Share

Part 7

Author: Umi Kulsum
last update publish date: 2026-09-25 16:44:16

Claire berbalik cepat, dan karena itu ia hampir bertabrakan dengan Ethan yang ternyata berdiri lebih dekat dari yang ia bayangkan. Ia bergeser, mengucapkan sesuatu yang tidak jelas, dan Ethan mundur setengah langkah, tetapi tidak pergi. Matanya tetap pada layar di depan Claire, pada foto hitam-putih jam antik yang baru saja membuat lantai di bawah kaki Claire terasa miring.

"Kenangan," katanya, membaca nama folder itu. Suaranya datar, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang menahan. "Aku lupa folder ini masih ada."

"Kamu pernah membukanya?"

"Beberapa kali." Ethan menarik kursi di dekatnya dan duduk, bukan di seberang meja, tetapi di sebelah, cukup dekat untuk melihat layar yang sama. Claire merasa ruangan itu kehilangan udara. "Foto itu diambil jauh sebelum aku lahir. Di rumah lama keluargaku. Jam itu masih di sana sampai sekarang."

"Masih di sana?"

"Di ruang kerja Kakek." Ethan menatap foto itu, dan untuk sesaat ekspresinya melunak, bukan hangat, tetapi seperti permukaan air yang tenang sesaat sebelum batu dilempar. "Dia tidak pernah memindahkannya setelah aku kembalikan karena jam itu rusak. Katanya jam itu harus tetap di tempat yang sama seperti waktu diperoleh."

Claire ingin bertanya lebih banyak, tentang siapa yang memotret, tentang siapa yang menulis kalimat itu, tentang mengapa jam yang pernah ia pecahkan masih berdiri di rumah keluarga Callahan seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi ia menahan diri. Setiap kali ia membuka topik itu, Ethan punya kebiasaan menutupnya kembali dengan sopan, seperti pintu yang ditarik pelan, dan Claire lelah menabrak pintu yang sama.

Ia kembali bekerja. Lantai dua belas malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya, dengan lampu-lampu yang mulai diredupkan dan bau kertas tua dari tumpukan berkas yang menempel di hidung. Ethan tetap di sisinya, membuka berkas lain, dan untuk beberapa jam mereka tenggelam dalam kesunyian yang bukan canggung sepenuhnya, semacam gencatan senjata kecil di tengah perang yang belum selesai.

Claire sempat melirik sekali. Hanya sekali. Cukup untuk melihat cara Ethan menandai halaman dengan ujung jari, cara ia mencoret sesuatu di margin dengan pena yang selalu ia pegang di tangan kiri, cara ia mengerutkan dahi pada satu paragraf dan membaca ulang tiga kali sebelum pindah. Tiga tahun lalu, ia suka menonton lelaki ini ketika mengerjakan tugas kuliah. Ia pikir kebiasaan itu sudah hilang. Ternyata hanya tertidur.

Menjelang jam delapan, ruangan sudah kosong. Mia pulang lebih dulu setelah berpamitan dengan tatapan menggoda yang tidak Claire balas. Dua anggota tim lain menyusul, dan sebentar kemudian tinggal lampu meja mereka yang tersisa, dua lingkaran cahaya kuning di atas meja yang berantakan oleh berkas. Claire tidak menyadari betapa lelahnya ia sampai ia menggosok matanya untuk ketiga kalinya.

"Matamu lelah," kata Ethan tanpa menoleh. "Kamu biasanya berhenti membaca kalau sudah menggosok mata lebih dari tiga kali."

Claire menurunkan tangannya dari wajah, terkejut. Ia memang baru melakukannya, untuk ketiga kalinya.

"Kamu masih mengingat hal itu," katanya, dan ia tidak bermaksud mengatakannya keras.

Ethan tidak menjawab segera. Ia menutup berkas di depannya dan bersandar di kursi, dan untuk beberapa detik wajahnya tampak seperti wajah seseorang yang baru saja melewati batas yang ia janjikan pada diri sendiri agar tidak dilewati. "Aku mengingat banyak hal," katanya akhirnya, pelan. "Terlalu banyak, mungkin."

Kalimat itu jatuh di antara mereka, dan Claire tidak tahu harus berbuat apa. Ia memilih fokus kembali ke layar, tetapi jari-jarinya berhenti di keyboard. Di dalam kepalanya, dua kalimat berkelahi: satu mengatakan untuk menjauh, satu lagi, yang lebih kecil, yang ia benci, mengatakan untuk bertanya apa saja yang lelaki ini ingat.

