Share

Episode 5

Author: Athara
last update publish date: 2026-10-11 22:17:08

Ayah terus meneleponku. Karena kesal, akhirnya aku memilih mematikan ponsel.

Ayah hanya mengingatku saat membutuhkan sesuatu. Kenyataan itu terasa menyakitkan untuk kuterima.

Saat tiba di rumah, aku terkejut melihat mobil ayah terparkir di sana.

Begitu masuk, orang tuaku yang sedang duduk di ruang tamu langsung menghampiriku.

“Isla Grace, kami dengar kamu mengalami kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?” tanya ibu.

“Hanya gegar otak ringan,” jawabku datar.

“Tapi sekarang kamu sudah membaik, kan?” sela ibu.

“Hmm. Kenapa kalian datang?” tanyaku balik.

“Isla Grace, Liam sedang merintis bisnis, tapi kami kekurangan modal. Bagaimana kalau kamu meminta suamimu bekerja sama dengannya?” bisik ayah.

Selalu begini. Demi Liam, mereka tidak segan-segan merendahkanku di hadapan keluarga Ashford.

“Maaf, Ayah. Aku tidak bisa melakukan itu. Selama ini, kita sudah bersikap seperti parasit,” tolakku.

“Apa maksudmu menyebut kita parasit? Kamu istrinya! Sudah menjadi kewajiban suamimu untuk membantu keluargamu!” bentak ayah dengan marah.

“Apa Ayah tidak melihat berita? Leonard akan menikah dengan Serra. Aku hanya istri yang tidak berarti baginya. Jadi, mulai sekarang, jangan berharap aku bisa memberikan keuntungan apa pun lagi. Leonard dan aku akan bercerai!” balasku dingin.

“Kamu benar-benar tidak berguna! Bagaimana bisa kamu tidak mampu mempertahankan suamimu sendiri? Meskipun pernikahan kalian tidak diumumkan ke publik, kamu tetap istri sahnya! Lagipula, kamu jauh lebih cantik daripada Serra!” bentak ayah.

“Memangnya Ayah pikir bagi orang kaya, seorang istri hanya perlu cantik? Mereka selalu menganggap kita tidak lebih dari parasit. Sementara Serra berasal dari keluarga yang sederajat dengan keluarga Ashford. Dia bisa memberikan keuntungan nyata bagi keluarga mereka. Apa Ayah belum cukup mempermalukan diri sendiri? Sebaiknya Ayah dan Ibu pergi sekarang!” kataku tegas sambil mengusir mereka.

Tepat saat itu, Leonard muncul bersama Serra. Wanita itu merangkul lengannya dengan mesra.

“Leonard, benarkah kamu berencana menikahi Serra dan menceraikan Isla Grace?” tanya ibu.

Leonard terlihat terkejut, lalu segera melepaskan tangan Serra dari lengannya.

“Ibu Mertua, jangan percaya gosip media. Aku dan Serra hanya berteman,” jawab Leonard, membuat ekspresi Serra langsung berubah.

“Benar, kami hanya berteman. Kami sudah dekat sejak kecil, bahkan seperti saudara sendiri,” tambah Serra.

Wajah ayah langsung berbinar lebar.

“Lihat, Isla? Mereka hanya berteman. Kamu tidak seharusnya salah paham terhadap Leonard,” bujuk ayah.

“Siapa yang memberitahumu bahwa aku berencana menceraikan Isla Grace?” tanya Leonard kepada ayahku.

“Isla Grace yang mengatakannya, tapi sekarang kesalahpahaman itu sudah jelas,” jawab ayah.

Leonard melirikku. Tatapannya seolah memperingatkan bahwa jika aku berani membangkang, aku akan menerima hukuman yang sama seperti tadi malam.

Aku segera memalingkan wajah, lalu menarik tangan kedua orang tuaku dan membawa mereka keluar rumah.

“Ayah, Ibu, pulanglah.”

“Berani sekali kamu mengusir kami?” balas ayah.

“Memangnya kenapa? Di mana Ayah dan Ibu saat aku sakit? Kalian malah bersenang-senang di luar negeri bersama Liam. Tapi begitu membutuhkan sesuatu, kalian langsung mencariku. Mulai sekarang, jangan hubungi aku lagi!” tegasku sambil membanting pintu.

Leonard dan Serra masih berdiri di tempat mereka. Keduanya menyaksikan seluruh kejadian itu.

Aku tidak peduli jika terlihat memalukan di hadapan mereka. Penilaian orang lain tidak lagi penting bagiku.

Tanpa menyapa mereka, aku berjalan melewati keduanya dan langsung menuju kamar. Leonard mengikutiku dari belakang, lalu mencengkeram lenganku dengan kasar.

“Kenapa kamu mengatakan kepada orang tuamu bahwa aku akan menceraikanmu?” tanya Leonard dengan wajah dingin.

“Lepaskan! Sakit!” erangku.

Leonard melirik pergelangan tanganku yang memerah, lalu segera melepaskan cengkeramannya.

Aku menarik napas untuk menenangkan diri, berusaha menahan rasa sakit di hati. Memang benar aku adalah istri Leonard, tetapi cinta pria itu hanya menjadi milik mendiang mantan kekasihnya.

Meski begitu, hampir setiap hari dia bersama Serra dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada wanita itu. Semakin kuingat pernikahan kami selama lima tahun, semakin sesak rasanya dadaku.

“Leonard, mari kita bercerai,” kataku tenang.

Mata Leonard membelalak kaget. Dia langsung mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar mandi, lalu mendudukkanku di dalam bak mandi dan mengguyurku dengan air.

“Leonard, hentikan!” teriakku marah.

“Berani sekali kamu membicarakan perceraian denganku!” bentak Leonard sambil mulai melepas jas dan kemejanya.

“Aku hanya ingin memberi jalan supaya kamu bisa menikahi Serra!” balasku berteriak.

“Siapa yang mau menikahi Serra? Kami hanya berteman! Hanya teman!” bentak Leonard semakin keras.

Aku tersentak. Bentakan dari orang yang paling kita cintai terasa seperti pisau tajam yang menusuk hati.

“Lalu, aku ini siapa bagimu?” tanyaku lirih.

Leonard mencengkeram kedua bahuku erat-erat dan menatapku lekat-lekat.

“Apa yang salah denganmu? Dulu kamu tidak pernah membuat masalah seperti ini,” tanyanya dengan suara lebih rendah.

Aku membalas tatapannya tanpa lagi meluapkan emosi seperti sebelumnya.

“Secara hukum, aku memang istrimu. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, kamu begitu dingin kepadaku. Kamu tidak pernah ada saat aku membutuhkanmu. Selama lima tahun menikah, perlakuanmu kepadaku bahkan tidak lebih baik daripada perlakuanmu kepada Serra, wanita yang kamu sebut hanya teman. Dan kamu tahu tidak, bahkan saat kita berada di ranjang, nama yang kamu panggil adalah Ariel! Aku juga manusia, Leonard! Aku punya perasaan. Aku ingin mengakhiri semua ini. Mari kita bercerai baik-baik,” kataku dengan tenang dan jelas.

Leonard tertegun, lalu melepaskan tangannya dariku.

“Baiklah, jadi kamu ingin bercerai? Tapi lunasi dulu utang ayahmu. Dua puluh miliar.”

Air mataku langsung jatuh. Aku memang sudah menduganya. Di mata Leonard, aku tak lebih dari seorang tawanan karena utang itu.

“Selama lima tahun aku menjadi istrimu dan melayanimu dengan sepenuh hati. Kamu pasti tidak mengharapkan semua itu secara gratis, bukan? Setidaknya, aku pantas dibayar atas pekerjaanku sebagai pembantu sekaligus orang yang memuaskan nafsumu,” balasku.

“Memangnya kamu merasa dirimu pantas dihargai sebesar itu? Dua puluh miliar?” tanya Leonard sinis.

“Baiklah, mari kita hitung berdasarkan mahar dan uang bulanan Anna agar adil. Mahar Anna sebesar lima miliar, dan dia menerima uang bulanan seratus juta. Berarti selama lima tahun, aku seharusnya menerima sebelas miliar.

“Jadi, apakah utang yang harus kulunasi tinggal sembilan miliar?” kataku serius.

“Berapa lama kamu harus bekerja untuk mendapatkan sembilan miliar? Apalagi kamu hanya lulusan SMA,” ejek Leonard.

“Aku mungkin tidak berpendidikan tinggi, tapi aku punya wajah cantik dan tubuh yang bagus. Kamu tahu betul bagaimana pelayananku di ranjang, bukan? Katakan padaku, kalau aku mendekati para bos konglomerat, menurutmu mereka bersedia membayarku sembilan miliar?” balasku tanpa mau mengalah.

Leonard mengepalkan tangannya hingga otot-ototnya menegang. Dia terlihat sangat marah. Namun, beberapa detik kemudian, seringai muncul di bibirnya. Melihat ekspresi itu, tubuhku gemetar ketakutan.

“Isla Grace, ternyata kamu mulai berani macam-macam. Sepertinya hukuman tadi malam belum cukup membuatmu jera. Seharusnya aku memastikan kamu tidak bisa bangun dari tempat tidur, supaya kamu tidak berani lagi menguji kesabaranku,” gumam Leonard sambil menjambak rambutku.

“Kamu mau melakukan kekerasan terhadapku? Kamu pikir aku akan diam saja menerima perlakuanmu?” tantangku.

Leonard melepaskan rambutku, tetapi kemudian mencengkeram leherku dan menarik wajahku hingga mendekat ke wajahnya.

“Ini namanya kenikmatan dalam pernikahan, Isla Grace. Bagaimana kalau aku merekamnya untukmu? Setelah itu, kamu tinggal menyerahkannya kepada polisi sebagai bukti,” tantang Leonard sambil menyeringai.

“Kamu gila!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 5

    Ayah terus meneleponku. Karena kesal, akhirnya aku memilih mematikan ponsel.Ayah hanya mengingatku saat membutuhkan sesuatu. Kenyataan itu terasa menyakitkan untuk kuterima.Saat tiba di rumah, aku terkejut melihat mobil ayah terparkir di sana.Begitu masuk, orang tuaku yang sedang duduk di ruang tamu langsung menghampiriku.“Isla Grace, kami dengar kamu mengalami kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?” tanya ibu.“Hanya gegar otak ringan,” jawabku datar.“Tapi sekarang kamu sudah membaik, kan?” sela ibu.“Hmm. Kenapa kalian datang?” tanyaku balik.“Isla Grace, Liam sedang merintis bisnis, tapi kami kekurangan modal. Bagaimana kalau kamu meminta suamimu bekerja sama dengannya?” bisik ayah.Selalu begini. Demi Liam, mereka tidak segan-segan merendahkanku di hadapan keluarga Ashford.“Maaf, Ayah. Aku tidak bisa melakukan itu. Selama ini, kita sudah bersikap seperti parasit,” tolakku.“Apa maksudmu menyebut kita parasit? Kamu istrinya! Sudah menjadi kewajiban suamimu untuk membantu keluargamu

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 4

    Keesokan harinya, saat terbangun, pinggangku terasa seperti akan patah. Tadi malam aku menangis dan memintanya berhenti, tetapi Leonard benar-benar mengerikan saat sedang marah.Aku merasa seperti kelinci yang dilahap habis oleh serigala kelaparan. Namun, ada satu hal yang berbeda. Tadi malam, dia menyebut namaku.Biasanya, dia justru memanggil nama Ariel, mantan kekasihnya.Saat menoleh ke samping, kulihat suamiku sudah tidak ada di tempat tidur. Namun, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Leonard sedang mandi.Kartu hitam yang kutolak tadi malam tergeletak di nakas di samping tempat tidur.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aria meneleponku.“Halo.”[Halo, kenapa dari tadi teleponku tidak kamu angkat?]“Maaf, aku baru bangun. Ponselku dalam mode senyap.”[Baru bangun jam segini?]“Tadi malam aku bertengkar dengan Leonard, lalu dia menyiksaku sepanjang malam.”[Sialan! Ayo kita lakukan visum, lalu laporkan ke rumah sakit!]“Eh, bukan penyiksaan seperti itu maksudku. Tapi penyi

