แชร์

111. Kemeriahan Festival

ผู้เขียน: Aloegreen
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-08-27 09:03:57

Tidak ada angin, tidak ada hujan, dan tidak disangka wajah Nayla masih bersemu merah di balik helm. Upaya Vira membujuk dirinya supaya cepat punya anak dengan Shaka tidak kunjung habis. Pasti ada saja yang disinggung untuk membuat hati Nayla gelisah.

Hari demi hari pun berlalu dengan kesibukan mempersiapkan berbagai macam kebutuhan untuk projek nanti. Memang mereka akan hanya memperkenalkan produk, tetapi tetapan target dalam penjualan nantinya diharapkan meningkat dua hingga tiga puluh persen. Mengingat remaja tingkat awal pasti sangat penasaran dengan produk kecantikan dan mulai merawat diri lebih baik demi menunjang penampilan mereka. Karena itu perusahaan tidak hanya mengerahkan tim pemasaran saja, melainkan seluruh divisi.

Festival sekolah yang dinanti-nanti banyak peminat dari berbagai kalangan pun akhirnya tiba. Di stadion yang sangat luas kini terbentang jajaran stand-stand sekolah SMA dari seluruh kota hingga luar pulau yang sengaja hadir demi memperkenalkan sekolah mereka.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Married to My Childhood Friend   115. Kebab

    Sudut bibir Shaka terangkat tidak suka, "Siapa bilang aku marah?" Nayla tersentak sampai tangannya bisa dia tarik kembali dari cekalan Shaka, "Nah, itu? Itu muka merah sama nada yang tinggi itu? Apa namanya kalau nggak marah coba? Jangan-jangan otakmu kedinginan, ya?" menunjuk kepalanya sendiri. Sontak Nayla membekap mulutnya tahu telah menambah kesalahan. "Aduh, maksudku ... hehe, kamu dengerin aku dulu. Kamu lagi nyari aku, 'kan? Aku mau nyari makan, tapi satu warung pun nggak ada." Shaka menatap kedua bola mata Nayla cukup lama tanpa berkata sepatah kata pun. Nayla meringis ketar-ketir. "Beneran aku nggak bohong. Kalau aku bohong disambar gledek." Nayla angkat tangan. Seketika petir menyambar di langit. "Waduh! Kok, ada petir, sih?" Nayla kaget dan semakin bingung. Shaka menghela napas panjang, "Kenapa nggak Delivery aja?"Nayla berkedip dua kali, "Iya, ya. Kenapa nggak Delivery aja? Ah, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi?" Shaka merapatkan jaket Nayla membuat Nayla terdi

  • Married to My Childhood Friend   114. Gara-gara Makan Malam

    Beberapa hari berlalu. Cuaca ekstrem kembali menerjang ibu kota dan sekitarnya. Mengapa hal ini sering terjadi. Yang jelas ada banyak himbauan untuk masyarakat agar tetap waspada setiap saat. Sedia payung sebelum hujan. Sedia posisi siaga setiap waktu. Angin sering terjadi tanpa pertanda dan ketika capung sudah terbang rendah hujan pun turun. Terkadang deras, terkadang gerimis, terkadang sangat deras disertai angin kencang. Sesekali petir juga menyambar menambah kepanikan warga. "Pemirsa, kondisi cuaca saat ini masih berubah-ubah dan belum diketahui pasti apa penyebabnya. Ramalan cuaca kerap kali salah sehingga tidak dapat dijadikan pacuan. Jadi dihimbaukan kepada seluruh masyarakat untuk siap siaga dan selalu menjaga kesehatan." Nayla segera mematikan televisi sebelum presenter berita itu menyelesaikan beritanya. "Ih, ngeri. Aku malah takut kalau begini." membanting remot ke sofa dan dia berjalan ke arah pintu. Anginnya memang kencang. Sejak pagi mendung putih agak kelabu dan se

