Compartilhar

Bab 7

Autor: Mega Raras
Valeria pulang sebenarnya bukan karena urusan lain, tapi hanya ingin membawa Polly bersamanya.

Helen masih ingat pada Polly. Begitu melihatnya, dia berniat untuk menggendong anjing itu. Namun di luar dugaan, Polly yang tadinya cukup tenang tiba-tiba mulai menggonggong histeris saat ada orang yang mendekat. Tubuhnya menggigil ketakutan dan meringkuk.

Helen sangat tidak paham. "Dia kenapa?"

"Takut pada orang."

"Kenapa bisa begitu?"

"Polly pernah disiksa sangat parah." Valeria tidak menyembunyikan apa pun dari Helen, lalu menceritakan semua pemandangan yang dia lihat di Leston Hills dengan jujur.

Setelah mendengar cerita itu, Helen langsung marah-marah. "Aku masih maklum kalau Janson dan Isabela nggak punya hati. Tapi aku nggak menyangka bocah cilik itu juga bukan manusia!"

Helen bahkan ingin mengambil pisau untuk melabrak mereka, tetapi beruntung segera ditahan oleh Valeria. Masalahnya sudah terlalu rumit dan melelahkan. Dia dan Helen baru saja bertemu kembali, sehingga dia tidak ingin sahabatnya itu ikut terseret dalam kekacauan ini.

Karena Valeria berkata seperti itu, Helen pun tidak memaksa lagi. Setelah merapikan barang-barang milik Polly, mereka berdua langsung pergi meninggalkan rumah itu.

Jarak dari rumah Valeria ke kompleks perumahan tempat tinggal Helen sebenarnya tidak terlalu jauh, tetapi suasana dua tempat itu bagaikan bumi dan langit. Suasana di tempat tinggal Helen sangat tenang, elegan, dan artistik. Tempat itu merupakan salah satu kawasan perumahan elite bernuansa vila yang sangat terkenal di Kota Belona.

Latar belakang keluarga Helen sebenarnya sangat berada. Dia adalah putri tunggal dari Perusahaan Pamela di Kota Belona. Keluarga mereka bergerak di bidang properti. Meski tidak bisa dibandingkan dengan raksasa sekelas Perusahaan Gideon, dalam lingkaran kelas atas Kota Belona, nama keluarga mereka tetap memiliki bobot tersendiri.

Namun, Helen tidak berminat untuk meneruskan bisnis keluarga. Dia sangat terobsesi dengan ilmu hukum, dan karena masalah inilah hubungannya dengan keluarga sempat memburuk. Oleh karena itu, beberapa tahun terakhir ini dia jarang berkomunikasi dengan keluarganya dan memilih hidup mandiri.

Hari ini, tempat yang dia datangi bersama Valeria adalah salah satu kawasan vila di bawah naungan perusahaan milik keluarganya.

Setelah melewati berbagai tahap verifikasi dan pos pemeriksaan yang ketat, mereka berdua akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah. Hal pertama yang dilakukan Helen adalah membongkar isi kulkas. Dia sudah bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kaki di dapur, tetapi malam ini berbeda.

"Bagaimana kalau aku saja yang memasak?" kata Valeria yang ikut masuk ke dapur setelah menenangkan Polly.

"Nggak usah, aku bisa sendiri."

"Kalau begitu aku bantu potong sayuran ya?"

"Benaran nggak usah, cepat letakkan pisau itu."

"Kalau begitu aku yang masak?"

"Itu juga nggak usah, kamu jauh-jauh dari kompor sana!"

Setelah beberapa kali ditolak, Valeria akhirnya menangkap sesuatu yang aneh. Lagi pula, sejak berada di rumahnya tadi, Helen terus menempel padanya tanpa lepas sedikit pun.

Sekarang Helen bahkan tidak mengizinkannya masuk dapur, melarangnya mendekati pisau, apalagi menyentuh benda-benda berbahaya. Apa mungkin ....

