Share

Enam

Penulis: Reistya
last update Tanggal publikasi: 2024-12-22 01:50:35

Sebelumnya....

Rei sedang berada di ruang kerjanya.

Hari ini Sinta sudah kembali ke kampung dan ia mau tau mau akan membawa Bebe ke kantor. Rasanya gelisah sekali sejak tadi karena jam makan siang nanti ia harus menjemput putri semata wayangnya itu. 

Menjelang pukul dua belas, ia melangkahkan kakinya ke dapur. Tadi memang sudah mengatakan akan meminta tolong Pras yang memang sudah datang siang tadi. Karena hari ini tak ada pekerjaan lain, Pras memang sengaja datang lebih pagi dan sibuk dengan pekerjaan dapur, membantu koki menyiapkan bahan makanan. 

"Pras," panggil Rei pada Pras  yang kini tengah sibuk duduk  di sudut dapur seraya memainkan ponsel miliknya. 

"iya Mbak?" Pras segera berdiri dan berjalan mendekati Rei. 

"Tolongin aku jemput Bebe ya?" pinta Rei seraya menyerahkan kunci motor miliknya, dan sebuah paper bag berisi jaket milik Strawberry. "Sama ini jaketnya, minta dia pakai jaket dulu ya." 

Bebe sejak kecil sering terkena sakit flu dan juga memiliki riwayat atsma. Hal itu yang membuat Rei cukup memperhatikan kebutuhan putrinya itu. Andai saja ia memiliki uang lebih, mungkin lebih baik jika ia membeli mobil. Hanya saja, saat ini itu belum bisa ia lakukan. 

"Oke Mbak," sahut Pras sambil menerima kunci dan paper bag yang diberikan oleh Rei. 

"Thanks ya," ucap Rei. 

Setelah kepergian Pras, Rei kembali ke ruangnya mengerjakan pekerjaan. Data-data keuangan yang sudah menunggunya. Berada di ruangan bersama Milo rekan kerjanya selama beberapa tahun belakangan. 

"Mending kredit mobil kalau was-was." Milo berkata lagi.

Rei menoleh pada Milo. "Lo tau kan hutang gue masih banyak. Waktu gue balik ke Indo itu tanpa sepeser uangpun, Ngutang sana -sini biar bisa hidup sama Bebe."

"Nyokap bokap lo kan kaya," kata Millo lagi.

Rei memukul bahu rekan kerjanya itu. "Gue masih punya malu deh buat minta ke nyokap. Dia aja belum tau gimana gue hidup sekarang. Bisa ngamuk kalau tau."

"Bagus lah, siapa tau mantan suami lo itu di bales sama bokap tiri lo. Orang penting kan dia?"

"Lo tau dari mana?" tanya Rei karena merasa tak pernah memberitahu Milo mengenai hal ini. 

"Mbak Wiji, keceplosan ngomong tempo hari." Milo kini memilih untuk sedikit menjauh karena takut dipukul lagi oleh Rei.  "Kalau enggak kan ada Pak Tedi."

"Jangan aneh-aneh deh." 

"Dia nge-room cuma buat ketemu Lo tau. Gue tuh laki-laki. Ngerti lagi cowok yang emang lagi ngejar cintanya. Terima aja lumayan buat masa depan yang lebih baik. Enggak salah kan? Dia kan udah cukup umur juga." Milo mengatakan itu sambil terkekeh geli meledek sahabatnya yang selalu mengacuhkan Tedi. Dan menganggap pria itu memesan hanya untuk bertemu dengan koleganya. 

Rei berdecih saja karena kelakuan sahabatnya itu. Ia memilih kembali melakukan pekerjaan seraya menunggu kedatangan putrinya. Tak lama setelah itu ponsel Rei berdering, Milo melirik, wanita itu segera menerima panggilan tersebut. 

"Ya Pak Tedi?" sapa Rei kemudian terdengar suara Milo yang berdecak. Buat Rei memutar bola matanya.

"Seperti biasa ya, "Tedi mengatakan itu kepada Rei.

"Oke pak, tapi untuk hari ini saya nggak stay di sini sampai malam."

"Lho memang kenapa?" Pria itu bertanya karena sedikit ada rasa kecewa ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Rei tadi.

"Kebetulan hari ini anak saya ikut ke kantor Pak. Jadi kalau dia stay di sini sampai malam kasihan."

"Ah, ada strawberry di sana? Oke nggak apa-apa. Kalau gitu saya bisa datang ke sana lebih sore?" 

"Boleh Pak silahkan," sahut Rei. 

"Karena kan kemarin saya memang ingin ketemu sama anak kamu."

"Iya pak, kalau gitu saya tunggu Bapak di sini."

