Share

3. Suatu ketika di 2018

Aku duduk di bagian paling depan kafe Gartenhaus. Dengan beberapa manusia yang sedang melakukan sesuatu pekerjaan atau berbincang-bincang dengan lawan bicaranya. Aku pun tak bisa mendengar apa-apa. Kafe ini terlalu bising buatku. Kalau saja aku tidak lapar, aku tidak akan masuk ke dalam kafe ini. Aku lebih suka kafe yang sepi tapi memiliki pemandangan yang indah. 

Tiba tiba lelaki di samping mejaku itu berdiri menghampiri. Aku sedikit kaget tapi coba menutupinya dengan pura-pura menulis sesuatu di laptop. 

"Maaf ada sesuatu yang terjatuh dari mejamu."

Kulihat tangannya memanjang ke arah bawah, tepat di kaki mejaku. Rupanya buku catatanku terjatuh dan aku tidak menyadarinya, tergeletak begitu saja. Namun aku hanya bisa menunduk, tak berani menatap matanya.

Aku canggung jika seperti ini, tapi lama-kelamaan kutegakkan kepalaku setelah buku catatan itu aku pegang. Aku pikir tak sopan jika aku tak memandang lawan bicaraku.

"Sendirian saja, Mbak?" tanyanya padaku. "Perkenalkan aku Galendra Kasyafani, pelanggan setia kafe ini.

Mbak baru berkunjung di kafe ini, ya? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Tenang Mbak, aku bukan orang jahat. Aku hanya sedikit penasaran denganmu kalau boleh jujur. Karena kulihat dari tadi Mbak hanya menatap layar tanpa sedikit pun mengetikkan sesuatu kecuali saat aku mendatangimu,"

Lalu percakapan itu berubah menjadi keakraban untukku. 

"Maaf, ya, soal sikapku, aku hanya tak terbiasa disapa seseorang di muka umum seperti ini. Oh, namaku Zia Mysha Muntazar. Dan ya, tebakanmu benar. Aku baru pertama kali berkunjung ke kafe ini."

Menurutku kafe ini memiliki interior yang indah hanya saja suasananya sedikit bising. Serasa di tengah hutan tropis ya. Namanya juga unik "Kafe Gartenhaus". Suasananya juga sungguh unik, para pengunjung bisa sedikit refreshing dengan berkeliling. Ada beberapa hewan lucu yang bisa pengunjung temukan di sini, bermain bersama mereka tentu akan membuat pengunjung senang.

Terkadang pertemuan yang tak terduga seperti ini membuat kesan tersendiri. Teman yang baru aku temui itu bersikap sok akrab terhadapku. Biasanya aku tak nyaman dengan seseorang seperti ini. Jujur lebih suka dengan seseorang yang irit bicara tapi dengannya aku tersenyum hingga gigiku yang berbaris itu terlihat. Tertawa sampai keluar air mata. Aku tak paham 

Mengenal cinta, meraba rasa.

Aku masih ingat betul, kami berkenalan dengan cara yang unik. Dia membantuku mengambil buku catatan yang terjatuh setelah diam-diam lekat memperhatikan. Lantas berani bergabung di mejaku bercakap-cakap dengan mata yang berbinar, tersenyum, dan banyak sekali terdiam saat aku yang berbicara. Kemudian di akhir perjumpaan yang singkat itu dia menyebutkan nama  "Galendra Kasyafani", memberikan nomor telepon yang ditulisnya pada selembar tisu setelah membayar makanan pesananku.

Sempat kutolak, tapi dia bilang mentraktir bidadari. 

Membutuhkan waktu untuk memutuskan apakah harus menghubunginya atau mengabaikannya, menganggap anginnya lalu. Tapi akhirnya aku mengiriminya pesan pendek di aplikasi Green. Di dalamnya aku bertanya apa maksud dia memberikan nomor telepon kepadaku. 

"Tadi maksudnya ngasih nomor telepon apa, ya?"

"Oh itu, soalnya aku ingin lebih mengenal seseorang sepertimu. Tapi, sepertinya kamu tidak sependiam yang kupikirkan. Maksudku mungkin di awal kamu diam dan pendengar cerita yang baik, tapi saat kamu menyambung apa yang aku ceritakan dan berbalik cerita banyak hal, sesekali tertawa, itu membuktikan sesuatu bahwa kamu tidak sependiam itu. Ya hanya di awal dan saat-saat tertentu saja."

Membaca pesan singkat darinya membuatku tertegun beberapa detik.

Orang ini sebegitu detail memperhatikan apa-apa yang terjadi tadi. Hanya saja, aku tak menyadari hal itu. Lalu, kubalas pesan itu dengan sebuah penilaian juga. 

"Kamu pun bukan seseorang yang banyak bicara seperti kelihatannya. Mungkin hanya untuk seseorang yang baru saja berkenalan, berteman, tapi untuk seseorang yang benar-benar dekat aku rasa kamu akan berubah menjadi pendengar yang baik saja.

Tadi saat aku bercerita tentang sesuatu, kamu hanya tersenyum tak menimpali, kecuali aku selesai berbicara."

Sejak obrolan singkat itu kami mulai berteman dekat dan saling mengagumi. Ia mengagumiku karena kesederhaanku.

Sementara aku mengaguminya karena kebaikannya. Ia sering menemaniku saat aku butuh seorang pendengar.

Dia tidak menghakimi apa-apa yang telah aku katakan.  Dia tahu benar apa arti pendengar. Dia bukan seseorang yang bersembunyi di balik kata menasihati. Tak kusangka keakrabannya di awal perjumpaan dulu hanya pembuka saja. Selebihnya sebaliknya.

Benar kata orang, jangan sebarangan menilai seseorang dari tampilan dan kelihatannya. 

Sebab tampilan dan kelihatannya bisa salah, bisa menipu. 

Semua memang berjalan sesuai dengan skenario-Nya.

Tak ada ungkapan aku menyukaimu, mencintaimu, atau yang lain di antara kami. Tapi hati kita sama-sama mengetahui ada sesuatu di hati yang sulit dijabarkan oleh kata atau kalimat panjang. Kau tahu kenapa? Karena sikap kita sudah mengatakan lebih dari itu.

Aku tersenyum saat mengingat masa itu. Malam itu aku merasa lebih santai dengan baju tidur berwarna pink, rambut sebahu diikat ke belakang agar lebih rapi, perlahan telentang memandang langit-langit kamar. Aku ingat-ingat lagi saat aku mengenalkannya pada Bia.

Aku bilang dia adalah kenalan yang tak sengaja aku temukan saat aku kelaparan di sebuah kafe.  Awalnya Bia kaget mendengarnya. Dan lucunya Galendra membenarkan ceritaku dan mengatakan bahwa dialah yang membayar makanan yang kumakan di kafe.

Aku berusaha menahan isak tangis dan menyeka air mata ketika teringat masa-masa itu. Perlahan aku bangkit dan turun dari tempat tidur, menuju meja. Tanganku menuliskan sesuatu dalam secarik kertas berwarna biru langit dengan hiasan kupu-kupu. Mencurahkan semua isi hati dalam bait-bait puisi.

Bumi Allah, bumi cinta, 2020.

“Teruntuk Adam dari Hawa yang merindu. Biarkan saja jika masih ada jarak, masih rindu, masih, dan masih yang lain. 

Begitu sebaris kalimat yang aku tulis. Malam kian larut memasuki waktu sepertiga. Waktunya salat tahajud, salat yang menjadikan jiwa kuat dan semakin yakin akan kuasa Allah. Setelah menunaikan salat, aku merasakan tubuhku sangat lelah.

Aku merambat pelan menuju ranjang, kuhempaskan badanku. Lalu terlelap.

Rasanya baru semenit tertidur, tapi saat merasakan sentuhan lembut di kepalaku, aku mulai membuka mata. Di sampingku duduk Bia --ibuku yang tak henti hentinya ngelus-ngelus kepala sang putri penuh kasih--. 

"Bangun, Zi," lirih Bia. 

Aku berusaha membuka mata lebih lebar, tapi tak segera bangkit. Tubuhku masih belum bertenaga. Kutatap wajah teduh Ibu dengan mata sayu, lalu mencoba tersenyum. 

"Bangun dulu, segera ambil wudu, lalu kita sama-sama salat berjamaah,"

"Jam berapa ini, Bi?" Aku malah menanyakan jam. 

Bia tersenyum. "Pukul empat pagi,"

"Astagfirullah, Bi, kenapa baru bangunkan Zia? Hampir saja aku terlambat salat subuh. 

“Hmm, Bi ... nanti setelah sarapan, Zia izin pergi, ya, mau pergi ke rumah singgah Kasih Bunda. Aku sudah janji dengan adik-adik di sana untuk mendongengkan cerita, sambungku.

"Bagaimana, Bi, boleh, kan? Aku mengajak Pak Darman juga ke sana, kok. Nggak akan sendiri, janji, deh, mulai hari ini nggak kemana–mana. Hehe sebenarnya, sih, ada maunya. Khusus hari ini ada banyak barang aku bawa.

Ada buku dongeng, alat-alat tulis, dan alat lukis lengkap dengan beberapa kanvas. Mereka suka melukis. Makanya aku membelinya agar mereka bisa melukis," ujarku antusias

"Tuh, kan, Bia tadi udah curiga pasti ada maunya. Eh, bener. Boleh, kok, kamu ajak Pak Darman, syukurlah ada yang menjagamu di sana,"

" Bia ini, kan, ada Allah yang menjagaku,"

"Iya tentu saja, tapi kamu itu ceroboh dan nekat. Itu yang membuat hati Bia was-was,"  jawab Bia. Sebuah jawaban yang membuatku membeku.  

Allah. Ampuni aku yang telah membuat ibuku cemas dan khawatir. Sungguh Engkau tahu aku tak pernah sengaja.

“Yuk, Non, kita berangkat. Semua sudah siap, barang-barang sudah Bapak masukkan bagasi mobil,

“Oya, Pak. jawabku sedikit terperanjat. Suara bariton Pak Darman membuyarkan lamunanku. 

Setelah berpamitan dan bersalaman dengan Bia, aku bergegas memacu kursi rodaku, berusaha mensejajarkannya dengan langkah Pak Darman. 

Sebenarnya Pak Darman berniat mendorong kursi rodaku, tapi kutolak.  Aku tak mau merepotkan beliau walaupun beliau sama sekali tak merasa direpotkan olehku. 

Baginya, aku bukan hanya anak majikannya, tapi sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.

Makanya, saat aku berjalan-jalan sendirian dan terlambat pulang waktu itu, beliau langsung menyuruh putranya mencariku, dan ternyata aku sudah di depan rumah. 

**

Aku turun dari mobil. Kedua mataku mengitari halaman rumah singgah dengan saksama. Rumah singgah bercat putih dengan sedikit paduan warna hitam, bertingkat dua. 

Aku lantas melirik jam biru muda di tanganku. Pukul sembilan lebih lima menit. kataku dalam hati. Tadi kami berangkat pukul delapan pagi, artinya satu jam lebih kami dalam perjalanan. Tetapi wajar, keadaan jalan tadi cukup padat. 

Langkah kursi rodaku terus berlanjut hingga melewati pintu utama dan detik itu pula aku disambut oleh pengasuh rumah singgah Kasih Bunda ini. 

“Oalah ... Alhamdulilah Mbak Zia sudah sampai. Hampir saja Ibu telepon, tumben tibanya lama, Mbak, biasanya cepet. Ibu khawatir, Mbak, ada apa-apa di jalan, 

Aku dan Pak Darman hanya tersenyum menanggapi. 

“Ibu Mira ini bisa aja khawatirin kita. Tadi jalanan padat, Bu, jadi jalannya mesti merayap pelan-pelan, 

“Oh iya, Bu, di dalam bagasi mobil, kita sudah bawain alat-alat lukis buat adik-adik. Enggak banyak, Bu, tapi insya Allah cukup, Bu. Semoga manfaat, ya, 

“Pak ... tolong dikeluarkan, ya, barang-barang yang kita bawa.

Sekalian bawa masuk ke dalam ya, Pak, terima kasih banyak, 

“Mbak Zia ini baik sekali. Terima kasih, Mbak, anak-anak pasti senang, 

“Iya, Bu, sama-sama. Kalau gitu kita sekalian pamit, kasihan Bia sendiri di rumah. Salam aja buat adik-adik, kapan-kapan kita mampir lagi, janji lebih lama, kataku kemudian. 

“Baiklah, kalau gitu salam sama Ibu, ya. ujar Bu Mira saat aku berjalan keluar halaman. 

Aku pun hanya mengganggukkan kepala sambil tersenyum.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status