"Kamu takut aku nggak kuat dan melakukan hal yang nekat?" Valeria terkekeh pelan.

Helen tidak ikut tertawa. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan memilih bungkam.

"Tenang saja, aku nggak akan melakukannya," janji Valeria padanya. "Janson sama sekali nggak pantas sampai aku harus begitu."

Mendengar kalimat tersebut, Helen baru bisa bernapas lega. Dia lalu mendorong Valeria keluar dari dapur dan kembali fokus melanjutkan rencana makan malamnya dengan tenang.

Meski penuh perjuangan, pada akhirnya masakannya berhasil disajikan dengan sempurna. Ketika tiga jenis masakan dan satu mangkuk sup disajikan di atas meja, Valeria dibuat agak takjub.

Helen membuka botol minuman, lalu mereka berdua minum dengan sangat puas. Kata-kata yang ingin ditanyakan tapi tertahan di tenggorokan, kini diluapkan satu per satu dengan bantuan alkohol.

"Kamu sudah yakin?"

"Ya, aku sudah yakin."

"Nggak nyesal?"

"Nggak."

"Baguslah, aku mendukungmu."

"Kamu bahkan nggak tanya alasannya kenapa?"

Helen tertawa dingin. "Memangnya bisa karena apa lagi? Selain karena si bajingan Janson itu sudah menyia-nyiakanmu, nggak ada lagi."

"Helen, kamu pintar sekali!" Valeria belum mabuk, tapi saat ini dia merasa pandangannya mulai kabur. Kalau tidak, mengapa banyak air mata yang mengalir keluar dari matanya? Jika bukan karena efek minuman tadi, air apa lagi itu?

"Dia nggak mencintaiku. Dia nggak pernah mencintaiku!" Valeria merasa luapan air mata di matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ternyata, di hadapan orang yang paling dekat dengannya, emosi benar-benar tidak akan bisa dibendung.

Sambil minum minumannya, Valeria mengumpat dan menceritakan seluruh perbuatan buruk yang dilakukan oleh Janson dan Isabela.

Helen terus mendengarkannya dalam diam. Hingga akhirnya Valeria tertidur sambil menangis, raut wajah Helen tidak bisa dikatakan buruk lagi, wajahnya pucat pasi dengan pancaran kebencian yang sangat tajam.

Helen meminum minumannya sekaligus, lalu menghempaskan gelas ke atas meja. "Aku akan menangani gugatan ceraimu ini."

Akibat mabuk semalam, saat terbangun keesokan harinya, kepala Valeria terasa agak pening.

Ketika dia bangun, Helen sudah berangkat bekerja. Di atas meja telah disiapkan sarapan beserta dua bundel surat perjanjian perceraian.

Valeria membuka WhatsApp dan benar saja, ada banyak pesan belum dibaca dari Helen. Selain berpesan agar dia makan dengan baik dan menjaga kesehatan, Helen juga menjelaskan secara rinci isi dari surat perjanjian perceraian tersebut.

Sangat profesional, cermat, dan mendalam. Di dalam batas yang diizinkan oleh hukum, Helen telah memperjuangkan keuntungan maksimal bagi Valeria.

Bisa menyusun dokumen sejauh ini dalam waktu yang sangat singkat, tampak jelas bahwa sahabatnya itu tidak tidur semalaman.

Valeria merasa sangat tersentuh. Tanpa ragu sedikit pun, dia langsung membubuhkan tanda tangannya di kolom bagian bawah. Valeria lalu memasukkan dokumen itu ke dalam tas, berniat menyerahkannya secara langsung kepada Janson nanti.

Setelah menyelesaikan urusan tersebut, Valeria duduk untuk menyantap sarapannya. Hari ini dia masih dalam masa cuti, jadi dia berencana pergi ke rumah sakit setelah selesai makan.

Namun baru makan separuh, ponselnya mendadak berdering menerima panggilan dari rumah sakit.

