Compartir

Bab 6

Autor: Mega Raras
Helen. Nama lengkapnya adalah Helen Pamela, seorang pengacara, sekaligus sahabat terbaik dalam 24 tahun perjalanan hidup Valeria.

Merek bersahabat sejak SMA dan berkuliah di perguruan tinggi yang sama. Kebersamaan selama tujuh tahun, telah membuat hubungan mereka menjadi sangat erat, tak terpisahkan, dan saling memahami luar dalam.

Titik balik hubungan mereka terjadi tiga tahun lalu, tepatnya ketika Valeria memutuskan untuk menikah dengan Janson. Helen menentang keras keputusan itu. Dia berulang kali menegaskan bahwa Janson tidak menyukai Valeria seperti yang dibayangkan gadis itu. Jika tetap menikah dengannya, Valeria tidak akan pernah bahagia.

Namun, Valeria saat itu sudah dibutakan oleh cinta. Kepalanya hanya dipenuhi keinginan untuk menikah dengan Janson. Dia mengira sedikit rasa suka saja sudah cukup, dan kalaupun belum ada rasa cinta, perasaan itu bisa dipupuk seiring berjalannya waktu. Dia memiliki seluruh kesabaran dan waktu di dunia untuk menunggu pria itu luluh.

Melihat bujukannya tidak mempan dan tidak sanggup menyaksikan sahabatnya menikah dengan Janson, Helen yang tersulut emosi, akhirnya memutuskan hubungan persahabatan mereka.

Sejak saat itu, mereka tidak pernah saling mengabari lagi.

Kini waktu telah berlalu. Ketika menengok kembali ke masa-masa itu, Valeria baru menyadari bahwa Helen sejak awal telah melihat inti masalah ini dengan sangat jelas. Oleh karena itu, Helen menasihatinya sangat keras.

Sayangnya, Valeria yang dulu begitu buta hingga tak sanggup melihatnya.

Hening beberapa saat di telepon. Mengira panggilannya terputus, Valeria mencoba memanggil lagi dengan ragu, "Helen, halo? Masih di sana nggak?"

"Ya," jawab Helen akhirnya. Suaranya masih terdengar dingin, namun rasa asing dan jarak yang membentang di awal tadi perlahan memudar. "Kamu ada di mana sekarang?"

Valeria menengadah menatap papan nama "Leston Hills". Tidak ingin Helen terlibat terlalu jauh dengan tempat sialan itu, dia menyebutkan nama jalan yang tak jauh dari sana.

"Tunggu aku, aku segera ke sana."

"Nggak perlu, aku ...."

"Tunggu aku di sana," sela Helen tegas sebelum Valeria sempat menyelesaikan kalimatnya. "Nggak akan lama, sekitar 30 menit. Cari tempat yang hangat dulu."

"Ya." Mendengar sahabatnya itu, mata Valeria terasa panas dan menggenang. Meski cara bicaranya terdengar begitu galak dan ketus, Valeria tahu betul bahwa inilah Helen yang sebenarnya. Sosok yang berhati lembut meski berlidah tajam, sosok yang selalu menjadi sandarannya di saat dia berada dalam kondisi paling berantakan.

Suhu di Kota Belona sangat rendah. Baru sebentar berdiri di luar, tangan dan kaki Valeria sudah terasa membeku.

Valeria menggunakan ponselnya untuk mencari kedai kopi terdekat dan memesan segelas kopi dengan promo, dia berniat menumpang hangat di sana sejenak. Namun, baru saja hendak melangkah, ponselnya kembali berdering.

Janson meneleponnya.

Valeria menggeser tombol jawab. Suara dingin dan tidak sabaran seketika terdengar. "Kamu mukul Jasper dan merusak barang-barang di rumah?"

Baru 10 menit dia meninggalkan Leston Hills, tapi Janson sudah menelepon untuk menuntut penjelasan. Sepertinya Janson benar-benar sangat menyayangi anak itu.

"Ya, aku memang melakukannya." Valeria tidak mencoba membela diri.

"Sepertinya aku terlalu lunak padamu selama ini." Janson tertawa dingin di seberang sana. "Sebelum melakukan semua itu, apa kamu pernah berpikir sanggup nggak menanggung konsekuensinya?"

Setiap suara pria itu berubah dingin, Valeria akan refleks merasa gentar. Selama tiga tahun ini, asal Janson berbicara dengan nada seperti ini, dia pasti akan membiarkan pria itu mengomelinya, atau langsung meminta maaf dan mengalah. Tanpa peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai amarah pria itu reda.

Kebiasaan yang berlangsung lama itu telah meresap ke dalam aliran darahnya, terkadang terasa jauh lebih mengerikan daripada DNA.

