Mata Nadira mendingin seketika, seperti embun pagi yang menggigit tulang. Ia mengangguk, singkat dan tegas, seolah sedang memberi perintah militer.
“Ngajarin Hadi? Gak yakin aku bisa,” gumamnya, hampir tanpa nada. “Suruh Trent ambil Hadi dari kamarku. Dua puluh menit lagi.”
Danu, yang berdiri agak di belakang, sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Suaranya pelan tapi tegas, seperti bisikan yang membawa beban.
“Bu, hati-hati. Jangan sampai masuk perangkapnya.”
Nadira menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk cengiran kecil yang tidak menyenangkan.
“Aku rasa dia gak sepintar itu.”
***
Sementara itu, di salah satu ruang rawat VIP Rumah Sakit Bina Sehat di Jakarta Selatan, aroma gurih makanan laut perlahan memenuhi udara.
Ruangan itu bersih dan terang, didominasi warna putih dengan sentuhan biru laut di tirai dan taplak meja.
Di pojok ruangan, sebuah tanaman monstera berdiri tegak dalam pot putih, memberi kesan sej
“Aku mundur karena latihannya terlalu berat, kondisi keluarga juga kurang mendukung. Tubuhku... ya, sepertinya nggak siap. Terus kebetulan ada kesempatan masuk dunia hiburan,” ujarnya pelan, ragu-ragu, seolah sedang mengulang kalimat yang pernah dihafal tapi kini terdengar asing di telinganya sendiri.Itu jawaban yang sudah dipoles rapi oleh tim manajemen sejak lama. Narasi aman. Tapi karena jarang dihadapkan langsung pada pertanyaan semacam itu, ia sendiri nyaris lupa urutannya.Kata-kata itu keluar seperti rekaman lama yang diputar ulang, tanpa semangat.Namun Nadira tak seperti pewawancara biasa. Tatapannya tajam, suaranya datar tapi sarat makna. Ia mengucapkan kalimat selanjutnya dengan ketenangan yang justru membuat udara di ruangan makin terasa pengap.“Padahal ayahmu punya pabrik, ibumu jalankan usaha sendiri, dan kamu anak tunggal. Kondisi keluarga kamu nggak bisa dibilang kekurangan. Lagi pula, pelatih nasional pernah undang kamu ikut pelatnas. T
Malam itu basah dan dingin, angin menyelinap di antara celah lorong apartemen yang sepi. Aroma logam dari hujan yang baru turun masih menggantung di udara, menyusup lembut ke pori-pori jaket Hadi yang telah menyerap embun sejak beberapa menit lalu.Ia berdiri kaku di depan pintu bernomor 11A, satu tangan mengepal, satu lagi gemetar ringan di sisi tubuh.Jantungnya berdetak seperti ketukan rap yang tak teratur, menghantam dinding dadanya dengan ritme cemas.Hadi menarik napas pelan. Ini bukan waktunya mengeluh soal kenyamanan, karena sejak awal, dunia yang ia pilih tidak pernah berjanji ramah.Dunia hiburan, seperti pasar malam penuh cahaya, tampak menggoda dari jauh, tapi di balik gemerlapnya, selalu ada lubang-lubang gelap yang menanti menelan siapa pun yang lengah.Di industri ini, hanya yang berani melompat ke dalam kobaran api yang bisa keluar membawa mahkota.Mereka yang duduk di singgasana atas umumnya bukan orang biasa; temperamental,
