Share

Episode 2

Author: Athara
last update publish date: 2026-10-11 22:13:01

Biasanya, aku selalu bangun paling pagi. Aku akan menyiapkan pakaian kerja suamiku, lalu memasak sarapan untuk semua orang.

Namun, kali ini aku tidak akan melakukannya. Tidak adil rasanya mereka bisa tidur nyenyak dan bangun dengan sarapan yang sudah tersedia, sementara aku harus bersusah payah melakukan semuanya. Belum lagi, mereka sama sekali tidak menghargai pengorbananku.

Mereka bahkan selalu mengkritik masakanku. Aku juga tidak berniat membangunkan Leonard. Aku tidak peduli lagi kalau dia terlambat berangkat kerja.

Selama ini, aku bahkan tidak pernah menerima uang bulanan karena semua keuangan dipegang oleh ibu mertuaku.

Kalau dipikir-pikir, aku memang bodoh. Aku tak lebih dari seorang pembantu sekaligus pelacur gratis. Memikirkannya saja membuatku muak.

Tak lama kemudian, Leonard bangun dan bergegas mandi.

Setelah selesai, dia membangunkanku dengan cara yang cukup menyebalkan.

“Isla Grace, mana seragam kerjaku?”

“Memangnya kamu tidak bisa mengambilnya sendiri? Aku masih sakit,” jawabku tanpa membuka mata.

Leonard mendengus kesal, lalu langsung menuju ruang ganti pakaian.

Aku juga segera mandi. Aku sudah tidak sabar untuk menemukan kembali jati diriku yang sebenarnya. Selama ini, karena hanya di rumah, aku selalu berpakaian seadanya dan tidak pernah repot-repot memakai riasan.

Namun, kali ini aku ingin kembali menjadi Isla Grace yang dulu.

Aku mengenakan gaun dan merias wajahku. Saat turun ke lantai bawah, keluarga suamiku terkejut melihat penampilanku.

Termasuk Leonard. Bahkan pria yang biasanya tidak pernah memedulikanku itu sempat melirikku sekilas.

“Bukannya memasak, kamu malah sibuk berdandan? Memangnya mau pergi ke mana?” protes ibu mertuaku.

“Mencari pekerjaan,” jawabku santai.

“Pekerjaan? Memangnya kamu mau bekerja sebagai apa? Kamu cuma lulusan SMA. Paling-paling kamu hanya bisa menjadi petugas kebersihan,” cibir ibu mertuaku.

Anna menahan tawanya.

“Maaf, Isla Grace. Kami tidak bermaksud mengejekmu. Tapi, bagaimana kalau orang-orang tahu menantu keluarga Ashford bekerja? Apa kata mereka nanti?” sela Dante. “Semua orang akan menertawakan kita dan mengira kita tidak mampu memberimu makan.”

“Kalian tidak perlu khawatir. Setahu orang-orang, putra sulung keluarga Ashford memiliki istri bernama Anna. Sementara itu, putra keduanya masih lajang, dan semua orang sedang menantikan kabar pernikahannya dengan Serra, selebritas papan atas!” jawabku santai.

Mereka tampak terkejut karena biasanya aku tidak pernah berani membantah. Bahkan Leonard, yang selalu mengabaikanku, mulai bereaksi.

“Jangan bicara sembarangan. Aku dan Serra hanya teman sejak kecil!”

“Hubungan kalian tidak penting. Intinya, tidak ada yang tahu bahwa aku istrimu. Jadi, apa pun yang kulakukan di luar sana sama sekali tidak akan memengaruhi keluarga Ashford!” jawabku tegas.

Leonard terlihat kesal, tetapi dia tetap diam.

“Kenapa kamu ingin bekerja?” tanya ayah mertuaku.

“Aku masih muda, Ayah. Usiaku baru dua puluh tiga tahun. Aku ingin punya gaun cantik, tas tangan, dan perlengkapan rias. Aku ingin seperti teman-temanku yang bisa hidup bahagia dan nyaman!” jawabku sambil sengaja memasang wajah sedih.

“Memangnya Leonard tidak memberimu uang?” seru ayah mertuaku terkejut.

