Share

Part 8

Author: Umi Kulsum
last update publish date: 2026-09-25 22:57:13

Kecurigaan Mia tidak datang dalam bentuk interogasi. Ia datang pelan-pelan, seperti air yang merembes, dan Claire menyadarinya terlambat.

Pagi berikutnya, Mia menaruh dua gelas kopi di meja, satu untuk dirinya, satu untuk Claire, lalu duduk di kursi kosong di sampingnya dengan santai yang terlalu dipikirkan. Ia menyeruput kopinya, menatap langit-langit, dan untuk beberapa detik tidak bicara. Claire tahu gaya itu. Mia hanya bersikap santai kalau ia sedang menahan sesuatu.

"Aku perhatikan sesuatu," katanya.

"Bahaya," jawab Claire, tidak mengangkat mata dari layar.

"Kemarin, kamu lembur sama Team Leader sampai jam sembilan." Mia menyeruput kopinya lagi. "Dan hari ini, di lift, dia bilang 'hati-hati, lantainya licin' ke kamu, padahal lantainya kering. Nggak ada yang dia bilang begitu ke aku. Nggak ada yang dia bilang begitu ke siapa pun."

Claire menghentikan gerakan tangannya. Jantungnya berdebar sekali, terlalu keras untuk ukuran kalimat sesederhana itu. "Dia bilang itu ke semua orang."

"Tidak, dia tidak." Mia menatapnya lurus sekarang, tanpa senyum. "Claire, aku nggak bodoh. Aku kerja sama dia setahun. Dia baik, tapi dia nggak detail soal orang. Dia bisa ingat angka, tenggat, revisi ketiga dari laporan yang bahkan aku lupa. Tapi nama anak dari divisi lain pun kadang dia lupa. Kecuali kalau orang itu..." Ia menggantung kalimatnya.

"Kecuali orang itu apa?"

Mia menaruh gelasnya. "Kamu tahu aku nggak suka ikut campur. Dan aku juga nggak suka orang yang sok tahu. Jadi aku cuma tanya sekali, dan setelah ini aku nggak akan tanya lagi. Kamu dan Team Leader pernah kenal sebelumnya, ya?"

Ruangan itu terasa mengecil. Di sekitar mereka, lantai dua belas berjalan seperti biasa, mesin kopi mendesis di pantry, seseorang bicara di telepon, dua anggota tim tertawa di meja belakang. Tidak ada yang memperhatikan mereka. Tetapi bagi Claire, dunia itu menyusut menjadi satu pertanyaan yang tergantung di udara.

Claire bisa berbohong. Mudah saja, satu kata, dan hidupnya kembali normal. Ia sudah berbohong pada orang lain selama dua tahun, dan ia tahu caranya tersenyum, mengalihkan pembicaraan, mengatakan bahwa ia dan Team Leader hanya pernah satu komunitas kampus. Tetapi ia sudah terlalu lelah berbohong pada dirinya sendiri, dan berbohong pada Mia terasa seperti mengulang kebiasaan yang paling ia benci.

"Pernah," katanya pelan. "Dulu. Sudah lama."

Mia tidak terkejut. Ia hanya mengangguk, seperti orang yang baru saja mengonfirmasi dugaan yang ia simpan sejak hari pertama Claire duduk di meja sebelahnya. "Aku mengerti. Aku nggak akan bilang siapa-siapa. Dan aku nggak akan tanya detail." Ia bangkit, merapikan gelasnya, lalu berhenti dan menambahkan dengan suara yang lebih rendah, "Tapi hati-hati, ya. Di kantor ini, orang-orang suka bikin cerita dari hal yang paling kecil. Apalagi kalau yang dibicarakan adalah Ethan Callahan. Dia itu bukan sekadar team leader. Dia itu nama keluarga. Dan nama keluarga itu punya banyak mata."

"Apa saja rumor soal dia?" tanya Claire, dan langsung menyesali pertanyaannya.

Mia menoleh dengan mata berbinar, seperti orang yang sudah lama menunggu pertanyaan itu. "Nah, ini baru pertanyaan yang benar." Ia menyeret kursinya lebih dekat. "Satu, dia pernah dijodohkan dengan anak konglomerat lain, dan katanya dia pulang sebelum makanan penutup. Dua, dia nggak pernah kelihatan dekat dengan siapa pun di kantor ini, sampai ada yang bertaruh dia robot. Tiga, dan ini yang paling aneh, kalau ada orang lembur sendirian, makanan muncul di mejanya tanpa nama pengirim. Nggak ada yang tahu siapa yang traktir."

Wajah Claire memanas satu derajat. "Aku nggak nanya sebanyak itu."

"Kamu nanya, aku jawab. Nggak adil kalau kamu ambil yang gampang doang."

Claire memutuskan untuk berhenti bertanya selamanya. Ia tahu Mia benar, dan justru itu yang membuatnya sesak. Mia tidak bertanya lagi. Ia kembali bekerja, dan sepanjang hari ia bersikap normal, terlalu normal, mungkin.