Valeria menekan debaran kencang jantungnya, berusaha keras menjaga akal sehat dan ketenangannya. "Janson, jangan lupa. Rumah itu adalah rumah pernikahan kita berdua, dan Jasper adalah anak yang kita adopsi. Di rumahku sendiri, aku merusak barangku sendiri, dan memukul anakku sendiri, memangnya ada masalah?"

Begitu selesai mendengarnya, Janson terdiam.

Valeria pun memilih bungkam, tetap diam bertahan dalam konfrontasi dingin ini.

Dia tahu betapa tajamnya efek kalimat tadi bagi Janson, dan dia memang sengaja mengucapkannya. Karena mereka yang memulai permainan ini, maka dia akan melayani mereka memainkan sandiwara ini hingga tuntas.

"Valeria, kamu tahu apa yang sedang kamu katakan? Siapa yang membuatmu berani berbicara denganku menggunakan nada seperti ini?"

Meski terhalang ponsel, Valeria bisa merasakan amarah yang meluap-luap dari seberang sana.

Namun, Valeria sangat memahaminya. Bagaimanapun juga, di hadapan pria ini dulu, dia bahkan tidak pernah berani mengucapkan kata "tidak". Jika dikatakan secara kasar, dulu dia seperti seekor anjing penurut bagi Janson. Sekarang, ketika "anjing" itu berani menggigit balik, tentu saja pria seangkuh Janson sangat sulit menerimanya.

"Ini mulutku sendiri, terserah aku mau bicara gimana."

"Valeria!" bentak Janson dengan nada tinggi. "Karena ibumu sedang sakit dan suasana hatimu sedang buruk, aku bisa mengabaikan kata-katamu barusan. Tapi soal kamu memukul Jasper, ini belum selesai. Kamu harus minta maaf padanya!"

"Aku nggak merasa salah, aku nggak akan minta maaf padanya."

"Soal minta maaf atau nggak, kamu nggak berhak mutuskan! Sepertinya kamu masih belum paham juga posisimu di mana."

"Janson, apa kamu mau pakai pekerjaan lagi untuk menekanku? Aku beri tahu, aku ...."

"Aku nggak mau dengar urusanmu!" potong Janson kasar sebelum dia selesai bicara. "Kamu tahu cara kerjaku. Aku nggak pernah jilat ludahku sendiri. Kalau nggak mau minta maaf, ya terserah. Asal kamu sanggup menanggung akibatnya!"

Setelah itu, Janson langsung memutus sambungan telepon.

Valeria mendengarkan nada tut-tut dari ponselnya dengan perasaan ironis. Pria seperti inilah yang dulu dia cintai setengah mati selama bertahun-tahun. Padahal tadi dia berniat memberi tahu pria itu tentang pengunduran dirinya dari perusahaan, tapi sepertinya sekarang hal itu sudah tidak penting lagi.

Helen datang dengan sangat cepat. Dia bilang butuh waktu 30 menit, namun tidak sampai 20 menit mobilnya sudah sampai.

Valeria yang berdiri di tepi jalan menunggunya, melihat seorang wanita berpenampilan ringkas, tegas, dengan bentuk tubuh yang ramping dan modis keluar dari mobil. Valeria tidak bisa menahan rasa kagum di dalam hati. Perasaan bahagianya melihat Helen masih sama seperti tiga tahun lalu, tidak berubah sedikit pun.

Namun, tatapan mata Helen saat memandangnya sama sekali tidak sehangat itu. Sejak melihat Valeria dari kejauhan, dahinya sudah berkerut dalam. Semakin mendekat, kerutan itu semakin jelas.

"Helen, lama nggak ketemu."

"Aku ‘kan sudah bilang tunggu di dalam."

Mereka berbicara secara bersamaan. Namun dibanding sapaan Valeria, kalimat Helen terasa jauh lebih lugas.

"Nggak apa-apa, di luar nggak terlalu dingin kok. Kalau aku keluar lebih awal, aku bisa melihatmu lebih cepat."

Helen tidak menanggapi godaan kecil itu, dia hanya membukakan pintu mobil untuk Valeria. "Naik."

"Oke."

Pemanas di dalam mobil menyala. Tubuh Valeria perlahan mulai hangat kembali, dan perasaan tegangnya pun berangsur-angsur mereda. Dia menoleh menatap wajah Helen dari samping. "Kamu masih sama seperti dulu, nggak berubah sama sekali."

"Tapi kamu berubah sekali," balas Helen dengan nada ketus.

Begitu topik itu diungkit, perasaan minder seketika menyelubungi diri Valeria. Selama beberapa tahun ini, sudah banyak orang yang menilai penampilan dan bentuk tubuhnya. Semuanya dipenuhi raut jijik atau kasihan.

Karena itulah, saat mendengar Helen mengatakan kata-kata itu, dia mendadak tidak tahu harus merespons apa.

