Home / Romansa / Married to My Childhood Friend / 169. Shaka Menghilang untuk Kedua Kalinya

Share

169. Shaka Menghilang untuk Kedua Kalinya

Author: Aloegreen
last update Last Updated: 2026-01-29 18:08:37

Mereka bergegas pulang dan memeriksa rumah, tetapi Shaka juga tidak ada di sana bahkan pagar masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda mobil masuk.

Nayla dengan panik menghubungi polisi bertanya apakah Ena keluar dari penjara, ternyata tidak. Wanita itu justru jatuh terpuruk tak berdaya di jeruni besi.

"Shaka hilang lagi! Shaka hilang lagi! Shaka hilang lagi!" Nayla menjambak rambutnya bingung.

"Mbak Nayla, tenang dulu! Tenang dulu, okay? Polisi bilang wanita psiko itu masih ada di penjara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Married to My Childhood Friend   169. Shaka Menghilang untuk Kedua Kalinya

    Mereka bergegas pulang dan memeriksa rumah, tetapi Shaka juga tidak ada di sana bahkan pagar masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda mobil masuk. Nayla dengan panik menghubungi polisi bertanya apakah Ena keluar dari penjara, ternyata tidak. Wanita itu justru jatuh terpuruk tak berdaya di jeruni besi. "Shaka hilang lagi! Shaka hilang lagi! Shaka hilang lagi!" Nayla menjambak rambutnya bingung."Mbak Nayla, tenang dulu! Tenang dulu, okay? Polisi bilang wanita psiko itu masih ada di penjara jadi mas Shaka pasti bukan diculik sama dia lagi. Tenang, kita pikirkan jalan keluarnya." Gilang memegang pundak Nayla mencoba menenangkannya. Kemudian, dia menelepon Vira. "Halo, Mbak Vira? Udah tidur apa masih terjaga?" tanya Gilang. "Halo, aku baru aja nidurin anak aku. Kenapa emangnya?" tanya Vira di seberang sana. "Bisa minta bantuannya? Mas Shaka hilang lagi!" "Apa?!" Setelah Vira memekik panggilan pun tertutup. Tanpa basa-basi wanita satu anak itu langsung menuju kediaman Nayla. Set

  • Married to My Childhood Friend   168. Angin Malam Telah Berubah 

    Hari berikutnya Nayla masih disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Seolah tidak pernah ada habisnya. Sampai hari sudah petang pun dia masih berkutat dengan tugas. Bukan hanya dirinya, semua karyawan pun sama. Sepertinya akhir-akhir ini perusahaan memiliki banyak pekerjaan dan malamnya Shaka harus menjemputnya dengan sukarela lagi. Dia bersandar di pintu mobil yang terparkir di depan gerbang, tersenyum menyambut Nayla yang lusuh tak berdaya dengan langkah gontainya. "Hai, nona yang super sibuk. Kelihatannya, kok, jauh lebih lesu daripada kemarin?" goda Shaka dengan senyuman manisnya. Nayla menunjuk wajah Shaka kesal, Singkirkan senyuman maut itu dariku atau aku akan menghabisimu!" "Ahahaha, tidak semudah itu." Shaka membukakan pintu mobil dan Nayla masuk dengan malas. "Hmm, sepertinya mau hujan malam ini." kata Shaka sambil menutup pintunya. Nayla mendongak memantau sekitar, "Ha? Masa? Perasaan ini udah malam, deh, Shaka." Shaka terkekeh, "Maksudku larut malam." Mesin dinya

  • Married to My Childhood Friend   167. Dingin

    Malam benar-benar jatuh. Kelap-kelip cahaya kecil menghidupkan kota. Perbedaan yang terlalu jauh. Sangat berbeda dengan tadi sore, malam ini benar-benar pesta rakyat yang hidup. Bahkan ada panggung megah di tengah taman yang diisi banyak orang. Nayla tidak tahu itu apa. Dia hanya berdiri di pinggir tiang lampu dengan semak-semak bunga hijau yang dililitkan lampu seperti kunang-kunang dan di tangannya memegang segelas teh susu dengan mutiara tapioka hitam di dalamnya. Berisik panggung dan kerumunan itu hanya bisa lewat di telinga, tetapi tidak didengar. "Hmm, teh susunya enak." Nayla mengunyah mutiara tapioka sampai pipinya mengembung. Dia terus memperhatikan panggung itu."Apa seenak itu?" Tiba-tiba suara lembut seseorang mengejutkannya dari belakang. "Shaka?! Aku kirain siapa." Nayla terjingkat sambil menoleh. Shaka terkekeh, "Lama nungguin aku?" "Lumayan. Aku sampai habis teh susu sama kopi dua gelas." menggoyangkan cup teh susu di tangan. "Maaf, aku baru pulang kerja. Jadi