Sepanjang hari itu, Claire bekerja lebih hati-hati dari biasanya. Ia menghindari lorong ujung, menghindari kantin lantai dua, dan hanya bicara dengan Ethan ketika ada pekerjaan. Ethan, seolah mengerti, juga menahan jarak. Mereka bicara tentang arsip, tentang jadwal konten, tentang hal-hal yang tidak memiliki rasa apa pun. Tetapi di sela-selanya, Claire tetap menangkap hal-hal kecil, cara Ethan menyebutkan halaman dokumen yang harus ia periksa sebelum Claire sempat bertanya, cara ia menyiapkan satu kursi tambahan di ruangannya untuk sesi kerja bersama, seolah sudah tahu Claire lebih suka duduk di sisi yang jauh dari pintu. Hal-hal kecil itu tidak berbahaya sendirian. Digabungkan, mereka menjadi pola. Dan pola, Claire tahu, adalah hal yang paling sulit disembunyikan.

Menjelang sore, Ethan mengumpulkan tim untuk pengumuman.

"Minggu depan, LUMIÈRE mengadakan acara internal untuk ulang tahun keenam puluh," katanya, berdiri di depan papan tulis. "Bukan acara besar, tapi keluarga akan hadir. Direktur, komisaris, pemegang saham keluarga. Tim kita diminta menyiapkan konsep kampanye Warisan untuk dipresentasikan di sana."

Claire merasakan Mia menoleh ke arahnya, tapi ia tidak menoleh balik. Di mejanya, tangan Claire diam di atas buku.

"Yang hadir keluarga Callahan?" tanya salah satu anggota tim.

"Sebagian besar," jawab Ethan. "Kakekku sendiri yang akan membuka acara."

Ia mengatakan itu dengan datar, seperti sedang membaca jadwal rapat, tetapi Claire tidak melewatkan satu detail pun, garis di rahangnya menegang, dan pandangannya sekilas menyentuh meja Claire sebelum kembali ke papan tulis. Claire menatap lurus ke depan. Ia sudah belajar bahwa kalau ia menoleh sekarang, ia akan menoleh pada saat yang salah.

Setelah rapat, ketika semua orang sudah pergi, Ethan menahan Claire sebentar. Ia berdiri di ambang pintu ruangannya dan Claire berdiri di sebelah kursi yang ia duduki, menjaga jarak dua langkah di antara mereka.

"Kamu tidak harus datang," katanya.

Claire menatapnya. "Aku bagian dari tim ini. Aku yang mengurus arsip."

"Itu tidak wajib membuatmu duduk di ruangan itu." Ethan menimbang kata-katanya. "Keluargaku... mereka bukan orang yang mudah. Dan Kakekku sangat memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah perusahaan. Ini topik yang sensitif. Aku tidak mau kamu terjebak di tengah percakapan yang bukan urusanmu."

"Aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Aku tahu." Ethan menatapnya, dan suaranya turun. "Itu bukan yang aku khawatirkan."

Claire ingin menanyakan apa yang sebenarnya ia khawatirkan, tetapi Ethan menambahkan lebih dulu, dengan suara yang lebih rendah lagi, hampir seperti bisikan yang ditujukan hanya pada lantai di antara mereka, "Kalau kamu datang, duduk di dekatku. Jangan biarkan siapa pun menarikmu bicara sendirian."

Claire tidak langsung menjawab. Peringatan kedua dalam dua minggu terakhir. Kalau yang pertama, di kafe itu, terasa seperti ketakutan, yang kedua terasa seperti sesuatu yang sudah lama direncanakan oleh orang lain, dan Ethan hanya sempat memperingatkannya.

"Apa kamu akan menjelaskan kenapa?" tanyanya.

Ethan menatapnya lama, lalu menggeleng pelan. "Belum."

Claire menarik napas, mengambil tasnya, dan berjalan keluar dari ruangan itu tanpa berkata apa-apa lagi. Di dalam hatinya, sesuatu mulai berubah bentuk, bukan kemarahan, bukan kepercayaan, tetapi semacam tekad yang dingin dan tenang. Jika Ethan tidak mau menjelaskan siapa yang harus ia waspadai, maka Claire akan mencarinya sendiri.

Dan malam itu, ketika ia membuka ponselnya sebelum tidur, di bawah cahaya lampu kamar yang redup, ia menemukan satu pesan baru dari nomor yang belum pernah ia lihat. Pesannya pendek, sopan, dan membuat udara kamar terasa lebih dingin.

"Selamat malam, Claire. Namaku Adrian Callahan. Aku sepupu Ethan. Aku tidak ingin mengganggu, tapi aku pikir kita perlu bicara tentang sesuatu yang Ethan mungkin belum ceritakan padamu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 15

    Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 14

    Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 13

    Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 12

    Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 11

    Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 10

    Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status