Share

BAB 6-- PUTRI AJENG RARA KADILA

Penulis: Aldrian S.M
last update Tanggal publikasi: 2026-02-23 13:56:22

Nyoman pun ikut mengangguk walaupun masih banyak hal yang tidak dia mengerti setelah melihat statistik di layar.

"Ambillah hp android ini, data dirimu sudah disimpan disini.. mulai sekarang kamu bisa cek perkembangan statistikmu melalui hp ini.. didalam hp ini ada aplikasi tentang info info arwah, binatang, tumbuhan, dan makhluk lainnya.. kamu juga bisa memakai hp ini layaknya hp android biasa, untuk menelepon, kirim pesan, dan tentu saja melihat map." ucap Rara sambil mengeluarkan hp android dari salah satu kotak logam tidak jauh dari layar.

"Terima kasih kak.. Lalu.. Kita mau ngapain lagi setelah ini?" Kata Nyoman setelah berjalan ketempat Rara dan mengambil hp tersebut.

"Kita akan pergi ruangan lain digedung ini.. Kamu harus berlatih mengeluarkan kekuatan rohmu dulu ditempat itu sambil menunggu Hanoman untuk keluar dari alam rohmu.. Setelah itu kita akan mencari roh untukmu dan kamu akan melakukan kontrak dengan roh.. Hal ini sangat penting agar dirimu tidak dapat dirasuki roh lain tanpa izinmu seperti apa yang dilakukan Hanoman padamu." Ucap Rara, setelah itu dia menuju kembali ke jalan gelap tempat mereka masuk keruangan ini sebelumnya.

'Sepertinya akan sangat lama sebelum aku bisa pulang.. mudah mudahan saja ibu dan ayah tidak khawatir..' pikir Nyoman dengan wajah yang sedih.

"Baiklah!" Respon telat Nyoman terhadap ajakan dari Rara. Lalu dia dengan cepat menyusul Rara dan dengan sekejap sudah berada disamping Rara.

"Kalau boleh tau, Berapa umur kakak?" Nyoman bertanya dengan tujuan berbasa basi saja.

Rara langsung menoleh dan melihat Nyoman dengan wajah sedikit masam sambil berkata dengan nada sedikit mengancam,

"Tidakkah kau tau kalau menanyakan umur wanita itu sangat tidak sopan!!?" lalu Rara mempercepat jalannya masuk ke jalan gelap berusaha meninggalkan Nyoman.

"Hehe.. Maaf.. Hei tunggu!! Jangan berpisah!! jalan didepan sangat gelap.. aku tidak tau jalan.." Kata Nyoman mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal.

***

Jam menunjukkan pukul 23:48

Keramaian sebuah ruangan yang berada bawah tanah sebuah gedung sama sekali tidak menghiraukan gelap dan sepinya keadaan malam di luar bangunan.

Seruan para penjual menawarkan barang dagangan mereka terdengar seperti bersahutan satu sama lain. Suara teriakan dan pekikan berbagai makhluk langka dan aneh di dalam kurungan kurungan menambah bisingnya suasana malam di tempat ini.

Seorang wanita muncul dari sebuah ruangan gelap di ikuti seorang pemuda yang berlari juga muncul dari ruangan yang sama sebelum akhirnya menghentikan larinya. Dia mengatur langkahnya agar kecepatannya selaras dengan wanita tersebut.

Rara dan Nyoman. Kedua orang ini baru saja saling mengenal tidak lebih dari lima jam yang lalu. Nyoman saat ini sedang memikirkan kejadian kejadian tak masuk akal hari yang menjadi penyebab dia dan Rara bisa sampai berada di ruangan ini.

"Pasar malam". Nama dari tempat ini merujuk pada tempat jual beli banyak pedagang yang beroperasi saat malam hari.

Berbeda dari pasar malam pada umumnya, semua kegiatan jual beli diruangan ini bersifat ilegal dan unik.

Rara terlihat terburu buru menuju suatu tempat di dalam bangunan ini di ikuti Nyoman yang sudah beraa disampingnya.

Tak ada percakapan apa pun diantara mereka saat ini. Mungkin karena sebelumnya Nyoman telah mempertanyakan hal yang tidak sopan kepada Rara, jadi Nyoman tidak berani lagi membuka obrolan selama beberapa menit di perjalanan ini.

Rara berhenti di sebuah tempat yang di penuhi dengan beberapa makhluk terkurung dan beberapa kurungan kosong.

Terlihat seorang wanita tua memakai kebaya berwarna krem, rambut di sanggul, dan memakai berbagai macam perhiasan.

