Share

Bab 323: Mengajarkan Rasa

Author: Rizki Adinda
last update Last Updated: 2025-08-29 09:48:20

Tapi… kenyataannya, dia ke Bali demi Ghani.

Pikiran itu terus-menerus menggelayuti benak Mahesa, seperti kabut pagi yang enggan sirna meski matahari sudah tinggi.

Apa Nadira benar-benar sudah berubah arah hatinya?

Ia menatap lurus ke depan, namun pandangannya tak benar-benar menangkap apa pun. Dadanya sesak oleh bayangan-bayangan yang tak bisa dijelaskan.

Semakin dipikir, semakin tak tenang. Jari-jarinya menggenggam lengan kursi kerja, lalu melepaskannya pelan seolah sedang menahan sesuatu yang mendesak keluar.

“Aku mau kamu pesenin tiket paling cepat ke Bali,” ucapnya, nada suaranya padat, nyaris tanpa emosi.

“Cahyo biar nyusul, beli tiket sendiri.”

Rafael menatap layar ponsel sambil bicara pelan, setengah hati, “Masih mau kerja sama sama Bu Mardhiyah?”

Mahesa melirik, dingin. “Menurut kamu aku tipe orang yang gampang nyerah?”

Nada bicaranya seolah lebih dari sekadar menjawab. Itu pengakuan. Pernyataan perang. “Selama m

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 325: Takdir Kedua

    Mobil terus berguncang hebat, seolah menyusuri gelombang tak kasatmata di jalanan berbatu yang licin selepas hujan.Pohon-pohon tropis di tepi jalan membentuk bayang-bayang liar di kaca depan, sementara lampu jalan yang redup menari-nari di permukaan dasbor.Suara mesin meraung, suspensi mengeluh, dan Mahesa merasakan perutnya mulai teraduk.“Berhenti,” ucapnya lirih, tapi tegas. “Biar aku yang nyetir.”Rafael menoleh cepat. Sorot matanya bertanya lebih banyak dari bibir yang tak terbuka, Serius nih?Ia tahu siapa Mahesa Pradana. Semua orang yang bekerja dengannya tahu. Dan tahu pula, bahwa pria itu pernah mengalami kecelakaan brutal di masa lalu, begitu parah sampai keluarganya sempat mencabut surat izin mengemudinya.Bahkan, selama bertahun-tahun, Mahesa tak pernah lagi menyentuh kemudi, seolah trauma itu memaku tangannya.Tapi entah bagaimana, SIM itu kini kembali di tangannya, dan… mungkin juga keberanian itu ikut kembali

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 324: Jejak Rahasia

    Mata Nadira mendingin seketika, seperti embun pagi yang menggigit tulang. Ia mengangguk, singkat dan tegas, seolah sedang memberi perintah militer.“Ngajarin Hadi? Gak yakin aku bisa,” gumamnya, hampir tanpa nada. “Suruh Trent ambil Hadi dari kamarku. Dua puluh menit lagi.”Danu, yang berdiri agak di belakang, sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Suaranya pelan tapi tegas, seperti bisikan yang membawa beban.“Bu, hati-hati. Jangan sampai masuk perangkapnya.”Nadira menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk cengiran kecil yang tidak menyenangkan.“Aku rasa dia gak sepintar itu.”***Sementara itu, di salah satu ruang rawat VIP Rumah Sakit Bina Sehat di Jakarta Selatan, aroma gurih makanan laut perlahan memenuhi udara.Ruangan itu bersih dan terang, didominasi warna putih dengan sentuhan biru laut di tirai dan taplak meja.Di pojok ruangan, sebuah tanaman monstera berdiri tegak dalam pot putih, memberi kesan sej

