Nayla terdiam dengan bibir bungkamnya yang sedikit terbuka. Piring pun hampir jatuh karena tidak fokus. "Hati-hati!" untung saja Shaka tangan Shaka dengan sigap menopang tangan Nayla dan piring itu sehingga Nayla sadar dan piringnya tidak jadi jatuh. Shaka berkedip dua kali sebelum melepaskan Nayla dengan piringnya, "Apa aku setampan itu sampai kamu melamun hanya dalam hitungan detik?" semu merah menghiasi wajahnya sedikit. Nayla langsung kelagapan, "A-apaan yang melamun, haha. Nggak usah kegeeran, deh, haha." tawanya sangat canggung. Shaka ingin sekali terkekeh geli, tetapi tidak ingin membuat Nayla semakin malu. "Mau lihat aku sepuasmu juga nggak apa-apa. Kalau enggak aku nanti bisa cemburu sama bulan." Shaka mulai memakan mie itu dan mencicipi rasanya. Ternyata sedikit asin. "Kenapa begitu?" Nayla meneleng. "Karena kamu pasti lebih terpesona dengan bulan daripada aku," jawab Shaka. Kenyataan yang tidak bisa terelakkan. Nayla juga sepakat karena bulan malam ini sangat indah.
Dia tidak tahu jika Shaka sudah berada di rumah. Dengan pakaian santainya dan wajah rupawan di dapur, mengaduk secangkir kopi, dan menatap Nayla dengan senyum manis. "Nayla, kamu sudah pulang?" Nayla segera menyembuhkan benda di tangannya ke belakang punggung. "Shaka? Hai, hehe, kamu juga udah pulang? Kok, cepet banget kerjanya." "Ya, cuma nyelesain ini dan itu. Semua udah beres semalam jadi jam sepuluh udah bisa pulang." Shaka mendekat, tetapi Nayla bergerak cepat menuju kamarnya. "Kamu sendiri kenapa cepat banget? Biasanya kalau pergi sama Vira pulangnya pasti lama," tanya Shaka. "Ha? Kan, ada kamu di rumah masa aku perginya lama, hehe." cengiran bodoh Nayla selalu terlihat. Shaka mengenyit sebelum terkekeh, "Kamu aneh banget." Nada bicara Nayla sangat kaku seakan dia takut Shaka mengetahui sesuatu darinya. Lagipula benda yang disembunyikan di punggungnya terbungkus plastik, bagaimana mana mungkin Shaka bisa tahu dan Shaka bukan tipe orang yang kepo. "Eee, aku masuk kamar du
Menyalakan TV dan semua channel berisi tampilan berita yang sama, yaitu cuaca saat ini. Nayla mematikan TV tidak ingin menambah rasa panik. Angin di luar rumahnya bahkan sudah merobohkan beberapa pot bunga yang seharusnya tertancap di dalam tanah sedalam lima sentimeter. "Aku suka bunga itu! Itu harganya murah cuma lima ribu. Beraninya angin merobohkan bunga kesayanganku!" Nayla merengek marah ingin keluar demi menyelamatkan bunga tercinta, tapi kemarahannya juga meluap. Beruntung Shaka menahan pinggang Nayla sehingga Nayla hanya berjalan di tempat, "Di luar berbahaya! Jangan keluar lagi!" "Aaa, lepaskan aku! Huhuhu, bungaku!" tangisan palsu Nayla pun keluar. Seakan-akan bunga yang murah itu sudah mati. "Astaga, Drama Queen." Shaka melepaskannya saja dan pada akhirnya Nayla hanya luluh di sofa tanpa keinginan untuk keluar lagi. "Aku mau tidur." Shaka menguap dan berjalan ke kamar. "Aku ikut!" Nayla dengan sigap berdiri dan menarik Shaka sehingga dia yang memimpin jalan. "Karen
Sudut bibir Shaka terangkat tidak suka, "Siapa bilang aku marah?" Nayla tersentak sampai tangannya bisa dia tarik kembali dari cekalan Shaka, "Nah, itu? Itu muka merah sama nada yang tinggi itu? Apa namanya kalau nggak marah coba? Jangan-jangan otakmu kedinginan, ya?" menunjuk kepalanya sendiri. Sontak Nayla membekap mulutnya tahu telah menambah kesalahan. "Aduh, maksudku ... hehe, kamu dengerin aku dulu. Kamu lagi nyari aku, 'kan? Aku mau nyari makan, tapi satu warung pun nggak ada." Shaka menatap kedua bola mata Nayla cukup lama tanpa berkata sepatah kata pun. Nayla meringis ketar-ketir. "Beneran aku nggak bohong. Kalau aku bohong disambar gledek." Nayla angkat tangan. Seketika petir menyambar di langit. "Waduh! Kok, ada petir, sih?" Nayla kaget dan semakin bingung. Shaka menghela napas panjang, "Kenapa nggak Delivery aja?"Nayla berkedip dua kali, "Iya, ya. Kenapa nggak Delivery aja? Ah, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi?" Shaka merapatkan jaket Nayla membuat Nayla terdi
Beberapa hari berlalu. Cuaca ekstrem kembali menerjang ibu kota dan sekitarnya. Mengapa hal ini sering terjadi. Yang jelas ada banyak himbauan untuk masyarakat agar tetap waspada setiap saat. Sedia payung sebelum hujan. Sedia posisi siaga setiap waktu. Angin sering terjadi tanpa pertanda dan ketika capung sudah terbang rendah hujan pun turun. Terkadang deras, terkadang gerimis, terkadang sangat deras disertai angin kencang. Sesekali petir juga menyambar menambah kepanikan warga. "Pemirsa, kondisi cuaca saat ini masih berubah-ubah dan belum diketahui pasti apa penyebabnya. Ramalan cuaca kerap kali salah sehingga tidak dapat dijadikan pacuan. Jadi dihimbaukan kepada seluruh masyarakat untuk siap siaga dan selalu menjaga kesehatan." Nayla segera mematikan televisi sebelum presenter berita itu menyelesaikan beritanya. "Ih, ngeri. Aku malah takut kalau begini." membanting remot ke sofa dan dia berjalan ke arah pintu. Anginnya memang kencang. Sejak pagi mendung putih agak kelabu dan se
Ketika cahaya itu semakin menyilaukan, sebuah bayangan muncul di depannya menghalang cahaya mentari di wajah Nayla lagi. Senyum Nayla pudar dan mendongak berganti dengan senyum yang lebih cerah lagi, "Shaka?" Laki-laki di depannya itu memang Shaka. Dia tengah tersenyum dengan penuh ketulusan di matanya seperti angin sore yang menerpa memberi kesegaran setelah rasa lelah. Vira dan Gilang merasa kikuk dan berbisik. "Kamu rasa mereka kayak ABG nggak, sih?" bisik Vira pada Gilang. Gilang mengangguk kuat, "Aura cinta-cintaannya terlalu kuat. Aku hampir nggak bisa menahannya. Aku iri." "Ck, bukan itu." Vira menepuk tangan Gilang kasar.Situasi seolah menjadi milik mereka berdua sekarang sehingga Vira dan Gilang pamit pergi terlebih dahulu. Kini tinggal Nayla dan Shaka di sana. Shaka mengulurkan tangannya membantu Nayla berdiri, "Mau keliling dulu?" Nayla menerima uluran tangan Shaka, "Boleh." Namun, di sekitar mereka sudah sepi. Apa yang ingin dijelajahi. Nayla tertawa ringan dan m