Malam itu basah dan dingin, angin menyelinap di antara celah lorong apartemen yang sepi. Aroma logam dari hujan yang baru turun masih menggantung di udara, menyusup lembut ke pori-pori jaket Hadi yang telah menyerap embun sejak beberapa menit lalu.
Ia berdiri kaku di depan pintu bernomor 11A, satu tangan mengepal, satu lagi gemetar ringan di sisi tubuh.
Jantungnya berdetak seperti ketukan rap yang tak teratur, menghantam dinding dadanya dengan ritme cemas.
Hadi menarik napas pelan. Ini bukan waktunya mengeluh soal kenyamanan, karena sejak awal, dunia yang ia pilih tidak pernah berjanji ramah.
Dunia hiburan, seperti pasar malam penuh cahaya, tampak menggoda dari jauh, tapi di balik gemerlapnya, selalu ada lubang-lubang gelap yang menanti menelan siapa pun yang lengah.
Di industri ini, hanya yang berani melompat ke dalam kobaran api yang bisa keluar membawa mahkota.
Mereka yang duduk di singgasana atas umumnya bukan orang biasa; temperamental,
Hadi terbangun tiba-tiba, seperti ditarik dari mimpi buruk yang tak sempat ia ingat utuh. Keringat dingin menempel di tubuhnya, membasahi leher dan bagian belakang bajunya.Kamar tempat ia tidur gelap, hanya disinari bayangan samar dari lampu taman luar jendela. Di dalam dada, rasa tak nyaman menjalar, seperti ada ribuan semut menggigiti jantungnya.Gelisah. Gatal yang tak bisa dijangkau tangan, perih yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Ia duduk, memegangi kepala. Pikirannya penuh, tapi tak satu pun pikiran itu bisa ia pegang dengan jelas.Wajah Nadira terlintas, dingin seperti batu, tatapannya menyimpan sesuatu yang tak bisa ditebak. Apa yang sedang ia rencanakan?Hadi tak tahu. Tapi yang pasti, ketakutan diam-diam sudah tumbuh liar dalam dirinya. Ia takut semua yang telah ia upayakan, semua reputasi dan harapan yang ia kumpulkan perlahan, akan runtuh seketika.Seperti menara dari kartu, rapuh, ringkih, tinggal menunggu satu tiupan k
“Itu urusanmu?”Nadira tidak menjawab. Ia hanya menendang handuk bekas mandi ke dalam kamar mandi hotel, gerakannya cepat, seperti ingin segera menghapus keberadaan Mahesa dari ruang itu.Tanpa menoleh, ia memanggil petugas keamanan dari balik pintu, suaranya tenang tapi tajam, memerintahkan agar petugas kebersihan diizinkan masuk.Tangannya menggenggam kenop pintu, siap menutupnya.“Tunggu.”Sebuah tangan menahan daun pintu dari menutup rapat. Mahesa berdiri di ambang, tubuhnya sedikit condong ke depan, napasnya pendek.Pandangannya mengamati Nadira dari atas ke bawah. Kali ini, tanpa tergesa atau prejudis. Baru ia sadari, perempuan di hadapannya itu tidak seperti bayangannya semula.Riasan tipis menghias wajahnya, rambutnya tersisir rapi, dan mata yang tak menyiratkan rasa bersalah sedikit pun.“Aku terburu-buru tadi,” ucap Mahesa, nadanya pelan, nyaris seperti bisikan. “Aku terlalu emosi. Aku tahu kamu bukan tipe perempuan s
“Aku mundur karena latihannya terlalu berat, kondisi keluarga juga kurang mendukung. Tubuhku... ya, sepertinya nggak siap. Terus kebetulan ada kesempatan masuk dunia hiburan,” ujarnya pelan, ragu-ragu, seolah sedang mengulang kalimat yang pernah dihafal tapi kini terdengar asing di telinganya sendiri.Itu jawaban yang sudah dipoles rapi oleh tim manajemen sejak lama. Narasi aman. Tapi karena jarang dihadapkan langsung pada pertanyaan semacam itu, ia sendiri nyaris lupa urutannya.Kata-kata itu keluar seperti rekaman lama yang diputar ulang, tanpa semangat.Namun Nadira tak seperti pewawancara biasa. Tatapannya tajam, suaranya datar tapi sarat makna. Ia mengucapkan kalimat selanjutnya dengan ketenangan yang justru membuat udara di ruangan makin terasa pengap.“Padahal ayahmu punya pabrik, ibumu jalankan usaha sendiri, dan kamu anak tunggal. Kondisi keluarga kamu nggak bisa dibilang kekurangan. Lagi pula, pelatih nasional pernah undang kamu ikut pelatnas. T
Malam itu basah dan dingin, angin menyelinap di antara celah lorong apartemen yang sepi. Aroma logam dari hujan yang baru turun masih menggantung di udara, menyusup lembut ke pori-pori jaket Hadi yang telah menyerap embun sejak beberapa menit lalu.Ia berdiri kaku di depan pintu bernomor 11A, satu tangan mengepal, satu lagi gemetar ringan di sisi tubuh.Jantungnya berdetak seperti ketukan rap yang tak teratur, menghantam dinding dadanya dengan ritme cemas.Hadi menarik napas pelan. Ini bukan waktunya mengeluh soal kenyamanan, karena sejak awal, dunia yang ia pilih tidak pernah berjanji ramah.Dunia hiburan, seperti pasar malam penuh cahaya, tampak menggoda dari jauh, tapi di balik gemerlapnya, selalu ada lubang-lubang gelap yang menanti menelan siapa pun yang lengah.Di industri ini, hanya yang berani melompat ke dalam kobaran api yang bisa keluar membawa mahkota.Mereka yang duduk di singgasana atas umumnya bukan orang biasa; temperamental,
Mobil terus berguncang hebat, seolah menyusuri gelombang tak kasatmata di jalanan berbatu yang licin selepas hujan.Pohon-pohon tropis di tepi jalan membentuk bayang-bayang liar di kaca depan, sementara lampu jalan yang redup menari-nari di permukaan dasbor.Suara mesin meraung, suspensi mengeluh, dan Mahesa merasakan perutnya mulai teraduk.“Berhenti,” ucapnya lirih, tapi tegas. “Biar aku yang nyetir.”Rafael menoleh cepat. Sorot matanya bertanya lebih banyak dari bibir yang tak terbuka, Serius nih?Ia tahu siapa Mahesa Pradana. Semua orang yang bekerja dengannya tahu. Dan tahu pula, bahwa pria itu pernah mengalami kecelakaan brutal di masa lalu, begitu parah sampai keluarganya sempat mencabut surat izin mengemudinya.Bahkan, selama bertahun-tahun, Mahesa tak pernah lagi menyentuh kemudi, seolah trauma itu memaku tangannya.Tapi entah bagaimana, SIM itu kini kembali di tangannya, dan… mungkin juga keberanian itu ikut kembali
Mata Nadira mendingin seketika, seperti embun pagi yang menggigit tulang. Ia mengangguk, singkat dan tegas, seolah sedang memberi perintah militer.“Ngajarin Hadi? Gak yakin aku bisa,” gumamnya, hampir tanpa nada. “Suruh Trent ambil Hadi dari kamarku. Dua puluh menit lagi.”Danu, yang berdiri agak di belakang, sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Suaranya pelan tapi tegas, seperti bisikan yang membawa beban.“Bu, hati-hati. Jangan sampai masuk perangkapnya.”Nadira menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk cengiran kecil yang tidak menyenangkan.“Aku rasa dia gak sepintar itu.”***Sementara itu, di salah satu ruang rawat VIP Rumah Sakit Bina Sehat di Jakarta Selatan, aroma gurih makanan laut perlahan memenuhi udara.Ruangan itu bersih dan terang, didominasi warna putih dengan sentuhan biru laut di tirai dan taplak meja.Di pojok ruangan, sebuah tanaman monstera berdiri tegak dalam pot putih, memberi kesan sej