LOGIN"Pegangan" ucap Winanta begitu kami udah di motor dan siap melaju. Tapi tentu aja gue gak mau dong pegangan sama Winanta.. apalagi peluk. Brrrmmm Winanta melajukan motornya tanpa kecepatan perlahan.. jadinya gue hampir aja terlempar. Dan karena itu juga gue jadi gak sengaja mepet dan hampir meluk dia. "Ih..!" ketus gue sambil agak mundur dan pegangan pada besi motor bagian belakang. "Makanya gue bilang pegangan" ucap Winanta dengan santainya. Lumayan jauh dari sekolah, kami udah sampai ke tempat anak-anak pada kumpul. Sebuah tanah lapang yang bebas di pakai umum, dekat daerah jejeran ruko yang masih banyak kosong. Beberapa dari mereka ada yang ngeliat gue dan Winanta yang baru sampai. Pasti mereka gak nyangka kalau kami bisa bareng. "Yo! Winanta!" seru Alvin yang udah lebih dulu gambung sama anak-anak lain. Dia udah lumayan di corat-coret seragamnya. "Ciee bareng mantan nih yeee" gurau Alvin begitu menghampiri kami. Belum sempat gue balas omongannya, si Alvin langsu
Kami yang udah siap acara kelulusan, di perbolehkan pulang. Tapi tentu gak langsung pulang ke rumah dong. Dimana ada hari kelulusan, pasti ada Pilox. Sekarang temen-temen pada ribut mau semprot Pilox dimana. Bahkan ada beberapa yang udah sedia Pilox. Semuanya pada sibuk siap-siap keluar kelas. Gue termenung, Keinget kalau dari dulu gue dan Winanta nunggu-nunggu hari ini. "Van, Lo ikut anak-anak lain gak? mereka pada mau semprot Pilox. Gue enggak sih, mau pulang aja" ucap Kayla. "Oh.. yaudah, bareng kalau gitu. Gue juga gak ikutan kok" Omong-omong gue belum liat Winanta di kelas. Dimana yah dia? Alvin juga gak ada. "Kay, omong-omong Alvin mana? Kok gak heboh dia ngajak kita perpisahan?" Tanya gue sambil berdiri, siap-siap mau pulang. "Paling di kantin" jawab Kayla. "Eh, Lo kok tumben banget kecarian Alvin?" tanya Kayla tiba-tiba. Astaga.. dia gak mungkin curiga kan kalau maksud gue, gue kecarian Winanta?. "Yaudah sih cuma asal nanya gitu aja lo Heboh" elak gue.
"A-astaga.." batin gue. Kayla menoleh ke arah rapor gue setelah liat gue yang melongo liat nilai. "Ya ampun van!" respon Kayla. "Elo-" "Kenapa Kay? Dapat ranking berapa dia?" tanya Alvin memotong ucapan Kayla, tapi keburu buk Dewi memperintahkan kami untuk segera berkumpul di aula. "Sudah selesai kan liat rapor nya? Sekarang ayo kita gabung sama yang lain di aula. Jangan sampai mereka nunggu kita." ucap Buk Dewi dan langsung berdiri. "Baik bu!" Seru kami semua dan menyimpan rapor di tas, segera mengikuti buk Dewi. Ini adalah saatnya. Saat dimana Winanta jadi tontonan para guru dan murid. Bahkan ada beberapa orang dari kantin yang melihat momen ini. Jadi jelas kalau seluruh orang di sekolah tau bahwa Winanta si jenius adalah kebanggaan sekolah. Dan pastinya mereka juga tau kalau gue pacarnya Winanta. Entah mereka semua udah pada tau atau belum kalau kami udah putus. Karena seingat gue gak ada yang terlalu kepo untuk nanya hal itu, saat ngeliat kami jarang bareng lagi.
"Cieee gak punya temen. Kasian nyaa menyendirii" goda Alvin begitu melewati bangku gue. Mereka semua pada mau keluar main. Ada juga yang masih duduk di kelas, termasuk gue. "Gue lempar sepatu baru tau rasa lo!" ucap gue seraya bersiap membuka sepatu, walau cuma pura-pura. "Wkwkwk di ajak gabung sama kita ke kantin gak mau lo" ledeknya lagi, mengingat tadi sebelum bel masuk Alvin ada chat ngajak ke kantin dan gue tolak mentah-mentah. Jelas-jelas gue dan Winanta mantan, masa makan bareng. Iya kalo mantan yang baik dan putus secara damai. Lah ini? Mantan terburuk yang pernah ada. "Berisik! Gue bisa ke kantin sendiri!" ucap gue agak kuat karena mereka udah dekat pintu. "Hahaha iya deh iyaa" balas Alvin yang juga sama kuatnya. Winanta kok diem aja? Gue juga gak tau. Baru kali ini dia kayak orang bego. Eh, tapi... gue sempat ngelirik ke arah mukanya. Tau gak? Ekspresi muka nya tuh sulit di artikan. Dia kayak lagi mikirin sesuatu. Tapi yaudahlah. Mau dia punya masalah
Kini mereka udah duduk di warung jajan yang enggak ramai orang lalu lalang, setelah tadi Farez menolong Dilla membelikan bensin. Farez beli bensin nya tepat di warung ini. Warung yang menjual beberapa jenis rokok, jajan, minuman dan juga bensin. "Coba lo ulang lagi, apa yang lo bilang tadi. Ceritain selengkapnya!" "Jadi malam itu waktu kita papasan, aku habis beli buket bunga untuk nembak Vanessa. Awalnya waktu liat kamu yang jalan sambil nangis aku agak kasihan.. tapi begitu dengar teman kamu nyebut Winanta, aku langsung berpikir kalau justru kamu lah yang bikin hubungan Vanessa dan Winanta hancur-" "Eh!! Lo jangan asal nuduh ya! Lo kan gak tau cerita aslinya!" Potong Dilla dengan sedikit berteriak. "Apapun itu, tetap kamu juga salah!" ucap Farez. "Wah enak aja lo-!!" "Udah diem, katanya mau cerita yang lengkap." potong Farez. Dilla pun menurutinya. "Terus begitu aku sampai di sana, aku ada liat Winanta dan Vanesaa yang basah kuyup- tunggu.. jangan-jangan kamu ya yan
"Yaudah tante, Farez izin pulang-" "Ehh tunggu, tunggu!. masa main pulang gitu aja. udah nerima martabak, tapi belum tau kalian habis darimana dengan waktu sesingkat ini." Mampus gue! Padahal gue udah siapin jawaban kalau mama nanya, tapi malah nanya Farez. Mana gue belum bilang Farez lagi.. soal pertemuan gue dan Papa rahasia. "Kami gak darimana-mana kok tante." Farez memberikan jawaban. "Eh??" batin gue. "Tadi emang katanya Vanessa lagi mau makan martabak. Udah lama gak beli katanya." ucap Farez lagi yang udah pasti bohong. "Hah? Loh??" gue tambah bingung. "Oh.. yaudah." respon Mama gue. "Ma, mama masuk duluan aja. Makan martabaknya. Ada yang mau Vanes omongin sama Farez." "Mau ngomong apa kalian?" "Iiih.. Mama kepo." Tanpa sahutan lagi, Mama langsung masuk. Tapi sebelum itu, Farez pamit lagi ke Mama, "Farez pamit ya tante" dan di 'iya' kan Mama. "Eh, elo kok bisa lancar sih bohongnya?" gue sedikit melankan suara. "Yah logika aja sih. Aku gak ada mikir