Share

PART 5

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tetapi belum membuat Gia beranjak dari depan komputernya. Sesekali ia meregangkan tubuhnya yang mulai terasa pegal, gadis itu menghela napas saat melihat setumpuk berkas yang harus ia kerjakan.

"Sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini," gumamnya lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya, tanpa menyadari seseorang yang sudah berdiri di depan tempat kerjanya.

Gia tersentak ketika suara ketukan terdengar dari mejanya, ia menoleh dan melihat orang yang ia kenal tengah berdiri didepan mejanya, "Kau lembur, nona Gia?" tanya laki-laki itu.

"Ah, iya pak."

Max tersenyum lalu meletakkan sebuah gelas yang ia bawa di atas meja Gia membuat gadis itu bingung, "Minumlah, aku membuatkanmu kopi."

"Emm..., terimakasih pak." Max menggangguk, "ah, pak Bastian sudah pergi sejak 1 jam yang lalu pak," katanya, ketika melihat Max masih berada di posisi yang sama.

"Tidak-tidak, aku tidak mencari boss."

Gadis itu mengangguk kecil, tetapi juga tetap menerka-nerka tujuan pria yang berstatus kaki tangan boss-nya itu.

"Aku dengar kau menolak tawaran Bastian, benar?" tanya Max to the point.

Gia mulai paham kemana arah pembicaraan ini. Ia mengangguk, "Benar, Pak."

"Why?"

"Untuk apa saya harus ikut bersamanya? Itu sudah diluar dari tugas saya sebagai sekretaris beliau."

Max mengangguk paham, "Dia tidak menjelaskan dengan jelas rupanya," gumam laki-laki itu.

"Baiklah nona, tapi tetap pikirkanlah tawaran itu, harganya lumayan untuk membantu pengobatan ibumu, 'kan. Aku permisi," lanjut Max lalu meninggalkan Gia.

Gia menghela napas berat, ia tak habis pikir mengapa bossnya itu bisa berpikir untuk mengajaknya mengahadiri makan malam keluarga dengannya. Bahkan dia bisa mendapatkan yang lebih layak dibandingkan dia, maksudnya, dengan wajah setampan itu mustahil jika ada wanita yang menolak ajakannya.

"Aku tak habis pikir jalan pikiran konglomerat," gumamnya.

Gia sampai dikediamannya tepat pukul 10 malam, ia memasuki apartemen kecil itu dengan hati-hati takut membangunkan ibunya yang sudah terlelap. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas kasur, mencoba meregangkan ototnya yang kaku akibat terlalu lama duduk dikantornya.

Ia memejamkan matanya sejenak lalu bangkit dan meraih kalender kecil yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya. "Sudah jadwal mama kontrol," gumamnya.

Ia kembali menghela napas, setelah sepeninggal ayahnya, hidupnya memang berubah. Gia harus menjadi tulang punggung keluarga menggantikan ayahnya. Menjadi ayah bagi adiknya dan suami juga anak pertama perempuan bagi ibunya.

"Papa apa kabar? Gia hari ini lelah sekali," katanya kepada pigora yang terdapat gambar ayahnya yang kini sudah ada ditangannya. "Papa bahagia disana ya, tenang aja aku bakal selalu jagain mama sama adek," lanjutnya.

*****

Keesokan harinya, seperti biasa di setiap minggu di hari ke tiga, Gia akan ijin untuk mengantar ibunya menajalani kontrol cuci darah. Ini sudah menjadi rutinitasnya selama 3 tahun terakhir, setelah mengetahui jika ibunya menderita gagal ginjal yang mengharuskannya untuk cuci darah dua kali dalam satu minggu.

Gia duduk menunggu di ruang tunggu sembari memainkan ponselnya. Hari ini akan ada lebih banyak pekerjaan menanti diruangannya, terlebih lagi bossnya akan ada 2 kali meetting di tempat berbeda.

Drrtt...

Ponselnya berdering, gadis itu menerima panggilan telepon dengan nickname 'Carl' di layar ponselnya, "Halo, ada apa Carl?"

"..."

"Aku di rumah sakit, hari ini jadwal mama cuci darah."

"..."

"Tidak masalah, aku bisa mengurusnya sendiri."

"..."

"Iya. Kau tenang saja."

"..."

"Ya, oke. Bye."

Gia mengakhiri panggilan telepon tersebut, tetapi belum ada 5 menit setelah telepon itu mati dering ponselnya kembali berbunyi. Gadis itu sekali lagi menerima panggilan ponselnya tanpa melihat terlebih dulu si peneleponnya.