Wanita tua itu sedang duduk di tengah tengah tempat ini tidak jauh dari sebuah benda besar berbentuk kotak yang keseluruhannya di tutupi kain berwarna merah.

"Nenek!!" Ucap Rara dengan nada ceria sambil berlari kecil ke arah wanita tua tersebut. Sebelum menghampiri wanita tua itu, dia sudah siap membuka kedua tangannya dan memeluk dengan cepat wanita tua tersebut setelah dia sampai dihadapan wanita tua itu.

"Rara!! cucu kesayanganku!! Bagaimana kabarmu sayang? Apa kamu baik baik saja?" ucap Wanita tua itu sambil memegang kedua pipi Rara dan memberikan pandangannya keseluruh anggota tubuh Rara, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Sepertinya wanita tua ini adalah neneknya Rara.

"Rara baik Nek.. Rara juga kangen sama Nenek.. Nenek sendiri, gimana kabarnya?" Ucap Rara sebelum akhirnya memeluk kembali Neneknya untuk kedua kalinya.

"Nenek baik Ra.. Ayo sini! kamu duduk dulu disini! kita ngobrol dulu.. sudah lama Nenek gak bertemu kamu.." Ucap Neneknya Rara sambil melambaikan tanda memanggil Rara untuk menghampirinya.

"Ikut sini! yang sopan nanti kalau di ajak ngobrol sama nenekku!" Bisik Rara kepada Nyoman yang berada tidak jauh dibelakang Rara.

Rara pun datang menghampiri Neneknya. Nyoman perlahan mengikuti Rara.

Neneknya Rara memasang senyum yang lebar melihat cucu kesayangan menghampirinya. Neneknya Rara menyadari ada sosok dibelakang Rara yang juga datang ke arahnya.

Sampai akhirnya Rara dan Nyoman tiba di depat meja kecil berbentuk bundar dengan taplak berwarna hitam. Lalu sosok Nyoman yang berada dibelakang Rara terlihat  jelas oleh Neneknya Rara.

Neneknya Rara sedikit menurunkan alis dan bertanya pada Rara sambil melihat ke arah Nyoman, "Siapa ini Ra?"

Nyoman kurang nyaman dengan pandangan Neneknya Rara. Tetapi dia tetap tersenyum dan membungkukkan badan dengan sopan sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya.

"Ini Nyoman Nek.. Saya bertemu dengannya saat berada di suatu kampung di Bali.." Jawab Rara sesaat setelah Nyoman selesai memberi salam.

"Perkenalkan Nek, nama saya I Nyoman Wisnu Ardana.. Panggil saja saya Nyoman.. Saya berasal dari Kampung Tiing di selatan pulau Bali."

Nyoman berkata dengan sopan dan kembali membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.

Nenek Rara sedikit mengangguk dan tersenyum pada Nyoman.

"Ohh.. Perkenalkan juga namaku Putri Ajeng Rara Kadila.. Aku Neneknya Rara.. Kamu boleh memanggilku Mbah Ajeng.. Semua yang mengenalku juga memanggilku dengan nama itu.." Ucap Neneknya Rara memperkenalkan dirinya.

"Kalian duduk dulu.. Nenek akan buatkan minuman.." lanjut Mbah Ajeng lalu pergi ke sebuah pintu tak jauh dari situ.

"Nenekku juga seorang medium, dia yang menurunkan roh Putri Kadita kepadaku.. Saat ini Nenekku berada di sini untuk menjual beberapa pusaka, roh, dan hewan-hewan magis yang telah dikumpulkan anggota keluarga kami.." Ucap Rara pada Nyoman yang sedari tadi memperhatikan sekeliling tempat itu.

"Apakah semua hewan aneh ini dijual? Untuk apa sebenarnya hewan magis ini? Aku tadi juga melihat banyak penjual lain yang juga menjual hewan-hewan aneh.." Tanya Nyoman yang masih belum melepas pandangannya di sekeliling tempat itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   BAB 61-- KLEMPIAU YANG RAMAH, PELATIHAN SELESAI

    Langit Kalimantan yang tadinya sudah mulai menutup, kembali terbelah dengan gemuruh petir. Ujian langit datang lagi, tapi kali ini sudah pasti Rara yang menjadi targetnya.Rara yang memang sudah menunggu momen ini langsung melepaskan sebuah kemampuan.Kemampuan akar dan bambu dari Timun Mas membentuk sebuah perlindungan. Terlihat lebih kuat dan kokoh daripada akar peelindung roh Lutung Kasarung milik Nyoman.Petir mulai menyambar lurus dari atas kepala Rara. Ajaibnya, setiap mencapai pertengahan, muncul dinding air yang menahan laju petir tersebut. Sehingga saat menghantam pelindung akar dan bambu, dampaknya sangat berkurang.Rara terlihat sangat tenang, tidak terluka bahkan secuil pun. Kemampuan dinding air itu sangat kokoh. Kemungkinan kekentalan dari kadar garamnya sangat tinggi. Benar saja, airnya tampak lebih gelap dari air laut biasanya.Setelah tujuh kali sambaran, langit kembali cerah dan Rara melepaskan kemampuannya.Rara membuka matanya. Pupilnya ya