Perasaan Valeria seketika menjadi tegang. Saat hendak pulang kemarin, dokter sempat berpesan jika tidak ada situasi mendesak, rumah sakit tidak akan menghubunginya.

Begitu sambungan terhubung, tangan Valeria bergetar halus. "Dokter, ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada ibu saya?"

"Kamu cepat ke rumah sakit sekarang!" Nada suara dokter itu terdengar sangat buruk.

Dari suaranya, Valeria bisa mengenali bahwa itu adalah dokter yang sama dengan yang ditemuinya kemarin. Namun intonasinya telah berubah total, terdengar tidak sabar dan sangat gusar.

"Saya akan segera ke sana sekarang." Valeria tidak berani menunda. Dia langsung mengambil tasnya dan bergegas keluar rumah. Namun, karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, hatinya merasa sangat gelisah. "Apa boleh Dokter beri tahu saya dulu, sebenarnya apa yang terjadi pada ibu saya?"

"Disuruh datang ya datang saja, kenapa banyak omong?"

Setelah itu, panggilan telepon langsung diputus.

Valeria bahkan tidak sempat memikirkan, mengapa hanya dalam waktu satu hari, sikap dokter itu bisa berubah sedrastis ini. Saat ini, dia hanya berpikir untuk secepatnya sampai di rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, dokter itu ternyata sudah menunggunya. Begitu melihat Valeria datang, dia langsung memaki, "Bukannya sudah disuruh cepat datang? Kenapa baru sampai sekarang?"

"Maafkan saya, tempat tinggal saya agak jauh, jadi butuh waktu." Valeria terengah-engah kehabisan napas. "Dokter, sebenarnya ada apa dengan ibu saya?"

"Ibumu nggak bisa melanjutkan perawatan di sini lagi. Segera urus prosedur kepindahannya sekarang!"

Mendengar perkataan itu, lutut Valeria seketika terasa lemas. "Kenapa? Apa kondisinya memburuk?"

Dokter itu tidak menghiraukannya dan hanya menunduk mengisi formulir.

Valeria merasa sangat panik. "Apa ini karena masalah biaya? Uangnya sedang saya usahakan!"

Sambil berbicara, dia terburu-buru membuka aplikasi perbankan di ponselnya dan memperlihatkan saldo tabungannya kepada dokter itu dengan cemas. "Lihat Dokter, saya punya uang, sisanya juga akan segera terkumpul. Saya mohon bantu selamatkan ibu saya!"

Melihat jumlah saldo tabungan itu, kilatan mata dokter itu sempat berbinar sejenak. Namun, seolah teringat akan sesuatu, tatapannya dengan cepat kembali dingin. "Kamu nggak ngerti bahasa manusia ya? Cepat urus kepindahan ibumu!"

“Kenapa?” Valeria merasa sangat heran. Dia sempat mengira dirinya salah membuka aplikasi bank, sehingga dia ikut melihat layar ponselnya lagi. Saat itulah dia baru menyadari bahwa saldo tabungannya, yang tadinya 600 juta telah berubah menjadi 10,6 miliar.

Sepertinya Tuan Caleb sudah mentransfer uang tersebut. Dan jumlahnya pun bertambah, bukan 3,4 miliar seperti yang dibicarakan awal, tapi 10 miliar.

Tanpa sempat memikirkan alasannya lebih jauh, Valeria kembali memohon kepada dokter itu, "Lihat Dokter, sekarang saya sudah punya uangnya. Kenapa Dokter tetap nggak bisa membantu kami?"

Karena merasa kewalahan terus didesak oleh Valeria, dokter itu akhirnya berkata dengan dingin, "Ini bukan masalah uang! Cepat selesaikan prosedurnya!" Setelah itu dia langsung balik badan dan pergi.

Valeria menatap punggung dokter yang menjauh itu dengan pandangan nanar dan terpaku di tempat.

