Home / Rumah Tangga / Mantan Jadi Tetangga / 77. Aku Akan Datang

Share

77. Aku Akan Datang

Author: Black Aurora
last update Last Updated: 2025-12-25 19:54:11

Mobil berhenti tepat di depan rumah Marvella.

Cahaya matahari siang menyinari halaman yang rapi dan tenang, kontras dengan emosi yang masih bergejolak di dada Marvella sejak ia keluar dari kantor Reno.

Dastan mematikan mesin, lalu menoleh ke kursi belakang. Kenzo masih tertidur lelap.

Anak itu meringkuk ringan dengan tas kecil yang terjatuh di samping kakinya. Wajahnya damai dan polos, terlalu polos untuk dunia yang seolah tak berhenti memberikan luka.

“Biar aku saja yang gendong Kenzo ke dalam,” ujar Dastan pelan.

Ia lalu keluar dari mobil dengan membuka pintu belakang pelan-pelan, lalu mengangkat tubuh Kenzo dengan gerakan yang sudah terlatih. Satu tangan menopang punggung, satu lagi menyangga kaki anak itu.

Kenzo hanya mengguman kecil, lalu menyusupkan wajahnya ke bahu Dastan, kemudian tidur kembali tanpa mengetahui siapa yang sedang menggendongnya.

Marvella ikut turun dari mobil. Ia berdiri sejenak di samping pintu, menatap pemandangan itu tanpa berkata apa-apa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mantan Jadi Tetangga    94. Kucing Galak vs Anjing Kampung

    Reyhan berdiri di depan rumah nomor 12 Green Residence, sambil menatap pagar besi hitam yang menjulang dengan ekspresi lelah bercampur pasrah. Perumahan elit ini terlalu tenang untuk kondisi mentalnya yang sedang tidak baik-baik saja. Beberapa menit lalu, pesan dari Dastan masuk tanpa banyak basa-basi. Dastan: (Rey. Aku lupa Board Resolution Addendum yang sudah ditandatangani. Ada di ruang kerja. Laci kiri meja) Reyhan membaca pesan itu tiga kali, lalu menatap langit. “Addendum,” gumannya. “Tentu saja, addendum.” Ia merogoh saku jas untuk mengeluarkan kunci cadangan yang selama ini hanya ia anggap simbol kepercayaan, dan hari ini berubah fungsi menjadi alat penyelamat hidup. Namun saat ia mulai membuka gembok pagar, suara langkah cepat bersepatu heels terdengar dari arah samping. “Permisi.” Nada suara perempuan yang dingin, sedikit angkuh dan menilai tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Reyhan pun seketika menoleh. Ia melihat seorang gadis berdiri di trotoar, mengen

  • Mantan Jadi Tetangga    93. After Married

    Reyhan tidak pernah menyangka bahwa kursi empuk di ruang rapat lantai paling atas, bisa terasa seperti kursi listrik terdakwa hukuman mati. Pagi itu, ia duduk di ujung meja panjang dengan setelan rapi, kopi yang sudah dingin, dan ekspresi yang berusaha terlihat tenang... padahal di dalam kepalanya, alarm stres terus berbunyi tanpa henti. “Baik, Pak Reyhan,” ucap salah satu kepala divisi dengan nada formal yang janggal. “Untuk keputusan merger ini, kami menunggu arahan Bapak.” Reyhan berkedip. 'Pak...' Orang yang dulu memanggilnya Rey, bahkan pernah meremehkannya di rapat kecil, kini menyebutnya Pak dengan nada penuh hormat. Ironisnya, itu tidak membuatnya bangga. Itu justru membuat tengkuknya terasa linu dan kaku. “Ah… iya,” jawabnya sambil berdehem. “Kita bahas pelan-pelan.” Padahal pelan-pelan bukan gaya perusahaan ini. Dan jelas juga bukan gaya Dastan sama sekali. Di layar presentasi, tertera angka-angka berbaris rapi, proposal besar menunggu tanda tangan, dan semua or

