MasukSuasana ruang makan keluarga Wardhana malam itu, sejujurnya, agak janggal. Aroma gurih soto ayam buatan Ibu Endah Astuti dan tempe goreng renyah seolah berusaha menutupi ganjalan tak kasatmata yang memenuhi ruangan. Ibu Endah sendiri, wanita paruh baya dengan senyum yang biasanya hangat, terlihat sedikit gelisah. Sesekali ia melirik Lidya, putrinya, dengan ekspresi cemas."Ayo, makan yang banyak, Bima. Kamu pasti lelah sekali menyetir sejauh itu," ujar Ibu Endah lembut, berusaha mati-matian mencairkan suasana. Tangannya sibuk menata piring-piring, porsi nasi Bima yang disendoknya lumayan menggunung.Bima tersenyum sopan. Sebuah senyum tipis yang entah mengapa terlihat seperti topeng di mata Lidya. "Terima kasih banyak, Bu Endah. Masakan Ibu ini selalu sukses membuat saya kangen dan rasanya jauh lebih enak dibanding masakan restoran mana pun," katanya sambil menyendok nasi dengan tenang. Matanya sempat melirik Lidya, lalu kembali fokus pada piringnya, seolah tidak ada b
Bima berada dalam hiruk pikuk emosi. Dunia di luar Bugatti Chiron yang membelah aspal Tol Trans Jawa tampak samar, tak berarti. Yang ia rasakan hanyalah amarah membara dan ketakutan dingin yang mencengkeram hatinya. Beberapa menit lalu, sebuah panggilan dari Lidya, entah dari Purwokerto atau mana, telah mengempaskan semua kenyamanannya.Lidya, dengan suara setenang danau pagi, bilang ia ingin cerai. Cerai? Dengan Bima? Ini lelucon! Belum reda guncangan itu, Bramantyo sudah ia hubungi, menginstruksikan agar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ditunda dengan alasan darurat keluarga. Bagi Bima, kehilangan Cendikia Medika adalah bencana besar, tapi kehilangan Lidya, apalagi dengan permintaannya yang terang-terangan di depan publik dan keluarganya, adalah kehinaan yang tak bisa ia terima. Tidak akan pernah.Jarum jam menunjuk angka sebelas lewat. Bima berhasil memangkas jarak antara Jakarta-Purwokerto dalam waktu yang—bila tak ilegal—patut diacungi jempol. Deru mesin Bugatti y
Hawa dingin khas kota Purwokerto terasa menusuk tulang saat mobil Toyota Rush yang Wulan kendarai memasuki halaman rumah sederhana namun asri itu. Dindingnya bercat krem pudar, ditutupi rimbunnya tanaman rambat yang hijau. Jam di dashboard menunjukkan pukul tiga lewat seperempat subuh. Sepasang mata jeli milik Aloysius Handoko Wardhana, seorang pensiunan guru Sejarah dengan disiplin baja, sudah tampak mengamati dari balik jendela teras depan. Wajahnya lurus, keningnya berkerut tipis, sebuah pertanda yang sangat jelas bagi putri semata wayangnya, Lidya, bahwa ‘sidang’ sudah siap dimulai.Lidya mematikan mesin, suasana sunyi itu terasa makin berat. Ia melirik Lidya yang duduk di kursi penumpang, tampak begitu kuyu, dengan kantung mata yang menghitam. Malam ini akan jadi malam yang panjang. Atau lebih tepatnya, subuh yang panjang.Tak perlu menunggu lama, begitu Lidya dan Wulan melangkah keluar dari mobil, sosok tinggi Pak Handoko sudah berdiri di ambang pintu, bersedekap. Wulan mengangg
Malam semakin larut, ditelan pekatnya kegelapan ibu kota. Bagi Bima, hanya ada kegelapan yang tak menenangkan. Perasaannya campur aduk: amarah, cemas, dan sepercik rasa bersalah yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun. Saat ini, hanya satu nama yang memenuhi otaknya: Lidya. Tujuannya hanya satu. Apartemen Alvin. Dengan desakan amarah yang tidak tertahankan, Bima menghantam pintu apartemen Alvin dengan gedoran yang tidak sabar.Begitu pintu berderit terbuka, Alvin muncul dengan wajah kusut. Kemeja putihnya sudah agak lecek, dasinya entah ke mana. Ada rona lelah bercampur frustrasi di matanya. Ia tak terlihat kaget, malah seperti sudah menduga kedatangan Bima."Di mana Lidya?" tanya Bima tanpa basa-basi. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman tertahan, mengandung ancaman yang nyata.Alvin otomatis mundur selangkah, mengalah, membiarkan Bima masuk. Apartemen itu tampak sepi, dan dari cara Alvin menatap kosong sekeliling, Bima tahu ia tidak menemukan apa-apa."Aku... aku tidak tahu, Bim,"
Suara garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di telinga Lidya, lebih nyaring daripada perdebatan sengit antara Alvin dan Surya di meja seberang. Padahal, harusnya itu hanyalah kebisingan restoran biasa, bagian dari harmoni kota Jakarta di Jumat malam. Tapi tidak bagi Lidya. Baginya, setiap bunyi adalah sebuah beban. Aroma pasta di depannya terasa menusuk hidungnya, bikin perutnya mual bukan main, dan itu bukan cuma karena hamil. Ada sesuatu yang lebih busuk daripada bau makanan di udara sana, di tengah ruangan restoran yang terang benderang itu."Aku tidak berselera makan, Wul. Ayo kita pergi saja," ujar Lidya dengan suara datar, tapi ada semacam ketegasan yang bikin merinding, kayaknya dia nggak peduli lagi sama dunia ini. Tanpa menoleh lagi pada Alvin yang masih adu urat leher dengan Surya—kedua pria itu seperti tak ada habisnya menguras energinya—Lidya bangkit dari kursinya. Ia melangkah keluar dari restoran, meninggalkan hiruk pikuk percakapan, aroma pas
Malam di Jakarta selalu punya ceritanya sendiri. Di dalam sebuah restoran fine dining di jantung kota, riuhnya suara sendok garpu yang beradu dan bisikan-bisikan dari meja lain terasa sangat jauh, teredam oleh material sekat kayu berukir nan elegan yang memisahkan area VVIP. Ruangan yang sebenarnya bersebelahan itu seperti dua dunia yang kontras, meski hanya dibatasi partisi setinggi dua meter. Di satu sisi, Alvin berusaha keras mempertahankan kewarasannya, mati-matian tersenyum sambil terus menerus mengangguk menanggapi ocehan Nana yang, demi Tuhan, sungguh memekakkan telinga dengan antusiasmenya terhadap desain museum baru. Di sisi lain, aura tegang dan dingin menusuk langsung dari tatapan Surya, yang baru saja mulai melancarkan serangan psikologisnya pada Lidya."Ini wine Bordeaux edisi terbatas, sangat pas untuk menenangkan saraf di tengah situasi yang kurang... kondusif seperti sekarang," Surya berujar pelan, tanpa basa-basi. Ia menuangkan cairan merah gelap itu ke gelasnya denga







