LOGINWarning : Mengandung konten dewasa 21+ “Pak Damian, saya mohon lebih dalam lagi!” pinta Jessica menjerit. Dijebak oleh seseorang yang menginginkan Jessica tidur dengan seniornya, gadis itu berakhir menghabiskan malam terlarang dengan sang presdir. Jessica hamil, tetapi Damian sama sekali tidak mengenalinya, karena dirinya juga dalam pengaruh alkohol yang tinggi. Damian mencari gadis itu dengan bermodal cincin yang ditinggalkan Jessica untuk ia nikahi karena desakan sang papa yang ingin ia segera menikah dan memiliki pewaris. Namun, bukan Jessica yang Damian nikahi melainkan Audy—sahabat Jessica sendiri. Jessica yang marah dan kecewa akhirnya mengungkapkan yang sebenarnya jika dirinya lah yang tidur dengan Damian. Tetapi bukti itu sama sekali tidak ada hingga Jessica diusir oleh Damian begitu saja. Jessica yang sakit hati memutuskan untuk pergi membawa anak yang masih di dalam kandungannya tanpa memberitahu jika dirinya hamil dengan Damian. Dan 5 tahun kemudian takdir mempertemukan mereka kembali. Mengapa bisa Audy yang dinikahi Damian? Bagaimana reaksi Damian jika ternyata anak Jessica sangat mirip dengan dirinya?
View MoreBab 1. Malam Terlarang
Hotel Axelle 10.30 PM. Prok… Prok… Suara riuh tepuk tangan menggema di ballroom hotel saat sang presdir baru saja memberikan sambutannya kepada seluruh tamu undangan yang hadir. “Pak Damian keren banget!” teriak seluruh karyawan dengan semangat. Axelle Group adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi itu mengundang seluruh karyawannya, di hari perayaan ulang tahun perusahaan yang ke-5 digelar begitu sangat mewah. Acara inti sudah selesai, seluruh karyawan kini menikmati hidangan yang sudah disediakan. Jessica menatap penuh kekaguman pada sang presdir, tak menyangka ia menjadi bagian dari perusahaan terbesar di kota ini. “Aku masih tidak menyangka kita berada di sini Audy,” celetuk Jessica tersenyum ke arah sahabatnya. Audy juga tersenyum, ia sama dengan Jessica merasa bangga dengan pencapaiannya, yang bisa diterima di perusahaan yang begitu disegani. “Kamu benar, Jes.” Audy menimpali dengan memeluk Jessica dengan erat. Keduanya sudah seperti keluarga. Saling memberikan support satu sama lain dalam hal apa pun, tak heran kedekatan keduanya begitu banyak dipuji teman-teman mereka. Di sudut lain, seseorang menatap Jessica dengan penuh kebencian. Ia menyeringai menatap sesuatu di tangannya, pelayan di sampingnya menatap seseorang tersebut dengan takut. “Malam ini akan menjadi malam yang tidak akan terlupakan untuk kamu, Jessica!” gumamnya dengan sinis. Ia menatap minuman yang berada di tangan pelayan tersebut, senyumannya begitu licik saat tangannya dengan cepat memasukkan sesuatu ke dalam minuman tersebut. Ia yakin, setelah itu Jessica tidak bisa mengontrol dirinya. Karena dosis obat perangsang yang ia masukkan sangat tinggi. “Berikan minuman ini pada gadis gaun biru itu. Ingat jangan salah kasih, kalau tidak kamu akan tahu akibatnya,” ucap seseorang tersebut dengan tatapan yang begitu tajam. “B-baik…” Seseorang misterius itu memberikan amplop berisikan segepok uang kepada pelayan. Wajah pelayan tersebut sumringah, lalu ia langsung pergi dengan ekspresi seperti tidak terjadi sesuatu. “Tamat riwayat kamu, Jessica!” Sedangkan Jessica menerima minuman itu dengan senang hati. Sebab, ia juga sangat merasa haus. Audy juga mengambil minuman yang sama, keduanya minum secara bersamaan. Audy heran menatap gelas sahabatnya yang sudah kosong. Tetapi ia tidak ambil pusing, gadis itu memainkan ponselnya. Dan mulai fokus menatap layar ponsel itu setelah mendapatkan pesan dari kekasihnya yang sudah menunggunya. Sedangkan Jessica sudah mulai merasa gelisah, tubuhnya terasa begitu sangat aneh. Panas menjalar di seluruh tubuhnya hingga wajahnya memerah. “A-audy,” panggil Jessica dengan lirih. Audy langsung melihat ke arah sahabatnya. Ia langsung terkejut melihat wajah Jessica seperti itu. “Kamu kenapa, Jes? Kamu demam?” tanya Audy yang langsung memeriksa suhu tubuh Jessica dengan tangannya. “A-aku gak tau. Semuanya terasa begitu panas,” balas Jessica dengan lirih. Leher jenjangnya mulai mengeluarkan keringat bahkan ballroom hotel yang begitu dingin, tidak