Helen meliriknya sekilas, lalu melembutkan intonasi suaranya sedikit dibanding sebelumnya. "Kenapa? Menikah dengan Janson ternyata nggak membuatmu bahagia? Kenapa kamu sampai kelihatan lesu dan kusam begini?"

Mendengar jawaban itu, Valeria dibuat tertegun. Orang-orang yang melihat bentuk tubuhnya saat ini, akan langsung bilang bahwa dia pasti mengambil banyak uang haram di Kota Hofra hingga tubuhnya menjadi gemuk. Namun Helen, pada pandangan pertama, justru langsung menyadari bahwa dia hidup menderita.

"Apa kelihatan sejelas itu?"

"Menurutmu gimana?"

"Tapi orang-orang bilang aku tambah gemuk karena makan uang haram dan hidup enak."

"Orang buta mana yang bilang begitu? Penampilanmu ini jelas-jelas karena kurang tidur parah dan stres kerja berat, yang membuat metabolisme tubuhmu kacau! Lingkaran hitam tebal di bawah matamu itu, apa mereka semua buta sampai nggak bisa lihat?"

Mendengar kata-kata marah itu, Valeria justru tertawa pelan. Karena Helen tetaplah Helen, orang yang akan selalu berdiri membelanya, memahami dirinya, dan melindunginya tanpa syarat.

"Kenapa malah tertawa?" Wajah Helen masih tampak datar dan kaku, namun nada bicaranya sudah sepenuhnya melunak.

"Nggak ada apa-apa."

Karena Valeria tidak ingin membahasnya lebih lanjut, Helen pun tidak bertanya lagi. Mereka berdua tetap diam sepanjang perjalanan, namun suasana di antara mereka terasa sangat hangat dan harmonis.

Setelah agak lama, baru Valeria teringat untuk bertanya, "Kita mau ke mana?"

"Ke rumahku."

"Rumahmu?"

"Kenapa, nggak mau?"

"Tentu saja mau." Valeria hanya takut merepotkan Helen. Namun, melirik ekspresi wajah Helen di sebelahnya, dia memutuskan untuk tidak banyak bicara lagi. "Kalau begitu, apa aku boleh mampir sebentar ke rumahku dulu?"

Helen tidak menjawab secara lisan, namun mobilnya segera memutar balik di persimpangan lampu merah berikutnya, melaju menuju arah rumah Valeria.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 50

    Stefani menyerahkan anak anjing itu kepada Jasper. "Anak pintar, main di sana ya!"Jasper menggendong anak anjing itu lalu berlari ke arah yang ditunjuk Stefani dengan gembira.Anak anjing ini benar-benar mirip sekali dengan anjing Valeria yang dulu. Selain warna bulu dan matanya, bahkan tanda lahir di tubuhnya pun persis sama.Isabela sampai ikut berdecak kagum. "Ibu, kok bisa nemu anjing yang mirip sekali seperti ini?"Stefani mendengus dingin. "Asal ada uang, apa sih yang nggak bisa dilakukan? Kamu dan Janson ini yang aneh, keinginan kecil anak sendiri saja nggak bisa kalian turuti."Kalimat itu menyindir kejadian saat Janson meminta anjing Valeria, namun ditolak mentah-mentah.Gara-gara hal itu, Jasper sempat menangis sesenggukan beberapa kali. Tapi karena Janson tidak memberi izin, Isabela juga tidak berani bertindak lancang. Sampai akhirnya Stefani tahu masalah ini. Tak butuh waktu beberapa hari, dia langsung membeli anjing yang sangat mirip."Cuma binatang biasa begitu. Kalau an

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 49

    "Boleh, mau kamu ngecek gimana?""Menurut kamu gimana?""Ih, nakal deh!" Isabela berpura-pura merona dan menepuk pelan dada pria itu dengan manja."Kenapa? Nggak suka ya?""Suka."Janson terkekeh pelan.Mumpung suasana hati pria itu sedang bagus, Isabela dengan cepat berkata, "Tadi sepertinya aku lihat Valeria di tempat gym."Mendengar nama itu, raut wajah Janson seketika berubah dingin. "Dia mau apa ke sana?""Nggak tahu." Isabela pura-pura polos. "Mungkin mau olahraga juga. Tapi, kok dia bisa bayar di tempat mewah seperti itu. Jangan-jangan ...."Isabela sengaja menggantung kalimatnya sambil diam-diam melihat raut wajah Janson. Melihat ekspresi pria itu yang makin kelam, dia tak berani melanjutkan dan langsung mengalihkan arah pembicaraan."Tapi kalau dipikir-pikir, dia melakukan semua ini pasti demi kamu, demi bisa menarik perhatianmu lagi. Janson, seandainya suatu hari nanti dia benaran berhasil diet dan makin kurus, apa sikapmu padanya bakal berubah?""Sudah kuduga, wanita itu ben