Lambungnya memprotes kelaparan, suara yang cukup jelas di ruangan sesunyi itu. Claire membeku, dan wajahnya memanas. Ethan, tanpa berkata apa-apa, membuka laci meja dan mengeluarkan sekotak biskuit kecil.

"Kamu masih memakan biskuit itu?" Claire menatap biskuit itu. Merek yang sama. Rasa yang sama seperti yang biasa mereka makan dulu, ketika uang mereka tipis dan Ethan selalu membawa satu kotak di tasnya "untuk keadaan darurat". Ia menatap Ethan. "Keadaan daruratmu belum berubah, ya."

"Sekarang untuk alasan lain," kata Ethan, mendorong kotak itu ke arahnya. "Lebih sering untuk menemani orang yang lembur."

Ujung jari mereka bersentuhan sepersekian detik ketika Claire menerima kotak itu. Keduanya menarik tangan hampir bersamaan, terlalu cepat untuk disebut kebetulan, dan untuk sesaat ruangan itu terasa lebih sempit dari yang seharusnya. Claire mengalihkan pandangan ke biskuit, tetapi ia tetap merasakan hangat di ujung jarinya, dan ia membenci bahwa tubuhnya masih mengingat.

"Kamu masih ingat aku suka yang ini," katanya, tanpa berpikir.

"Sayangnya, ya."

"Sayangnya kenapa?"

Ethan menatapnya. "Karena mengingat hal-hal tentangmu tidak pernah membantu aku melupakanmu."

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang berat, dan Claire memutuskan bahwa ia tidak akan menanggapinya. Ia mengambil satu, menggigitnya, dan berusaha tidak memikirkan betapa mudahnya percakapan ini, betapa, selama lima menit terakhir, ia lupa bahwa lelaki di sebelahnya adalah orang yang menghilang dari hidupnya tanpa penjelasan. Ia menegakkan punggung, mengingat dirinya sendiri.

"Terima kasih," katanya, lebih dingin dari yang ia inginkan.

Ethan menyadari perubahan itu. Sesuatu di wajahnya menutup lagi, seperti tirai yang ditarik. Ia kembali ke berkasnya, dan suasana di ruangan itu menegang lagi, lebih tegang dari sebelumnya, karena kini keduanya tahu ada sesuatu yang hampir terucap dan sengaja ditahan.

Pukul sembilan, ponsel Ethan bergetar di atas meja. Ia meliriknya, dan wajahnya berubah seperti di kafe: waspada, tertutup, seperti orang yang menutup pintu di dalam rumahnya sendiri. Ia berdiri.

"Aku terima ini sebentar."

Ia keluar ke lorong, tetapi pintu kaca itu tidak sepenuhnya tertutup. Claire tidak berniat menguping. Ia benar-benar tidak berniat. Tetapi ruangan itu sunyi, dan lorong itu kosong, dan suara Ethan terbawa masuk walau ia bicara pelan.

"…sudah kubilang, jangan libatkan dia." Jeda, dan Claire mendengar napas yang ditarik panjang. "Kakek, jam itu sudah lama selesai. Aku tidak ingin membahasnya lagi."

Claire berhenti mengunyah.

"Bukan soal uang. Bukan soal jam. Kau tahu itu." Suara Ethan turun, nyaris tidak terdengar, tetapi setiap kata kini jatuh di telinga Claire dengan jelas. "Kalau Paman ikut campur lagi soal arsip, aku akan urus sendiri. Aku tidak akan datang ke rumah untuk membahas ini."

Lalu hening. Claire mendengar langkah kaki mendekat, dan ia buru-buru menunduk ke layar, jantungnya berdetak terlalu cepat. Ketika Ethan kembali masuk, wajahnya sudah netral lagi, tetapi ada ketegangan di bahunya yang tidak bisa ia sembunyikan, garis lurus yang membuat Claire tahu bahwa panggilan itu bukan panggilan biasa.

"Maaf," katanya singkat. "Kamu boleh pulang. Sisanya besok."

Claire menutup laptop dan merapikan berkas tanpa bertanya. Ia menyimpan kotak biskuit itu di dalam tasnya, karena ia tidak tega meninggalkannya di meja, lalu berjalan ke pintu. Tetapi ketika ia mengangkat tasnya, ia menoleh sekali lagi ke layar yang belum ia matikan. Foto hitam-putih itu masih di sana. Jam itu masih utuh, dengan pendulum yang bersinar walau dalam cahaya pudar, dan tulisan di bawahnya yang kini terasa berbeda di kepalanya.

"Awal dari segalanya."

Dan untuk pertama kalinya Claire bertanya-tanya apakah kalimat itu tidak ditulis tentang jam sama sekali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 15

    Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 14

    Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 13

    Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 12

    Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 11

    Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 10

    Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status