Dia benar-benar tidak habis pikir. Mengapa dokter yang kemarin masih berbicara sangat sabar dengannya, bahkan menenangkannya agar tidak terlalu cemas. Karena kondisi ibunya di rumah sakit aman dan hanya perlu mengumpulkan biaya secepatnya, hari ini bisa berubah sikap seperti ini?

Valeria berdiri terpaku di koridor rumah sakit. Ketika hembusan angin dingin bertiup melewati lorong, rasa dingin itu memicu kesadarannya untuk kembali jernih.

Seketika itu juga, dia menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 50

    Stefani menyerahkan anak anjing itu kepada Jasper. "Anak pintar, main di sana ya!"Jasper menggendong anak anjing itu lalu berlari ke arah yang ditunjuk Stefani dengan gembira.Anak anjing ini benar-benar mirip sekali dengan anjing Valeria yang dulu. Selain warna bulu dan matanya, bahkan tanda lahir di tubuhnya pun persis sama.Isabela sampai ikut berdecak kagum. "Ibu, kok bisa nemu anjing yang mirip sekali seperti ini?"Stefani mendengus dingin. "Asal ada uang, apa sih yang nggak bisa dilakukan? Kamu dan Janson ini yang aneh, keinginan kecil anak sendiri saja nggak bisa kalian turuti."Kalimat itu menyindir kejadian saat Janson meminta anjing Valeria, namun ditolak mentah-mentah.Gara-gara hal itu, Jasper sempat menangis sesenggukan beberapa kali. Tapi karena Janson tidak memberi izin, Isabela juga tidak berani bertindak lancang. Sampai akhirnya Stefani tahu masalah ini. Tak butuh waktu beberapa hari, dia langsung membeli anjing yang sangat mirip."Cuma binatang biasa begitu. Kalau an

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 49

    "Boleh, mau kamu ngecek gimana?""Menurut kamu gimana?""Ih, nakal deh!" Isabela berpura-pura merona dan menepuk pelan dada pria itu dengan manja."Kenapa? Nggak suka ya?""Suka."Janson terkekeh pelan.Mumpung suasana hati pria itu sedang bagus, Isabela dengan cepat berkata, "Tadi sepertinya aku lihat Valeria di tempat gym."Mendengar nama itu, raut wajah Janson seketika berubah dingin. "Dia mau apa ke sana?""Nggak tahu." Isabela pura-pura polos. "Mungkin mau olahraga juga. Tapi, kok dia bisa bayar di tempat mewah seperti itu. Jangan-jangan ...."Isabela sengaja menggantung kalimatnya sambil diam-diam melihat raut wajah Janson. Melihat ekspresi pria itu yang makin kelam, dia tak berani melanjutkan dan langsung mengalihkan arah pembicaraan."Tapi kalau dipikir-pikir, dia melakukan semua ini pasti demi kamu, demi bisa menarik perhatianmu lagi. Janson, seandainya suatu hari nanti dia benaran berhasil diet dan makin kurus, apa sikapmu padanya bakal berubah?""Sudah kuduga, wanita itu ben

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 48

    Kali ini Valeria yang bertindak. Dia menampar wanita itu dengan keras dua kali. Seketika, suasana menjadi hening mencekam. Semua orang menatapnya dengan raut wajah tidak percaya.Wanita yang ditampar tadi memegangi pipinya, matanya seperti mau menyemburkan api. "Berani-beraninya kamu nampar aku?""Memang iya." Valeria menatapnya dingin. "Kenapa? Kamu boleh mukul orang lain, tapi orang lain nggak boleh mukul kamu?"Wanita itu langsung bungkam, wajahnya penuh rasa tidak terima. Kemudian, dia mengentakkan kaki dan menoleh ke arah Isabela untuk minta bantuan. "Kak Isabela, cepat telepon Kak Janson! Suruh dia datang ke sini buat kasih pelajaran ke wanita sialan ini!"Mendengar sebutan itu, Valeria cuma bisa tertawa sinis dalam hati. Kak Janson? Lancar sekali dia memanggil Janson dengan sebutan itu.Padahal surat cerai mereka belum resmi diurus, tapi wanita itu sudah memanggil Janson “Kak”? Kelihatannya dibanding Valeria, Janson lebih tidak sabar untuk bercerai. Tapi baguslah kalau begitu,