"Oke, terima kasih." Tedi kemudian mematikan panggilannya.

Setelah menerima panggilan kembali melakukan pekerjaan diiringi tatapan julid dari Milo. Sebenarnya bukan hanya Milo tetapi juga beberapa rekan yang lain mengatakan kalau Tedi menyukai Rei. Hanya saja wanita itu tak ingin memikirkan hal itu apalagi mengenai laki-laki. Masih cukup trauma dan takut salah lagi. 

"Mami!" suara nyaring terdengar dari arah pintu. Anak itu berlari menghampiri sang mami dan memeluk Rei erat. Terlihat juga di sana Pras yang membawakan tas milik Strawberry. 

"Anak mami!" Rei juga berseru sambil menciumi wajah putri kesayangannya. 

Pras meletakkan tas milik Strawberry di meja sang ibu. "Ini tas Dia berat banget lo Mbak."

"Iya, makanya gue minta tolong jemput. kasihan kalau pulang naik ojek harus bawa tas seberat itu. Makasih ya Pras." Rei berkata kemudian Pras meninggalkan tempat itu. 

"Gimana sekolahnya? Ada pr?"

Gadis kecil itu menggelengkan kepala karena hari ini tak ada tugas rumah yang diberikan oleh gurunya. "Mami Bebe laper."

Rei mengambil tas miliknya dan ia sudah menyiapkan makan siang untuk putrinya tadi. "Ganti baju dan cuci tangan dulu di toilet nanti habis itu baru makan."

Strawberry mengganggukan kepalanya kemudian mengikuti langkah sang Ibu menuju toilet untuk mencuci wajah dan membersihkan tubuhnya dengan tisu basah. Setelah selesai membersihkan tubuh dan juga berganti pakaian kembali ke ruangan. Rei mengambil kursi lain kemudian membiarkan putrinya duduk di sebelahnya sambil menyantap makan siang yang sudah ia beli tadi. Hanya nasi, ayam goreng, juga cream soup kesukaan Bebe

Tak ada yang dilakukan anak itu selain bermain di kursi atau berlarian hingga akhirnya tertidur di sofa. Bebe memang bukan anak yang banyak maunya. Bersyukur sekali Rei memiliki anak perempuan seperti Bebe. 

Setelah menjelang sore ia keluar menuju meja kasir untuk menunggu Tedi sebelum akhirnya ia di hampir oleh Yogi yang mengatakan ingin berbicara dengannya. Kini keduanya berada  di ruangan yang dipesan oleh Yogi. 

Sejak masuk dan setelah tiga menit keduanya duduk, tak ada pembicaraan diantara keduanya. Yogi dan Rei hanya saling diam. Wanita itu menatap jam pada ponsel miiknya, kemudian memutuskan untuk segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Yogi. 

"Kamu harus tanggung jawab," kata Yogi tiba-tiba. 

Langkah rei terhenti, jelas ia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Yogi. Tanggung jawab apa? Tanggung jawab yang bagaimana? Karena apa yang dilakukan keduanya adalah sebuah kecelakaan yang tak bisa dielakkan. 

Rei membalik tubuhnya kemudian berjalan kembali mendekat pada Yogi. "Tanggung jawab gimana maksud Bapak?" tanya Rei bingung. 

Yogi berdiri, kini ia bertatapan dengan Rei. Pria itu memerhatikan setiap sisi wajah Rei yang bisa dibilang tak terlalu buruk. Hanya tubuhnya saja yang gendut. Rei juga menggunakan parfum yang unik dan buat Yogi tertarik, suka. Wangi woody spicy dipadu dengan kopi membuat kesan sensual. 

Yogui gelengkan kepalanya beberapa kali, katakanlah ia gila. Dan memang seperti itu, dia sama sekali tak mengerti mengapa mulutnya dengan licinnya malah meminta Rei untuk bertanggung jawab. 

"Ya tanggung jawab," jawabnya yang sedetik kemudian malah jadi gugup.

Rei mengerenyitkan kening. Menatap dengan heran pada pria du hadapannya. mencoba memikirkan apa maksudnya dengan tanggung jawab?  Tunggu ....

Wanita itu tesenyum di sudut bibirnya. Berjalen mendekati Yogi dengan perlahan, membuat pria itu mundur.Langkah Rei semakin maju dan Yogi jatuh terduduk di sofa. Rei dekatkan diri, menahan tubuhnya dengan berpegangan pada kepala sofa. Kini mereka berdua berhadapan sangat dekat hingga Yogi bisa merasakan embus napas Rei.

