INICIAR SESIÓNPara pelanggan yang sedang mengantri, dan tujuh orang sedang menikmati sajian bakso mendadak riuh dan saling berbisik.Tuduhan pelanggaran lisensi cagar budaya dan penggelapan retribusi adalah isu berat yang bisa mematikan reputasi bisnis apa pun dalam hitungan jam.Andre sudah menduga akan datang hal murah seperti ini, bukan karena sok tahu, tetapi … di desa dia juga pernah mendapatkan pola yang sama."Aturan cagar budaya ini tidak ada disebutkan ketika aku mengurus izin, dan kawasan ini adalah area komersial murni sejak awal mula dibangun. Juga tidak disebutkan bahwa akan ada pungli yang mengatasnamakan restribusi," cakap Andre dengan begitu tenang, tetapi menyindir secara halus.“Benar, aku belum pernah dengar kalau wilayah ini jadi cagar budaya,” ucap Fian lantang."Aturan tetaplah aturan! Kamu mau melawan kebijakan pemerintah kota!" sergah Bambang marah sambil menunjuk wajah Andre.Bambang maju satu langkah, lalu mencondongkan tubuhnya."Aku memang tidak bisa menyentuh standar hi
Larasati hendak menyerang Andre, tetapi tubuhnya terpental kembali dan memuntahkan darah segar dua kali.“Dasar penyihir gila. Pergi sekarang atau aku akan membunuhmu!” sergah Ki Jaga.“Kalian harus mati!” teriak Larasati.Larasati bersiap untuk menyerang, tetapi empat bayangan hitam segera datang dan membawanya pergi.Ki Jaga hendak mengejar, tetapi Andre menahannya.“Biar saja, Ki. Kabur berarti tau kalo mereka bakal kalah,” lontar Andre.“Tuan muda, kaki tangan Durji kalau tidak dibunuh … bakal buat masalah lebih besar,” tepis Ki Jaga.“Kalau begitu, biarkan mereka datang dan kita hadapi,” sahut Andre.“Tidak, bukan begitu. Anda baru di sini, pejabat pemerintah, orang penting lainnya juga orang kaya raya adalah kaki tangan Durji. Pasti mereka akan mencari cara untuk mendesak Anda, memfitnah … seperti kejadian ratusan tahun yang lalu, saat … Pangeran Narendra masih ada,” urai Ki Jaga.“Aku harap kau bisa mengenalku dengan baik.” Andre meninggalkan Ki Jaga dan masuk kembali.Ki Jaga
Andre menangkap kaki Larasati dan melayangkan sebuah tinju ke arah perut dan ta itu.“Ugh!” seru Larasati tertahan.“Jangan marah, sudah kuperingatkan sebelumnya,” kata Andre.“Terlalu banyak bicara.” Larasati mengeluarkan sebuah benda dari balik pakaiannya, berbentuk bulat sebesar biji jagung dan dihempaskan ke tanah.Seketika asap hitam tebal muncul, disertai aroma yang luar biasa busuk. Seperti tumpukan bangkai yang membuat mual dan kepala pusing.Tendangan Larasati mendarat tepat di bagian rusuk Andre, membuat lelaki itu terhuyung. Andre tidak bisa melihat apapun, bahkan arah gerakan Larasati sulit dia tebak dengan benar.Andre menutup indra penglihatannya, yang menurutnya menyesatkan dan sepenuhnya mengandalkan getaran energi spiritual kalung pusaka di dadanya.Dalam kegelapan batinnya, dia bisa melihat dengan sangat jelas aliran sihir hitam yang mengalir dari dalam tubuh Larasati, berupa benang-benang merah tipis yang mengendalikan tubuh itu seperti boneka.Saat belati Larasati
Pukul delapan malam, Larasati tiba di ruko milik Andre. Kecantikannya bak menyihir semua tamu pria yang ada di sana, membuat sebagian wanita mencebik, sisanya terpukau dengan paras cantik dan kulit yang tampak indah itu.“Mau pesan apa?” tanya Andre dingin.“Nyawamu,” jawab Larasati.“Kalau begitu, duduk dengan tenang,” sahut Andre.Andre merasakan getaran dari kalungnya, secara fisik memang Larasati begitu cantik, tetapi … kali ini Andre tidak melihat demikian.Pupil mata Larasati memang seperti biasa, tetapi pada bagian hitam, sama sekali tidak ada bayangan benda di sekitar.‘Huh, sihir lagi. Aku gak bisa biarkan dia ada di sini,’ gumam Andre.Andre melepas apron hitamnya, lalu memberi isyarat mata kepada asistennya untuk menggantinya.Tanpa membuang waktu, Andre mencengkeram pergelangan tangan Larasati dengan halus, memaksa wanita itu mengikutinya keluar lewat pintu belakang ruko.Larasati tidak merontak, bibir indahnya yang memerah alami hanya menyunggingkan senyum dingin tanpa ji
Panggilan darurat dari lingkaran dalam Kerajaan Durji akhirnya datang juga.Melalui utusan yang diperintah langsung, Larasati diperintahkan menghadap malam itu juga ke markas tersembunyi yang berlokasi di sebuah vila tua mewah di pinggiran kota.Dengan tubuh yang masih lemas akibat pertempuran ranjang setiap hari bersama Andre, Larasati melangkah masuk ke ruangan minim cahaya yang berbau dupa Cendana yang harum khas bangsawan masa lalu. Di atas takhta yang terbuat dari emas dengan ukiran unik, duduk sosok Raja Durji, pria paruh baya berwajah dingin dengan mata merah membara yang memancarkan tekanan tenaga dalam amat besar."Larasati …," ucap Raja Durji dengan suara menggema, memantul di ruangan luas yang dingin. "Tiga minggu kamu berkeliaran di sekitar pemuda itu. Mana pusaka Bumi Swarga yang aku perintahkan untuk direbut?" tanya Raja Durji.Larasati berlutut di atas lantai marmer, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ampun, Tuan Besar ... pemuda bernama Andre itu tidak memakai kalu
Penyatuan malam itu berlangsung begitu menggairahkan, energi spiritual Bumi Swarga yang membara di dalam tubuh Andre membalikkan mantra dan aura sihir dalam darah Larasati, yang akibatnya menciptakan gelombang gairah yang tidak pernah dirasakan oleh wanita mana pun. Larasati tenggelam dalam lautan kenikmatan ranjang yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Setiap sentuhan dan hentakan pinggul Andre, merenggut seluruh kesadarannya, membakar habis daya tahannya hingga dia melenguh pasrah sepanjang malam.“Kau boleh juga. Begitu perkasa di ranjang, apalagi … punyamu enak. Besar, gagah buat aku ketagihan,” bisik Larasati di sela nafasnya yang tersengal.“Terima kasih pujiannya,” sahut Andre.Ketika fajar pertama menyingsing di ufuk timur, Larasati terbangun dengan tubuh yang lemas, hatinya merasa puas yang tiada tara.Wanita itu turun dari ranjang, menatap Andre yang sedang tertidur lelap di atas ranjang dengan dada bidang yang terbuka.‘Gila! Aku hampir semalaman melayaninya, tapi … k