Mobil terus berguncang hebat, seolah menyusuri gelombang tak kasatmata di jalanan berbatu yang licin selepas hujan.Pohon-pohon tropis di tepi jalan membentuk bayang-bayang liar di kaca depan, sementara lampu jalan yang redup menari-nari di permukaan dasbor.Suara mesin meraung, suspensi mengeluh, dan Mahesa merasakan perutnya mulai teraduk.“Berhenti,” ucapnya lirih, tapi tegas. “Biar aku yang nyetir.”Rafael menoleh cepat. Sorot matanya bertanya lebih banyak dari bibir yang tak terbuka, Serius nih?Ia tahu siapa Mahesa Pradana. Semua orang yang bekerja dengannya tahu. Dan tahu pula, bahwa pria itu pernah mengalami kecelakaan brutal di masa lalu, begitu parah sampai keluarganya sempat mencabut surat izin mengemudinya.Bahkan, selama bertahun-tahun, Mahesa tak pernah lagi menyentuh kemudi, seolah trauma itu memaku tangannya.Tapi entah bagaimana, SIM itu kini kembali di tangannya, dan… mungkin juga keberanian itu ikut kembali
Mata Nadira mendingin seketika, seperti embun pagi yang menggigit tulang. Ia mengangguk, singkat dan tegas, seolah sedang memberi perintah militer.“Ngajarin Hadi? Gak yakin aku bisa,” gumamnya, hampir tanpa nada. “Suruh Trent ambil Hadi dari kamarku. Dua puluh menit lagi.”Danu, yang berdiri agak di belakang, sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Suaranya pelan tapi tegas, seperti bisikan yang membawa beban.“Bu, hati-hati. Jangan sampai masuk perangkapnya.”Nadira menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk cengiran kecil yang tidak menyenangkan.“Aku rasa dia gak sepintar itu.”***Sementara itu, di salah satu ruang rawat VIP Rumah Sakit Bina Sehat di Jakarta Selatan, aroma gurih makanan laut perlahan memenuhi udara.Ruangan itu bersih dan terang, didominasi warna putih dengan sentuhan biru laut di tirai dan taplak meja.Di pojok ruangan, sebuah tanaman monstera berdiri tegak dalam pot putih, memberi kesan sej
Tapi… kenyataannya, dia ke Bali demi Ghani.Pikiran itu terus-menerus menggelayuti benak Mahesa, seperti kabut pagi yang enggan sirna meski matahari sudah tinggi.Apa Nadira benar-benar sudah berubah arah hatinya?Ia menatap lurus ke depan, namun pandangannya tak benar-benar menangkap apa pun. Dadanya sesak oleh bayangan-bayangan yang tak bisa dijelaskan.Semakin dipikir, semakin tak tenang. Jari-jarinya menggenggam lengan kursi kerja, lalu melepaskannya pelan seolah sedang menahan sesuatu yang mendesak keluar.“Aku mau kamu pesenin tiket paling cepat ke Bali,” ucapnya, nada suaranya padat, nyaris tanpa emosi.“Cahyo biar nyusul, beli tiket sendiri.”Rafael menatap layar ponsel sambil bicara pelan, setengah hati, “Masih mau kerja sama sama Bu Mardhiyah?”Mahesa melirik, dingin. “Menurut kamu aku tipe orang yang gampang nyerah?”Nada bicaranya seolah lebih dari sekadar menjawab. Itu pengakuan. Pernyataan perang. “Selama m
Usai makan malam, Hadi kembali ke hotel dengan langkah berat namun tenang, seolah tubuhnya berjalan sendiri tanpa perintah dari kepala.Malam di luar lembap, menyisakan embun tipis di bahu jasnya. Bau laut samar-samar terbawa angin, bercampur aroma tanah yang belum lama tersiram hujan.Tapi semua itu segera menguap saat ia memasuki lobi hotel.Ia baru saja hendak naik lift ketika seorang staf menyapanya dengan sopan, menyerahkan kartu akses baru dalam map kulit hitam berlogo emas.“Kamar Anda telah diperbarui, Pak Hadi. Sekarang Anda ditempatkan di Lantai 12, kamar 1203.”Alisnya mengerut. Perubahan kamar? Ia tidak meminta apa-apa. Namun rasa penasaran mendorongnya naik, dan saat pintu kamar mewah itu terbuka, Hadi berdiri di ambang dengan napas terhenti sesaat.Kamar itu lapang, temaram dengan pencahayaan hangat yang memeluk dinding krem dan furnitur kayu beraksen emas tua.Jendela besar menghadap laut malam yang gelap dan berkilau.