"Hmm, seperti hal yang ganggu pikiran ya? Hmm, adiksinya kuat ya? Candu?" Rei sengaja menggoda. Wanita itu segera berdiri tegak, kemudian merapikan jasnya. "Atau karena takut kalau diminta bertanggung jawab?"

Yogi masih dalam posisinya yang sedikit mengkerut akibat diintimidasi. Padaha dia itu Alfa, dan kini kalah oleh pesona janda gendut seperti Rei. Tapin ada sensasi aneh, ia suka dengan tantangan seperti ini. Ada sensasi berbeda yang menggelitik, membuat ia penasaran dan ingin merengkuh wanita itu. Menyebalkan memang tapi Yogi suka, masa bodoh dengan pemikirannya saat ini. Debaran jantungnya lebih dari cukup untuk membuat dirinya menginginkan sensasi ini lagi. Dan hanya Rei yang memberikan itu. Kini tatapannya menatap pada Rei yang berjalan hendak meinggalkannya. 

Yogi berjalan cepat menghampiri sebelum Rei keluar dari pintu. tangan pria itu genggam tangan Rei yang buat langkah kaki sang janda terhenti.  Yogi menatap, lekat, sambil tersenyum kecil, hatinya yang bersorak-sorai atas kenakalan dan keberanian kecil yang Rei lakukan tadi. Ia ingin membalas memberi kejutan. 

"Nama kamu siapa?"

"Rei," jawab Rei.

"Sekarang tanggal berapa?" tanya Yogi lagi. 

"Tanggal 28 april tahun 2023," jawab rei semakin bingung.

Yogi menatap pada Rei, "Rei?"

"Y-ya?" Rei tergagap tatapan Yogi terlalu mengintimidasi. Nyatanya ia salah melangkah harusnya tak cari gara-gara. 

"Mulai hari ini, 28 April, tahun 2023--" ucapan pria itu terhenti kemudian menatap pada jam di tangannya. "Jam enam lewat delapan menit. Mulai detik ini Kamu--punya-saya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh empat

    Yogi berada di kantor, ketika tiba tadi ia sudah segera disibukkan dengan jadwal promosi yang akan dijalani oleh Rei. Dia benar-benar memilih lokasi yang dekat ketika hari biasa, kemudian ketika hari libur Rey bisa melakukan promosi di lokasi yang lebih jauh. Yogi memikirkan Strawberry, ia tak ingin Strawberry kehilangan banyak perhatian dan waktu dari ibunya. Menurutnya kalau libur Strawberry bisa diajak untuk bepergian sekaligus menghibur anak itu.Saat sedang memperhatikan dokumen-dokumen di atas mejanya, pintu tiba-tiba saja diketuk."Ini Jimmy." "Masuk." Yogi menyahut dari dalam.Jimmy kemudian membuka pintu dan masuk. Dia jadi lebih sopan ketika terakhir kali masuk nyaris saja melihat apa yang dilakukan oleh Yogi dan juga Rei di dalam ruangan. Sejak itu, Jimmy tak pernah lupa mengetuk pintu sebelum dia masuk ke dalam ruangan Yogi."Duduk," kata Yogi mempersilahkan Jimmy duduk di sofa. Kemudian dia bangkit dan berjalan menghampiri Jimmy dan duduk di sofa. Jimmy duduk kemudian

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh tiga

    Kanaya menjalani pemeriksaan, kondisi tubuhnya masih cukup lemah sehingga masih diminta untuk tetap beristirahat di rumah sakit. Dokter juga masih harus memeriksa kakinya pasca amputasi. Gadis itu duduk di tempat tidur seraya menatap keluar jendela.Teo berjalan masuk ke dalam Setelah dia membeli makanan yang diinginkan putrinya. Kanaya ingin sekali makan buah anggur katanya. Jadi pria itu sengaja keluar untuk membeli anggur yang diinginkan oleh Kanaya."Papa sengaja beli banyak nih supaya kamu banyak makannya." Teo katakan membuka bungkus anggur dan memberikan kepada Kanaya."Makasih Pa." Hal itu membuat Kanaya cukup merasa bersalah karena selama ini Dia jarang sekali memberikan perhatian kepada sang ayah.Teo duduk di samping Kanaya dengan senyum menatap Putri kesayangannya itu. "Kamu mau apa lagi? Biar nanti papa beli. Supaya kamu sehat, bayi dalam perut kamu juga sehat selalu." Teo sudah bisa menerima kenyataan bahwa Sang Putri hamil, meskipun dia juga belum mau untuk menemui Deff