bisa meredakan rasa panas di tubuh Jessica saat ini. Audy mulai ragu untuk meninggalkan Jessica sendiri. “Aku telepon Andreas kalau aku tidak bisa menemuinya. Kamu lebih penting,” ujar Audy yang tak tega dengan Jessica. Jessica mencegah Audy. Ia tahu bagaimana Audy sangat mencintai Andreas, Jessica tidak ingin merepotkan sahabatnya. “K-kamu pergi saja, Audy. Kasihan Andreas sudah menunggu. A-aku bisa kembali ke kamar kita sendiri.” “Kamu yakin?” tanya Audy merasa ragu. Jessica mengangguk yakin, walaupun tubuhnya sudah sangat merasa aneh. Keduanya berpisah di sana. “Nanti aku suruh orang untuk antar obat ke kamar ya.” Jessica berjalan sempoyongan ke arah kamar hotelnya. “Ahhh…. Ini panas sekali,” racau Jessica yang ingin segera melepaskan seluruh pakaiannya. Mata Jessica mulai berkunang-kunang, ia mulai mengambil kartu akses kamar di dalam tasnya, tetapi kartu akses tersebut sama sekali tidak bisa digunakan. Gadis itu mulai merasa panik, Jessica berpindah ke kamar yang lain karena menganggap dirinya salah kamar. “S-siapa pun tolong aku!” ucap Jessica dengan gelisah. “M-mbak, tolong saya. Kartu akses kamar saya tidak bisa digunakan,” ucap Jessica menatap pelayan tersebut dengan penglihatan yang tidak jelas. “Sebentar, Mbak. Kamar hotel nomor berapa Mbak?” “409, Mbak.” Pelayan tersebut tersenyum, ia membantu Jessica menuju kamar yang bukan kamar gadis itu. Di seberang sana seseorang tersenyum licik saat pelayan memberikan kode ‘oke’ dengan tangan. “Ini kamarnya ya, Mbak. Saya tinggal dulu.” “Terima kasih, Mbak.” Setelah tugasnya selesai ia langsung pergi meninggalkan Jessica begitu saja. “Masuk ke dalam jebakan!” ucapnya dan berlalu pergi begitu saja setelah memastikan Jessica masuk ke kamar hotel yang di dalamnya sudah ada seseorang. “Aku gak sanggup lagi!” Pria yang ada di dalam kamar tersebut terkejut, mendapati perempuan asing masuk ke dalam kamarnya dan dengan berani melepas pakaian di hadapannya. Ia tersenyum licik, akal sehatnya mengatakan jika perempuan yang ada di hadapannya saat ini memang berniat menggodanya. Damian berdiri, dengan langkah sempoyongan dan mata berkabut akan gairah, pria itu membalikkan tubuh Jessica begitu saja menjadi menghadap ke arahnya. Matanya menggelap, ia langsung mencium Jessica dengan rakus. Damian Maheswara Axelle—presdir Axelle Grup itu sudah tidak mampu lagi menggunakan akal sehatnya. Tubuhnya begitu terbakar, akibat ia meminum alkohol yang sudah dicampur dengan obat perangsang. Dirinya dijebak dengan seseorang hingga ia jadi seperti ini. “Emmphh…” Kemeja putih yang melekat begitu ketat di tubuhnya yang berotot, ia lepaskan dengan tak sabaran. “Kamu sengaja menggoda saya hmm?!” Damian menggigit bibir Jessica dengan pelan. Jessica yang syok hanya bisa terdiam, menatap presdirnya dengan tubuh yang bergerak gelisah. Ia ingin menolak, tetapi tubuhnya seakan mendamba sentuhan itu. “L-lepas!” pinta Jessica. Matanya berkaca-kaca, perasaannya sudah tidak karuan. Tetapi ia tidak bisa mengelak jika sentuhan itu mengobati tubuhnya yang terbakar. Damian menyeringai licik. “Kamu sendiri yang masuk ke dalam kamar saya. Itu artinya kamu sudah menyerahkan diri kamu ke saya bukan?” Jessica mencoba melepaskan diri, tetapi tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama. Ini gila! Damian menggendong tubuh Jessica ke atas kasur dengan mudahnya. Tubuh mungil itu tenggelam di tubuh besar Damian. “Hiks…. Saya mohon lepaskan saya!” pinta Jessica dengan menangis. “Setelah kamu masuk ke kamar saya itu artinya tidak ada jalan keluar lagi,” bisik Damian dengan suara serak dan beratnya. Di tengah cahaya lampu yang temaram, tangisan yang berubah menjadi desahan kenikmatan, Jessica menyerahkan dirinya pada sang presdir begitu saja. Seakan sedang meneguk segelas air di gurun pasir yang sangat panas. Nikmat… Melegakan… “Pak Damian, saya mohon lebih dalam lagi!” pinta Jessica menjerit. Gadis itu mencakar punggung Damian dengan kuat. Sebab, Jessica menjadi perempuan yang berbeda malam ini karena pengaruh obat perangsang yang ia minum. “A-aku…” Damian kembali menciumnya, tidak memberikan waktu Jessica untuk berbicara. “Kamu tidak bisa menghilang begitu saja setelah ini wanita jalang,” racau Damian tanpa sadar karena setelah itu ia benar-benar tidak sadarkan diri memeluk Jessica yang sudah terlelap di sampingnya.Aland tampak cemberut melihat ekspresi terkejut kedua orang tuanya.Apa yang salah?Itu hanya keinginan kecil dirinya karena memang Crystal seperti barbie baginya, apalagi wanita itu sangat baik dan menjadi dokter serta sahabat mamanya.