Aku menggeleng.

“Aku sudah memberimu kartu ATM, bukan? Aku juga mentransfer uang setiap bulan! Ini salahmu sendiri karena memberikan uang itu kepada orang tuamu!” bentak Leonard dengan nada tinggi.

“Kartu ATM yang mana? Selama lima tahun, satu-satunya uang yang bisa kugunakan untuk membeli sesuatu hanyalah sisa uang belanja harian yang diberikan ibu mertua!” balasku menyindir.

Semua orang langsung menoleh ke arah ibu mertuaku.

“Kenapa kalian melihatku? Aku yang memegang kartunya. Kalau kartu itu kuberikan kepada Isla Grace, dia pasti akan menyerahkannya kepada orang tuanya. Apa kalian lupa kalau orang tuanya seperti rayap yang selalu ingin menguras kekayaan kita?”

Leonard semakin terkejut.

Namun, sebelum dia sempat berbicara, ayah mertuaku lebih dulu menyela.

“Belle, kamu tidak seharusnya bersikap seperti itu. Isla Grace dan Anna sama-sama menantu kita. Kamu tidak boleh pilih kasih,” kata ayah mertuaku.

Aku tertawa getir.

“Tidak perlu khawatir. Aku bisa mencari uang sendiri. Aku tidak ingin menjadi beban keluarga Ashford lagi.”

“Bagus kalau kamu tahu diri. Dulu, orang tuamu berutang sangat banyak kepada keluarga kita. Kita sudah cukup bermurah hati dengan tidak menagihnya!” sindir ibu mertuaku.

“Belle, jangan keterlaluan,” tegur ayah mertuaku yang berusaha membelaku.

“Uang mahar Anna saja hanya dua puluh lima persen dari jumlah utang ayah Isla Grace kepada kita. Jadi, wajar kalau sekarang Anna mendapatkan lebih banyak, bukan?” bentak ibu mertuaku.

Aku terdiam karena memang itulah kelemahanku.

“Ayah, Ibu benar. Aku juga tidak berhak meminta lebih. Jadi, kumohon, izinkan aku bekerja,” pintaku.

“Isla Grace, kamu benar-benar yakin ingin bekerja?” tanya ayah mertuaku untuk memastikan.

“Ya,” jawabku tanpa ragu.

“Baiklah, kalau itu keputusanmu. Kalau kamu ingin bekerja, tidak masalah. Aku akan meminta Leonard membantumu mendapatkan posisi yang bagus di kantornya,” tambah ayah mertuaku.

“Tidak perlu, Ayah. Aku akan bekerja bersama Aria,” tolakku.

Setelah itu, kami mulai sarapan bersama.

Di tengah sarapan, ponsel Leonard berdering. Dia segera beranjak untuk menerima panggilan tersebut. Setelah menutup telepon, dia berpamitan dan bersiap pergi.

“Leonard, sekalian saja antar Isla Grace,” saran ayah mertuaku.

“Aku ada urusan penting, Ayah!” tolak Leonard, lalu langsung pergi.

Ibu mertuaku dan Anna menahan tawa. Mereka mengejekku karena Leonard sama sekali tidak peduli kepadaku.

Namun, aku memilih diam. Hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hariku.

Setelah sarapan, aku menelepon Aria. Tak lama kemudian, dia datang menjemputku.

“Nah, ini baru Isla Grace yang kukenal! Sahabatku yang cantik. Senang sekali melihatmu secantik ini,” sapa Aria.

“Mulai sekarang, aku akan lebih menyayangi diriku sendiri,” jawabku.

Aria langsung menggandeng tanganku dan membawaku ke mobilnya. Dia mengantarku ke sebuah rumah megah di kawasan elite.

“Rumah siapa ini?” tanyaku penasaran.

“Rumah bosku. Jam segini dia belum berangkat ke kantor, makanya aku membawamu ke sini. Tapi, tenang saja. Semalam aku sudah berbicara dengannya. Dia bersedia mengaudisimu secara pribadi. Kalau dia menyukai penampilan dan kemampuanmu, kamu akan menjalani pelatihan selama beberapa bulan. Setelah itu, bum! Kamu akan debut sebagai penyanyi!” jelas Aria panjang lebar.

“Semudah itu?” tanyaku tak percaya.

“Iya. Tidak semua orang yang ingin menjadi penyanyi bisa mendapatkan kesempatan seperti ini dalam semalam. Kita bisa mendapatkannya karena punya koneksi orang dalam.”

Saat hendak turun dari mobil, aku melihat mobil suamiku melintas.

“Kenapa?” tanya Aria.

“Itu seperti mobil Leonard,” jawabku.

“Aku juga melihat seorang wanita di dalamnya, meski tidak bisa memastikan siapa dia.”

“Memangnya siapa lagi kalau bukan Serra? Dia juga tinggal di kawasan elite ini.”

Meskipun sudah bertekad untuk tidak lagi berharap kepada Leonard, hatiku tetap terasa sakit. Aku telah mencintainya selama lima tahun, tetapi yang kudapatkan hanyalah luka dan kekecewaan.

“Cemburu?” goda Aria.

“Tidak,” jawabku mengelak.

“Wajahmu sudah menunjukkan semuanya. Makanya, jangan cuma diam di rumah dan sibuk melayani ibu mertuamu. Keluarlah dan lihat betapa luasnya dunia ini. Leonard bukan satu-satunya pria di dunia, apalagi kalau kamu sudah masuk industri hiburan. Ada banyak pria tampan di luar sana,” ujar Aria menyemangatiku.

Aku hanya terkekeh. Aku sama sekali tidak berniat mencari pria lain. Bukan karena aku terlalu mencintai Leonard, melainkan karena aku mulai sadar bahwa jika ingin bahagia, aku tidak boleh menggantungkan harapanku kepada seorang pria.

Saat Aria menekan bel, pintu segera terbuka. Seorang pria muda dengan wajah yang sangat tampan muncul di hadapan kami.

“Apakah kamu Isla Grace?” tanyanya sopan.

“Ya,” jawabku sambil menundukkan kepala dengan malu-malu.

“Aku Dominic. Silakan masuk!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 5

    Ayah terus meneleponku. Karena kesal, akhirnya aku memilih mematikan ponsel.Ayah hanya mengingatku saat membutuhkan sesuatu. Kenyataan itu terasa menyakitkan untuk kuterima.Saat tiba di rumah, aku terkejut melihat mobil ayah terparkir di sana.Begitu masuk, orang tuaku yang sedang duduk di ruang tamu langsung menghampiriku.“Isla Grace, kami dengar kamu mengalami kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?” tanya ibu.“Hanya gegar otak ringan,” jawabku datar.“Tapi sekarang kamu sudah membaik, kan?” sela ibu.“Hmm. Kenapa kalian datang?” tanyaku balik.“Isla Grace, Liam sedang merintis bisnis, tapi kami kekurangan modal. Bagaimana kalau kamu meminta suamimu bekerja sama dengannya?” bisik ayah.Selalu begini. Demi Liam, mereka tidak segan-segan merendahkanku di hadapan keluarga Ashford.“Maaf, Ayah. Aku tidak bisa melakukan itu. Selama ini, kita sudah bersikap seperti parasit,” tolakku.“Apa maksudmu menyebut kita parasit? Kamu istrinya! Sudah menjadi kewajiban suamimu untuk membantu keluargamu

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 4

    Keesokan harinya, saat terbangun, pinggangku terasa seperti akan patah. Tadi malam aku menangis dan memintanya berhenti, tetapi Leonard benar-benar mengerikan saat sedang marah.Aku merasa seperti kelinci yang dilahap habis oleh serigala kelaparan. Namun, ada satu hal yang berbeda. Tadi malam, dia menyebut namaku.Biasanya, dia justru memanggil nama Ariel, mantan kekasihnya.Saat menoleh ke samping, kulihat suamiku sudah tidak ada di tempat tidur. Namun, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Leonard sedang mandi.Kartu hitam yang kutolak tadi malam tergeletak di nakas di samping tempat tidur.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aria meneleponku.“Halo.”[Halo, kenapa dari tadi teleponku tidak kamu angkat?]“Maaf, aku baru bangun. Ponselku dalam mode senyap.”[Baru bangun jam segini?]“Tadi malam aku bertengkar dengan Leonard, lalu dia menyiksaku sepanjang malam.”[Sialan! Ayo kita lakukan visum, lalu laporkan ke rumah sakit!]“Eh, bukan penyiksaan seperti itu maksudku. Tapi penyi

