Share

Episode 4

Author: Athara
last update publish date: 2026-10-11 22:15:48

Keesokan harinya, saat terbangun, pinggangku terasa seperti akan patah. Tadi malam aku menangis dan memintanya berhenti, tetapi Leonard benar-benar mengerikan saat sedang marah.

Aku merasa seperti kelinci yang dilahap habis oleh serigala kelaparan. Namun, ada satu hal yang berbeda. Tadi malam, dia menyebut namaku.

Biasanya, dia justru memanggil nama Ariel, mantan kekasihnya.

Saat menoleh ke samping, kulihat suamiku sudah tidak ada di tempat tidur. Namun, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Leonard sedang mandi.

Kartu hitam yang kutolak tadi malam tergeletak di nakas di samping tempat tidur.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Aria meneleponku.

“Halo.”

[Halo, kenapa dari tadi teleponku tidak kamu angkat?]

“Maaf, aku baru bangun. Ponselku dalam mode senyap.”

[Baru bangun jam segini?]

“Tadi malam aku bertengkar dengan Leonard, lalu dia menyiksaku sepanjang malam.”

[Sialan! Ayo kita lakukan visum, lalu laporkan ke rumah sakit!]

“Eh, bukan penyiksaan seperti itu maksudku. Tapi penyiksaan antara suami dan istri.”

[Sialan, kenapa tidak bilang dari tadi? Kukira kamu dipukuli! Hebat juga kamu sekarang berani bertengkar dengannya. Memangnya kalian bertengkar soal apa?]

“Dia memberiku kartu hitam dan melarangku bekerja.”

[Wow, Leonard mulai memperhatikanmu. Biasanya dia sama sekali tidak peduli padamu. Sudahlah, terima saja kartunya. Selama ini kamu sudah banyak menderita. Anggap saja itu bayaran atas semua pengorbananmu. Pelacur saja dibayar setelah melayani pria.]

“Tapi dia melarangku bekerja.”

[Bodoh sekali! Lawan saja! Mulai sekarang, kamu harus menjadi istri yang tidak penurut!]

“Baiklah. Aku mandi dulu, ya. Nanti kita bertemu di kantor agensi. Aku akan naik taksi.”

[Tapi menurut firasatku, sejak kamu mulai berani melawan, Leonard justru semakin penasaran padamu. Dia mulai bersikap posesif.]

“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin segera bercerai.”

[Benar!]

Setelah panggilan terputus, Leonard keluar dari kamar mandi.

Suamiku memang memiliki wajah yang sangat tampan dan tubuh atletis. Tidak heran kalau dulu aku langsung jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama.

Tanpa menatap matanya, aku berusaha bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Namun, mataku langsung membelalak saat melihat pantulan diriku di cermin.

Ada banyak bekas ciuman di leherku. Hari ini, aku harus memakai foundation lebih tebal agar bekas-bekas itu tidak terlihat. Bukankah menyebalkan kalau hari pertama masuk kerja justru menjadi bahan gosip?

Gaun-gaun yang dibelikan Aria tadi malam benar-benar sesuai dengan seleraku. Aku mengenakan gaun berwarna persik, lalu membiarkan rambut panjangku tergerai untuk menutupi leher.

Saat menatap diriku di cermin, aku merasa sangat puas.

Ternyata, perkataan Aria benar. Aku memang dianugerahi wajah cantik. Tanpa operasi plastik sekalipun, bentuk wajahku sudah terlihat menarik dari berbagai sudut. Terlebih lagi, setelah menjalani perawatan, wajahku tampak lebih cerah dan sehat.

Sesuai saran Aria, aku mengambil kartu hitam milik suamiku dan menyimpannya.

Saat keluar kamar dan bergabung dengan keluarga di ruang makan, mereka kembali menatapku.

Kali ini, Leonard bahkan menatapku lebih lama. Tatapannya sulit kuartikan.

“Wah, Isla Grace. Kamu semakin cantik saja,” kata Kak Anna, jelas-jelas merasa iri.

“Terima kasih,” jawabku sambil tetap tersenyum manis.

“Isla Grace, kamu bekerja di mana?” tanya ayah mertuaku.

“Luminary Entertainment,” jawabku.

“Itu agensi hiburan milik Dominic, kan?” sela Kak Dante.

“Iya. Kak Dante kenal Dominic?” tanyaku balik.

“Tentu saja. Kami dulu kuliah di universitas yang sama,” jawab Kak Dante.

Aku hanya mengangguk.

“Dengan ijazah Isla Grace, memangnya kamu bisa bekerja sebagai apa? Paling-paling cuma menjadi petugas kebersihan,” cibir ibu mertuaku.

“Meskipun punya orang dalam, kemampuan seseorang tetap harus diperhatikan,” tambahnya sambil melirikku sinis.

Aku tidak menanggapi. Sebaliknya, aku fokus menikmati sarapan karena tenagaku terkuras habis tadi malam.

Setelah sarapan, ayah mertuaku meminta Leonard mengantarku sekalian. Namun, begitu tiba di luar rumah, aku berhenti melangkah.

