambil mengikuti berjalan masuk. Di sana ada seorang pria tua yang duduk di sebuah sofa sambil membaca sebuah majalah bisnis lawas. Ketika masuk Deff mendapat tatapan tak bersahabat. "Selamat siang Om." Deff menyapa tidak mendapat balasan hanya sebuah angkutan kepala. "Pa, ini dia udah datang. Papa tadi katanya mau ngomong sesuatu."Kanaya mengingatkan. Gadis itu duduk di samping sang ayah.Pria tua itu, kemudian meletakkan majalah dan melepas kacamata. "Papa cuman penasaran Sampai kapan kalian mau ada dalam hubungan seperti ini? Bukan seharusnya kalian tuh sudah menikah, kalian pacaran itu sudah lama
"Ohh," desah terdengar dari bibir ketika ia mulai merasakan sensasi merambat akibat perlakuan Yogi pada tubuhnya.Pria itu semakin gila, membuat ruangan yang tadinya dingin seketika saja menjadi panas dan meriah akibat perbuatannya. Keduanya rebah, bahkan tak ada satu helai lagi yang menempel di tubuh mereka.Deru nafas memenuhi ruangan, tidak beraturan. Bergerak seiring dengan detak jantung yang semakin cepat membawa hasrat menggebu dan sensual. Keduanya terdiam saat mata mereka bertaut, kerongkongan Rei seketika saja mengering. Jujur, dia butuh disentuh, hasratnya menuntut kegiatan yang jelas lama tak ia dapatkan. Meskipun kala itu memang melakukan dengan Yogi, keduanya dalam keadaan mabuk sehingga tak bisa saling menikmati."M-mas." Kelu, itu yang dirasakan lidah Rei saat ini. Sementara Yogi terpaku menatap tubuh di hadapannya, buat ia telan saliva. Menginginkan dengan menggebu, terutama bagian manis kesukaannya. Ingin ia habis sendiri kanan dan kiri. Yogi tak berkata-kata selain
Om Yogi!Om Yogi!Om Yogi!Ya ampun suara siapa sih ini? pagi-pagi gini teriak-teriak? Kayak suaranya Rama sama Ryan. Yogi membatin dalam hatinya. Ini masih terlalu pagi untuk dia membuka mata dan bangun. Sementara suara bising di kamar itu mengganggu tidurnya malam ini. Tiba-tiba saja dia membuka
"Tante," kata Yogi. "Halo?" Sapa Bebe. Tak ada jawaban dari balik telepon sampai kemudian strawberry mencoba memanggil sekali lagi. "Halo?""Halo siapa ini?" tanya Yura."Ini Bebe," jawab Bebe. "Bebe?" Dapat pertanyaan seperti itu Bebe menganggukkan kepalanya tanpa jawaban."Ini siapanya Yogi ya
Yogi dalam perjalanan ke kantor setelah mengantar Rei kembali ke rumah. Sambil memasukkan satu tangan ke dalam kantong celana, ia berjalan di lorong. Sesekali menganggukkan kepalanya untuk membalas apaan dari karyawan. Yogi memang cukup ramah, meskipun menjawab dengan tanpa senyuman.Perusahaan mak
Yogi tiba di depan pagar sekolah Bebe, pria itu berdiri di depan mobil sambil menunggu. Hal itu menyebabkan banyak yang memerhatikannya. Wajah yang tampan, tatapan yang tajam dan dingin, pakaian yang dikenakan. Menjadi daya tarik.Sementara Bebe kini baru saja ke luar dari kelas. Hari ini pulang se







