Home / Rumah Tangga / Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi / Bab 271: Aku Sendiri yang Jadi Ratu

Share

Bab 271: Aku Sendiri yang Jadi Ratu

Author: Rizki Adinda
last update Last Updated: 2025-08-24 07:34:17

“Bisa nggak sih ngomong yang bener?” Nadira mendelik sambil menatap tajam, alisnya sedikit berkerut.

Nada suaranya tak meninggi, tapi ada ketegasan yang tak bisa diabaikan.

Dengan nada tenang tapi sedikit geli, ia menjawab, “Ada anak muda yang takut aku kedinginan, jadi dia pinjamin jaketnya. Nanti juga aku balikin, kok.”

Tangannya mulai bergerak, melepas jaket tebal berwarna abu-abu tua yang terasa masih hangat oleh tubuh orang lain.

Aromanya samar-samar bercampur antara parfum kayu dan udara malam.

Begitu jaket itu dilepas, Nadira menyerahkannya pada Mbak Sri, pembantu rumah tangga yang sudah seperti keluarga sendiri.

“Mbak, tolong cuci keringkan ini besok, ya. Jangan sampai bau apek,” katanya sambil tersenyum kecil.

Tara, yang sedari tadi menyender di kusen pintu dapur, mengangkat satu alis penuh curiga. “Anak muda?” Ulangnya dengan nada memancing.

“Sejak kapan kamu dekat sama anak muda? Kok aku nggak tahu, ya?”

Matan

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 330: Tahun Keledai

    Begitu langkah Nadira terdengar dari lorong, keributan yang sebelumnya mendominasi ruangan itu meredup dalam sekejap, seolah udara pun menahan napasnya.Bayangan tubuhnya muncul di balik pintu yang terbuka pelan, disusul beberapa pria berbaju hitam yang berjalan tegap di belakangnya.Seperti iring-iringan yang menyertai seorang jenderal pulang dari medan perang, kehadiran mereka menciptakan tekanan tak terlihat yang membuat siapa pun di dalam ruangan menegakkan punggung secara refleks."Bu Wulandaru!"Sapaan itu terdengar serempak, tapi di balik kekompakan suara mereka tersembunyi nada lega dan nyaris putus asa.Dalam hati, semua menggumam hal yang sama, "Akhirnya penyelamat kita datang juga."Nadira tidak banyak bicara. Ia hanya menatap sekeliling dengan tenang, lalu melangkah masuk, seolah menguasai medan tanpa perlu bicara lantang.Sorot matanya tajam, tapi tak membakar; lebih seperti pisau bedah—dingin, tepat sasaran.

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 329: Jangan Ambil Peran Itu

    Hadi terbangun tiba-tiba, seperti ditarik dari mimpi buruk yang tak sempat ia ingat utuh. Keringat dingin menempel di tubuhnya, membasahi leher dan bagian belakang bajunya.Kamar tempat ia tidur gelap, hanya disinari bayangan samar dari lampu taman luar jendela. Di dalam dada, rasa tak nyaman menjalar, seperti ada ribuan semut menggigiti jantungnya.Gelisah. Gatal yang tak bisa dijangkau tangan, perih yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Ia duduk, memegangi kepala. Pikirannya penuh, tapi tak satu pun pikiran itu bisa ia pegang dengan jelas.Wajah Nadira terlintas, dingin seperti batu, tatapannya menyimpan sesuatu yang tak bisa ditebak. Apa yang sedang ia rencanakan?Hadi tak tahu. Tapi yang pasti, ketakutan diam-diam sudah tumbuh liar dalam dirinya. Ia takut semua yang telah ia upayakan, semua reputasi dan harapan yang ia kumpulkan perlahan, akan runtuh seketika.Seperti menara dari kartu, rapuh, ringkih, tinggal menunggu satu tiupan k