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   BAB 60-- ALAM TUJUH LANGIT, SENANDUNG RIMBA

    Sementara itu, Rara duduk bersila di samping Nyoman. Di bawah kakinya, energi roh berbentuk teratai menjadi pijakannya. Putri Kadita, Timun Mas, dan Putri Atar terlihat melayang di tiga sisi membentuk formasi segitiga. Naga Mahakam terbang berputar mengelilingi Rara dan ketiga roh wanita itu. Tubuhnya yang panjang menjadikan tubuhnya bertumpukan membentuk spiral. "Rara.. Laut dan langit itu serupa.. Alam semesta ini adalah lautan di bawah naungan Dewa tertinggi.. Bumi di bandingkan dengat langit pertama.. Seperti sebuah mutiara di luasnya samudra.. Langit pertama di bandingkan dengan langit kedua.. Juga seperti sebuah mutiara di samudra.. Begitu seterusnya hingga langit ketujuh.. Bayangkan dan buat gambaran di pikiranmu.. Manusia sangatlah kecil di lautan semesta ini.." Panglima Kumbang membantu mengarahkan Rara. Berhari-hari berubah menjadi berminggu-minggu. Mereka tidak makan, tidak minum, hanya mengandalkan sirkulasi energi alam. Seorang medium juga tidak

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   BAB 59-- NAGA SEPANJANG SUNGAI

    Di jantung pedalaman Kalimantan yang tak terjamah, di mana pepohonan ulin raksasa mencakar langit dan sungai Mahakam berdenyut seperti nadi bumi. Rara Kadila kini berdiri di atas pelataran batu ulin yang basah oleh embun abadi. Matanya menatap ke arah pusaran air di depannya. Tempat di mana legenda hidup, Naga Mahakam, bersemayam. Nyoman berdiri beberapa langkah dibelakang Rara meredam. Ia sudah berada di puncak Alam Semesta Maya, selangkah lagi menuju Alam Tujuh Langit. Di sampingnya, Panglima Kumbang berdiri dengan tangan bersedekap, menutup kedua matanya. "Kau siap, Ra?" Bisik Nyoman. Rara mengangguk. Energi roh berwarna hijau berpendar diselimuti energi roh berwarna biru. Di sisi kirinya, bermanifestasi sosok Putri Kadita yang tampak anggun. Dan di sisi kanannya, Putri Atar berdiri dengan senyum yang menenangkan bagi yang melihatnya. Tiba tiba, permukaan sungai meledak. Sesosok makhluk raksasa dengan sisik emas dan kumis panjang muncul dari ke

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   BAB 58-- PELATIHAN INTENS, PENGUASA DUA PERAIRAN

    Kabut pekat menyelimuti jantung hutan Kalimantan. Di sebuah tempat yang sulit terjamah manusia. Di bawah kanopi pepohonan ulin raksasa yang berusia ribuan tahun, udara terasa berat seolah-olah setiap oksigen yang dihirup membawa kepekatan energi roh liar. Sebuah pelataran batu yang dikelilingi oleh air terjun tersembunyi, Panglima Kumbang berdiri dan mengawasi dua anak muda yang sedang berlatih. Di hadapannya, Nyoman dan Rara duduk bersila. Pakaian Nyoman yang kini compang camping terlihat lusuh dan mengernyitkan dahi berusaha menahan sebuah tekanan energi. Sementara Rara tampak berusaha keras mengatur napasnya yang tidak beraturan. Rambutnya terlihat berantakan dan keringatnya mengucur deras. "Kalian pikir.. Menjadi Medium hanyalah soal memanggil roh dan mampu mengendalikannya?" suara Panglima Kumbang terdengar seperti geraman macan yang bergema dari dalam tanah. "Itu adalah pemikiran anak-anak.. Di sini.. di bawah pengawasanku.. Kalian tidak hanya harus mengandalkan otot dan ro