  • Married to My Childhood Friend   113. Matahari Senja yang Indah

    Ketika cahaya itu semakin menyilaukan, sebuah bayangan muncul di depannya menghalang cahaya mentari di wajah Nayla lagi. Senyum Nayla pudar dan mendongak berganti dengan senyum yang lebih cerah lagi, "Shaka?" Laki-laki di depannya itu memang Shaka. Dia tengah tersenyum dengan penuh ketulusan di matanya seperti angin sore yang menerpa memberi kesegaran setelah rasa lelah. Vira dan Gilang merasa kikuk dan berbisik. "Kamu rasa mereka kayak ABG nggak, sih?" bisik Vira pada Gilang. Gilang mengangguk kuat, "Aura cinta-cintaannya terlalu kuat. Aku hampir nggak bisa menahannya. Aku iri." "Ck, bukan itu." Vira menepuk tangan Gilang kasar.Situasi seolah menjadi milik mereka berdua sekarang sehingga Vira dan Gilang pamit pergi terlebih dahulu. Kini tinggal Nayla dan Shaka di sana. Shaka mengulurkan tangannya membantu Nayla berdiri, "Mau keliling dulu?" Nayla menerima uluran tangan Shaka, "Boleh." Namun, di sekitar mereka sudah sepi. Apa yang ingin dijelajahi. Nayla tertawa ringan dan m

  • Married to My Childhood Friend   112. Jahil dan Rindu

    Lalu, panggilan pun dimatikan. Shaka berjalan santai menghampirinya dan Nayla jadi tidak fokus membagikan brosur. Dia membiarkan orang-orang berlalu-lalang begitu saja. Sampai Shaka tiba di depannya, dia langsung membuka masker dan mengedipkan sebelah matanya ke Nayla. "Hai!" "Shaka, kamu beneran ada di sini?!" Nayla terlalu semangat, dia maju selangkah lebih dekat dan suaranya sangat keras menimbulkan lirikan dari segala arah. "Ssttt, kondisikan dirimu." Shaka menaruh telunjuk di bibir. Nayla segera kembali membenahi diri, menyibak anak rambutnya ke belakang telinga dan merapikan brosur di tangannya, "Hehe, maaf kebablasan. Habisnya kamu ngegetin, sih." berubah desisan di ujung suaranya. Nayla menoleh ke belakang dan semua rekannya sudah memandang dia dengan tatapan meminta penjelasan. Nayla pun tersenyum kikuk, "Ah, semuanya, perkenalkan ini suamiku. Dia hanya mampir sebentar, nggak akan mengganggu pekerjaan, kok, hehe." "Semoga mereka nggak marah. Aku bawa-bawa suami begini."

  • Married to My Childhood Friend   111. Kemeriahan Festival

    Tidak ada angin, tidak ada hujan, dan tidak disangka wajah Nayla masih bersemu merah di balik helm. Upaya Vira membujuk dirinya supaya cepat punya anak dengan Shaka tidak kunjung habis. Pasti ada saja yang disinggung untuk membuat hati Nayla gelisah. Hari demi hari pun berlalu dengan kesibukan mempersiapkan berbagai macam kebutuhan untuk projek nanti. Memang mereka akan hanya memperkenalkan produk, tetapi tetapan target dalam penjualan nantinya diharapkan meningkat dua hingga tiga puluh persen. Mengingat remaja tingkat awal pasti sangat penasaran dengan produk kecantikan dan mulai merawat diri lebih baik demi menunjang penampilan mereka. Karena itu perusahaan tidak hanya mengerahkan tim pemasaran saja, melainkan seluruh divisi. Festival sekolah yang dinanti-nanti banyak peminat dari berbagai kalangan pun akhirnya tiba. Di stadion yang sangat luas kini terbentang jajaran stand-stand sekolah SMA dari seluruh kota hingga luar pulau yang sengaja hadir demi memperkenalkan sekolah mereka.

  • Married to My Childhood Friend   110. Festival Anak Sekolah

    Siang ini ada rapat para manajer dan sikap karyawan pun berubah drastis. Yang mulanya lemas, berisik, kini menjadi sangat serius dan super sibuk atau menyibukkan diri. Tak jarang ada yang bicara menggunakan mode atau bahasa sandi agar suara mereka tidak terdengar. Rapatnya lumayan serius dan berlangsung cukup lama. Ini bukan pertama kalinya. Sudah berkali-kali akhir-akhir ini, tetapi Nayla tidak terlalu menghiraukan. Dia hanya sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan menangani urusan dendam yang belum terselesaikan dengan Enna. Sehingga, Nayla agak ketinggalan informasi yang lengkap. "Kamu tau mereka bahas apaan?" bisik Nayla pada Vira. "Wah, kamu cukup berani ngajak aku ngobrol padahal kita lagi berada di posisi senyap. Ssttt, diam," balas Vira mendesis menyerupai ular. Nayla mendelik dan kembali fokus bekerja. Di saat rapat itu telah usai, posisi senyap yang dimaksud Vira pun lenyap dengan sendirinya. Seakan-akan semua orang dapat kembali bernapas dengan lega. Beberapa saat kemud

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status