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 48

    Kali ini Valeria yang bertindak. Dia menampar wanita itu dengan keras dua kali. Seketika, suasana menjadi hening mencekam. Semua orang menatapnya dengan raut wajah tidak percaya.Wanita yang ditampar tadi memegangi pipinya, matanya seperti mau menyemburkan api. "Berani-beraninya kamu nampar aku?""Memang iya." Valeria menatapnya dingin. "Kenapa? Kamu boleh mukul orang lain, tapi orang lain nggak boleh mukul kamu?"Wanita itu langsung bungkam, wajahnya penuh rasa tidak terima. Kemudian, dia mengentakkan kaki dan menoleh ke arah Isabela untuk minta bantuan. "Kak Isabela, cepat telepon Kak Janson! Suruh dia datang ke sini buat kasih pelajaran ke wanita sialan ini!"Mendengar sebutan itu, Valeria cuma bisa tertawa sinis dalam hati. Kak Janson? Lancar sekali dia memanggil Janson dengan sebutan itu.Padahal surat cerai mereka belum resmi diurus, tapi wanita itu sudah memanggil Janson “Kak”? Kelihatannya dibanding Valeria, Janson lebih tidak sabar untuk bercerai. Tapi baguslah kalau begitu,

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 47

    Staf itu tersenyum lagi. "Sama-sama. Saya ngomong jujur kok."Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, mendadak terdengar suara ramai di depan pintu. Salah satu suaranya terdengar sangat familier di telinga Valeria. Tapi sebelum dia sempat mengingat siapa pemilik suara itu, rombongan itu sudah muncul di depan matanya.Ternyata Isabela, dengan dua orang teman wanitanya yang mengekor di belakang.Isabela mengenakan setelan baju yoga warna putih dan rambutnya disanggul tinggi. Lekuk tubuhnya kelihatan sangat proporsional, memancarkan kesan anggun dan elegan.Saat melihat Valeria, ada kilat kekaguman yang sempat berkelebat di matanya. Tapi raut wajahnya kembali seperti semula dengan cepat, lalu mendengus dingin.Dua wanita di belakang Isabela memakai pakaian yang hampir senada, bedanya penampilan mereka tidak seanggun Isabela. Mereka berdua memandangi Valeria dari atas sampai bawah, dengan tatapan meremehkan. Salah satu dari mereka langsung menyindir, "Baru kali ini aku lihat orang gemuk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 46

    Sifat Valeria cenderung hati-hati dan tidak begitu suka ikut campur di keramaian. Jadi, aksi Tuan Smith yang mencari keberadaannya secara terang-terangan di internet, membuatnya merasa agak risi.Akhirnya, setelah membalas beberapa pertanyaan penting di kolom komentar, dia langsung log out dari akunnya.…Keesokan harinya sepulang kerja, Valeria datang ke tempat gym yang direkomendasikan Helen sesuai alamat.Tempat gym itu sangat mewah. Selain peralatannya lengkap, suasananya juga sangat bersih dan rapi. Baru saja Valeria melangkah masuk, seorang staf wanita yang masih muda dan cantik langsung menyambutnya dengan ramah.Staf itu tampak masih sangat muda, senyumnya manis sampai lesung pipinya kelihatan. "Halo, ada yang bisa saya bantu?"Datang ke tempat seperti ini, sebenarnya membuat Valeria merasa agak canggung. Beberapa tahun ini, dia tahu badannya makin berisi. Jadi dia sering menyembunyikan diri di dalam pakaian longgar, demi menghindari obrolan soal bentuk tubuh.Tapi saat melangk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 45

    Travis menatap foto itu sebentar. Setelah sadar Caleb masih memperhatikannya, dia baru mengangkat pandangannya dan mematikan layar ponsel. "Lalu kapan kita berangkat, Pak?" Caleb memberanikan diri bertanya lagi."Besok.""Cepat sekali?" Caleb sangat terkejut. Kedatangan mereka ke Kota Belona baru genap sehari. Berarti perjalanan mereka kali ini hanya menyelesaikan dua hal. Berkunjung ke Rumah Sakit Karshan dan makan malam dengan Valeria."Di kantor masih banyak urusan yang harus diselesaikan," jawab Travis santai.'Ternyata Anda tahu ya,' batin Caleb. Dia mengira bosnya sudah lupa.Akhir tahun memang masa-masa paling sibuk, di mana kantor cabang maupun pusat penuh dengan jadwal rapat dan kunjungan kerja setiap hari. Sejak awal saat bosnya mengajak pergi ke Kota Belona, Caleb sebenarnya merasa jadwal agenda mereka kurang pas.Namun, karena posisinya hanya sebagai bawahan, Caleb hanya bisa ikut pergi. Dia berpikir, karena sudah telanjur di Kota Belona, sekalian saja menemui mitra bisnis

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status