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 47

    Staf itu tersenyum lagi. "Sama-sama. Saya ngomong jujur kok."Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, mendadak terdengar suara ramai di depan pintu. Salah satu suaranya terdengar sangat familier di telinga Valeria. Tapi sebelum dia sempat mengingat siapa pemilik suara itu, rombongan itu sudah muncul di depan matanya.Ternyata Isabela, dengan dua orang teman wanitanya yang mengekor di belakang.Isabela mengenakan setelan baju yoga warna putih dan rambutnya disanggul tinggi. Lekuk tubuhnya kelihatan sangat proporsional, memancarkan kesan anggun dan elegan.Saat melihat Valeria, ada kilat kekaguman yang sempat berkelebat di matanya. Tapi raut wajahnya kembali seperti semula dengan cepat, lalu mendengus dingin.Dua wanita di belakang Isabela memakai pakaian yang hampir senada, bedanya penampilan mereka tidak seanggun Isabela. Mereka berdua memandangi Valeria dari atas sampai bawah, dengan tatapan meremehkan. Salah satu dari mereka langsung menyindir, "Baru kali ini aku lihat orang gemuk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 46

    Sifat Valeria cenderung hati-hati dan tidak begitu suka ikut campur di keramaian. Jadi, aksi Tuan Smith yang mencari keberadaannya secara terang-terangan di internet, membuatnya merasa agak risi.Akhirnya, setelah membalas beberapa pertanyaan penting di kolom komentar, dia langsung log out dari akunnya.…Keesokan harinya sepulang kerja, Valeria datang ke tempat gym yang direkomendasikan Helen sesuai alamat.Tempat gym itu sangat mewah. Selain peralatannya lengkap, suasananya juga sangat bersih dan rapi. Baru saja Valeria melangkah masuk, seorang staf wanita yang masih muda dan cantik langsung menyambutnya dengan ramah.Staf itu tampak masih sangat muda, senyumnya manis sampai lesung pipinya kelihatan. "Halo, ada yang bisa saya bantu?"Datang ke tempat seperti ini, sebenarnya membuat Valeria merasa agak canggung. Beberapa tahun ini, dia tahu badannya makin berisi. Jadi dia sering menyembunyikan diri di dalam pakaian longgar, demi menghindari obrolan soal bentuk tubuh.Tapi saat melangk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 45

    Travis menatap foto itu sebentar. Setelah sadar Caleb masih memperhatikannya, dia baru mengangkat pandangannya dan mematikan layar ponsel. "Lalu kapan kita berangkat, Pak?" Caleb memberanikan diri bertanya lagi."Besok.""Cepat sekali?" Caleb sangat terkejut. Kedatangan mereka ke Kota Belona baru genap sehari. Berarti perjalanan mereka kali ini hanya menyelesaikan dua hal. Berkunjung ke Rumah Sakit Karshan dan makan malam dengan Valeria."Di kantor masih banyak urusan yang harus diselesaikan," jawab Travis santai.'Ternyata Anda tahu ya,' batin Caleb. Dia mengira bosnya sudah lupa.Akhir tahun memang masa-masa paling sibuk, di mana kantor cabang maupun pusat penuh dengan jadwal rapat dan kunjungan kerja setiap hari. Sejak awal saat bosnya mengajak pergi ke Kota Belona, Caleb sebenarnya merasa jadwal agenda mereka kurang pas.Namun, karena posisinya hanya sebagai bawahan, Caleb hanya bisa ikut pergi. Dia berpikir, karena sudah telanjur di Kota Belona, sekalian saja menemui mitra bisnis

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status