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 3

    Dominic adalah pria yang menyenangkan dan pandai mencairkan suasana. Dia tahu bagaimana mengimbangi sifatku yang pemalu.Audisi berjalan lancar. Dominic bahkan semakin puas setelah mengetahui bahwa aku bisa menulis lagu sendiri.“Penampilanmu benar-benar mengesankan, Isla. Aku yakin kamu akan menjadi penyanyi terkenal!” puji Dominic setelah audisi selesai.“Terima kasih, Bos.”“Mulai besok, kamu resmi bergabung dengan agensi ini. Aria akan mengurus proses pendaftarannya. Kamu hanya perlu fokus berlatih dan membangun kepercayaan diri. Selebihnya, biarkan Aria yang membimbingmu!”“Baik, Bos Dominic.”“Kalau begitu, kalian boleh pulang sekarang. Aku juga harus pergi ke kantor,” kata Dominic.Sebelum kami pergi, Dominic sempat berbicara dengan Aria.Aku samar-samar mendengar dia mengatakan bahwa aku masih perlu menjalani beberapa perawatan kecantikan. Bagaimanapun, seorang penyanyi harus terlihat sempurna di depan kamera.Karena itulah, setelah meninggalkan rumah Dominic, aku tidak bertan

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 2

    Biasanya, aku selalu bangun paling pagi. Aku akan menyiapkan pakaian kerja suamiku, lalu memasak sarapan untuk semua orang.Namun, kali ini aku tidak akan melakukannya. Tidak adil rasanya mereka bisa tidur nyenyak dan bangun dengan sarapan yang sudah tersedia, sementara aku harus bersusah payah melakukan semuanya. Belum lagi, mereka sama sekali tidak menghargai pengorbananku.Mereka bahkan selalu mengkritik masakanku. Aku juga tidak berniat membangunkan Leonard. Aku tidak peduli lagi kalau dia terlambat berangkat kerja.Selama ini, aku bahkan tidak pernah menerima uang bulanan karena semua keuangan dipegang oleh ibu mertuaku.Kalau dipikir-pikir, aku memang bodoh. Aku tak lebih dari seorang pembantu sekaligus pelacur gratis. Memikirkannya saja membuatku muak.Tak lama kemudian, Leonard bangun dan bergegas mandi.Setelah selesai, dia membangunkanku dengan cara yang cukup menyebalkan.“Isla Grace, mana seragam kerjaku?”“Memangnya kamu tidak bisa mengambilnya sendiri? Aku masih sakit,”

  • Mantan Istri Kesayangan Sang Billionaire   Episode 1

    “Dasar pria brengsek! Bukannya mengurus istrinya yang baru mengalami kecelakaan, dia malah bersenang-senang dengan wanita lain!”Aku hanya tersenyum getir mendengar luapan amarah sahabatku. Namun, memang begitulah kenyataannya. Alih-alih menjagaku di rumah sakit, dia bahkan tidak mau mengangkat teleponku.Namaku Isla Grace. Saat berusia delapan belas tahun, ayahku menikahkanku dengan Leonard Ashford karena dia tidak mampu melunasi utang-utangnya.Saat itu, Leonard tidak menolak pernikahan kami, tetapi dia juga tidak mengizinkanku mengungkapkan status kami sebagai suami istri. Hanya Aria dan keluargaku yang tahu bahwa aku adalah istri Leonard Ashford.Selama lima tahun, aku berusaha menjadi istri dan menantu yang baik. Namun, tak pernah sekalipun aku mendapat pengakuan. Leonard hanya mau menatap mataku dan berbicara denganku saat kami berada di ranjang yang sama.Begitu hasratnya terpuaskan, aku kembali diperlakukan seperti orang asing.“Sialan, aku benar-benar kesal! Kalau aku jadi ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status