"Aku bisa mengurusnya sendiri, Carl," ujarnya sedikit tegas.

"Apa maksudmu?" Satu pertanyaan itu membuat gadis itu terkejut mendengar suara yang melintas di telinganya, "nona Gia, kau dimana? Kenapa kau belum ada dikantor?"

"P-pak CEO? Maaf pak saya kira teman saya. Saya masih di rumah sakit pak," jawab Gia masih merutuki dirinya sendiri.

"Kapan kau kembali ke kantor?"

"Mungkin sekitar satu setengah jam lagi."

"Rumah sakit mana?"

"Setia Medika, Pak."

"Aku akan mengirim orangku kesana untuk mengantar ibumu, dan aku mau kau segera kembali ke kantor!"

Belum sempat gadis itu menjawab, panggilan telepon itu sudah terputus. Gia sedikit kesal dengan bossnya itu yang dengan sesuka hati menyuruhnya kembali ke kantor.

"Padahal aku masih punya waktu 2 jam lagi," gumamnya.

Tak berselang lama, 2 orang laki-laki berbadan tegap dengan pakaian serba hitam datang menghampirinya. Setelah memastikan jika mereka benar bawahan Bastian, Gia pun pergi kembali menuju kantornya.

Meski dengan perasaan khawatir dan sedikit rasa kesal, gadis itu tetap melempar senyumannya pada beberapa orang rekan kerjanya saat sampai dikantor. Baru saja ia meletakkan tasnya diatas meja, telepon kantornya berdering, menunjukkan panggilan dari CEO-nya.

Gia menghela napas sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan bossnya itu, tak lupa dengan sedikit senyum di ujung bibirnya.

Ia membuka pintu tersebut setelah bastian mengijinkannya masuk, "Meetting hari ini, tolong pindahkan satu jadwal ke hari lain," titahnya tanpa memalingkan tatapannya dari berkas yang ia baca.

"Maaf, Pak, tapi bukankah 2 meeting ini penting?"

"Ikuti saja perintahku, kenapa kau jadi banyak bertanya?"

Gia bungkam, "Baik pak." Gia kembali keruangannya, dan menghempas tubuhnya dikursi.

"Huh! Padahal aku hanya bertanya," gumamnya.

Ya, Gia hanya bisa bergumam untuk menghilangkan kekesalannya kepada boss yang selalu membuatnya harus menambah lapisan kesabarannya.

Ia mulai mengganti beberapa jadwal Bastian dan juga membatalkan salah satu meeting dengan klien mereka.

***

Gia berada di cafeteria dengan secangkir kopi di hadapannya, telunjuknya tak henti-henti bergerak memutar bibir cangkir tersebut. Pikirannya memang sedikit tidak terkendali belakangan ini, memikirkan kesehatan ibunya, juga biaya hidup adiknya yang tak sedikit.

Tuk! Tuk!

Sebuah ketukan dimeja membuatnya tersadar dari lamunan singkatnya. Gadis itu menoleh dan melihat Carlos di hadapannya memandangnya penuh tanya lalu duduk dihadapannya.

"Mikir apa?"

"Bukan apa-apa."

"Kau tak bisa membohongiku."

"Aku tak membohongimu."

Carlos menghela napas, "Kalau kau ada masalah, ceritakan padaku. Aku bisa membantumu," kata pemuda itu yang dibalas gelengan kepala oleh Gia. Carlos memandang Gia seksama, "apa biaya pengobatan mama dan biaya adikmu baik-baik saja?"

Gia memandang sahabatnya itu, "Ya, tentu saja semua baik-baik saja."

"Bohong! Kau pasti sedang bingung memikirkan biaya adikmu sekarang, right?"

Gia berdecak, "Berhenti mencoba menelisikku, Carl. Kau mulai terlihat menyeramkan dengan keahlianmu itu," kata gadis itu lalu menyesap minumannya.

"Haha, sudah ku bilang kau tak bisa membohongiku. Jadi apa yang bisa ku bantu?"

"Tidak ada, kau sudah cukup membantuku, aku tak mau membebanimu lagi."

"Kau berbicara seolah kita baru saja berteman kemarin, Gia."

"Anggap saja begitu, aku tak mau merepotkanmu lagi," katanya lalu bangkit dan pergi meninggalkan Carlos.

Perasaannya sangat tidak beraturan hari ini, ia lelah tetapi tak ingin berhenti. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri, tetapi ia tak memiliki kesempatan itu. Ia juga sadar jika dirinya tak bisa sesantai itu.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status