  • Married to My Childhood Friend   166. Kencan Dadakan

    Lenguhan di kedua lengan kokoh membuat tidur Nayla semakin pulas. Shaka hanya bisa mengulas senyum sambil menggendongnya memasuki rumah hingga membaringkannya di ranjang. Pelan-pelan, memastikan Nayla tidak akan bangun dalam pergerakan sekecil apapun. Dia sangat memperlakukannya lemah lembut seolah-olah Nayla adalah boneka yang bisa patah. "Sssttt, tenanglah. Kita sudah sampai di rumah," gumam laki-laki itu di balik senyumnya. Ketika dia hendak berdiri tegak, tangan Nayla meraih pergelangan tangannya dan menarik Shaka hingga mendekat. Jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Shaka terkejut, matanya berkedip menatap wajah Nayla yang masih terpejam erat. Gadis itu melenguh dalam tidurnya. "Jangan tinggalkan aku, Shaka," kemudian dia melantur. Shaka terkesiap luar dalam dan bingung harus bereaksi seperti apa. Dia tersenyum, menatap wajah Nayla lembut dan membelai pipinya."Dalam mimpi pun kamu tidak bisa melepaskan aku. Segitu takutnya kamu kembali kehilangan aku." Perlahan-lahan

  • Married to My Childhood Friend   165. Atmosfer yang Memabukkan

    "Ngomong-ngomong, Nayla, kamu sama Shaka lengket banget apa kalian udah ...," Vira menggantung ucapannya lagi, tetapi kali ini ada senyum licik di wajahnya."Eee, udah apa?"Nayla mendorong Vira agar mundur sedikit karena dia benar-benar terpojok sekarang. "Ck, udah itu lah masa nggak tau, sih." alis Vira turun-naik. Nayla seketika melotot, "Kamu gila, ya?!" "Haha, udah aku duga kamu paham. Nggak usah malu ngaku aja. Udah apa belum?" senyum Vira menyebalkan membuat Nayla berdecak."Bukan urusan kamu. Lagian ngapain bahas itu, sih, bikin malu tau." "Ih, kamu nggak seru, ih. Sejak kapan hari kamu cerita kalau kalian udah ciuman, aku makin kepo tau. Pasti kalian udah menciptakan momen-momen romantis di tengah kehangatan bulan, 'kan?" goda Vira lagi. "Vira! Apa, sih, jangan ngomong begitu lagi," Nayla kesal. Pipinya memerah membuat Vira tergelak.Memalingkan wajah sempat melihat pantulan diri sendiri di cermin dan segera memalingkan diri tidak mau melihat wajah malunya yang kentara je

  • Married to My Childhood Friend   164. Warna-warni di Pesta

    Sofa di sudut gedung dekat dengan meja penuh hidangan manis menjadi tempat ternyaman mereka saat ini. Setelah menyapa sang manajer dan para petinggi perusahaan, Nayla hanya ingin memenuhi mulutnya dengan makanan dan berbincang ringan bersama Shaka. Vira dan Gilang sampai muak melihat mereka di pojokan. "Astaga, kalau cuma seperti itu doang bisa kali dilakukan di rumah. Kenapa malah datang ke sini? Kue besarnya juga belum muncul buat dipotong. Apa jangan-jangan Nayla mau menghabiskan kue ulang tahunnya juga?" Vira geleng-geleng kepala padahal dia sendiri juga sedang makan kue kecil. Gilang berdecak, "Aku habis marahin mas Shaka, ternyata efeknya nggak tanggung-tanggung. Tangan mereka nggak lepas sedikitpun tau." Vira memberikan kuenya secara paksa pada Gilang, "Ini nggak bisa dibiarin. Aku harus rebut Nayla!" Gilang ingin menghentikannya, tetapi Vira sudah terlanjur ingin melabrak Nayla dan Shaka."Aduh, tamatlah sudah." Gilang menepuk dahinya lagi."Yang ini manis banget tau. Kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status