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 323: Mengajarkan Rasa

    Tapi… kenyataannya, dia ke Bali demi Ghani.Pikiran itu terus-menerus menggelayuti benak Mahesa, seperti kabut pagi yang enggan sirna meski matahari sudah tinggi.Apa Nadira benar-benar sudah berubah arah hatinya?Ia menatap lurus ke depan, namun pandangannya tak benar-benar menangkap apa pun. Dadanya sesak oleh bayangan-bayangan yang tak bisa dijelaskan.Semakin dipikir, semakin tak tenang. Jari-jarinya menggenggam lengan kursi kerja, lalu melepaskannya pelan seolah sedang menahan sesuatu yang mendesak keluar.“Aku mau kamu pesenin tiket paling cepat ke Bali,” ucapnya, nada suaranya padat, nyaris tanpa emosi.“Cahyo biar nyusul, beli tiket sendiri.”Rafael menatap layar ponsel sambil bicara pelan, setengah hati, “Masih mau kerja sama sama Bu Mardhiyah?”Mahesa melirik, dingin. “Menurut kamu aku tipe orang yang gampang nyerah?”Nada bicaranya seolah lebih dari sekadar menjawab. Itu pengakuan. Pernyataan perang. “Selama m

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 322: Terlalu Indah untuk Nyata

    Usai makan malam, Hadi kembali ke hotel dengan langkah berat namun tenang, seolah tubuhnya berjalan sendiri tanpa perintah dari kepala.Malam di luar lembap, menyisakan embun tipis di bahu jasnya. Bau laut samar-samar terbawa angin, bercampur aroma tanah yang belum lama tersiram hujan.Tapi semua itu segera menguap saat ia memasuki lobi hotel.Ia baru saja hendak naik lift ketika seorang staf menyapanya dengan sopan, menyerahkan kartu akses baru dalam map kulit hitam berlogo emas.“Kamar Anda telah diperbarui, Pak Hadi. Sekarang Anda ditempatkan di Lantai 12, kamar 1203.”Alisnya mengerut. Perubahan kamar? Ia tidak meminta apa-apa. Namun rasa penasaran mendorongnya naik, dan saat pintu kamar mewah itu terbuka, Hadi berdiri di ambang dengan napas terhenti sesaat.Kamar itu lapang, temaram dengan pencahayaan hangat yang memeluk dinding krem dan furnitur kayu beraksen emas tua.Jendela besar menghadap laut malam yang gelap dan berkilau.

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 321: Tanpa Kamu

    Hadi duduk mematung di balik kerumunan kru, wajahnya terpatuk bayangan sendiri. Keringat dingin merembes di pelipis, bukan karena terik siang di Buleleng, tapi karena apa yang baru saja terjadi.Sebagai stuntman, dia harusnya raja dalam adegan aksi, tapi selama ini ia hanya pelengkap, pembungkus luka aktor utama yang tetap bersinar.Hari itu, semua berubah.Adegan itu seharusnya sederhana: karakter Cameron Lawson menarik Dangelo agar selamat dari tembakan, lalu keduanya jatuh berguling dari lereng curam.Bukit itu, dengan semak-semak lebat dan akar-akar pohon tua yang mencuat liar, sudah disiapkan dengan hati-hati, kamera ditempatkan dari sudut dramatis, kabut buatan disemprotkan pelan dari mesin tersembunyi di balik rimbun.Tapi bukan efek visual yang menciptakan ketegangan sore itu, melainkan kenyataan.Ghani, sang pemeran utama, melayang lebih cepat dari yang seharusnya. Hadi menariknya terlalu kuat. Atau, mungkin bukan “terlalu”—mungkin

  • Mantan Suami Memohon Cintaku Lagi   Bab 320: Tatapan yang Membeku

    Nadira berseloroh sambil tertawa miris, "Soalnya ibu saya pikir saya jelek, jadi semua harapan ditaruh ke Gilang."Oman meledak dalam tawa yang nyaring, lepas tanpa beban, seperti seorang sahabat lama yang baru saja dikenang dengan cerita masa kecil."Hahaha! Kamu dulu lucu banget, seperti boneka."Nadira menyipitkan mata, alisnya naik setengah senti, dahi berkerut halus. "Oman..."Nada tegurannya samar, tapi cukup untuk menghentikan tawa Oman. Ia segera meralat, cepat dan penuh senyum."Tentu saja kamu masih lucu sekarang. Cuma... versi yang lebih nyebelin."Tawa mereka meletik lagi, pelan dan lebih hangat. Sejenak, udara di sekeliling terasa ringan, hampir seperti percikan mentari di tengah pagi yang berkabut.Namun suasana itu seketika buyar saat langkah kaki mendekat. Dua sosok muncul dari balik tirai tenda produksi.Hadi dan agennya.Lelaki berjas gelap dengan rambut klimis yang terlalu mengilap itu menyunggingkan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status