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh dua

    Rei dan Yogi kini berada di sekolah Bebe. Keduanya berada di sana setelah mendapat panggilan telepon dari wali kelas putrinya."Strawberry tadi bertengkar sama Anin, mereka adu mulut sampai akhirnya pukul-pukulan dan dua-duanya sama-sama nangis. Jadi dua-duanya dapat hukuman yang sama ya Bu, akan diliburkan selama 1 minggu. Tapi harus tetap mengerjakan tugas di rumah dan juga hukumannya harus tetap dijalankan." Itu adalah pesan dari wali kelas.Rei kemudian pulang tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir wanita itu. dia duduk di depan di samping Yogi, sementara putrinya duduk di belakang masih sambil sesekali sesenggukan akibat menangis tadi. Yogi sendiri kebingungan bagaimana dia harus bersikap, karena tak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi. Tadi dia menunggu di luar, karena Rei yang tak mengizinkannya untuk masuk.Setelah sampai di rumah mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah. Bebe kemudian duduk di ruang tengah, dia sudah tahu kalau sang ibu akan menghukumnya. Gadis k

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh satu

    Pagi ini Rei terbangun, kemudian berjalan menuju dapur. Kelelahan, setelah semalam menghabiskan malam tanpa henti bersama Yogi. Padahal, katanya hanya ingin menemani, tapi semalaman tak berhenti beradu. Ia terkejut ketika mendapati Yogi yang berdiri di dapur memasak, sudah mengenakan kemeja yang dibawakan oleh sopirnya malam tadi. "Morning love," sapa Yogi. Rei berjalan mendekat, "ada yang butuh dibantu Mas?""Nope, enggak perlu ini udah mau selesai." Yogi menjawab lalu memeluk Rei dan mengecup bibir kekasihnya itu singkat. Rei memerhatikan, "kamu masak apa mas?""Aku tadi masak yang ada di lemari es kamu. Ada garlic chicken, sama mashed potato." Yogi memamerkan kemampuan memasaknya. ya, meskipun dia memang sejak dulu memiliki pelayan, tapi Yogi pernah tinggal sendiri saat menjalani pendidikan yang waktu di luar negeri. "Kamu pintar masak sih, biasanya aku mentok masak nasi goreng aja buat Bebe." "Aku tadinya mau masak nasi goreng, tapi aku pengen yang beda biar anak kita ngga

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh

    Clarissa dan juga Satrio masih berada di kamar rawat Deff. Masih heran dengan pemikiran sahabatnya yang satu itu."Jadi lo mau ninggalin kanaya?" Clarissa bertanya, dia heran dengan penuturan Deff yang mengatakan kalau ingin memperjuangkan Rei sekali lagi."Bagaimanapun Strawberry itu anak gue dan gue juga mau mendapatkan hak gue sebagai seorang ayah." Deff katakan itu dengan tegas."Tapi bukannya anak dalam kandungan Kanaya itu juga anak lo ya Deff?" Satrio bertanya.Deff terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan Satrio. "Gue nggak tahu lah siapa tahu aja Kanaya main juga sama orang lain."Clarissa yang mendengar perkataan sahabatnya itu menjadi kesal sekali. Dia kemudian dengan keras memukul kaki Deff. Apa yang dilakukan Gadis itu membuat Deff memekik dengan keras."Sakit Clar!""Gue nggak nyangka lo bisa ngomong kayak gitu. Selama ini kan lo pacaran sama Kanaya. Kalian udah sama-sama 7 tahun, wajar kalau tiba-tiba aja kalau kebobolan kayak gitu. Dan lo sekarang bisa

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   tujuh puluh sembilan

    Yogi duduk menunggu di kamar Rei saat kekasihnya itu sedang menidurkan Bebe. Dia sudah tak sabar, bingung sendiri juga kenapa mendadak jadi selalu ingin menghabiskan waktu di ranjang dengan Rei. Sedikit melihat saja jadi gila sendiri. Lama menunggu dari tadi, Bebe sempat menolah untuk tidur karena masih banyak tugas katanya. Untung Rei berhasil membujuk, putrinya menurut akhirnya dan minta di keloni sementara Rei meminta ia menunggu di kamar. Pintu terbuka, menunjukkan Rei yang tersenyum, lalu mengunci pintu sebelum berjalan mendekat dan duduk di samping Yogi. Dengan lembut membelai wajah Yogi."Lama nunggu ya," katanya. "It's okay," sahut Yogi menggenggam tangan Rei dan mengecupnya kemudian. Rei menatap Yogi, yang kini tengah menatap tangannya sambil mengusap-ngusap perlahan. Yogi merasa diperhatikan, ia lalu mengarahkan pandangan pada Rei. "Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?" "Kamu... Disaat bisa memilih Perempuan yang lebih baik—""Kamu yang terbaik," sahut Yogi memotong ucapan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status