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 3

    Dominic adalah pria yang menyenangkan dan pandai mencairkan suasana. Dia tahu bagaimana mengimbangi sifatku yang pemalu.Audisi berjalan lancar. Dominic bahkan semakin puas setelah mengetahui bahwa aku bisa menulis lagu sendiri.“Penampilanmu benar-benar mengesankan, Isla. Aku yakin kamu akan menjadi penyanyi terkenal!” puji Dominic setelah audisi selesai.“Terima kasih, Bos.”“Mulai besok, kamu resmi bergabung dengan agensi ini. Aria akan mengurus proses pendaftarannya. Kamu hanya perlu fokus berlatih dan membangun kepercayaan diri. Selebihnya, biarkan Aria yang membimbingmu!”“Baik, Bos Dominic.”“Kalau begitu, kalian boleh pulang sekarang. Aku juga harus pergi ke kantor,” kata Dominic.Sebelum kami pergi, Dominic sempat berbicara dengan Aria.Aku samar-samar mendengar dia mengatakan bahwa aku masih perlu menjalani beberapa perawatan kecantikan. Bagaimanapun, seorang penyanyi harus terlihat sempurna di depan kamera.Karena itulah, setelah meninggalkan rumah Dominic, aku tidak bertan

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 2

    Biasanya, aku selalu bangun paling pagi. Aku akan menyiapkan pakaian kerja suamiku, lalu memasak sarapan untuk semua orang.Namun, kali ini aku tidak akan melakukannya. Tidak adil rasanya mereka bisa tidur nyenyak dan bangun dengan sarapan yang sudah tersedia, sementara aku harus bersusah payah melakukan semuanya. Belum lagi, mereka sama sekali tidak menghargai pengorbananku.Mereka bahkan selalu mengkritik masakanku. Aku juga tidak berniat membangunkan Leonard. Aku tidak peduli lagi kalau dia terlambat berangkat kerja.Selama ini, aku bahkan tidak pernah menerima uang bulanan karena semua keuangan dipegang oleh ibu mertuaku.Kalau dipikir-pikir, aku memang bodoh. Aku tak lebih dari seorang pembantu sekaligus pelacur gratis. Memikirkannya saja membuatku muak.Tak lama kemudian, Leonard bangun dan bergegas mandi.Setelah selesai, dia membangunkanku dengan cara yang cukup menyebalkan.“Isla Grace, mana seragam kerjaku?”“Memangnya kamu tidak bisa mengambilnya sendiri? Aku masih sakit,”

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 1

    “Dasar pria brengsek! Bukannya mengurus istrinya yang baru mengalami kecelakaan, dia malah bersenang-senang dengan wanita lain!”Aku hanya tersenyum getir mendengar luapan amarah sahabatku. Namun, memang begitulah kenyataannya. Alih-alih menjagaku di rumah sakit, dia bahkan tidak mau mengangkat teleponku.Namaku Isla Grace. Saat berusia delapan belas tahun, ayahku menikahkanku dengan Leonard Ashford karena dia tidak mampu melunasi utang-utangnya.Saat itu, Leonard tidak menolak pernikahan kami, tetapi dia juga tidak mengizinkanku mengungkapkan status kami sebagai suami istri. Hanya Aria dan keluargaku yang tahu bahwa aku adalah istri Leonard Ashford.Selama lima tahun, aku berusaha menjadi istri dan menantu yang baik. Namun, tak pernah sekalipun aku mendapat pengakuan. Leonard hanya mau menatap mataku dan berbicara denganku saat kami berada di ranjang yang sama.Begitu hasratnya terpuaskan, aku kembali diperlakukan seperti orang asing.“Sialan, aku benar-benar kesal! Kalau aku jadi ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status