LOGINClaire menatap pesan itu hampir sepuluh menit tanpa membalas. Ia bisa merasakan bahwa ini bukan kebetulan. Peringatan Ethan baru kemarin, dan hari ini seseorang dari keluarganya menghubunginya langsung, bukan lewat kantor, bukan lewat pertemuan resmi, tetapi lewat pesan pribadi pada malam hari.
Ia menaruh ponselnya telungkup, lalu mengambilnya lagi. Akhirnya ia menulis satu balasan singkat, "Anda siapa?" Jawabannya datang cepat. "Aku sepupu Ethan. Anak dari adik ayahnya. Aku juga akan hadir di acara ulang tahun LUMIÈRE minggu depan. Kalau kamu tidak keberatan, mungkin kita bisa berkenalan sebentar di sana." Claire tidak membalas malam itu. Ia menyimpan nama itu di kepalanya dan berjanji akan memberitahu Ethan. Entah kenapa, ia merasa penting untuk tidak menyembunyikannya. Namun sebelum ia sempat, acara itu datang lebih cepat dari yang ia duga. Aula acara LUMIÈRE dihias sederhana, lampu hangat, warna netral, dan di dinding-dindingnya dipasang foto lama perusahaan dalam bingkai besar. Claire berjalan melewati salah satunya dan berhenti. Di situ ada foto toko pertama LUMIÈRE, jauh di tahun-tahun awal, dengan tulisan tangan di bawahnya yang sama-sama menguning seperti foto di arsip itu. Seluruh pimpinan hadir. Claire melihat Alexander Callahan dari jauh, seorang lelaki yang lebih kecil dari bayangannya di berita, dengan punggung tegak dan mata yang memindai ruangan seperti sedang menghitung. Di sebelahnya ada seorang perempuan yang tidak ia kenal, elegan dalam setelan gelap, dengan senyum tipis yang tidak pernah benar-benar mencapai matanya. Claire tidak tahu mengapa, tetapi perempuan itu mengingatkannya pada sesuatu yang dingin dan rapi. Ethan berdiri di depan, mempresentasikan konsep kampanye Warisan dengan tenang. Suaranya mantap, dan Claire, yang diam-diam berdiri di barisan belakang tim, mendapati dirinya mengikuti setiap kata. Di tengah presentasi, pandangan Ethan menyapu ruangan dan berhenti sepersekian detik pada Claire, lalu melanjutkan. Ketika presentasi selesai, tepuk tangan mengisi ruangan, dan Claire menghela napas lega. Ia sedang berbalik untuk mengambil minum ketika seseorang muncul di sampingnya. "Hai. Kamu Claire Bennett, kan?" Lelaki itu seusia awal tiga puluh, mengenakan jas abu-abu yang jatuh sempurna di bahunya, dengan senyum yang tenang dan sopan. Ia tidak terburu-buru, tidak mencondongkan badan, tidak memberi tekanan apa pun, dan justru itu yang membuat Claire waspada. "Adrian Callahan," katanya, menyodorkan tangan. "Aku mengirimmu pesan kemarin. Maaf kalau agak lancang." Claire menerima tangannya dengan hati-hati. "Hadir di acara perusahaan itu satu hal. Mengirim pesan pribadi ke orang yang belum kamu kenal itu hal lain." Adrian tertawa pelan, tidak terlihat tersinggung. "Adil. Aku memang sering terlalu langsung. Salahku." Ia menurunkan tangannya. "Tapi jujur saja, aku mengirim pesan karena aku penasaran." "Penasaran kenapa?" "Karena Ethan tidak pernah membawa siapa pun ke acara keluarga." Adrian memandang ruangan, lalu kembali ke Claire. "Kecuali sekali, beberapa tahun lalu. Waktu itu aku kebetulan melihatnya di sebuah kafe dekat kampus. Dia bersama seseorang, dan dia kelihatan bahagia. Dia tidak tahu aku ada di sana." Claire merasakan tanah di bawah kakinya bergeser pelan. Ia tahu apa yang akan dikatakan Adrian sebelum lelaki itu mengatakannya, dan ia tidak tahu apakah ia siap mendengarnya. "Aku cuma ingin tahu apakah orang itu kamu," lanjut Adrian, dengan nada yang begitu santun sampai sulit dibantah. "Dan kalau memang kamu, aku pikir ada hal-hal yang sebaiknya kamu tahu. Karena Ethan..." Ia berhenti, mengangkat bahu pelan. "Dia punya kebiasaan memutuskan sesuatu untuk orang lain tanpa memberi mereka pilihan. Bukan karena dia jahat. Justru karena dia terlalu berhati-hati." Claire menegakkan punggung. "Kalau kamu punya sesuatu untuk aku tahu, katakan sekarang." Adrian menatapnya, dan untuk sesaat, senyum sopan di wajahnya menghilang. Lalu ia kembali tersenyum. "Tidak di sini. Terlalu banyak mata." Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyelipkannya ke tangan Claire dengan gerakan yang tidak menarik perhatian siapa pun. "Kalau kamu mau tahu, aku bisa menjelaskan. Tapi aku tidak memaksa." Sebelum Claire bisa menjawab, sebuah suara memotong dari belakang. "Adrian." Keduanya menoleh. Ethan berdiri beberapa langkah dari mereka, dengan wajah yang tenang tetapi bahu yang terlalu tegang. Ia melirik kartu nama di tangan Claire, lalu menatap sepupunya. "Tidak biasanya kamu datang ke acara seperti ini," kata Ethan, dan meskipun nadanya sopan, ada sesuatu di bawahnya yang dingin. "Apa Paman juga datang?" "Belum. Ayah sedang di luar kota." Adrian tersenyum tenang. "Aku cuma ingin menyapa kerabat. Lama tidak bertemu." "Mhm." Ethan tidak berkata lagi. Ia menoleh ke Claire. "Sudah waktunya tim beres-beres. Aku butuh bantuanmu di belakang." Claire mengangguk dan mengikuti Ethan, tetapi ketika ia berjalan melewati Adrian, lelaki itu menundukkan kepala sedikit, sopan, hampir hormat, dan berkata pelan, hanya untuk telinganya. "Sampai jumpa, Claire. Kita belum selesai bicara." Claire tidak menoleh. Tetapi sepanjang malam itu, satu kalimat Adrian terus berputar di kepalanya, lebih mengganggu dari semua yang pernah dikatakan Ethan. Waktu itu aku kebetulan melihatnya di sebuah kafe dekat kampus. Kafe dekat kampus. Tiga tahun lalu. Tempat itu lima belas menit dari apartemen lamanya. Dan sejauh yang Claire ingat, selama tiga tahun berpacaran, tidak sekali pun Ethan pernah mengajaknya ke kafe itu.Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai
Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun
Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per
Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg
Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1
Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua







