로그인Warning : Mengandung konten dewasa 21+ “Pak Damian, saya mohon lebih dalam lagi!” pinta Jessica menjerit. Dijebak oleh seseorang yang menginginkan Jessica tidur dengan seniornya, gadis itu berakhir menghabiskan malam terlarang dengan sang presdir. Jessica hamil, tetapi Damian sama sekali tidak mengenalinya, karena dirinya juga dalam pengaruh alkohol yang tinggi. Damian mencari gadis itu dengan bermodal cincin yang ditinggalkan Jessica untuk ia nikahi karena desakan sang papa yang ingin ia segera menikah dan memiliki pewaris. Namun, bukan Jessica yang Damian nikahi melainkan Audy—sahabat Jessica sendiri. Jessica yang marah dan kecewa akhirnya mengungkapkan yang sebenarnya jika dirinya lah yang tidur dengan Damian. Tetapi bukti itu sama sekali tidak ada hingga Jessica diusir oleh Damian begitu saja. Jessica yang sakit hati memutuskan untuk pergi membawa anak yang masih di dalam kandungannya tanpa memberitahu jika dirinya hamil dengan Damian. Dan 5 tahun kemudian takdir mempertemukan mereka kembali. Mengapa bisa Audy yang dinikahi Damian? Bagaimana reaksi Damian jika ternyata anak Jessica sangat mirip dengan dirinya?
더 보기"The Moonhunt is nearly upon us. It will be upon us in three nights. Lets hope everyone in the pack proves themselves worthy under the coming moonlight."
Serbian stated sternly, his bug-eyed stare focused on the open window.
His words hung in the air—a subtle threat that sent a shiver down my spine.
"Uncle" I stuttered, pressure clamping my chest. "I... don't... seem... to understand what you mean?"
"Nothing for you to worry about, Caroline. You're my niece—my younger brother's daughter. Surely, you wouldn't want to disappoint your uncle or put the pack at risk, would you?"
We were in his ridiculously lavish living room, designed with plush white couches and gleaming marble floors.
"Of course not," I murmured softly. My eyes fixed on the jade teapot on the center table.
Serbian turned his gaze toward me, his dark presence suddenly looming.
"Good. Tell your father—Grimsburg—to meet me at Le Restaurant, our usual spot. I have something to discuss with him."
He took a seat on the couch across from me and looked at my face with interest.
A knot of uneasiness tightened in my stomach as I nodded.
I felt so uncomfortable I couldn't even flinch. I made up my mind to leave.
"Uncle, I really need to go," I stood up quickly with a little uneasiness.
He likewise stood up and gave me a stern look, as though he were staring into my soul.
"You haven’t been having communications or dealings with the Ironhearts, have you?"
"Uncle, how could you even say that?" I gave him my best innocent frown. "I would never betray our clan."
"Good," he replied skeptically, fastening the robe that had come loose slightly.
"Goodbye, Uncle. I have work to attend to."
Grabbing my purse that lay on the sofa beside me, I left in haste.
BANG!
The door slammed shut behind me, the force echoing in the silence.
"Hmmmmm," I sighed, a feeling of tranquility.
"Oh, I hope things won’t get worse from here," I murmured to myself as I walked through the dark passage leading to the front porch.
Whatever Serbian suspected, he had no idea who Kent was. That was my secret.
I felt a chill of fear descend.
What if I was wrong? What if he knew about Kent? The thought alone made me feel sick.
Leaving the mansion, I walked to my beat-up Mazda—the only thing that felt real in this world of opulence.
Driving into the city, a sense of threat washed over me.
I grabbed my phone and dialed Kent’s number.
RING! RING!
"Hey, sweetheart. How’s your day going?" His voice, warm and familiar, was a small comfort.
Kent…” My voice trembled, and I gripped the steering wheel like it was the only thing keeping me from falling apart. “I think my uncle knows about us.”
A soft exhale came through the line, warm and steady like he was trying to send me calm through the phone. “Hey… slow down. What happened?”
I closed my eyes, imagining his blue eyes locking with mine, the way they always seemed to see straight through the fear I tried to hide. “He looked me right in the eyes, Kent. Like he was peeling my soul open. I could barely breathe.”
“You’re safe right now?” he asked, voice low and protective.
“For the moment,” I whispered.
“Then listen to me,” he said gently. “Nothing he says or does can change what I feel for you. Not now. Not ever.” His words wrapped around me like an embrace I couldn’t see but could feel deep in my chest.
"Babe, no matter what, remember I am with you, in every storm....," Kent said, concern creeping into his tone.
"... On every tide," I replied, remembering the vow we shared they first day we met at the restaurant.
" we will be together till the end of time "
Speaking in Unison and exchanging this vow, somehow made our bond strong.
"Don't worry, babe. We'll talk later. I'm in the office; I need to sort something out right now. Love you."
"Me too"
BEEP! BEEP!!
The line went dead.
"Love you too," I whispered to myself, though the words felt trapped in my throat.
After what seemed like a long drive, my car came to a halt in front of my workplace—Clayfoil Antique Store (a small building filled with new and old varieties of dolls, clothes, etc.).
I closed my eyes and gently placed my left hand on my forehead, deeply lost in my thoughts—an emotional void of the mind.
5 tahun kemudian…Salju turun begitu tebal, suasana di hotel semakin terasa dingin, tetapi tidak membuat dua insan yang sedang menatap langit itu masuk ke dalam kamar. Keduanya asyik memandang langit dengan saling memeluk satu sama lain di balkon kamar. Sedangkan ketiga anak mereka sudah tidur di kamar masing-masing yang ada di sebelah kamar mereka bersama dengan pengasuh mereka.“Gak kerasa pernikahan kita sudah berjalan hampir 7 tahun ya, Mas,” celetuk Jessica dengan tersenyum.Tubuhnya hangat walaupun udara sangat dingin. Karena pakaian tebal dan pelukan Damian mampu menghangatkan dirinya.“Iya, Sayang. Sudah sejauh ini ya ternyata. Bahkan si kembar sudah berusia lima tahun, padahal baru kemarin rasanya Mas gendong, Mas timang-timang mereka sekarang sudah besar saja,” gumam Damian terkekeh membayangkan ketika anak kembar mereka masih bayi, ternyata waktu cepat sekali berlalu.Jessica juga menerawang, sekarang Oliver dan Olivia sudah berlarian, suara cerewet Olivia. Tingkah jahil O
Kebahagiaan David dan Crystal sudah sampai ke Jessica. Karena Jessica sudah sebagai kakak untuk Crystal, orang tuanya sama sekali tidak peduli.Dan menanggapi kehamilan Crystal, Jessica tampak sangat bahagia sekali. Mereka terus mengirimkan pesan hingga Jessica mengabaikan suaminya.“Kamu chattingan sama siapa, Sayang? Sampai Mas kamu cuekin,” tanya Damian dengan mengeluh karena Jessica sama sekali tidak melihat ke arahnya.Jessica melirik sekilas, ia meletakkan ponselnya di selimut yang ia pakai. “Sama Crystal, Mas. Tahu gak, Mas? Crystal hamil lagi. Aaa… Senangnya aku, semoga anaknya cewek deh,” ucap Jessica dengan hebohnya.Damian menghela napasnya dengan pelan. “Kamu masih mau menjodohkan Aland dengan anak Crystal, Sayang? Ya ampun, itu masih lama banget loh.”“Kita juga gitu kok sudah dijodohkan dari Mama hamil aku dan kamu langsung jatuh cinta juga, kan?”Damian terdiam. Kata-kata istrinya sangat telak untuk dirinya karena memang benar, ia langsung jatuh cinta dengan mata indah
Ketika Jessica membuka pintu kamar, ia sudah disambut dengan tangisan kedua anak kembarnya.Damian yang berada di belakang sang istri langsung panik melihat kedua wajah anaknya yang sudah berlinang air mata.“Uluh-uluh sedihnya anak-anak Mama,” ucap Jessica dengan kasihan tetapi juga gemas.Yang lucunya tangan Oliver terulur meminta digendong Mamanya sedangkan Olivia menatap sang Papa seperti memelas ingin segera digendong.Kedua pengasuh Oliver dan Olivia merasa tidak enak hati, apalagi melihat bekas kissmark begitu banyak di leher Jessica yang tidak disadari oleh wanita itu sendiri.Mereka menunduk dengan malu, sedangkan Aryana memaklumi karena bagaimana pun ini adalah hari bahagia anak dan menantunya, seperti pengantin baru tentu saja.Keduanya langsung menggendong si kembar. Dan benar saja Oliver dan Olivia seketika berhenti menangis.“Kangen Mama sama Papanya ternyata,” celetuk Aryana dengan terkekeh.“Bawa masuk saja. Mama dan Mbak-Mbak ke sana dulu. Pengantin baru tidak lapar?
“A-aku bersihkan make up dulu, Mas.”Damian menatap wajah istrinya, perlahan ia menjauh dari Jessica dan tidak lagi mengukung sang istri di tembok.“Mas bantu,” bisik Damian memeluk Jessica dari belakang.Jessica merasa merinding ketika Damian sudah seperti ini, suaranya berat dan ia dapat merasakan milik suaminya yang menegang.“M-mas bisa lepasin dulu gak? Aku gak akan kabur kok,” bujuk Jessica dengan tersenyum tipis—merasa lucu dengan tingkah suaminya.“Aku risih banget sama gaunnya, mau aku lepas dulu,” rengek Jessica dengan manja.Damian terkekeh, akhirnya ia melepaskan pelukannya. Menunggu dan menatap istrinya tanpa berkedip.“Lepasin aja di sini, Sayang. Kenapa diam?” tanya Damian dengan menaikkan satu alisnya.Jessica mendengus. “Mesum banget udah punya tiga anak juga,” gumam Jessica.Damian tidak menimpali ucapan istrinya, ia menikmati wajah kesal Jessica.Jessica melepaskan gaun pengantin yang ia pakai di hadapan Damian. Sebenarnya ia malu, tetapi toh mereka sudah sering mel
Damian bangun terlebih dahulu, ia tersenyum melihat Jessica bisa tidur nyenyak karena mungkin kelelahan akibat bercinta dengannya.Cup…Ia mengecup dahi Jessica dengan lembut dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya, mengusap puncak kepala Jessica dengan sayang.Jessica menggeliat sedi
Crystal dan David masuk ke dalam kamar Damian dan juga Jessica dengan Tergopoh-gopoh, teriakan kesakitan dan kepanikan Jessica semakin membuat suasana mencekam. “Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok? Kenapa tiba-tiba saja Jessica mengeluh kepalanya sakit dan pandangannya buram? Mual dan muntah
Teriakan kesakitan Kirana sama sekali tidak didengar oleh Adithama. Pria tua itu menendang kaki Kirana dengan kencang, dendamnya begitu memburu teringat senyuman Maria yang begitu manis kala itu.“M-mas ampun!” teriak Kirana dengan kencang ketika ia dijambak begitu kuat oleh Adithama hingga wajahny
Adithama menatap Kirana dengan sangat tajam, ia berjalan mendekati wanita itu dengan perlahan hingga Kirana mundur dengan perlahan, menelan ludahnya dengan kasar, ekspresinya terlihat begitu panik.“M-mas kamu mau apa?” tanya Kirana dengan waspada.Adithama menyeringai sinis melihat wajah panik Kir












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 하기