“Kenapa Mama dan Papa bengong?” tanya Aland sedikit kesal.Jessica dan Damian saling berpandangan, tidak menyangka jika Aland akan meminta menikah dengan anak Crystal dan David ketika dewasa nanti.Apakah benar kisah cinta mereka berdua akan terulang kembali kepada Aland nantinya?“Sekolah yang benar dulu kamu, Aland. Lalu bekerja di perusahaan menggantikan Papa baru bahas nikah,” ucap Damian dengan datar.“Iya, Papa. Aland akan bekerja dengan giat nanti supaya istri Aland bahagia.”Damian menghela napasnya dengan berat. Kenapa pembahasan anaknya terasa begitu berat untuk dirinya sih? Padahal semua itu masih sangat lama tapi mampu membuat dirinya kepikiran.“Oke… Untuk hari ini stop membahas nikah ya, Aland. Papa tiba-tiba pusing,” keluh Damian memijat
Mendengar pertanyaan suaminya, Jessica tampak berpikir. “Terserah Mas saja. Aku siap kapan pun,” jawab Jessica pada akhirnya.Pesta pernikahan di usia mereka yang sudah sangat matang dan sudah memiliki tiga orang anak, terdengar lucu dan menggelikan. Tetapi Jessica ingin pesta pernikahan seperti impiannya dulu terwujud, walaupun terlambat itu tidak jadi masalah bukan? Karena ketiga anaknya bisa menghadiri pesta pernikahan kedua orang tuanya.“Satu atau dua bulan lagi saja ya, Sayang. Sampai kamu benar-benar sehat dan kedua anak kembar kita agak gedean sedikit,” ucap Damian dengan serius.Damian mengambil ponselnya, memperlihatkan sesuatu kepada sang istri.“Pilih konsep pernikahan kamu seperti apa, Sayang. Nanti Mas yang urus semuanya kita sewa WO terbaik,” ucap Damian.Jessica mengambil alih ponsel yang ada di tangan suaminya, dan memperhatikan dengan serius detail konsep pesta yang dia inginkan.“Ini aja, Mas. Nuansa putih cream lebih elegan dan gak terlalu mencolok juga,” ucap Je
Jessica menaburi makam Audy dengan bunga mawar merah. Hanya Jessica yang melakukan itu semua. Sebab, Damian hanya diam dan tidak ada pergerakan sama sekali.Tidak ada kesedihan di wajahnya, hanya saja ia sungguh tidak percaya jika Audy akan nekat bunuh diri karena tekanan batin yang dideritanya.“Seharusnya kamu tidak boleh mati secepat ini, Audy! Kamu harus membayar semua apa yang kamu lakukan selama ini. Saya belum puas untuk melihat kamu tersiksa,” gumam Damian di dalam hati—masih belum bisa memaafkan wanita itu walaupun tubuh Audy sudah terkubur sekarang dan Audy sudah meminta maaf kepadanya lewat surat yang ia tulis dan berada di tangan istrinya.Teriknya matahari membuat Damian tidak betah di tempat ini, ia memegang payung untuk melindungi istrinya dari paparan sinar matahari langsung.“Sudah kan, Sayang? Ayo kita pulang kasihan anak-anak kalau ditinggal terlalu lama.” Damian beralasan agar mereka segera pulang dari sini. Orang tua mereka juga sudah pulang terlebih dahulu dan h
Tempat tidur bayi sudah diletakkan di kamar Jessica dan Damian. Keduanya memutuskan untuk membawa kedua anak kembar mereka tidur di kamar yang sama, agar memudahkan Jessica untuk menyusui keduanya ketika rewel. Membiarkan pengasuh Oliver dan Olivia tidur di kamar mereka masing-masing dengan nyaman, jika Jessica perlu bantuan mereka maka wanita itu akan langsung memanggil keduanya.“Sudah kamu tidur saja Sayang biar Mas yang gantian menjaga Olivia,” ujar Damian mengambil alih anak perempuannya dari gendongan Jessica.Olivia menangis di tengah malam, karena diapers yang ia pakai sudah penuh, mungkin anak bayi itu sudah merasa tidak nyaman. Setelah diganti, Olivia sudah tenang bahkan sudah menyusu juga tetapi mata anaknya itu belum terpejam, berbeda dengan kembarannya yang sudah terlelap.“Kamu gak capek, Mas? Harus kerja, ngurus aku dan anak-anak?” tanya Jessica yang Mempeehstka suaminya begitu antusias merawat mereka semua.“Awalnya capek tapi setelah melihat wajah kamu dan anak-anak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore