LOGINAndre bergerak semakin liar, keringat menetes dari pelipisnya ke punggung wanita di bawahnya. Jarinya meraih klitoris Larasati dari depan, memijatnya sambil terus menghentak. “Ooooh, enak,” gumam Larasati.Puncak ketiga datang dengan erangan panjang. Tubuh Larasati sudah lemas, tetapi Andre belum selesai.“Sudah tiga kali, masih kuat?” tanya Andre dengan suara bergetar “Batang besar begini … aku tidak rugi. Tapi, aku masih kuat sampai kau lemas,” jawab Larasati menantang.“Kamu yang minta,” balas Andre.Andre membaringkan Larasati telentang, lalu mengangkat kedua kakinya lurus ke atas dan menyatukannya di dada, membuat lubang kawah kenikmatan menjadi lebih sempit dan sensasi semakin nikmat.Andre masuk kembali, gerakan lambat dulu, menikmati bagaimana dinding dalamnya meremas. Lalu ritme gerakan pinggulnya meningkat, setiap kali dia masuk, menahan sejenak di dalam, memutar pinggul, sebelum menarik keluar hampir seluruhnya dan masuk lagi.“Hmmmph,” desah Larasati.Larasati mencengk
Malam itu, di dalam kamar pribadi Andre di lantai tiga, Larasati menyerahkan dirinya secara penuh dan sukarela di atas ranjang. Bibirnya masih menempel erat pada bibir Andre, lidahnya bermain liar di dalam mulutnya, sambil jari-jarinya meremas bahu kekar pria itu dengan kuat.Andre, yang sudah lama tidak menjamah wanita, tidak mampu menolak. Lelaki itu membalas ciuman itu dengan hasrat yang sama, tangannya turun meraba pinggang ramping Larasati, lalu naik lagi meremas payudaranya yang sudah tegang di balik kain tipis.“Kebetulan yang aneh sampai ke ranjangku, siapa kamu?” tanya Andre berbisik melepas ciuman mereka.“Larasati,” jawab Larasati dengan mata sayu.Nafas mereka memburu.Andre perlahan mendorong tubuh Larasati ke belakang hingga punggungnya menyentuh seprai yang lembut.Larasati menarik kepalanya dan kembali mencium Andre, kemudian melepaskan ciuman itu hanya untuk sejenak, matanya menatap wajah wanita di bawahnya yang sudah memerah oleh nafsu.Tanpa banyak bicara, bibirnya
Kekalahan tiga utusan beberapa waktu yang lalu, membuat petinggi Kerajaan Durji murka. “Dasar rakyat rendah! Baik … tp dak bisa cara halu, maka kasar pun jadi,” ucap petinggi Kerajaan Durji.Upaya secara halus berupa permintaan ditolak, begitu juga dengan cara kasar dan gertakan selalu gagal berhadapan dengan Reinkarnasi Pangeran Narendra, Kerajaan Durji mengubah taktik.Kali ini mereka menggunakan racun paling mematikan bagi seorang pria, pesona wanita dan sihir pemikat jiwa.“Sangat jarang lelaki bisa menolak pesona wanita, apalagi wanita cantik. Kirim utusan kita untuk merebut kalung itu!” perintah petinggi tersebut.“Baik, Tuan!” seru anggotanya.Utusan khusus dikirim langsung dari lingkaran dalam Kerajaan Durji, adalah Larasati.Siapa yang tidak mengenal seorang model terkenal tingkat nasional yang wajahnya kerap menghiasi papan reklame megah di sudut-sudut kota.Selain menjadi model, Larasati juga menjadi seorang bintang iklan, influencer yang wajah cantiknya kerap tampil di te
"Perbedaan kasta di antara kami begitu tinggi, kayak tembok raksasa," sambung Mayang dengan suara yang bergetar halus. "Keluargaku yang bergerak di industri properti raksasa tentu punya ekspektasi tinggi. Aku tahu, kalo aku maksakl perasaanku, keluargaku pasti merendahkan pria itu, menginjak-injak harga dirinya, atau bahkan menghancurkan usahanya yang baru merintis.""Jadi ... apa yang kamu lakukan waktu itu?" tanya Andre, merasa penasaran dengan kisah Mayang."Aku milih mencintainya dalam diam," tutur Mayang.Wanita itu menatap mata Andre dengan tatapan yang amat dalam, pandangan yang menyimpan ribuan kata yang tidak sanggup diucapkannya secara jujur."Aku menahan seluruh rasa ini di dalam dada. Aku hanya bisa mengawasinya dari jauh, membantunya secara senyap tiap kali dia butuh dorongan, dan melempar senyum seolah aku ini cuma teman bisnis yang baik," lanjut Mayang dengan air mata yang menetes pelan di pipinya."Lalu, bagaimana nasib pria itu sekarang?" tanya Andre lagi, tanpa men
Malam itu Andre merasa sedih, menyimpan rasa sakit hatinya dalam diam.Sejak hari itu, Andre fokus ke bisnis Bakso Rempah Swarga. Mengawasi arus keuangan, belanja pasokan rempah dan rutin memeriksa rasa apakah ada yang berubah atau tidak.Itu dia lakukan untuk usaha yang di desa, luka di hatinya ditutupi dan tidak meratapi nasib.‘Masa lalu untuk dikenang, diceritakan atau tidak, itu keputusan hati,’ pikir Andre saat itu. Rutinitas setiap harinya, mulai dari fajar hingga larut malam, Andre terus memantau dapur, memperbaiki sistem pelayanan, serta memperluas jaringan distribusi bahan baku bersama tim bentukan Chef Aris.Sikap Andre berubah menjadi dingin terhadap wanita, termasuk Bu Ram dan Bu Citra yang kerap mencarinya.Wanita yang terpesona dengan Andre semakin banyak saja jumlahnya, tetapi karena sikap dinginnya, beberapa mundur“Tuan muda, apakah ada yang pergerakan yang mencurigakan?” tanya Ki Jaga.“Tidak ada, Ki. Sekilas ini buat aku jadi lega, tapi … ini terlalu tenang. Pasti
Di teras samping rumah, Melinda sedang duduk sendirian menatap gaun pengantin putih yang tergantung di kapstok.Wajahnya pucat pasi, dan matanya sembab memerah bekas menangis sepanjang malam.Saat mendengar suara lelaki kaki yang familiar, Melinda mendongak. Matanya membelalak lebar melihat Andre berdiri tegap di hadapannya dengan tatapan mata yang dingin dan hati yang terluka."Mas ... Andre," bisik Melinda gagap.“Maaf, Mas. Aku ga tepati janji.”Air mata Melinda seketika menetes membasahi pipinya.Andre hanya berdiri tegak, merapikan kemejanya dan menyunggingkan senyum tipis, senyum paling pahit penuh kehancuran, yang pernah dia berikan kepada Melinda sepanjang hidupnya."Selamat ya, Melinda," ujar Andre dengan suara sedih yang tertahan. "Aku dengar kabar bahagianya dari warga. Selamat atas pernikahanmu yang akan diadakan lusa nanti dengan Dokter Bayu."Melinda beranjak dari kursinya, melangkah cepat mendekati Andre dengan jemari gemetaran. "Mas Andre, aku mohon dengarkan aku dul