“Kenapa? Ayo, kita sudah hampir terlambat!” tegur Leonard.

“Aku naik taksi saja,” jawabku.

“Kenapa harus merepotkan diri sendiri? Cepat naik!” bentak Leonard tidak sabar.

“Aku hanya merasa tidak nyaman. Seumur hidup, aku belum pernah naik mobil semewah milikmu. Lagi pula, aku cuma karyawan biasa. Kalau rekan kerjaku melihatku diantar mobil mewah, itu hanya akan menimbulkan kehebohan,” tolakku halus.

Leonard melirikku, lalu terdiam dengan tatapan yang sulit kupahami. Namun, aku merasa puas karena berhasil menolaknya.

“Isla Grace, apa kamu sedang menghindariku? Dulu, kamu selalu berusaha keras menarik perhatianku,” tanya Leonard sambil menyipitkan sebelah matanya.

“Tidak juga. Buat apa aku menghindarimu? Kita memang tidak pernah dekat, kecuali saat di ranjang,” balasku sinis.

Leonard tampak kesal. Namun, aku segera menambahkan, “Oh, iya, kamu harus segera pergi. Bukankah biasanya kamu menjemput Serra? Kasihan kalau dia harus menunggu terlalu lama.”

Aku langsung melangkah pergi. Kebetulan, mobil taksi daring yang kupesan juga sudah tiba.

Aku sempat menoleh ke belakang dan melihat Leonard masih berdiri di tempatnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Luminary Entertainment adalah perusahaan besar. Dan Aria benar, orang-orang yang bekerja di sana benar-benar memanjakan mata.

“Wah, bahkan orang-orang yang bukan selebritas di sini saja sudah tampan dan cantik,” bisikku kepada Aria.

“Lihat, kan? Sudah kubilang. Nanti aku akan mengenalkanmu kepada teman-temanku yang memang selebritas. Percayalah, kamu tidak akan menyesal ikut denganku,” jawab Aria.

“Hebat sekali kamu bisa bekerja di tempat seperti ini,” kataku kagum.

“Punya orang dalam,” bisik Aria.

Kami pun tertawa bersama.

Saat Aria membawaku masuk ke dalam lift, tiba-tiba aku menyadari bahwa semua orang sedang memperhatikan kami.

“Kenapa semua orang melihat kita? Apa foundation di leherku luntur?” tanyaku panik.

“Bukan. Mereka hanya heran karena kamu naik lift ini. Lift ini khusus untuk jajaran eksekutif tertinggi. Bahkan aktor papan atas pun tidak diizinkan menggunakannya,” jelas Aria.

“Serius? Kalau begitu, kenapa kamu membawaku lewat sini?” seruku terkejut.

“Karena kamu bersamaku. Ada yang perlu kamu tahu. Ayahku memiliki saham yang cukup besar di perusahaan ini. Itu sebabnya ayah Dominic selalu meminta agar aku menggunakan lift ini. Sedangkan untukmu, aku sudah meminta izin kepada Dominic, dan dia mengizinkannya,” jelas Aria menenangkanku.

“Luar biasa! Aku semakin terkejut. Ternyata kamu penuh kejutan,” kataku.

Aku benar-benar terkejut karena saat SMA dulu, Aria adalah siswi kurang mampu yang tinggal di panti asuhan. Itulah sebabnya aku selalu berusaha membantunya sebisaku.

Baru setelah lulus SMA, aku mendengar kabar bahwa Aria telah bertemu kembali dengan orang tuanya. Namun, aku sama sekali tidak menyangka bahwa keluarganya ternyata begitu kaya.

Sesampainya di kantor Dominic, dia menyambutku dengan hangat.

Setelah itu, aku diperkenalkan kepada para pelatih yang akan membimbing vokal dan tarianku.

Aku menyelesaikan latihan pukul enam sore.

Dalam perjalanan pulang, aku menerima telepon dari ayahku.

Biasanya, aku akan langsung mengangkatnya. Namun, kali ini aku memilih mengabaikannya.

Percuma menjadi anak yang selalu berbakti jika pada akhirnya hanya adik laki-lakiku yang selalu dimanjakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 5

    Ayah terus meneleponku. Karena kesal, akhirnya aku memilih mematikan ponsel.Ayah hanya mengingatku saat membutuhkan sesuatu. Kenyataan itu terasa menyakitkan untuk kuterima.Saat tiba di rumah, aku terkejut melihat mobil ayah terparkir di sana.Begitu masuk, orang tuaku yang sedang duduk di ruang tamu langsung menghampiriku.“Isla Grace, kami dengar kamu mengalami kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?” tanya ibu.“Hanya gegar otak ringan,” jawabku datar.“Tapi sekarang kamu sudah membaik, kan?” sela ibu.“Hmm. Kenapa kalian datang?” tanyaku balik.“Isla Grace, Liam sedang merintis bisnis, tapi kami kekurangan modal. Bagaimana kalau kamu meminta suamimu bekerja sama dengannya?” bisik ayah.Selalu begini. Demi Liam, mereka tidak segan-segan merendahkanku di hadapan keluarga Ashford.“Maaf, Ayah. Aku tidak bisa melakukan itu. Selama ini, kita sudah bersikap seperti parasit,” tolakku.“Apa maksudmu menyebut kita parasit? Kamu istrinya! Sudah menjadi kewajiban suamimu untuk membantu keluargamu