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   BAB 57-- PERGANTIAN RENCANA, PUTRI ATAR YANG PENYAYANG

    Putri Kadita menatap Rara dengan pandangan yang sulit diartikan. "Rara.. Ibumu.. Ternyata adalah keturunan dari Putri Atar. Kau adalah darah murni yang menyatukan Samudra dan Sungai.." Rara jatuh terduduk di dek kapal, air mata mulai mengalir. Ia tidak pernah menyangka bahwa ibunya yang sederhana menyimpan rahasia sebesar ini. Putri Atar langsung memeluk Rara dengan penuh ketulusan. "Nak.. Aku pun tidak tahu jika garis keturunanku masih bertahan di negara lingkar api ini.. Jika kau membawa darahku maka aku tidak akan membiarkanmu menghadapi takdir ini tanpa bantuanku.. Aku lihat ada satu alam yang terbuka dalam jiwamu.. Izinkan aku menjadi penjaga Alam Jagad Buana milikmu.." Ucap Putri Atar penuh kasih. Rara mendongak dan melihat ketulusan di mata Putri Atar. Lalu dia menoleh ke arah Putri Kadita dan berkata, "Dita.. Apakah ini bisa dilakukan? Bagaimana dengan Naga Mahakam?" Tanya Rara sedikit ragu. "Sepertinya kita harus mengganti rencana.. Lagipula sepupuku juga mempunyai ke

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   BAB 56-- SELANJUTNYA, ROH PENJAGA UNTUK RARA

    Raja Kra berjalan mendekat, menyentuh dahi Nyoman dengan jari kecilnya yang dingin. "Pintu Kelima.. Alam Semesta Maya.. Aku akan menjaganya untukmu.. Gunakan kecerdikanku untuk menipu musuhmu..namun jangan pernah menipu dirimu sendiri.." Ucap Raja Kra, lalu ia menghilang masuk ke raga Nyoman. Cahaya hijau kebiruan merambat dari sentuhan itu ke seluruh tubuh Nyoman. Ia merasakan sensasi dingin air yang menyegarkan, menyatu dengan 7 elemen dasarnya. Rara berlari mendekat, wajahnya memerah menahan haru lalu berbicara ketus. "Hampir saja kau jadi santapan buaya rawa.. Nyoman bodoh.. Untung kau ingat instruksi Mbah Ajeng.." Nyoman hanya terkekeh. Meski tubuhnya saat ini dipenuhi lumpur. Tuan Hanoman menghampirinya menepuk pundak Nyoman. "Kerja bagus.. Kau sudah selangkah lebih dekat dengan takdirmu.." Ucap Hanoman.Raja Kra muncul kembali dan menyela. "Aku sudah menyelesaikan kontrak.. Alam Semesta Maya sudah di tutup oleh pintu jiwaku.. Setidaknya sekarang kau sudah bisa s

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   INFORMASI, REFERENSI, DAN ORIGINAL

    =(SRI GUSTI KANJENG RATU KIDUL)= Sri Gusti Kanjeng Ratu Kidul adalah tokoh legenda yang sangat populer di kalangan masyarakat Pulau Jawa yaitu Jawa Barat , Jawa Tengah , Jawa Timur dan pulau Bali. Sosok ini secara umum sering disamakan dengan Nyi Roro Kidul, meskipun sebenarnya dia berdua sangatla

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   BAB 55- UJIAN RAJA MONYET KRA

    Di sebuah hutan tak jauh dari pesisir Pantai Parangtritis.Empat sosok terlihat berjalan sambil mengawasi sekeliling. Dua Manusia dan dua roh.Mereka adalah Nyoman, Rara, Hanoman, dan Putri Kadita."Di sinilah para monyet kra dahulu menghadang pasukan jin menyerang wilayah laut kerajaanku.." Ucap P

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   BAB 54-- MENUNGGU

    Malam hari, di pesisir Pantai Parangtritis.Deburan ombak Pantai Parangtritis malam itu terasa lebih berat dari biasanya. Air laut yang menghantam karang memercikkan energi yang pekat, tanda bahwa gerbang gaib menuju Kerajaan Laut Selatan sedang terbuka lebar.Di bibir pantai, Nyoman duduk bersila

  • Man Legend: Dewa Pelindung & Titisan Ratu Selatan   BAB 53-- MEMBUKA GERBANG

    Keesokan Paginya. "Akhirnya kau mendahuluiku Nyoman.. Kecepatan perkembanganmu sangat mengerikan!" Ucap Rara. "Hehe.. Iya dong.. Dengan ini aku tidak akan menjadi bebanmu lagi.. Aku yang akan melindungimu mulai sekarang.. Aku sudah melakukan kontrak dengan Tuan Hanoman.. Kita bisa dengan tenang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status