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 328: Kedok yang Terkelupas

    “Itu urusanmu?”Nadira tidak menjawab. Ia hanya menendang handuk bekas mandi ke dalam kamar mandi hotel, gerakannya cepat, seperti ingin segera menghapus keberadaan Mahesa dari ruang itu.Tanpa menoleh, ia memanggil petugas keamanan dari balik pintu, suaranya tenang tapi tajam, memerintahkan agar petugas kebersihan diizinkan masuk.Tangannya menggenggam kenop pintu, siap menutupnya.“Tunggu.”Sebuah tangan menahan daun pintu dari menutup rapat. Mahesa berdiri di ambang, tubuhnya sedikit condong ke depan, napasnya pendek.Pandangannya mengamati Nadira dari atas ke bawah. Kali ini, tanpa tergesa atau prejudis. Baru ia sadari, perempuan di hadapannya itu tidak seperti bayangannya semula.Riasan tipis menghias wajahnya, rambutnya tersisir rapi, dan mata yang tak menyiratkan rasa bersalah sedikit pun.“Aku terburu-buru tadi,” ucap Mahesa, nadanya pelan, nyaris seperti bisikan. “Aku terlalu emosi. Aku tahu kamu bukan tipe perempuan s

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 327: Seperti Arwah Penasaran

    “Aku mundur karena latihannya terlalu berat, kondisi keluarga juga kurang mendukung. Tubuhku... ya, sepertinya nggak siap. Terus kebetulan ada kesempatan masuk dunia hiburan,” ujarnya pelan, ragu-ragu, seolah sedang mengulang kalimat yang pernah dihafal tapi kini terdengar asing di telinganya sendiri.Itu jawaban yang sudah dipoles rapi oleh tim manajemen sejak lama. Narasi aman. Tapi karena jarang dihadapkan langsung pada pertanyaan semacam itu, ia sendiri nyaris lupa urutannya.Kata-kata itu keluar seperti rekaman lama yang diputar ulang, tanpa semangat.Namun Nadira tak seperti pewawancara biasa. Tatapannya tajam, suaranya datar tapi sarat makna. Ia mengucapkan kalimat selanjutnya dengan ketenangan yang justru membuat udara di ruangan makin terasa pengap.“Padahal ayahmu punya pabrik, ibumu jalankan usaha sendiri, dan kamu anak tunggal. Kondisi keluarga kamu nggak bisa dibilang kekurangan. Lagi pula, pelatih nasional pernah undang kamu ikut pelatnas. T

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 326: Di Luar Dugaan

    Malam itu basah dan dingin, angin menyelinap di antara celah lorong apartemen yang sepi. Aroma logam dari hujan yang baru turun masih menggantung di udara, menyusup lembut ke pori-pori jaket Hadi yang telah menyerap embun sejak beberapa menit lalu.Ia berdiri kaku di depan pintu bernomor 11A, satu tangan mengepal, satu lagi gemetar ringan di sisi tubuh.Jantungnya berdetak seperti ketukan rap yang tak teratur, menghantam dinding dadanya dengan ritme cemas.Hadi menarik napas pelan. Ini bukan waktunya mengeluh soal kenyamanan, karena sejak awal, dunia yang ia pilih tidak pernah berjanji ramah.Dunia hiburan, seperti pasar malam penuh cahaya, tampak menggoda dari jauh, tapi di balik gemerlapnya, selalu ada lubang-lubang gelap yang menanti menelan siapa pun yang lengah.Di industri ini, hanya yang berani melompat ke dalam kobaran api yang bisa keluar membawa mahkota.Mereka yang duduk di singgasana atas umumnya bukan orang biasa; temperamental,

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 325: Takdir Kedua

    Mobil terus berguncang hebat, seolah menyusuri gelombang tak kasatmata di jalanan berbatu yang licin selepas hujan.Pohon-pohon tropis di tepi jalan membentuk bayang-bayang liar di kaca depan, sementara lampu jalan yang redup menari-nari di permukaan dasbor.Suara mesin meraung, suspensi mengeluh, dan Mahesa merasakan perutnya mulai teraduk.“Berhenti,” ucapnya lirih, tapi tegas. “Biar aku yang nyetir.”Rafael menoleh cepat. Sorot matanya bertanya lebih banyak dari bibir yang tak terbuka, Serius nih?Ia tahu siapa Mahesa Pradana. Semua orang yang bekerja dengannya tahu. Dan tahu pula, bahwa pria itu pernah mengalami kecelakaan brutal di masa lalu, begitu parah sampai keluarganya sempat mencabut surat izin mengemudinya.Bahkan, selama bertahun-tahun, Mahesa tak pernah lagi menyentuh kemudi, seolah trauma itu memaku tangannya.Tapi entah bagaimana, SIM itu kini kembali di tangannya, dan… mungkin juga keberanian itu ikut kembali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status