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 4

    Keesokan harinya, saat terbangun, pinggangku terasa seperti akan patah. Tadi malam aku menangis dan memintanya berhenti, tetapi Leonard benar-benar mengerikan saat sedang marah.Aku merasa seperti kelinci yang dilahap habis oleh serigala kelaparan. Namun, ada satu hal yang berbeda. Tadi malam, dia menyebut namaku.Biasanya, dia justru memanggil nama Ariel, mantan kekasihnya.Saat menoleh ke samping, kulihat suamiku sudah tidak ada di tempat tidur. Namun, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Leonard sedang mandi.Kartu hitam yang kutolak tadi malam tergeletak di nakas di samping tempat tidur.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aria meneleponku.“Halo.”[Halo, kenapa dari tadi teleponku tidak kamu angkat?]“Maaf, aku baru bangun. Ponselku dalam mode senyap.”[Baru bangun jam segini?]“Tadi malam aku bertengkar dengan Leonard, lalu dia menyiksaku sepanjang malam.”[Sialan! Ayo kita lakukan visum, lalu laporkan ke rumah sakit!]“Eh, bukan penyiksaan seperti itu maksudku. Tapi penyi

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 3

    Dominic adalah pria yang menyenangkan dan pandai mencairkan suasana. Dia tahu bagaimana mengimbangi sifatku yang pemalu.Audisi berjalan lancar. Dominic bahkan semakin puas setelah mengetahui bahwa aku bisa menulis lagu sendiri.“Penampilanmu benar-benar mengesankan, Isla. Aku yakin kamu akan menjadi penyanyi terkenal!” puji Dominic setelah audisi selesai.“Terima kasih, Bos.”“Mulai besok, kamu resmi bergabung dengan agensi ini. Aria akan mengurus proses pendaftarannya. Kamu hanya perlu fokus berlatih dan membangun kepercayaan diri. Selebihnya, biarkan Aria yang membimbingmu!”“Baik, Bos Dominic.”“Kalau begitu, kalian boleh pulang sekarang. Aku juga harus pergi ke kantor,” kata Dominic.Sebelum kami pergi, Dominic sempat berbicara dengan Aria.Aku samar-samar mendengar dia mengatakan bahwa aku masih perlu menjalani beberapa perawatan kecantikan. Bagaimanapun, seorang penyanyi harus terlihat sempurna di depan kamera.Karena itulah, setelah meninggalkan rumah Dominic, aku tidak bertan

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 2

    Biasanya, aku selalu bangun paling pagi. Aku akan menyiapkan pakaian kerja suamiku, lalu memasak sarapan untuk semua orang.Namun, kali ini aku tidak akan melakukannya. Tidak adil rasanya mereka bisa tidur nyenyak dan bangun dengan sarapan yang sudah tersedia, sementara aku harus bersusah payah melakukan semuanya. Belum lagi, mereka sama sekali tidak menghargai pengorbananku.Mereka bahkan selalu mengkritik masakanku. Aku juga tidak berniat membangunkan Leonard. Aku tidak peduli lagi kalau dia terlambat berangkat kerja.Selama ini, aku bahkan tidak pernah menerima uang bulanan karena semua keuangan dipegang oleh ibu mertuaku.Kalau dipikir-pikir, aku memang bodoh. Aku tak lebih dari seorang pembantu sekaligus pelacur gratis. Memikirkannya saja membuatku muak.Tak lama kemudian, Leonard bangun dan bergegas mandi.Setelah selesai, dia membangunkanku dengan cara yang cukup menyebalkan.“Isla Grace, mana seragam kerjaku?”“Memangnya kamu tidak bisa mengambilnya sendiri? Aku masih sakit,”

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 1

    “Dasar pria brengsek! Bukannya mengurus istrinya yang baru mengalami kecelakaan, dia malah bersenang-senang dengan wanita lain!”Aku hanya tersenyum getir mendengar luapan amarah sahabatku. Namun, memang begitulah kenyataannya. Alih-alih menjagaku di rumah sakit, dia bahkan tidak mau mengangkat teleponku.Namaku Isla Grace. Saat berusia delapan belas tahun, ayahku menikahkanku dengan Leonard Ashford karena dia tidak mampu melunasi utang-utangnya.Saat itu, Leonard tidak menolak pernikahan kami, tetapi dia juga tidak mengizinkanku mengungkapkan status kami sebagai suami istri. Hanya Aria dan keluargaku yang tahu bahwa aku adalah istri Leonard Ashford.Selama lima tahun, aku berusaha menjadi istri dan menantu yang baik. Namun, tak pernah sekalipun aku mendapat pengakuan. Leonard hanya mau menatap mataku dan berbicara denganku saat kami berada di ranjang yang sama.Begitu hasratnya terpuaskan, aku kembali diperlakukan seperti orang asing.“Sialan, aku benar-benar kesal! Kalau aku jadi ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status