  • Mantan Jadi Tetangga    92. Bertahan

    Tok. Tok. Ketukan terdengar pelan di pintu kamar Marvella. Marvella yang sedang melipat sweater Kenzo pun sontak menoleh. “Masuk.” Pintu terbuka, dan Miranda muncul dengan langkah ragu-ragu sambil membawa sebuah kotak kado berwarna abu-abu dove, yang dibungkus rapi dengan pita tipis warna biru tua. “Maaf ganggu,” ucap Miranda. “Ini… ada titipan.” Marvella berdiri. “Titipan siapa?” Miranda menghela napas singkat sebelum menjawab, memastikan agar nada suaranya netral. “Reno.” Nama itu membuat udara di ruangan berubah sedikit. Dastan yang sedang duduk di sofa, otomatis menegakkan punggungnya, meskipun ekspresi wajahnya tetap tenang. “Kado pernikahan,” lanjut Miranda cepat. “Dia minta aku yang kasih.” Marvella menerima kotak itu tanpa ekspresi yang berlebihan. Tangannya mantap dan sorot matanya pun tetap jernih. “Terima kasih, Mir. Jadi ngerepotin kamu.” Di atas kotak kado itu, terselip sebuah kartu kecil berwarna krem. Marvella pun membukanya dengan perlahan, dan mem

  • Mantan Jadi Tetangga    91. Keputusan

    Keesokan harinya, Reyhan bangun siang hari dengan kondisi badan babak belur. Lehernya pegal, pundaknya berat, dan kepalanya terasa berdenyut. Seolah semalam itu ia tidak hanya menyelenggarakan sebuah pernikahan, tapi juga menyelamatkan seluruh dunia. Ia meraih ponsel tanpa membuka mata sepenuhnya, bermaksud mengecek pesan penting, dan ternyata memang ada notifikasi pesan masuk dari bosnya, Dastan Alvaro. Reyhan membuka pesan itu sambil menguap. Dastan: (Terima kasih, Pak Deputy CEO. Acaranya luar biasa.) Reyhan menatap layar selama beberapa detik. Lalu tanpa berpikir panjang, ia membalas. Reyhan : Sama-sama, Pak. Tapi sejujurnya, saya jadi trauma dengan kata ‘intimate’) Pesan terkirim, lalu Reyhan meletakkan ponselnya di dada sambil tersenyum tipis. Hubungan mereka memang selalu seperti itu. Tidak berlebihan. Tidak penuh basa-basi. Tapi saling mengerti, serta cukup saling percaya. Dan di hari itu, akhirnya Reyhan merasa bisa bernapas dengan normal lagi. *** Marve

  • Mantan Jadi Tetangga    90. Keindahan Hanya Butuh Kejujuran

    Tidak ada yang benar-benar siap dengan keindahan di malam itu. Baik Dastan, Marvella, bahkan Reyhan yang sejak pagi mendapatkan serangan panik, harus mengakui satu hal dengan jujur. “Akhirnya… jadi juga,” guman Reyhan pelan sambil menatap halaman belakang rumah itu. “Dan malah lebih bagus.” Intimate wedding itu terselenggara di halaman belakang sebuah rumah tua bergaya kolonial modern yang tenang dan tersembunyi. Bukan gedung megah, juga bukan ballroom hotel bintang lima yang mewah. Lampu-lampu kecil digantung rendah di antara pepohonan, menciptakan cahaya hangat yang tidak menyilaukan, justru terasa seperti hangatnya pelukan. “Rey,” bisik Miranda yang sedang berdiri di sampingnya. “Kok rasanya kayak masuk halaman rumah sendiri, ya?” Reyhan mengangguk, setuju dengan perkataan adik mempelai wanita. “Memamg itu intinya, Bu Miranda.” Tidak ada panggung tinggi, tidak ada karpet merah. Hanya ada jalur dari batu alam sederhana, dihiasi bunga putih dan dedaunan hijau yang di

  • Mantan Jadi Tetangga    89. Tidak Perlu Sempurna

    Reyhan menatap layar ponselnya lamaa sekali, seolah berharap kalimat “besok malam” itu akan berubah sendiri. Tapi sayangnya, ternyata tidak. “Pak,” ucapnya akhirnya, dengan sangat pelan dan sangat hati-hati. “Mohon maaf. Saya mau memastikan kalau saya tidak salah dengar karena barusan saya makan keripik pedas, dan mungkin gara-gara makanan itu aliran darah ke otak saya sedang terganggu.” “Silakan,” jawab Dastan tenang. “Bapak bilang… BESOK MALAM?” “Iya.” “Acara INTIMATE WEDDING?” “Betul.” Reyhan menutup mata, lalu beberapa detik kemudian membukanya lagi. “Intimate wedding itu definisinya kecil, sakral, personal, penuh makna emosional, dan biasanya... direncanakan minimal tiga bulan sebelumnya.” “Makanya saya menelepon kamu,” kata Dastan ringan. “Supaya tetap terlaksana meskipun lebih cepat dari yang biasanya.” Reyhan pun tertawa pendek. “Dengan segala hormat, Pak… ini Bapak mau menyelenggarakan pernikahan, atau menguji ketahanan mental seseorang terhadap keputusa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status